Sajak Mata Gadis Itu

/1/
Mata gadis itu menyapa senja
yang dilumuri garis-garis wajah lelaki.
Menanti angin membawa nyanyi
asmarandana. Ketika sunyi menjelaga.

/2/
Mata gadis itu mendengar ringkik
kuda jantan. Berlari di panas terik
padang sabana. Mencumbu bau gerai
rambutnya. Mengoyak biru sansai.

/3/
Mata gadis itu menanti isyarat
matahari. Menggelucak di antara batas
impian dan harapan. Gairah memekat.
Kapan waktu akan mendekat.

Jakarta, 3 November 2015

Kisah Sepasang Mata Indah dan Secangkir Kopi Pagi

"Selamat pagi!" Sepasang mata indah menyapa secangkir kopi. Lama menatapnya. Kemudian mengenangnya. Sebelum bibir merah merekah menyentuhnya. Bibir cangkir memintanya untuk teguk pertama.

"Sudahlah, kita akhiri saja! Karena engkau diam-diam menyimpan nama lain. Juga foto. Di dalam album dan buku harianmu. Tak perlu dipertahankan. Tak perlu dilanjutkan. Jika ini beraroma pengkhianatan!"

Pada teguk kedua, terbayang hijau telaga. Air menggigir. Angin berdesir. Langit biru. Serombongan belibis terbang mengoyak senja. Mengayuh dayung. Perahu tak lelah menyisir. Seolah mengekalkan cinta!

Pada teguk ketiga, terbayang rinai hujan. Mengguyur wajah, juga tubuh. Pinus dan cemara. Mengiring berjalan. Tak ada resah, juga keluh, Seolah cinta tak kan merapuh!

Pada teguk keempat, terbayang belati. Mengajaknya bunuh diri. Darah meruah. Rindu mengalah. Senyum matahari dan bulan, juga bau parfum melambai. Seolah cinta telah selesai!

Pada teguk terakhir, sepasang mata indah berbinar. Ketika kopi pagi diseruput lelah hatinya pudar. Hidup tak selamanya manis. Tak selamanya pahit. Berkelindan. Telah dirasakan. Telah ditemukan. "Selamat pagi, kawan!" Suaranya lirih tapi menyenangkan.

Jakarta, 5 November 2015                                                                                                    

Sajak Mata Gadis Afgan

 /1/
Mata gadis Afgan menyimpan puisi.
Ditulisi dengan peluru tajam, juga bom rakitan.
Melegam dendam. Bertinta darah. Menorehkan
kematian sia-sia. Tangis merobek harapan.

/2/
Mata gadis Afgan menyimpan puisi.
Melafalkan perang saudara. Pengkhianatan.
Duka lara, juga senyum hilang terkubur
oleh angin tenggara yang berkesiur.

/3/
Mata gadis Afgan menyimpan puisi.
Terbayang burung gagak berteriak.
Mewartakan kematian di padang tandus.
Pahit merebak mencekik jantung yang berdetak

Jakarta, 2 November 2015

Air Mata Para Jomblo

Air mata para jomblo menguap ke langit
Menyapa awan lalu mengabarkan sakit
Awan ikut berduka cita hingga menangis
Turunkan rahmat-Nya, hujan berlapis-lapis

Cibinong, 13 Desember 2015

Sajak Mata Selfie

dengan selfie kau julurkan
lidahmu bagai lidah kobra
dengan selfie kau kerlingkan
mata menyihir para pendusta
dengan selfie kau santap
hidangan tersaji di atas meja
dengan selfie kau minum
keangkuhan di dalam pesta
dengan selfie kau selalu luput
memungut maut yang bicara

Cibinong, 13 Februari 2016

Sajak Mata Harimau

/1/
sepasang mata harimau jantan
di belantara. menyapa betina,
juga anak-anaknya. kuku tajam
membelai. seringai dan auman
memecahkan cemburu purnama.

/2/
mata tajamnya mencabik kelam.
mengirim kabar kepada semesta.
malam diliput kabut gurau senda.
hingga pagi menyapa. malam
tersuruk. mata tajamnya membenam.

Jakarta, 28 Oktober 2015

Sajak Mata Elang

/1/
sepasang mata elang betina
melayang. mencumbui angkasa.
matanya menyihir semesta
hingga aku tersungkur, dinda.

/2/
ketika kau menakik senja
mata pedangmu lumerkan baja
yang mengeram di hati. iba
menjaga marwah. senantiasa.

Jakarta, 27 Oktober 2015

Ada Wajah Gundah Terbaring di Beranda Facebook

Ada air mendidih mengalir di beranda facebook
Memancar keluar dari sepasang mata legam
Penghuni tubuh berbulu lentik beralis kelam
Uapnya menembus layar beraroma mawar yang terpuruk

Ada angin puyuh membadai di beranda facebook
Berkesiur keluar dari bibir merah merekah
Penghuni tubuh bergigi putih berwajah indah
Getarnya menembus layar bernada tangis yang mabuk

Ada paras gundah terbaring di beranda facebook
Membisu kemudian bersujud di telaga kenang
Lewati hamparan duri dan kobar api menjulang
Tubuhnya menembus layar berbalut cinta yang khusuk

Cibinong, 30 Agustus 2015

Wajah, Nama, dan Facebook

Wajahmu di Facebook setelah kulihat
Sekejap membuatku berkeringat
Karena kau tiba-tiba menjadi perempuan
Padahal yang kutahu kau lelaki jantan

Wajahmu di Facebook setelah kutatap
Sekejap membuatku tergagap
Karena kau tiba-tiba menjadi laki-laki
Padahal yang kutahu kau perempuan sejati

Namamu di Facebook setelah kubaca
Sekejap membuatku terkesima
Karena kau mengubah namamu
Untuk menipu atau mengecohku

Rupanya kemajuan dan kegilaan
Tampaknya kini sulit dibedakan
Rupanya kejujuran dan kebohongan
Tampaknya kini sulit dipisahkan

Cibinong, 27 Desember 2013

Telepon Genggam

Telepon genggam
Mencengkeram orang-orang

Telepon genggam
Berjuta tangan menimang
Berjuta pikiran dikekang
Apa dan siapa melenggang

Telepon genggam
Menjelma sebagai berhala

Telepon genggam
Berjuta tangan menjaga
Berjuta pikiran disandera
Apa dan siapa menyapa

Telepon genggam
Memenjara siapa saja

Cibinong, 25 Desember 2013