"Kayaknya saya salah jurusan deh Bu. Harusnya saya masuk jurusan IPS, bukan IPA " Sebuah kalimat yang tiba-tiba dilontarkan oleh Dela, salah satu siswa les saya sore itu. Ia baru sadar bahwa passionnya ternyata di bidang ekonomi akuntansi, bukan di fisika, kimia apalagi biologi. Dan dia baru menyadarinya setelah duduk di kelas 12. Menyesal rasanya tidak memilih jurusan IPS sejak awal.

Sebagai seorang guru les bahasa Inggris yang juga memiliki bimbingan belajar, anak-anak sering bercerita dan berkonsultasi mengenai banyak hal tentang sekolahnya. Merasa curhatan Dela ini sangat menarik, saya pun lanjut membahas ini lebih jauh.

Pertanyaan saya ke Dela  pun berlanjut, bagaimana dulu bisa pilih IPA? Berawal dari ketidaktahuan. Dia tahunya, segala yang berbau berhitung ada di jurusan IPA. Sedangkan di jurusan IPS hanya akan bertemu dengan mata pelajaran yang melulu tentang hafalan. Parahnya, ketidaktahuan ini dialami hampir sebagian besar siswa SMP yang melanjutkan ke jenjang SMA.

Di jenjang pendidikan menengah pertama, jarang sekali diberikan pemahaman mengenai mata pelajaran yang mereka dapatkan di jenjang pendidikan lanjutan. Ketika memilih melanjutkan ke SMA, mereka biasanya hanya tahu memilih IPA, IPS, atau Bahasa. Tidak ada pemahaman awal tentang gambaran mata pelajaran fisika mengenai apa, kimia mengenai apa. Begitupun dengan mata pelajaran yang ada di IPS dan bahasa. Bahkan ada yang mengira kalau di jurusan IPS dan bahasa tidak akan bertemu dengan matematika. Nah lho.

Sesuai dengan kalender pendidikan, Januari 2021 adalah awal masuk semester genap. Dan ini adalah saat yang tepat bagi para guru dan orang tua siswa, terutama siswa kelas 9, untuk memberikan pemahaman yang utuh, mengenai jurusan-jurusan di SMA/SMK. Pemahaman tersebut harus komplit dengan mata pelajaran yang ada di setiap jurusan. Mengapa kelas 9? Karena penjurusan sudah harus ditentukan di awal pendaftaran SMA/SMK. Dan ketika memasuki kelas kelas 10, diharapkan mereka sudah settle dengan jurusan yang dipilih sesuai dengan kata hati masing-masing.

Yang juga menjadi persoalan ketika memilih jurusan adalah, keterlibatan orang tua dalam pengambilan keputusan. Banyak orang tua yang memutuskan pemilihan jurusan secara sepihak. Sebagian besar orang tua, merasa lebih bangga jika anaknya masuk jurusan IPA. Hal ini sesuai dengan stigma yang muncul secara umum terhadap jurusan IPA dan IPS. Anak yang masuk jurusan IPA lebih pintar, lebih prestisius, lebih banyak memiliki pilihan jurusan kuliah dan pilihan pekerjaan, dibandingkan dengan jurusan IPS. Padahal, jika mereka memahami pemilahan jurusan dengan tepat, mereka bisa menjadi “sesuatu” di jurusan apapun yang dipilihnya.

Adalah Ferari, masih termasuk siswa les, cowok serius yang baru saja duduk di kelas 11. Awal masuk SMA, Feri, panggilan hariannya, termasuk siswa jurusan IPA. Hal ini terjadi karena orang tuanya yang memilihkan jurusan untuknya.

Orang tua Feri berpikir bahwa anaknya pintar, terbukti dengan pencapaian nilai 9 di hampir semua mata pelajaran Ujian Nasional ( waktu itu masih ada Ujian Nasional). Dan jurusan yang lazim untuk anak pintar adalah IPA. Orang tua Feri mengambil keputusan tanpa bertanya terlebih dulu, jurusan apa yang dipilih anaknya.

Untunglah Feri anak yang cukup vocal. Jadi, beberapa saat setelah masuk kelas 10 IPA, dia minta pindah jurusan ke IPS. Beruntung kegiatan belajar mengajar belum berjalan efektif sehingga proses perpindahan jurusan tidak banyak menemui kendala.

