Virus seperti Corona suka bikin kita salah paham. Jadi pertanyaan jamak, apa sebenarnya motif virus ini menginfeksi jutaan orang, membuat mereka sakit, bahkan sampai meninggal?

Hingga Mei 2020, Corona sudah menginfeksi lebih dari 3,5 juta orang di dunia dan merenggut nyawa sebanyak 300 ribu di antaranya. Ratusan juta jiwa lainnya terpaksa mengisolasi diri supaya tidak ikut tertular.

Kemarahan lantas menjadi respons yang wajar atas pandemi ini. Banyak karikatur berseliweran di media sosial mengilustrasikan Corona sebagai figur berbentuk bundar dengan motivasi jahat dan senyum yang menyeringai.

Ada dua penjelasan yang bisa menjawab mengapa personifikasi Corona sebagai sosok jahat muncul di kepala orang-orang. Pertama, personifikasi terhadap Corona bisa jadi alat yang manjur untuk mengendurkan tegangnya urat saraf saat menghadapi musuh tak kasat mata ini. Di lain sisi, penggambaran Corona sebagai agen jahat juga bisa jadi sarana kampanye yang efektif agar orang-orang menjadi waspada.

Akan tetapi, penggambaran tentang mikroorganisme seperti itu tentu keliru bila dipandang dari perspektif evolusioner. Makhluk bersel tunggal tak punya kesadaran ketika melakukan sesuatu, termasuk saat menginfeksi manusia. Corona dan mikroba sejenisnya melakukan apa yang mereka lakukan semata-mata sebagai strategi yang diberikan oleh evolusi untuk tetap bertahan hidup.

Maka dari itu, alasan kedua munculnya gambaran jahat tentang virus Corona mungkin lebih tepat: orang-orang hanya tidak pernah berusaha memahami si virus, dari sudut pandang virus itu sendiri.

Jared Diamond dalam bukunya Kuman, Bedil dan Baja menganggap wajar pandangan umum yang bias mengenai mikroba itu. Toh buat manusia, sebodo amat motif si virus, mari bantai biang kerok yang membuat kita sial ini!

Menurut Jared, sama seperti makhluk hidup lainnya, mikroba seperti Corona juga berevolusi. Evolusi menyeleksi individu yang paling efektif dalam menghasilkan anak dan membantu mereka menyebar ke media yang paling cocok. 

Keberhasilan penyebaran itu dapat dihitung berdasarkan jumlah korban baru yang terinfeksi dan seberapa lama setiap korban bisa menginfeksi korban baru. Proses evolusi itu melahirkan jenis virus Corona baru penyebab penyakit Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 yang sedang kita hadapi sekarang.

Dalam proses evolusi itu, mikroba mengembangkan sejumlah cara untuk menyebar. Makin terampil mereka menyebarkan diri, maka makin banyak keturunan yang bertahan dan akhirnya lebih unggul dalam seleksi alam.

Gejala penyakit yang muncul karena infeksi mikroba, sebenarnya cara mereka memodifikasi tubuh dan perilaku manusia, sehingga kita bisa jadi medium yang ampuh untuk mereka menyebar.

Cara paling primitif bagi mikroba untuk menyebar dipraktikan oleh bakteri Salmonella. Mereka menunggu inangnya dimakan untuk menginfeksi calon inang baru. Bakteri ini akan menjangkiti manusia bila kita memakan telur atau daging yang terinfeksi. Ada juga cacing penyebab trikinosis yang menyebar dari babi ke manusia ketika kita memakannya tanpa dimasak dengan benar.

Cara penyakit Pes dan Malaria menyebarkan diri setingkat lebih canggih dibandingkan Salmonella dan Trikinosis. Mereka memanfaatkan hewan pengerat dan serangga sebagai kendaraan untuk menular ke inang lainnya. Untuk menular, bakteri Yersinia Pestis penyebab Pes menumpang di ludah kutu tikus yang kemudian menggigit manusia yang akan ditularkan.

Namun kemampuan penyebaran itu belum seberapa dibandingkan mikroba yang mampu memodifikasi organ tubuh atau kebiasaan manusia untuk mempercepat penularan.

Dalam bukunya Jared melanjutkan, mikroba penyebab Sifilis menyebabkan luka menganga pada alat kelamin inangnya. Sementara, virus Influenza merangsang inangnya untuk batuk atau bersin sehingga meluncurkan awan mikroba ke arah calon inang baru. 

Dari sudut pandang manusia, luka pada alat kelamin atau batuk dan bersin mungkin terlihat sebagai gejala penyakit. Tapi dari sudut pandang kuman, hal itu merupakan strategi evolusi untuk tetap lestari.

Virus Corona yang kita hadapi saat ini memiliki strategi penularan yang mirip dengan bakteri Sifilis dan virus Influenza. Corona menempati sistem pernafasan manusia lalu memodifikasinya. Modifikasi itu merangsang kita untuk bersin dan batuk lalu menularkan ke manusia lain.

Tetapi kalau tidak punya niat jahat, lalu kenapa Corona sampai membuat orang meninggal terutama yang sudah uzur? Saya membayangkan Jared akan menjawab bahwa dari sudut pandang Covid-19, mungkin kematian itu hanya akibat sampingan yang tak diniatkan oleh si virus. Sebab, virus yang membuat inangnya mati sama saja membunuh dirinya sendiri.

Melihat jumlah dan kecepatan Corona menyebar, mereka bisa saja jadi cerita virus yang paling sukses menginfeksi manusia, andai tidak kelewat ‘semangat’. Pada inang yang berusia muda, Corona relatif hanya menyebabkan gejala penyakit ringan, seperti batuk dan bersin, bahkan ada yang tanpa gejala. Namun, ketika menginfeksi orang-orang lanjut usia dan memiliki penyakit bawaan, Covid-19 bisa berakibat fatal.

Lubang dalam strategi evolusi ini membuat mereka mendapat nilai minus dalam ‘mata pelajaran’ bertahan hidup. Covid-19 telah mengekspos dirinya hingga menjadi musuh nomor wahid spesies pemuncak rantai makanan bernama manusia.