Minggu, 22 Desember 2019, story WhatsApp saya mendadak ramai dengan foto-foto mesra bareng ibu pada masing-masing kontak yang tersimpan di ponsel. Tagar maupun caption yang ditampilkan pun hampir sama: Selamat Hari Ibu 2019.

Satu per satu story bergantian muncul. Saya pun sedikit mbatin. Emangnya harus ya, untuk menunjukkan kasih sayang kepada ibu harus lewat selfie pose manyun bareng Blio? Boro-boro disuruh manyun, baru mau difoto aja Emak saya udah ogah-ogahan.

Namun ada satu yang anti-mainstream. ‘Hari Ibu bukan melulu tentang kasih sayang dan bermesraan dengan seseorang yang melahirkan kita. Ada konteks lain yang ada di dalamnya. Ketika dianggap sama, lantas apa bedanya Hari Ibu dengan Mother’s day? #Hari IbuPerbanyakLiterasi’. Kiranya seperti itu isi story-nya dengan background warna merah polos, bukan pose berpelukan dengan emaknya ala Lala-Po.

Dari story tersebut, lantas timbul satu pertanyaan dalam benak saya. Emangnya Hari Ibu dengan Mothers day ini tidak sama kah? Saya pun mulai searching-searching.

Mother’s day – Hari Ibu Se-dunia

Hari ibu internasional (International Mother’s Day) diperingati setiap Hari Minggu pada minggu ke-2 Bulan Mei yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 12 Mei 2019. Dilansir dari Tribun-Timur.com, Hari Ibu awalnya merupakan ungkapan berkabung bagi para perempuan yang ditinggal oleh suaminya semasa perang dunia.

Perayaan Hari Ibu berawal dari tahun 1850-an, ketika Ana Jarvis dengan organisasinya yang bernama Ann Reeves Jarvis menggelar acara Hari Ibu dengan mendirikan klub kerja. Kelompok kerja itu mengemban misi untuk memperbaiki sanitasi dan menurunkan angka kematian bayi. Hingga kemudian di tahun 1914, Presiden AS Woodrow Wilson secara resmi menyatakan bahwa Hari Ibu di AS jatuh pada hari minggu kedua di bulan Mei, dan ditetapkan sebagai hari libur.

"Hari ibu bukan untuk merayakan semua ibu, itu untuk merayakan ibu terbaik yang pernah kamu kenal, ibumu sendiri," ucap Antolini, penulis buku Memorializing Motherhood: Anna Jarvis and the Defense of Her Mother’s Day. Peringatan Mother’s Day ini memberikan pesan agar kita tidak melupakan jasa seorang ibu, khususnya kepada anak.

Memang tidak bisa dimungkiri bahwa profesi ‘ibu rumah tangga’ masih dipandang sebelah mata dan saya berani bertaruh bahwa mayoritas perempuan-perempuan tidak akan menuliskan ‘ibu rumah tangga’ dalam kolom profesi atau cita-cita pada curricullum vitae mereka.

Namun bagi saya, ibu adalah sosok yang sangat istimewa. Ibu adalah dia yang rela bekerja rodi 24 jam non-stop ngopeni saya kala balita. Ibu adalah seseorang yang rela menahan kantuknya - menunggu saya walau pulang larut malam. Ibu adalah orang pertama yang mengenalkan saya pada dunia. Ibu adalah seseorang mengajarkan saya arti kasih sayang sepanjang masa.

Maka dari itu, saya tak akan ragu untuk menulis ‘Ibu’ di urutan pertama daftar pahlawan idola.

Meski begitu, sekalipun saya mengucapkan ‘Happy Mother’s Day, I Love You, Emak!’, reaksi Emak saya pasti datar dan cenderung aneh. “Ngomong opo toh, Le le?”

Hari Ibu Nasional

Di Indonesia, Hari Ibu diperingati per tanggal 22 Desember, yang pada tahun ini bertepatan dengan Hari Minggu.

Berbeda dengan Hari Ibu di negara-negara lain. Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk menandai emansipasi perempuan dan keterlibatan mereka dalam perjuangan kemerdekaan. Hari itu merupakan hari digelarnya Kongres Perempuan I pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Tokoh-tokoh pejuang perempuan yang juga hadir kala itu antara lain Djami, Moega Roemah, Siti Moendji’ah, hingga Nyi Hajar Dewantara - Istri Ki Hajar Dewantara.

Adapun beberapa isu yang dibahas, seperti hak-hak perempuan, perkawinan anak, derajat dan harga diri perempuan, adab perempuan, dan pendidikan bagi perempuan.

Presiden Soekarno kemudian mengeluarkan keputusan presiden untuk menetapkan dukungan atas Kongres Perempuan III. Melalui Keputusan Presiden Nomor 316 tahun 1959, akhirnya Hari Ibu resmi menjadi Hari Nasional.

Penetapan itu disesuaikan dengan kenyataan bahwa Hari Ibu pada hakikatnya merupakan tonggak sejarah perjuangan perempuan sebagai bagian dari perjuangan bangsa yang dijiwai oleh Sumpah Pemuda 1928.

Mother’s Day dan Hari Ibu

Dua peringatan yang memiliki makna masing-masing tersebut sejatinya memiliki tujuan yang sama, mengingatkan kita (Hah, Kita?) akan jasa-jasa besar seorang ibu.

Memang tidak bisa dimungkiri bahwa masih banyak yang menganggap (termasuk penulis) bahwa Hari Ibu merupakan peringatan terhadap jasa-jasa ibu sebagai seseorang yang telah melahirkan kita. Namun lebih dari itu, tanpa mereduksi makna sebelumnya, kita tidak boleh lupa kalau perempuan (ibu) pun memiliki peran yang lebih besar, yakni mereka yang turut berjuang dalam memperjuangkan hingga memepertahankan kemerdekaan Indonesia.

Maka dari itu, sah-sah saja teman saya membuat story seperti itu. Bukan untuk mengomparasikan antarmakna satu dengan yang lainnya, ia hanya mengkritisi tingkat literasi kita (Kita?) yang itu-itu saja, cenderung stagnan, tidak update apalagi upgrade.

Dengan menyodorkan ‘sesuatu’ yang baru, dia seakan menggelitik (lebih pada menampar, kalau menurut saya) untuk sejenak tidak setuju pada ‘kebenaran’ awal yang bersumber dari ‘kata si-A, si-B,..’ dan mencari ‘kebenaran’ yang didasarkan pada referensi yang jelas. Selain itu, dia juga menuntut kepada mereka yang melihat story-nya agar memperluas khazanah literasinya.

Itu kalau pemirsanya, meminjam istilah milik Om Deddy, Smart People. Kalau tidak, ya mau gimana lagi? Lha wong tingkat literasinya cuma mentok baca update story WhatsApp hingga Instagram kok.