Beberapa hari lalu, seorang teman mengirimkan sebuah link video di YouTube. Isinya tentang quarter life crisis, krisis yang konon dialami 80 persen milenial saat ini. Ehm.., gak cuma milenial sih, angkatan kolonial seperti saya juga pernah mengalaminya dan mungkin masih berjuang mengatasi krisis itu.

Dalam psikologi populer, quarter life crisis adalah krisis yang melibatkan kecemasan atas arah dan kualitas hidup seseorang yang paling umum dialami dalam periode, mulai dari usia dua puluhan hingga pertengahan tiga puluhan bahkan mungkin lebih.

Dulu banget, menjelang usia 20-an, saat menginjak tahun kedua kuliah, saya baru menyadari bahwa saya salah jurusan kuliah. Ya, jurusan kuliah yang saya pilih sendiri dengan kesadaran penuh itu ternyata bukan jurusan kuliah yang saya inginkan.

Saya, Anak IPA, dengan Fisika sebagai mata pelajaran favorit saat SMU, ternyata baru menemukan sesuatu bernama passion di dunia "Kepenulisan". Sebuah bidang yang tak pernah masuk dalam hitungan saya, terlintas saja tidak.

Padahal saya suka membaca buku sastra sejak SMP, saya menyukai karya-karya Nh. Dini, dan sejak SD saya punya banyak sahabat pena—yang mana baru saya sadari sekarang bahwa itu adalah salah satu sarana berlatih menulis—tapi sama sekali tak pernah terpikirkan bahwa itu adalah minat saya, apalagi untuk memperdalam keilmuan di bidang itu.

Saya tentu ingin pindah kuliah, tapi saya paham betul kondisi keuangan keluarga kami seperti apa dan saya memutuskan bahwa saya tidak boleh egois; beberapa semester yang telah berlalu itu tak boleh terbuang percuma.

Demi bakti pada orang tua, pencinta sastra ini terpaksa harus terus berkutat dengan bahasa pemrograman. Dua dunia yang bertolak belakang, yang satu mengedepankan rasa, sementara yang lain mengedepankan logika. Jujur saja, itu tidak mudah.

Alhamdulillah saat itu, Allah memberi solusi dengan mempertemukan saya dengan Pemimpin Redaksi Koran Tempo, S. Malela Mahargasarie, yang menjadi pembicara di sebuah forum workshop jurnalistik di ITB.

Saat itu saya sebagai peserta bertanya kepada Pak Malela, bagaimana jika jurusan kuliah saya saat itu tidak sejalan dengan passion dan cita-cita saya?

Saya ingat betul, Pak Malela menjawab bahwa pengaruh terbesar jurusan kuliah itu sebenarnya adalah membentuk pola pikir. Jadi sebenarnya bukan masalah besar jika jurusan kuliah tidak sesuai dengan pekerjaan saya kelak karena mimpi dan cita-cita tak bisa dibatasi oleh apa pun, apalagi cuma sesuatu bernama "Jurusan".

Berbekal pencerahan itu, saya menjalani hari-hari kuliah dengan bahagia. Kuliah semampu saya bisa dan tetap semangat belajar menulis. Sudah jelas bahwa saya tidak bakal bisa lulus cum laude, tapi setidaknya buku Tugas Akhir selesai hampir berbarengan dengan terbitnya buku kumpulan tulisan saya yang pertama. Inilah quarter life crisis saya yang pertama yang alhamdulillah berakhir dengan manis.

Ketika memasuki dunia kerja, mulailah idealisme bergeser. Takdir Allah membawa saya menjadi PNS di daerah. "Lho Mbak, kamu kan sudah paham passionmu di mana, kok malah daftar PNS? Nggak mencoba melamar kerja di bidang yang sesuai passionmu?"

Itu kan yang mau kamu tanyakan? Jawabnya, sudah, pembaca, dan setelah melalui beberapa peristiwa dan pergolakan batin dengan banyak pertimbangan, pada akhirnya saya menerima bahwa di sinilah jalan hidup saya.

Menjadi PNS di daerah kadang membuat saya merasa kehilangan kreativitas. Saya kesulitan untuk terus produktif menulis. Ilham datang tak semudah dulu karena di sini peristiwa dari hari ke hari berjalan datar dan nyaris tanpa gejolak berarti, jauh beda dengan saat masih tinggal di kota besar.

Masa itu, ketika FB mulai menjadi trend baru karena Friendster mulai ditinggalkan, saya sering merasa diri tak berharga jika melihat postingan teman kuliah atau sekolah sedang berlibur di luar negeri, sedang dilantik jabatan baru, atau sedang mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di benua lain.

Sementara saya bekerja di kota kecil nan tenang dan damai, Bapak dan Ibu tenang karena anak bungsu kesayangannya tak jauh dari jangkauan, tapi sebenarnya saat itu saya merasa hidup saya kok gini-gini saja. Fix, ini quarter life crisis saya yang kedua.

Krisis kedua ini lebih sulit diatasi daripada krisis pertama. Bicara tentang upaya mencapai cita-cita, meski endingnya saya tak berhasil bekerja sesuai passion, tapi sebenarnya saya merasa lega, setidaknya saya sudah berusaha, perkara Allah mengijinkan atau tidak itu lain soal.

Untungnya juga, menulis adalah jenis pekerjaan yang bisa disambi dan dijalani bersamaan dengan profesi lain, jadi saya nggak frustrasi-frustrasi banget.

Merasa salah jurusan atau tidak berada pada tempat semestinya, sebenarnya nggak jelek-jelek amat kok. Ketika saya curhat kepada seorang teman tentang hal ini, dia malah mengungkapkan keiriannya pada saya.

Dia bilang, meski saya salah jurusan, setidaknya saya tahu passion saya di mana, minat saya di mana, mimpi saya apa. Sementara banyak orang di luar sana, meski kelihatannya sukses dan mapan, tapi tak tahu apa keinginan, minat, apalagi impiannya.

Hmm.., benar juga sih apa yang dia bilang. Banyak orang belajar, kuliah, bekerja, dan menjalani kehidupan sehari-hari cuma sebagai rutinitas saja.

Krisis ini membuat kita jadi merasa ada semacam pengingat, "Sudah berada di jalur yang benarkah saya?"; "Hidup macam apa yang sebenarnya saya inginkan?" Pada akhirnya, dengan bersyukurlah krisis ini dapat diatasi, bersyukur dengan segala ketentuan Allah dan mewujudkannya dengan berbuat terbaik yang kita bisa, di mana pun kita berada.

Selain itu, juga berdamai dengan keadaan, menerima diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan berhenti membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Bisa kuliah dan bekerja sesuai minat tentu menyenangkan, tapi jika keadaan ideal tidak bisa tercapai, bukan berarti kita tidak bisa menciptakan kebahagiaan sendiri.