Bersyukur sekali bisa menemukan buku fenomenal ini. Baru membaca setengah bagian prolognya saja, hati saya sudah tertambat seketika. Dan seperti tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, begitu pula perjumpaan saya dengan buku ini. Tentu tak akan mungkin jika tanpa seizinNya.

Buku Out of The Truck Box ini terbit di tahun 2015 lalu. Tampaknya saya termasuk golongan orang-orang yang merugi, sebab selama lima tahun tanpa sengaja telah melewatkannya. Namun kerugian itu seakan terbayar lunas tatkala saya mampu menuntaskan buku setebal ini hingga di lembar terakhirnya.

Buku ini sebagian besar berisi produk lamunan Iqbal Aji Daryono (IAD), penulisnya. Lamunan-lamunan tentang segala hal yang diamatinya selama menjalani profesinya sebagai supir truk di Australia. Sepintas terlihat menyajikan hal-hal ringan. Namun jika dicermati justru tampak kedalaman dan luasnya cakrawala pemikirannya dalam memandang sebuah persoalan.

Awalnya IAD tinggal bersama keluarga kecilnya di Yogyakarta. Namun guliran takdir memaksanya menjejakkan kaki di negeri Australia, demi mendampingi sang istri melanjutkan studi.

Menyusuri jalanan tanpa henti ternyata bukan hanya berat, namun juga membosankan. Dalam suasana sepi tak berujung, IAD seperti menemukan ruang bertapa. Dari sudut sempit di balik kemudi itulah dia punya banyak waktu untuk mengendapkan pikiran dan merangkai lamunan-lamunan liarnya.

Di Negeri Tanpa Ekspresi, IAD menggambarkan Australia sebagai negeri yang hambar, tak seindah Indonesia. Negeri dengan pepohonan perdu dan belukar yang penuh semak-semak juga kadal beracun. Tetumbuhannya pun warna daunnya nyaris seragam, yaitu hijau agak pucat, serta tidak segar.

Jalanan di sana miskin dengan akrobat visual. Tidak ada papan-papan reklame, neon box atau baliho iklan dengan lampu LED. Juga tak ada pedagang kaki lima di sana.

Sebuah kekeliruan kecil dalam berkendara di jalan, sering kali berujung pada umpatan keras "Fuck you!" dan pelototan mata penuh amarah sambil mengacungkan jari tengah. Padahal jika di Jogja cukup diselesaikan dengan lirikan dan ucapan "Ati-ati Mas!"

Orang-orang Perth tumbuh menjadi manusia yang terlalu rasional. Sembari menyerahkan total segenap persoalan kepada pihak berwenang, Perth kehilangan ekspresi-ekspresi manusiawi.

Yang membuat saya tersenyum geli, saat lagi seru-serunya membahas tentang kecelakaan lalu lintas, kok ya bisa-bisanya dibelokkan ke Ahok, Anang-Ashanty, bahkan Ustadz Felix Siauw segala. Ck..ck..ck, dasar IAD.

Kemudian pada bab SIM dan Husnuzon ala Ostralia, IAD mencontohkan varian paling remeh atas sebuah rumus hukum. Hukum adalah hukum, tapi keadilan kadang kala merupakan perkara yang sama sekali berbeda. Dan lagi-lagi saya tersenyum geli. Sebab sedang serius-seriusnya membahas hukum, di akhir kalimatnya dia malah menyebut anyang-anyangen. Huff..

Patah Hati Pertama Hayun menjadi kisah favorit saya. Ini adalah cerita tentang pengalaman pertama kedekatan emosional Hayun dengan makhluk berbulu bernama Dina. Yang karena kepindahannya ke Australia, menyebabkan dia harus didera setumpuk rasa rindu. (Makhluk berbulu apakah itu? Kalau ingin tau, bacalah bukunya.)

Ekspresi-ekspresi emosional Hayun pada Dina, mengindikasikan bahwa dia tidak bebal hati, tidak fakir afeksi. Setidaknya dia punya cinta, punya sisi sentimentil dan air mata. 

Sementara banyak sekali kekacauan dalam hidup ini karena kita cuma mengandalkan kognisi, akal dan sisi rasionalitas semata. Deretan peristiwa hanya dimaknai dalam kerangka nalar yang akhirnya berujung sebagai pemahaman benar salah belaka. Padahal dengan afeksi, olah rasa, bahasa kasih sayang dan katresnan, kita akan lebih utuh sebagai manusia.

