Stanza di Stasiun Juanda 

Di Stasiun Juanda kau dan aku bertemu
Menyulam malam meramu sekuntum rindu
Kita berdua di antara kerumunan laron
Saling ucap seperti layaknya maraton
Di Stasiun Juanda kau dan aku tersenyum
Memugar rindu mawar melati yang harum
Kita berdua tumpahkan gundah segala kenang
Saling memeluk seperti lumut di batu karang

Jakarta, 9 September 2014

Stasiun Manggarai Suatu Pagi 

Stasiun Manggarai yang sansai suatu pagi
Orang-orang merimbun datang dan pergi
Dalam gebalau galau dan topan harapan
Menggumam yang lampau dan hari depan

Dari arah utara, selatan, barat, dan timur
Kereta api nanap merayapi banyak jalur
Seperti hidup kita bagai pelangi merona
Tak kutahu kau memilh jalur yang mana

Hanya sampai di sini lalu pindah ke jalur lain
Ataukah kau terus melaju seperti hari kemarin
Karena hidup kita diliputi tanya dan teka-teki
Tak kutahu di stasiun yang mana kau berhenti

Stasiun Manggarai yang ramai suatu pagi
Orang-orang lalu-lalang menjemput misteri
Mengeja tawa dan tangis yang menjelaga
Menggelucak sesak meluruh jiwa dan raga

Jakarta, 1 Desember 2014

Di dalam Kereta  

Di dalam kereta
berjuta tangan bergelayutan
berjuta tubuh berhimpitan.

Di dalam kereta
berjuta mulut berbisik
berjuta canda menggelitik.

Di dalam kereta
berjuta pikiran melayang
berjuta hasrat berdendang.

Di dalam kereta
berjuta rayu membujuk
berjuta syahdu memeluk.

Di dalam kereta
berjuta impian menerawang
berjuta kenangan menghadang.

Di dalam kereta
berjuta janji menebar
berjuta kata mengingkar 

Di dalam kereta
berjuta keluh mengaduh
berjuta tanya merapuh. 

Cibinong, 25 Desember 2013

Andaikan Aku Masinis 

Andaikan aku masinis dan kau gerbongnya
Akan kubawa kau menyusuri rel sepenuh jiwa
Kita susuri rel berliku mendaki dan menuruni
Menembus kabut dan gelap malam yang sunyi

Rel memanjang membentang di depan mata
Bantalan rel adalah kau dan aku yang setia
Saling memeluk menapak hari meski kelabu
Lalu kubawa kau melaju ke stasiun rindu

Lokomotif dan gerbong tak terpisahkan
Masinis dan penumpang saling membutuhkan
Kau dan aku senantiasa menapaki rel kehidupan
Perlu ketabahan menghadapi ujian dan cobaan

Batu kerikil di sepanjang rel kehidupan ini
Adalah jeda sementara penuh warna-warni
Paku mengikat di sepanjang rel kehidupan
Adalah kekuatan memberikan ketabahan

Kita tak tahu di stasiun mana akan berhenti
Karena hidup ini selalu penuh teka-teki
Di stasiun terdekat atau stasiun terjauh
Kita tak tahu di mana harus berlabuh

Andaikan aku masinis dan kau gerbongnya
Akan kubawa kau menyusuri rel sepenuh jiwa

Kau dan aku mesti senantiasa bergandengan
Susuri rel kehidupan dengan penuh kehangatan

Cibinong, 27 Desember 2013 

Senja di Stasiun Jakarta Kota

Orang-orang berdesakan di depan loket
Merapat mendesak membeli tiket
Pengeras suara membahana
Memberi tahu jalur kereta

Orang-orang bergegas melintas
Melaju harap-harap cemas
Orang-orang berjalan ke peron
Menggerombol seperti laron

Orang-orang berdiri menanti
Waktunya kereta tiba lagi
Orang-orang merindu rumah fana
Setelah didera fatamorgana

Cibinong, 29 Desember 2013

Pagi di Stasiun Gambir 

Orang-orang duduk di kursi
Menanti kereta pagi
Membawa ke kota tujuan
Membawa ke kota harapan

