Dari waktu ke waktu, jasa konsultasi psikologi di area kampus selalu dipenuhi dengan mahasiswa yang mengeluh salah jurusan. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Direktur Talents Mapping dalam Konferensi Pers Indonesia Resources Forum (HRF) pada Rabu (27/8/2017) yang menyatakan bahwa sebanyak 87% mahasiswa Indonesia salah mengambil jurusan.

Fenomena salah jurusan ini memang bukan fenomena baru, namun sudah ada sejak beberapa dekade lalu. Sebagian besar mahasiswa yang mengaku salah jurusan tersebut mengungkapkan bahwa jurusan yang ia pilih bukanlah murni dari keinginan pribadinya, melainkan keinginan orang tuanya.

Peran orang tua sebagai pengarah sekaligus sosok yang menurut norma sosial harus dipatuhi inilah yang membuat mahasiswa-mahasiswa salah jurusan tersebut mau tidak mau harus menuruti keinginan orang tuanya. Nyatanya, keputusan menyangkut masa depan para penerus bangsa memang masih didominasi oleh keinginan orang tua.

Meski demikian, ada pula yang mengaku bahwa saat menentukan jurusan, mereka terinspirasi orang-orang di sekitarnya yang terlihat sukses dengan karirnya. Kemudian muncul keinginan untuk menjadi seperti inspiratornya tersebut, tanpa mendalami lebih lanjut tentang bagaimana dan kemampuan apa saja yang harus dikuasai bila mengambil jurusan serupa. Dan setelah mereka terjun ke bangku perkuliahan, mereka baru menyadari bahwa ternyata jurusan yang digelutinya tidak sesuai dengan ekspektasi.

Kesalahan dalam pemilihan jurusan ini kemudian berimbas pada rendahnya semangat mahasiswa dalam menjalani proses pembelajaran. Akibatnya, nilai akademik mereka menjadi rendah. Beberapa penelitian pun menunjukkan bahwa ada banyak faktor yang memengaruhi prestasi akademik, dan salah satunya adalah jurusan sekolah/kuliah (Garkaz, Banimahd, & Esmaeili, 2011).

Dari segi psikologis sendiri, hal ini berhubungan dengan rendahnya motivasi berprestasi mahasiswa yang dalam hal ini dilatarbelakangi oleh ketidakmampuan mereka dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar yang baru. Baik menyesuaikan diri secara kognisi, afeksi, ataupun psikomotorik.

Apabila mahasiswa yang bersangkutan tidak bisa bertahan atau mencari jalan keluar, maka ia akan mengalami stres akademik. Setelah itu, timbul perasaan-perasaan semacam ancaman dan ketakutan. Ketakutan akan ketidakmampuan menyelesaikan studi tepat waktu, ketakutan akan persaingan di dunia luar, hingga ketakutan pada saat mencari lapangan pekerjaan.

Tidak bisa dimungkiri, fakta lain juga menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia belum berhasil menemukan pekerjaan yang tepat, di mana hal ini merupakan salah satu imbas dari fenomena salah jurusan. Seseorang akan mencari pekerjaan sesuai dengan ilmu yang selama ini dipelajarinya, bukan? 

Seorang mahasiswa Teknik Kimia tentu akan mencari pekerjaan di bidang kimiawi, seorang mahasiswa Psikologi tentu akan melamar kerja menjadi HRD atau konselor, dan bukan bekerja di bidang obat-obatan. Meski begitu, ternyata banyak sekali para pekerja yang mengaku tidak nyaman dengan pekerjaan yang saat ini digelutinya.

Bukan karena tidak sesuai dengan bidang ilmunya saat kuliah, namun ada hal lain yang diam-diam menyakiti jiwanya. Mereka seolah bekerja di tempat itu namun jiwanya tidak hadir di situ. Lalu, apa yang membuat masalah ini sedemikian pelik? Siapa yang salah? Apa yang perlu diperbaiki?

Ternyata jawaban dari semua permasalahan ini cukuplah sederhana. Mereka yang merasa salah jurusan atau salah pekerjaan adalah mereka yang belum cukup mahir mengenali siapa dirinya. Bukankah pekerjaan paling menyenangkan adalah pekerjaan yang sesuai dengan pribadi kita? “Pribadimu, adalah profesimu.” Tiga kata penting yang menjadi kunci kesuksesan, namun kurang kita perhatikan.

Ada banyak orang gagal dalam menemukan jurusan atau pekerjaan, namun tidak sedikit pula yang sukses. Dan orang-orang sukses yang berhasil meraih mimpi-mimpinya adalah orang-orang yang berhasil mengajak hati, jiwa, dan raganya ikut melebur mewujudkan impiannya tersebut. Sebab pekerjaan yang tepat adalah pekerjaan yang mampu meningkatkan mutu hidup Anda.

Pekerjaan yang tepat adalah pekerjaan yang sesuai dengan cara kerja yang Anda sukai serta menggambarkan siapa Anda. Dengan begitu, Anda akan mampu menggunakan kekuatan bawaan Anda dengan cara yang alami. Dan Anda tidak akan dipaksa untuk melakukan hal-hal yang sulit Anda lakukan.

Sebagaimana yang telah saya katakan sebelumnya, rahasia kepuasan karir adalah dengan mengerjakan hal yang paling Anda sukai. Hanya beberapa orang yang beruntung menemukan rahasia ini pada awal hidupnya, namun sebagian besar dari kita tidak berhasil menemukannya di waktu yang seharusnya.

Kita terjebak di dalam sejenis pergulatan emosi antara ingin terjun pada dunia yang kita pikir atau orang lain pikir menarik dan harus kita lakukan, atau terjun ke dunia yang kita pikir ingin kita lakukan. 

Kita dihadapkan dengan dilema yang seperti itu bukan? Maka, cara terbijak untuk menjawab dilema itu adalah dengan berkonsentrasi pada passion yang ada dalam diri Anda. Berkonsentrasilah kepada siapa Anda dan hal lain yang lebih mudah Anda pahami. Kenali diri Anda, lebih dalam dan lebih dalam. Sebab kunci utama untuk bisa menaklukkan dunia adalah dengan mengenali diri sendiri. 

Anda bisa belajar dari Deddy Corbuzier tentang bagaimana ia bisa menjadi sukses di tengah deritanya sebagai penderita disleksia. Begitupun dengan para inspirator lain di sekitar Anda. Tanyakan kepada mereka apa kunci kesuksesan mereka. Maka jawaban mereka tidak lain adalah dengan mengenali diri sendiri, lebih dalam dan lebih dalam.

Di era modern ini, ada banyak cara untuk mengetahui kepribadian kita. Melalui tes kepribadian Myers Briggs Type Indicator (MBTI) dan Big Five Personality misalnya. Anda dapat mencobanya di situs online terpercaya.

Silakan mencoba!   

https://mbti.anthonykusuma.com/ 

https://www.16personalities.com/