Malakh YHVH

Kau menuntun sinar-Mu sendiri ke sini
di pelataran suci yang gerah
tak sesejuk kanopi hutan
tapi ini pilihan-Mu
tanah Paran atas debu

seberang jalan berdiri seorang malaikat
Malakh, orang Tiberias menyebutnya
danau yang Engkau pernah sinari juga
tentang kisah penuh aksara

malaikat itu meminta-minta
di tepi jalan yang berdesir
yang sesak riuh penuh ruh
tentang peziarah tanpa jiwa
yang mondar-mandir mencari-Mu
tentang ritualnya yang kosong
yang berkomat-kamit menyebut-Mu

kenapa kau berdiri di situ Malakh?
tidakkah ikut dalam koloni suci itu
yang berbaris rapi melingkari al-Bait
yang bergabung dalam doa-doa
kenapa Malakh?

Malakh tersenyum
lembut jambanngnya terangkat
matamu itu yang sayu
seperti tak kuat matahari bum
kau memintaku?
pinta yang tak lucu
sejumlah uang untuk safar
sedang sayapmu masih kokoh tersembunyi

Kurogoh saja saku-saku kering ini
beberapa lembar yang tak ku mengerti
tentang pembilang yang bukan rupiah ini
mampukah antar asa mu tuk safar?
ini Malakh dariku
aku yang jauh dari sana
dari negeri makmur dalam slogan dan sesanti suci
negeri yang mungkin juga kau kunjungi
dalam tugas sucimu dari Sang Maha Suci

Yahve….Yahve…..Yahve…..
jelas terdengar di telingaku, apa yang kau sebut itu
kau mengujiku dengan rumpang-rumpang sejarah?
Ah, Malakh, bisa saja kau!
kau puji Yahve di dekat pelataran al-Bait
bagi sebagian akan mendengus
bagi sebagian akan tercengang
bagi sebagian akan menunduk
aku pilih pilu yang terakhir

Malakh Yahve, Malakh YHVH
kau bisa saja pesuruh, atau sebaliknya
Yang Maha Ini dan Itu
Malakh Yahve, Malakh YHVH
dari gugus tugas Arasy Agung?
atau Kau sendiri itu?
selamat jalan Malakh!

dalam ucapku yang tidak lazim
dalam susunan bahasa yang asing
sebagaimana tadi kau meminta
dalam bahasa negeri sungai Thames

ah, kau bisa tebak!
bahwa aku tak mahir bahasa negeri tanduk setan
kau pilih bahasa sungai Thames
kalahkan bahasa surga
kenapa kau pilih rumpun Jerman itu?
sengajakah kau tarik diriku pada kilasnya?
tentang Aramik yang terhubung Tiberias?

moderatmu sungguh unik
pancing semua buhul-buhul yang simpul
panas Misfalah terus memanggang
keringat yang tak sempat mengalir
dalam uap yang cepat membebat

mengering dalam kristal asin saja
seperti garam danau Tiberias
unik mendanau dalam melaut
ah, Tiberias! yang jernih entah asin atau tawar
hampir kusampaikan padamu, Malakh!
asin atau tawar air Tiberias?

hampir kupaksakan padamu, Malakh!
ajaklah aku ke sana
sekelebatanmu buyarkan itu
kau sudah pergi, Malakh!

keramik pelataran itu makin berkilat
pasti sudah ratusan juta tersapu
tapak-tapak peziarah
yang bersandal, bersepatu, bertelanjang kaki
sengaja terus ku menunduk
mencari bayang Malakh di keramik itu


Manarul Syaithon

lancip pada ujungnya
angkat simbologi lunaris
lengkung terlentang cakar langit
kokoh pilar ala Eiffel
menara dan Menorah tiada beda
tempat-tampat api yang membakar

pencakar langit yang tak mencakar
hanya hampa yang kau cakar
seperti itu juga, menara Qorun

Menara Babel
Menara Persia
Menara Emirat

mendongak ku menatap
dalam perspektif yang pas
berakhir di titik yang tak jelas
mata-mata selalu terpancing
picing taksir, picis kekaguman

sedang yang dikelilingi teman-teman Malakh tadi
tetaplah sebuah kubus batu andesit hitam
bebatuan yang tak layak di sahara panas
dari manakah kau berasal?
bukan dari Jabal Abu Qubais yang memutih
atau Jabal Nur yang kerontang

menara yang itu kalah
hanya kecil kelilingi al-Bait
sudah bukan bayonet yang terhunus lagi
ketika di sisi lain ada tombak yang teracung
pasar raya religi dalam bungkus theos
saingi bursa kurensial di sana itu


Kursi Roda yang Meluncur

bayang Malakh tak ada di keramik
hanya ada remahan biskuit manca negara
tidak lagi butiran pasir sahara
karena sudah tertutup semen-semen kokoh

berdesing dari belakang
suara putaran roda yang berderit
dan, brakkkk!!!!
hantam tungkai ini
bukan nyeri itu
tapi, pelataran suci yang menolak darah

melayang nurani hingga pada yang sujud dulu
rela dikotori isi perut kambing
tetap dalam khusuk sujudnya
sementara sang putri
meratapi dalam pilu membiru
tak mungkin kutanya si Malakh
yang telah pergi
ada apa ini?

kuberbalik badan seramping mungkin
agar sopan tanpa dendam
kulihat mereka berdua yang beribu-anak
dalam ketergesaan jemput pahala
senyumkan saja pada mereka
agar tetap terlarang di tanah ini
kurasakan tajamnya
dalam miniatur pembalasan

                                                                                                           Tapal Kuda, 6 Oktober 2019