Mahasiswa
3 tahun lalu · 109046 view · 1 min baca · Puisi tranh-phong-canh-nuoc-ngoai-01.jpg

Sajak-sajak Hujan

Hujan Malam Ini

hujan malam ini
menetes dari pipimu
mengalir di pelupuk sunyi
membasahi detak waktu

jejak-jejak
menulis sajak
di hujan malam ini
air matanya sendiri

barangkali matamu dan mata hujan
adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan
serupa api kepada abu
seperti aku kepada kamu


Disaat Hujan di Suatu Sore

/1/
ditabur hujan kesunyian sore ini
menderas pada getar kata
sajak-sajak ditulis menepis sepi
melebur jarak dirinya

bunga-bunga tumbuh
di antara jendela, kursi, dan meja
pasti dikenalnya rindu
merekah pada nafasmu

ujung-ujung jari yang sedari dulu
 –menyentuhnya 
melebur pada detak waktu

/2/
hujan kesunyian,
tidakkah kau dengar puisi
suara sepi
pada pertemuan ini

sajak yang ditulis tak pernah terbaca
sebab rindu selalu membuat kita lupa

lalu, kembali
hujan menulis puisi –lagi 
di setiap rintiknya
di antara jendela, kursi dan meja
– tentang bunga-bunga 

/3/
dan begitu saja
pada suatu sore ini
hujan yang menderas
sajak-sajak yang tak terbaca

hingga sampai pada sunyi
aku masih sendiri
di kursi ini
berteduh pada puisi
dari hujan sore ini


Saat Merindumu

merindumu adalah menemu sunyi
seperti gerimis menjumpai tangis
serupa puisi;
sebait kata pada tubuh sepi 
–dirinya sendiri

merindumu adalah menemu sunyi
seperti detak dalam tubuh sajak
serupa bunyi;
rima yang tak henti-henti
menyeru namanya sendiri


Hujan ini Turun Lagi

hujan ini turun lagi
untuk yang kesekian kali
mengingatkanmu
mengingatkanku
tentang rintik
soal waktu yang sedetik

hujan ini turun lagi
menetesi kedua pipi
membasahimu
membasahiku
tentang kenang
soal airmata yang berlinang

hujan ini turun lagi
dari kata yang kau namakan puisi
namamu
namaku
tentang cinta
soal rasa yang pernah singgah

hujan ini turun lagi
membekas di lubuk hati


Anggap Saja Hujan ini Adalah Aku

anggap saja hujan ini adalah kenangan, 
meski rintik yang sedetik, tapi mampu 
mengingatkan

anggap saja hujan ini adalah kerinduan,
meski rintik yang setitik, tapi mampu
mempertemukan

anggap saja hujan ini adalah aku,
meski sudah tak lagi deras, tapi tetap
membekas

 

Aku Rindu Hujan

aku rindu hujan
ditiap-tiap tetesan;
pada matamu
langit kesunyian

aku rindu hujan
ditiap-tiap percikan;
pada detakmu
gemuruh keheningan

aku rindu dirimu
ditiap-tiap hujan;
pada namamu
menderas kerinduan

Artikel Terkait