Seiring berkembangnya dunia teknologi dan media komunikasi melahirkan berbagai tren dalam masyarakat. Trend tersebut misalnya maraknya penggunaan media sosial. Melalui media sosial seseorang bisa dengan mudah menampilkan citra dirinya kepada khalayak.

Berangkat dari hal itu munculah konsep-konsep ideal tentang bentuk tubuh, kehidupan, kondisi finansial dan standar hidup. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, karena kita dapat mengambil pelajaran dan termotivasi atau untuk berkembang menjadi lebih baik.

Masalah datang ketika seseorang banyak mengkonsumsi konten media sosial lalu mulai membandingkan diri dengan apa yang dilihatnya, tidak bersyukur bahkan paling parah membenci dirinya sendiri.

Berangkat dari kondisi tersebut maka istilah self-love menjadi ramai diperbincangkan. Ada yang memahami dengan makna konstruktif, tak sedikit yang malah terperosok dalam makna yang berkonotasi desktruktif.

Beberapa pertanyaan sering muncul antara lain:

Apakah ketika self love kita tidak mencintai orang lain?

Apakah ketika self love kita menjadi selfish?

Apakah self love hanya untuk orang yang lemah yang tidak memiliki support system? Dan beberapa pertanyaan lainnya.

Belum lagi kita mendengar statment yang terkesan pembenaran dari beberapa orang yang tidak memahami istilah self love dengan makna yang konstruktif seperti “Yaudah, gue orangnya emang gini, mau jadi temen gue ya ayok, mau pergi ya silakan?” pernyataan ini menjadi kurang tepat jika yang dimaksudkan adalah “Saya memiliki sifat buruk seperti ini, saya gak peduli, terserah mau berteman dengan saya atau tidak”.

Sifat buruk tersebut bisa bermacam-macam, dapat berupa kebiasaan, sikap keras kepala, malas, individualis, tidak mau peduli dengan lingkungan, tidak mau memahami perspektif yang berbeda dan sebagainya.

Sikap mencintai diri sebenarnya sudah banyak dibahas oleh para filosof seperti Sigmund Freud dan rekan di eranya. Ia memandang bahwa sikap cinta diri adalah penyakit jiwa, perbuatan dosa, sementara mencintai orang lain adalah hal yang mulia. Sementara Johannes Calvin menyebut “Cinta diri adalah hama”. Pendapat ini menganggap bahwa cinta diri sama halnya dengan mementingkan diri sendiri.

Erich Fromm memiliki pandangan yang berbeda, ia adalah seorang ahli dalam bidang psikoanalisis yang banyak membahas tentang dunia sosial di masyarakat, termasuk salah satunya adalah tentang cinta.

Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Sigmund Freud. Tetapi urusan cinta, ia tidak setuju dengan Freud. Fromm berpendapat bahwa cinta diri bukanlah sesuatu yang jelek, karena menurutnya jika mencintai manusia lain adalah kebaikan, saya sendiri juga merupakan manusia.

Cinta diri adalah dasar semua objek cinta

Sebagai manusia, mencintai adalah sebuah fitrah. Secara umum Ibu mencintai anaknya, seseorang mencintai pasangannya, ada cinta dalam persahabatan, cinta hamba terhadap tuhannya dan sebagainya.

Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving menjelaskan bahwa cinta diri tidak sama dengan mementingkan diri (selifsh). Individu yang hanya mementingkan dirinya sendiri, melakukan segala sesuatu hanya untuk dirinya. Ia hanya senang menerima, memperoleh sesuatu, tidak suka berbagi, karena baginya berbagi itu merugikan dirinya.

Justru ketika seseorang mencintai dirinya dia mencintai sesuatu yang menjadi dasar dari semua objek-objek cinta. Aktivitas mencintai bagi Fromm adalah tindakan kebajikan. Ketika cinta pada sesama merupakan kebajikan, maka cinta  pada diri sendiri juga kebijakan, karena pada dasarnya diri kita sendiri juga seorang manusia.

