Merebaknya kasus Corona di dunia beberapa bulan terakhir mengakibatkan ketidakseimbangan sektor perekonomian. Tidak hanya perekonomian saja, bahkan aspek sosial dan pola pikir manusia pun terkena imbasnya. Betapa kuatnya Corona ini hingga dalam waktu semalam saja dunia pun berubah karenanya.

Seluruh manusia di bumi dibuat bungkam olehnya, bingung harus menyerah saja atau maju melawan Corona. Dunia seakan kehilangan esensinya, kita diharuskan diam di rumah menahan rindu temu kerabat, keluarga, dan yang dikasihi. Ya, semua orang tentu merasa tidak nyaman akan hal ini.

Ketidaknyamanan inilah yang membuat semua orang harus teguh mengambil keputusan mengubah kerangka berpikir. Kita semua berusaha segala daya demi menciptakan sebuah revolusi besar, yang akan membebaskan kita dari belenggu ketidaknyamanan ini. Menciptakan berbagai macam sistem yang dipaksakan oleh dunia agar kita semua selamat.

Peristiwa pilu ini mengingatkan saya akan pidato Bill Gates, salah satu orang terkaya di dunia, yang membicarakan soal pandemi dalam acara TED Talk 2015 silam.

Hal yang membuat saya makin tercengang adalah ketika beliau mengatakan bahwa manusia pada era modern seperti saat ini lebih besar kemungkinan meninggal dunia karena menjadi korban virus penyakit dibanding karena peperangan.

Bill Gates juga mengatakan bahwa saat ini pemerintah memberikan perhatian yang lebih terhadap terhadap kebutuhan angkatan perang daripada memikirkan bagaimana cara mengatasi permasalahan kesehatan yang disebabkan karena virus penyakit. Maka, dunia ini benar-benar belum siap untuk menghadapi epidemi yang terjadi.

Tepat November 2019, wabah Corona pertama kali muncul dari negeri Gingseng itu. Perlahan, menjalar dan meracuni berbagai negara di seluruh dunia. Semua orang tak bisa berkutik, terlihat tidak masuk akal, namun memang seperti inilah kenyataannya. 

Benar, dunia sedang tidak baik-baik saja, dan tidak ada yang sedang baik-baik saja saat ini.

Semua orang bertarung untuk menyelamatkan nyawanya, dan tentu nyawa orang-orang yang dikasihi. Para peneliti terus berupaya untuk mencari vaksin virus Corona agar permasalahan ini dapat diselesaikan dengan baik. Entah sampai kapan kita akan terkurung karenanya, entah.

Dampak yang sangat nyata dirasakan oleh semua orang adalah aspek ekonomi. Pandemi yang terjadi ini tidak hanya membuat ekonomi global jatuh tersungkur, bahkan nyaris berhenti. Roda ekonomi berputar lebih lambat, hal ini juga memengaruhi perekonomian dalam negeri.

Hari demi hari kasus Corona melonjak sangat tinggi dan membuat pemerintah harus mengeluarkan protokol untuk tetap di rumah saja. Semua aktivitas yang biasanya dilakukan di luar harus berganti menjadi di rumah. Pekerjaan, sekolah, kuliah, transportasi, dan aktivitas lainnya berubah dalam sekejap.

Hal inilah yang membuat akses manusia menjadi terbatas, dan output yang diberikan juga terbatas. Alhasil, semua yang dilakukan menjadi tidak maksimal.

Sri Mulyani, Menteri Keuangan, sempat mengulas bahwa akibat pandemi ini, perekonomian Indonesia akan hanya tumbuh sekitar 2,3 persen di mana angka tersebut sangatlah jauh dari target APBN 2020, yakni 5 persen. Akibat ulah Corona ini, risiko gagal bayar kredit dan perutangan akan mengalami peningkatan.

Hal ini terjadi karena banyak perusahaan tidak bisa melanjutkan kegiatan produksinya sehingga pembayaran utang menjadi terhambat. Tidak hanya itu, persentase konsumsi rumah tangga juga menurun serta pertumbuhan investasi juga mengalami tekanan yang cukup drastis.

Semua orang harus memutar setir mereka untuk tetap bisa hidup di tengah wabah ini. Entah harus dengan work from home, atau nekat tetap melakukan pekerjaan di luar. Intinya, yang hidup harus berupaya mempertahankan hidupnya, harus bisa survive!

Namun, tidak salah juga jika kita mencoba melihat dari sudut pandang yang positif. Akibat protokol di rumah saja ini, semua orang harus berpikir keras untuk mempertahankan hidup mereka dan mendapat uang meskipun tetap di rumah. 

Ide-ide kreatif pun bermunculan di mana-mana, sebagian orang juga masih bisa berkarya dan mendapat pundi uang selagi di rumah saja. Hal inilah sebenarnya yang harus kita pikirkan, mengambil sudut pandang sesuatu tidak hanya dari hal negatifnya saja, juga dari hal yang positif. 

Setidaknya perekonomian negara kita tidak mati, meskipun hanya tumbuh beberapa persen. Ya, setidaknya tidak mati.

Lalu, bagaimana kabar hubungan kita semua? Hubungan aku dengannya, dengan keluarga, kerabat, serta orang yang dikasihi tentu mengalami perubahan. 

Tetap mengikuti protokol yang telah ditentukan, kita dilarang keluar dan berkumpul bersama, harus menjaga jarak 1 sampai 2 meter, dan tidak bisa bersentuhan sembarangan.

Pertemuan dengan orang yang dikasihi seolah menjadi senjata bagi kita, dan menjaga jarak menjadi cara terbaik untuk saling melindungi satu sama lain. Tentu sangat berat bagi kita semua mengingat manusia adalah makhluk sosial, tak bisa hidup sendiri tanpa orang lain.

Jiwa para ekstrover pun meronta-ronta menyadari hal ini terjadi, tapi apa daya inilah yang terbaik.

Persis setahun silam, pulang kampung menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu. Saat ini mudik menjadi hal yang perlu dipertimbangkan lagi. Secara nyata, hidup manusia kali ini tak ada bedanya dengan burung dalam sangkar. Dikurung, disemprot, dan dijemur.

Miliaran manusia yang hidup pada abad-21 yang menakjubkan ini mungkin sama-sama berharap terbebas dari pengurungan yang aneh. Namun, pertanyaannya adalah, siapa yang mengurung dan siapa yang dikurung?

Menjawab pertanyaan tersebut sebenarnya sedikit rumit. Tapi yang jelas, takdir kita semua saat ini membuat cara kita hidup harus segera berubah. 

Meskipun pahit tapi saya yakin, betapa sejatinya ombak pandemi ini kelak akan menciptakan sebuah “benturan kesadaran”, bagi kemanusiaan kita yang tengah menderita dan teroyak-oyak.

Menghargai pertemuan dan hubungan saat ini adalah hal yang harus kita utamakan. Pertemuan menjadi satu satunya harta yang berharga bagi kita yang sedang hidup terkurung. Namun, sebagian orang masih beroptimis. Tak apa, semua akan cepat berakhir, asalkan kita saling menjaga satu sama lain.

Seperti itulah kehidupan dunia saat ini, serasa kita ditampar dengan sangat keras. Ya, dunia memang sedang berubah, entah sampai kapan kita semua akan terus bertahan dengan kondisi ini. Semua orang selalu berdoa untuk yang terbaik, mari kita berusaha bersama-sama.