Apakah Feri akhirnya menemukan dirinya di jurusan IPS sesuai kata hatinya? Absolutely yes. Dia mematahkan pemikiran konvensional orang tuanya bahwa anak pintar harus di jurusan IPA. Feri membuktikan bahwa anak pintar juga berhak masuk jurusan IPS dan berhasil mengukir prestasi di bidang yang sesuai dengan keinginannya. Hal ini terbukti dengan beberapa kejuaraan yang berhasil diraihnya dalam beberapa lomba bidang ekonomi koperasi di level kabupaten dan propinsi.

Peran orang tua, sedikit banyak turut andil dalam pemilihan jurusan di SMA. Karena pada saat PPDB, orang tua selalu mengawal di setiap tahapan prosesnya. Ada beberapa proses yang mengharuskan adanya tandatangan langsung dari orang tua siswa yang bersangkutan. Jadi, wajar saja jika dalam penentuan pilihan jurusan, orang tua juga ikut berbicara, memberikan pandangan dan masukan kepada anaknya.

Masih terkait dengan keputusan orang tua, ada pula cerita dari Tya, siswa kelas 12 SMK farmasi. Masuk ke bimbel dengan tujuan les bahasa Inggris. Tya bercerita ingin belajar lebih dalam tentang bahasa Inggris, dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi tes seleksi perguruan tinggi dengan pilihan jurusan sastra Inggris. Bagaimana bisa, passion di sastra Inggris kok sekolah lanjutannya pilih di farmasi?

Usut punya usut, ternyata kesalahan pemilihan sekolah berawal dari tidak lolosnya Tya di SMA negeri karena sistem zonasi (yang seharusnya tidak terjadi jika Tya dan orang tuanya memahami alur PPDB dengan dengan baik). Bingung pilih sekolah dimana, akhirnya acak aja, orang tuanya mendaftarkan Tya di SMK farmasi. Dengan harapan, jurusan farmasi memungkinkan Tya untuk lebih mudah menentukan pilihan tempat kuliah dan pilihan jenis pekerjaan di masa depan.

Berpikir bahwa alasan orang tuanya cukup masuk akal, Tya pun menerima saja masuk di SMK Farmasi dengan pilihan jurusan teknologi pengolahan pangan. Tapi ternyata setelah menjalani kegiatan belajar di SMK Farmasi, dia baru menyadari bahwa selama hampir 3 tahun ini dia harus berkutat dengan mata pelajaran yang sama sekali gak nyambung dengan isi hatinya.

Untungnya, Tya menyadari bahwa kesalahan jurusan itu bukan semata kesalahan orang tuanya, tapi juga karena ketidakmampuan dirinya menentukan pilihan di awal. Dan untuk mengejar apa yang menjadi keinginan hatinya, ia rela bekerja keras dan menambah jam belajarnya untuk mengejar ketinggalannya di bidang bahasa Inggris. Berharap masih bisa berkesempatan melanjutkan kuliah di bidang yang disukainya.

Sebenarnya, salah jurusan atau salah pilih itu wajar sih. Manusiawi sekali bahkan. Tetapi hal ini merupakan kesalahan yang sebenarnya bisa diantisipasi. Gemes aja rasanya, kalau para guru dan orang tua tidak memberikan gambaran dan pertimbangan yang jelas kepada anak-anak dalam pemilihan jurusan sekolah. Pada akhirnya anak menjadi tidak nyaman di jurusan yang ditempuhnya, dan efek jangka panjang yang lebih parah adalah, akhirnya mereka bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan passionnya.

Bisa dibayangkan, bekerja di bidang yang tidak tepat bukan hanya membuat kita tidak bahagia, tapi juga berimbas pada etos kerja dan kinerja. Karir pun akan stagnan di situ-situ aja karena tak cukup kompetensi dan motivasi untuk naik ke level yang lebih tinggi.

Jadi, semestinya persoalan pemilihan jurusan ini dibahas dan dipahamkan kepada siswa sebelum memasuki pendaftaran sekolah lanjutan. Berikan gambaran yang jelas kepada anak-anak sejak awal kelas 9 tentang apa dan bagaimana materi materi yang akan mereka terima di sekolah lanjutan, baik itu SMA ataupun SMK. Dan biarkan anak-anak memutuskan jurusan, atau jenis sekolah sesuai passion dan kata hati mereka sendiri.