Kisah Menjadi Bapak, membuat saya trenyuh. Pada bab ini IAD mengisahkan tentang ingatan-ingatan akan kenangan masa kecilnya yang sering kali kehilangan waktu bersama bapaknya. Sehingga ketika sudah menjadi bapak, dia berupaya agar jangan sampai tercipta jarak emosional yang menjadi sulit ditebus dan susah ditembus antara dirinya dengan Hayun.

Pada bab Pak, Hayun Boleh Ikut Natalan? juga tak kalah menariknya. Pertanyaan-pertanyaan simpel semacam itu, jika ditanyakan oleh seorang anak yang masih polos, mesti dijawab dengan ekstra hati-hati.

Dengan plegak-pleguk dan terbata-bata, IAD mencoba memberikan landasan pembentukan imaji atas liyan dalam kepala anaknya, sebijak mungkin dengan segenap keterbatasannya. (Mau tau apa jawaban IAD untuk pertanyaan Hayun tadi? Baca saja bukunya.)

Sampai di bab Pak Mario Kepingin Pensiun, saya nggak bisa untuk tidak sepakat dengan IAD. Terkait penuturannya untuk melupakan motivator. Karena skill benar-benar ditentukan oleh bakat. Sehingga mati-matian mengejar skill yang kita sama sekali tidak punya bakat di situ, sama halnya dengan buang waktu dan bunuh diri.

Dan kerja keras demi kesuksesan itu nonsense. Kita butuh takdir. Namun jika hal-hal di luar bakat tetap mampu membuat kita bahagia, itu benar-benar lain perkara.

Selanjutnya juga ada bab Spiritualisme Nyokot yang membuat saya terkesan. Sebab dari obrolan sepele tentang buah apel, IAD mampu menariknya ke dalam pembahasan mengenai rekayasa reproduksi dan perkembangbiakan manusia tanpa seks. Fiuuh..

Pun demikian dengan bab Hancurkan Speed Camera dan Selamatkan Iman Anda. Awalnya hanya percakapan remeh tentang kamera, yang kemudian dikaitkan dengan iman. Lalu dilanjut dengan pembicaraan mengenai aturan dan pengawasan-pengawasan lain yang menimbulkan rasa takut melebihi ketakutan terhadap pengawasan mata Tuhan. Hingga pada akhirnya disuguhkan beberapa tips sebagai ikhtiar untuk menghindari penyembahan kepada selain Tuhan.

Banyak hal yang bisa diperoleh setelah melahap habis keseluruhan isi buku keren ini. Mulai dari issue politik, hukum, budaya, ideologi dan spiritualitas. Bahkan cerita ringan sehari-hari tentang Hayun yang kemudian dengan smartnya mampu ditarik ke dalam bahasan-bahasan yang lebih luas terkait kemanusiaan.

Saking berkesannya, terus terang saya merasa agak kesulitan jika terpaksa harus menyebutkan kekurangan buku ini. Satu-satunya yang saya anggap kurang dari buku ini adalah minimnya cerita tentang pendamping hidup IAD.

Sebab di bagian kata pengantar disebutkan bahwa ada dua orang terpenting dalam hidupnya kala itu, yakni istri tercinta dan Hayun putri kesayangannya. Namun berbeda dengan cerita tentang Hayun yang banyak bertebaran di beberapa chapternya, cerita mengenai sang istri hanya diulas secuil saja pada bagian prolognya.

Padahal penggalan kisah tentang kerelaan IAD tatkala meninggalkan miniatur surga bernama Yogyakarta demi mendampingi sang istri melanjutkan studi ke luar negeri, itu sweet sekali. Jika dia mau, dengan kepiawaiannya tentu sangatlah mudah untuk mengemasnya menjadi beberapa sajian kisah kasih yang manis.

Meskipun nantinya mungkin akan beresiko bagi kesehatan hati para pembacanya yang sebagian besar perempuan. Selepas membaca kisah kasihnya, jangan-jangan malah menyebabkan mereka mendadak harus dirawat inap. Sebab separuh hatinya telah retak dan perlahan mulai patah jadi dua, wkwk.. 

_____

Judul Buku: Out of The Truck Box

Penulis: Iqbal Aji Daryono

Penerbit: Giga Pustaka, 2015

Tebal: 308 halaman