Aku ingin berpuisi
Namun sosokmu enggan aku lukis
Aku ingin bernyanyi
Namun namamu enggan aku sebut

Kala hujan datang seperti ini
Lantas, apa yang bisa aku harapkan?
Selain mata sayu dan bibir tipismu
Hadir menemani tawaku

Kuajak kau berdansa kau berlari
Kuajak kau menari aku kau tampar
Ku ceritakan tentang hujan kau menangis
Ku beri kau petuah kau berpaling

Lantas, apa yang bisa aku perbuat kasih?
Kalau setiap yang aku lakukan bernilai rendah
Apa yang bisa aku banggakan?
Kalau setiap kebanggaanku kau renggut habis

Dirimu yang aku harapkan menjadi madu
Kini sebuah racun yang menggenggam
Mungkin harapanku terlampau mewah
Atau dirimu yang terlalu sempurna?

Hingga munajatkupun engkau hina
Padahal itu untukmu, untuk kebahagiaanmu
Ku terima keangkuhanmu padaku
Karena hanya itu satu-satunya yang kau anggap benar dariku