Seekor cecak

Semilir angin;
Berhembus pelan
Menyibak dedaunan
Membelah gelap

Suara;
Terbawa gelombang
Melambai-lambai
Merambat pada dinding

Cecak jatuh;
Melenyapkan hening
Ekornya putus
Menari-nari pada lantai
Makin kuamati

Tarian itu melukis
Membentuk kata rindu
Bertanda tangan perempuan
Melirik padaku

Cangkir pertama;
Tanpa gula
Aku tersenyum
Kopi ini manis sekali

Jogja, 6 desember 2016

Isi Puisi Ajak Bersajak

Ada aku dalam keakuran
Ada buah dalam sebuah
Ada bunga dalam hubungan
Ada utuh dalam membutuhkan
Ada Tuhan dalam sentuhan

Ada hati dalam perhatian
Ada memar dalam memarahi
Ada angan dalam kenangan
Ada awan dalam berkawan

Ada geli dalam kegelisahan
"Keakuran sebuah hubungan membutuhkan sentuhan perhatian, memarahi kenangan berkawan kegelisahan"
Semoga ada amin dalam pelaminan

Tak ada luka yang memalukan dalam berpelukan
Karena ada seru dalam seruputan kopi
Pada cangkir kedua

Jogja, 7 desember 2016

Kenangan

Cangkir ketiga.
Kau selalu tahu
Aku akan mati
tanpa melihatmu
tiap matahari terbenam

Kau selalu anggap;
Mataku berkunang-kunang
padahal berlinang
teringat kenangan

Itu semua salah
Aku akan mati
tanpa menyeduh kopi
Dengan cangkir
pemberianmu

Nasib cangkirku;
retak bagian samping
tepat pada fotomu
yang kau lukis
pada suatu sore
beberapa tahun silam

Jogja, 11 Desember 2016

Untuk Telinga Berkelamin Wanita

Cangkir keempat.
Baiklah;
Kurebahkan tubuhku
Cambuklah sepuasmu

Percaya atau tidak
Yang kau lakukan padaku tetaplah manis
Usia percintaan terkadang hanya sehari
Tapi Cinta itu sendiri berusia abadi

Kau harus berjanji
Setelah kopiku yang ini habis
Segeralah pulang pada suamimu
Aku masih punya banyak stok kopi

Pesanku;
Jangan pernah kemari membawa gula
Apalagi kau menuangkannya
Itu akan sangat menghinaku
Wajahmu tetap abadi pada kubangan cangkirku

Jogja, 11 Desember 2016