Pria tampan berdasi
Wanita cantik berseri
Portir muda berlari
Penjaga peron menanti

Di Stasiun Gambir
Orang-orang nyinyir
Membawa beribu berita
Membawa beribu tanya

Cibinong, 29 Desember 2013

Senja di Stasiun Gambir 

Di Stasiun Gambir kami berpisah
Di antara mereka dipeluk senja yang basah
Kami berbincang hari panjang mendatang
Meski jarak sebentar lagi membayang

Senyummu menyimpan rindu yang legam
Juga kerling matamu menjinjing hasrat terpendam
Meski pijar kecewa di hati senantiasa merona
Aku tak mampu memadamkannya seketika

Ketika peluit kereta berteriak riuh
Aku lepas kau meski hati menggemuruh
Kereta berlari susuri bantalan dan rel yang membeku
Demikian kau dan aku meski berpisah tetap menyatu

Cibinong, 27 April 2014 

Jakarta-Pekalongan 

Tergopoh duduk menunggu gamang
"Menoreh" belum juga datang
Lama menanti hingga waktu cepat berlari
Daku bergumul dalam gerumbul pagi

Di dalam "Menoreh" tersua tempat dudukku
Menunggu mengajakku menjemput rindu
Gerbong ber-ac bikin hati kian ingin
Lekas lupakan hari-hari kemarin

Seperti lagu "Kereta Malam" Rhoma Irama
Daku berjukgijakgijukgijakgijuk bersama-sama
Kereta melaju menembus pagi menggilas
Derit rodanya melantunkan tembang lawas

(Kereta berlari kian menderu kencang
Terus ke timur susuri rel panjang membentang
Lewati tengah hari mendung menggantung
Daku sampai Stasiun Pekalongan yang murung

Pekalongan, 25 Januari 2014

Cirebon-Jakarta 

Di Stasiun Kejaksan tengah hari
Orang-orang lalu lalang datang dan pergi
Akhirnya karcis kereta ke Jakarta daku dapatkan
Setelah lalui waktu dan tempat mendebarkan

Dari Stasiun Prujakan kami akan berangkat
Kembali ke Jakarta temui martabat
Di peron tujuh daku menunggu kereta tiba
Setelah terguncang bus menggelucak raga

Di Stasiun Prujakan kereta "Bogowonto" merapat lambat
Di peron dari jauh daku melihat lamat-lamat
Di gerbong dan tempat duduk terakhir
Daku bermunajat sembari berzikir

Ke barat kereta bergegas melaju
Sawah hijau membentang tenteramkan kalbu
Balong dan empang meyeruak mata
Tawarkan damai serenada dunia

Kereta melaju ke barat makin mendekat
Cikampek, Karawang, Bekasi terlewati cepat
Rumah liliput dan kumuh jadi pertanda
Angin sore yang legam memeram ibukota

Stasiun Jatinegara lemah menyapa
Penumpang kereta tawarkan salam mesra 

Portir berlari mengais rizki
Orang-orang ditelan angin sore yang sangsi

Di Stasiun Senen sore hari daku menjamah tanah
Menjejaki belantara ibukota yang selalu gundah
Menyambut kelam yang bakal menyergap
Menemu diri di antara rimbun noda yang gelap

Jakarta, 26 Januari 2014

Keretaku

Di Stasiun Jakarta Kota Keretaku lelah rupanya Aku sendiri letih mendaki Memburu rida Illahi Robbi

Di waktu kecil kereta api uap Menghunjam di hati rapat mendekap Bagaikan kereta api aku berjalan Kadang kencang kadang perlahan

Pagi ini keretaku melaju kencang Menembus gelap yang kian terang Aku menuju ke belantara ibukota Mengemas ikhlas yang kian renta

Jakarta, 16 Maret 2015

Subuh Menyuluh

Subuh menyuluh. Melabuh malam.
Yang rapuh. Aku menggigil.
Berkawan doa yang mungil.
Di dalam kereta tersedan.
Memanggil nama-Nya. Perlahan.

Depok, 28 Februari 2017