Senja tapal batas

Masih lekat ingatku kala itu
Tatkala janji sua kau renggang pisah
Segaris cerah kau sisakan sepi
Kau titip senyum lirih penuh makna
Gundah kuterjemahkan segala tanda
Entah pisah dengan segala duka, atau suka berbalur bahagia

Mengapa pisah selalu meninggalkan pilu atas nama derita??
Lalu segumpal harap luruh mengutuk asa
Banjir sedih bergenang di ujung tapal
Hingga ku beranikan diri mengutuk senja jingga...

Kian malam-kian menghitam, pekat datang melahap terang
Kau berpaling tanpa peduli, acuh dengan segala janji
Pisah dan sedih tak bisa lagi ku pungkiri

Kangean, 30 oktober 2019


Aku masih ingat

Dulu, dalam pekatnya malam sepi jalanan kita tapaki..
Berdua kita mengikat janji lalu bersumpah atas nama sepi dan sunyi
Aku yg mengucap ikrar, kau yang meng-Amini;
"Jika bunga kita layu hari ini, semoga putik bunga kita mekar dan berkembang."
Begitu ikrar yang kau amini..!!

Dulu, bulir air matamu sempat ku sapuh dengan belaian cinta dan sayang
Bercerita segala hal, hingga larut dalam sudut kesedihan
Menangis kau bersandar, sedih kau luapkan
Aku hanya bisa mendengarkan...

Kau seret aku dalam samudera kesedihanmu
Berenang dalam ombak nestapa masalalumu
Ku kayuh sekuat tenaga sampan harapanmu yg nyaris tenggelam
Ku elus rambut halusmu,
Ku genggam erat tanganmu,
Kutenangkan kau dari sedihmu.

Perlahan secercah sinar cerah terik dikedua bola matamu
Secarik senyum tipis mengembang dibibir mungilmu
Kudekap kau dan kubisikkan bahwa dermaga masih jauh
"Pelabuhanmu bukan disini, kau harus kembali..!!"
Kembali mengarungi samudera yang sempat kau selami..

Hingga diakhir temu, ku hijabkan kau kerudung ungu
Sebagai pengikat janji bahwa kau akan kembali ...

Aku masih ingat.... !

Kangean, 25 april 2019


Gending rana

Gending malam melantunkan nyanyian
Menuntun ku pada sunyi sebuah kenangan
Mengusik hati, merayu ingatan
Membuka memori menjelajah alam imaji

Gending, lewat lantunanmu, aku ingin berkirim salam
Untuknya yg tak layak bersarang dalam kenangan
Untuk dia yang tak pernah hilang dalam ingatan

Sampaikan salamku, bahwa ridu ini sudah tak bertuah
Rindu yang semakin mengembang, membuncah dan tak tentu arah

Kangean, 01 april 2018


Gending Rana II

Kusemai ikat rindu, kupungut serpihannya
Ternyata begitu banyak yang tersisa.
Ku-alun rindu itu dalam dawai
Meski merana dalam buai
Ku biarkan dia melekat dalam ingatan, menyatu dalam kenangan.

-Beritahu aku, bagaimana cara lupa-

Kangean, 27 april 2018


Kembang telanjang dada

Ini hanya sebuah kisah, dari kumbang yang dimabuk asmara__

Sore itu aku melihat kembang tanpa duri, Putiknya merah, terbungkus sehelai bianglala
Kelopaknya ikal dan bergerai
Rantingnya lurus tanpa bengkok

Ku pandangi kembang itu dari jauh, ku nikmati pesonanya, ku hirup segala aroma yang menyeruak darinya. Ku pejamkan mata lalu ku lepas tali imaji dan kubiarkan masuk ke pori pori birahi.


Parasnya sungguh sangat menawan, membuat ku tak bisa mengkerdipkan pandangan.

"Kumbang .. !! Kau takkan sanggup jika harus memetiknya, karena kau takkan mampu untuk menggapai, rantingnya telah terlukis inai, tangkainya terlilit mantra suci.."
Isak sendu dalam hati sang kumbang.

Bibir kumbang hanya bisa bergumam, mengeja kata, meramu bahasa
Menggapai asa berharap tangkai segera patah.

Kangean, 20 april 2018


Mantra suci

Pagi itu dia menyapa dengan senyum, lalu bertanya dengan lembut, "sepertinya tidur mas nyenyak sekali tadi malam?".

Tak bisa kupungkiri, pertanyaan itu seketika menembus ulu hati. Perhatiannya yang begitu istimewa membuatku mematung dalam seribu rangkaian kata. Ku pilah kata itu satu demi satu, lalu kurangkai dengan kata yg lain. Ku ramu sedemikian rupa, lalu ku bisikkan dengan penuh kelembutan;
"iya betul dik, sebab sebelum aku memejamkan mata, ku lukis wajahmu terlebih dahulu dikelopak mataku",

Tak lama setelah itu secangkir kopi hitam pekat dia suguhkan.

"kopinya mas, setiap adukannya tak lepas kubacakan potongan ayat surat asy syura, kuniatkan supaya kau mencicipnya penuh cinta."
Merambah aroma cintaku, menggumpal dalam dada, hingga hanya kecupan mesra yang bisa kupersembahkan atas cintanya yang begitu mendalam.

Begitulah sejatinya wanita, jika kau dekap ia dengan satu cinta, dia akan membalas dg seribu cinta..

Kangean, 04 oktober 2019

Tamu agung

Selamat datang sang tumenggung
Selamat datang sang penasehat agung
Selamat datang di bumi ngetan
Bumi para pendekar, yang tak pernah lelah menuntut keadilan

Hadirmu kami nantikan
Hadirmu kami rindukan
Tapi hadir yang kami nanti dan rindukan bukan hanya sebatas datang membawa bahan candaan untuk kami tertawakan.


Hadirmu yang kami nanti dan rindukan adalah hadir dengan sebungkus kebijakan untuk perubahan yang berkepanjangan.

Tapi....
Kenapa sang tumenggung datang untuk menawarkan barang?
Kenapa pula sang penasehat datang untuk menawarkan barang?
Tak adakah sesuatu yg lain selain jualan yang bisa kau tawarkan?
Tak adakah sesuatu yg lain yang kau bawa selain bualan yang menjijikkan?
Barang dagangan kalian itu sudah pasti takkan kami rasakan manfaatnya
Barang dagangan kalian takkan bisa kami gunakan saat kami butuhkan.

Kalian datang membungkus siasat dengan kidung agung, hanya untuk meraup untung.
Kalian datang membungkus tipu daya dengan suci sabda, hanya demi kuasa.
Kemudian kalian membungkusnya jadi satu lalu dihias dengan dusta.

Kangean 04 april 2018


Pendekar sontoloyo

Merintih hatiku melihat kau para pendekar....
Para pendekar yang dulu garang, sekarang duduk bersila dengan tenang
Tak ada seruan perlawanan yg diucap dengan lantang
Tak ada kepalan tangan yang membuat mereka berkidik lalu lari tunggang langgang

Kemana seruan perlawanan itu pendekar?
Kau sembunyikan dimana kepalan tanganmu itu?

Kangean, 10 april 2018