Seseorang yang tidak cinta kepada dirinya kemungkinan akan sulit mencintai orang lain. Lebih buruk menurut Fromm, orang yang mementingkan diri sendiri, proyeksi kepada orang lain akhirnya bukan cinta, melainkan ego yang diperluas. Hal ini terjadi karena apapun yang dilakukan hanya akan berfokus kepada “Aku”. Contoh sederhananya seseorang akhirnya akan banyak menuntut untuk dipahami, menuntut untuk diberi, menuntut untuk diperhatikan dan sebagainya.

Ia menjelaskan bahwa dalam cinta sejati adalah cinta yang diekspresikan dengan sikap produktif, memiliki sikap peduli, tanggung jawab, rasa hormat dan pengetahuan akan yang dicintai, yang berasal dari kemampuan untuk mencintai itu sendiri.

Ketika seseorang sudah mencintai dirinya sendiri, artinya ia peduli, menaruh rasa hormat, bertanggung jawab dan mengetahui dirinya. Jika demikian, outputnya seseorang akan memiliki kemampuan mencintai apa yang ada di luar dirinya.

Cinta diri artinya menerima dan menumbuhkan diri

Vex King dalam bukunya yang berjudul Good Vibes, Good Life menjelaskan bahwa rasa cinta diri adalah keseimbangan antara menerima diri apa danya sekaligus memahami bahwa kamu pantas mendapatkan lebih baik, kemudian bekerja keras untuk mengupayakannya.

Menurutnya untuk dapat cinta diri setidaknya ada dua elemen yang harus dihidupkan agar dapat hidup seimbang dan harmonis. Elemen pertama mendorong cinta tanpa syarat. Fokusnya pada pada pola pikir (mindset). Kalau kamu menurunkan berat badan, mempercantik diri, membentuk badan agar indah itu bukan berarti kamu sudah cinta diri. Jika melakukan demikian memang benar adanya kamu merasa percaya diri. Tetapi yang dimaksud mencintai diri tanpa syarat yakni dengan menerima dan menghargai dimana kamu berada dan seperti apa dirimu, terlepas dari transformasi apapun yang kamu cita-citakan.

Elemen kedua adalah mendorong pertumbuhan. Fokusnya adalah melakukan tindakan. Kita tidak disebut mencintai diri apabila tidak sadar akan kekurangan kita dan mengupayakan agar menjadi lebih baik. Memperbaiki diri dan hidupmu berarti kamu sadar bahwa kamu pantas untuk menjadi lebih baik sehingga kamu layak untuk mendapat lebih daripada sekadar puas dengan hal-hal banal.

Cintai diri dengan perlakukan diri kita seperti perlakuan kita kepada kekasih

Cara yang dapat dilakukan untuk mencintai diri yakni dengan membayangkan kamu melihat dirimu sendiri, kamu cintai dia sebagaimana kalau kamu mencintai kekasihmu.

Kamu menerima dirimu dengan segala yang ada dalam dirinya, tanpa syarat. Kamu mengasihi dengan sepenuh hati.

Selanjutnya setelah menerima dirimu, kamu melihat apa yang masih bisa diupayakan untuk diperbaiki, lalu kamu bertindak dengan kesungguhan untuk memperbaikinya.

Hal ini dilakukan karena kamu memiliki keyakinan bahwa kamu layak untuk mendapatkan lebih alih-alih hanya sekadar puas dengan hal yang biasa saja.

Sebagai contoh, kamu berolah raga karena kamu percaya kalau kamu layak untuk memperoleh tubuh, tulang dan otot yang kuat hingga usia tua. Kamu belajar karena kamu percaya kamu layak memperoleh pengetahuan, dan dapat menebar manfaat melalui pengetahuan tersebut. Kamu mengasah skill tertentu karena kamu percaya kalau kamu dapat memperoleh karier yang baik ketika menguasai skill tersebut.

Saat kamu mencintai diri, maka kamu akan memedulikannya, menaruh rasa hormat, serta memahami setiap perilaku dan emosi yang ia rasakan.