Sajak teror? Ya, sajak teror!

Istilah "sajak teror" saya temukan di buku karya Soegiarso Soerojo. Ini untuk menggambarkan sajak yang berisi kobaran kebencian. Kalau boleh, saya menyebutnya berisi "bom" kebencian. Sangat garang dan mengerikan. Diksi yang digunakan sarkastis.

Sajak teror ditulis oleh penyair Lekra. Penyair Taufiq Ismail dalam buku Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI Dkk. (Kumpulan Dokumen Pergolakan Sejarah) (Bandung: Penerbit Mizan, Cetakan I, 1995, halaman 414) mengatakan bahwa salah satu ciri perilaku Lekra/PKI adalah membenci dengan kuat, sesuai dengan perintah D.N. Aidit yang terdapat dalam salah satu pidato resminya. 

Kata sifat dan kata kerja yang dipakai memang sudah pilihan untuk mencapai efektivitas rasa benci yang tinggi, yang terus-menerus diulang-ulang bertahun-tahun lamanya.

Berikut ini sajak teror karya penyair Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang menjadi underbouw PKI, Endo Suwartono, yang saya kutip dari buku Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai (G30S/PKI dan Apa Peran Bung Karno), Soegiarso Soerojo, Jakarta: Soegiarso Soerojo, Cetakan Keempat, 1988, halaman 270 - 271.

Surat kepada 3 Setan Kota

Setan
kini saatnya kita bikin perhitungan
cukup sudah segala dera dan siksa
yang kami tanggung di punggung
dari zaman ke zaman

Kesabaran ada batasnya
Kesabaran kami pun ada batasnya
buat keadilan sejati

kepada siapa pun kami tak gentar
apakah kepada kalian yang bernama kabir
pencoleng atau koruptor
atau jenderal petak
yang dadanya bergantungan seribu bintang

kalau memang dimaui
kami siap berlawan
esok atau lusa
atau sekarang juga!
dan bagi kami
mati adalah soal sederhana
karena kami tak 'kan kehilangan apa-apa
kecuali belenggu kami sendiri

hanya yang perlu diingat
kalian jangan salah hitung
anak kami ada di mana-mana
yang pemuda, pelajar, atau mahasiswa
yang buruh, tani, dan prajurit

dan bila datang waktunya
mereka tak 'kan salah bela
sebab mereka tahu sumbernya
dari yang disebut pakaian, peluru, dan senapan
kamilah yang bayar dengan keringat dan darah
batas kesabaran kami
ada di ambang pintu

kalau di hari-hari lalu
kami menuntut cuma bawa
panji
spanduk
dan poster
jangan kaget kalau esok atau lusa
atau hari ini juga
kami bawa tekad baja

Kami, Rakyat

Sengaja menantang. Berhadap-hadapan. Karena beberapa jam setelah puisi tersebut diciptakan dan dibacakan dalam demonstrasi 29 September 1965 di sejumlah tempat di Jakarta, G30S/PKI meletus. 

Mengerikan. Bahkan sangat mengerikan.

Berikut ini puisi karya penyair Lekra Mauwie yang saya kutip dari buku Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI Dkk. (Kumpulan  Dokumen Pergolakan Sejarah) (Bandung: Penerbit Mizan, Cetakan I, 1995, halaman 235 - 236). Puisi ini terdapat  di Lampiran Kebudayaan Lentera, surat kabar Bintang Timur, 21 Maret 1965.

Kunanti Bumi Memerah Darah

bulan arit di langit
napas terkatung di Ciliwung
anak kecil menangis di pangkuan
seorang perempuan
wajahnya hanyut ke laut
sejak ia datang dari pinggiran kota
dibawa sungai kehidupan

malam ini ia petik kecapi
besama nyanyi
Ciliwung airnya merah
walaupun merah hidup tampaknya
kunanti bumi memerah darah
kuserahkan engkau kepadanya

diciumnya si kecil dalam badungan
dinantinya si mungil dalam kandungan

tidurlah anak jangan menangis
kecapi dan nyanyi sudah berhenti
kalau kau lihat malam menipis
angin dingin datang menari

bulan arit di langit
cinta dan kasih
bergelimpangan di jalanan
mawar dan wajah
menanti bumi merah

Ciliwung mengalir
kesayangan mencair
derita dan sengsara
bertengkar sejak lama

malam ini ia petik kecapi
bersama nyanyi
Ciliwung airnya merah
walaupun merah hidup tampaknya
kunanti bumi memerah darah
kuserahkan engkau kepadanya

Enam bulan kemudian setelah puisi tersebut dipublikasikan, tragedi berdarah benar-benar terjadi. Meskipun citraan yang digunakan puisi itu adalah Ciliwung airnya merah, akhirnya terkuak juga bahwa ada sesuatu yang diinginkan, yaitu kunanti bumi memerah darah. 

Sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur, pada malam mengerikan itu memang dibasahi oleh darah para Pahlawan Revolusi. Secara gamblang puisi ini ditutup dengan penegasan dalam larik kuserahken engkau kepadanya.

Sebeleum peristiwa berdarah yang menandai sejarah kelam bangsa ini, para penyair Lekra sudah menuliskannya dalam puisi-puisi yang menantang, Puisi perlawanan yang mendebarkan.

Mengerikan. Sungguh mengerikan.