Judul tanggapan Goenawan Mohamad, “Sains dan Masalah-Masalahnya, Sulak dan Dua Kesalahannya”, menyampaikan pesan implisit bahwa saya cocok dengan pernyataan Karl Popper ini: “Keliru adalah manusiawi.” Dan saya berbuat manusiawi sekaligus dua.

Selebihnya, dari judul itu, kita bisa menarik gambaran bahwa kurang lebih seperti itulah pengetahuan berkembang menurut Popper. Satu pernyataan bisa dibuktikan salah oleh pernyataan lain, dan seterusnya. Jika pernyataan saya lebih kuat, pernyataan Goenawan harus menyingkir. Jika pernyataan Goenawan lebih kuat, pernyataan saya terkubur. Anda bisa mengganti kata ‘pernyataan’ dengan ‘teori’.

Kutipan Popper yang saya sebut pada paragraf di atas ada dalam pernyataannya yang lebih panjang tentang pengetahuan:

“Knowledge consists in the search for truth — the search for objectively true, explanatory theories. It is not the search for certainty. To err is human. All human knowledge is fallible and therefore uncertain. It follows that we must distinguish sharply between truth and certainty.”

(Pengetahuan tersusun dari upaya pencarian kebenaran—pencarian teori-teori yang benar dan mampu memberi penjelasan secara objektif. Ia bukan pencarian kepastian. Keliru adalah manusiawi. Semua pengetahuan manusia bisa keliru dan karena itu tidak pasti. Oleh karenanya, kita harus membuat pembedaan tajam antara kebenaran dan kepastian.)

Yang terpenting dari pernyataan itu adalah “bisa keliru”, dan itulah karakteristik semua pengetahuan. Karena itu, Popper merumuskan pengetahuan atau teori sebagai sebuah konjektur—sebuah dugaan atau konklusi sementara atau hipotesis yang disusun dalam keterbatasan informasi—ia selalu bisa disangkal atau dibuktikan salah.

Keterbukaannya untuk disangkal atau dibuktikan salah inilah yang membuat pengetahuan tumbuh. Manusia akan terus memproduksi pengetahuan baru, teori baru. Teori yang lebih kuat akan menenggelamkan teori yang lebih lemah, atau temuan-temuan tertentu memperkuat teori yang sudah ada.

Popper mengibaratkan situasi ini sebagai “Darwinian struggle”, meskipun sebetulnya tidak tepat. “Survival of the fittest” Darwin bukanlah teori tentang yang kuat menyingkirkan yang lemah, melainkan yang paling ‘fit’, yang paling adaptif, yang akan bertahan.

Popper sendiri, jika ia Popperian, begitu mengeluarkan teori, ia serta-merta menyadari bahwa suatu saat akan ada orang yang menyangkal teorinya. Saya yakin begitu juga dengan Goenawan, yang menyatakan diri rada Popperian, ia juga pasti mafhum bahwa selalu akan ada penyangkal bagi apa-apa yang ia tawarkan.

Dalam semangat seperti itu, apa gunanya tudingan saintisme diajukan? Ia hanya akan terdengar sebagai sebuah alergi, itu satu jenis simptom, dan efek buruk simptom itu diperkuat dengan ajektif ‘pongah’ atau ‘sisa-sisa positivisme abad kesembilan belas.’ Jika apresiasi terhadap sains dituding sebagai saintisme, saya pikir orang lain berhak juga mengatakan bahwa tindakan penudingan adalah agomoisme atau sisa-sisa permusuhan abad pertengahan.

***

Agomoisme menyimpan bahaya terutama karena kita tak pernah tahu cara menanganinya. Ia gigih meng-agama-kan semua aspek kehidupan dan, sejauh ini, berhasil. Ia telah melahirkan antara lain buku pengenalan sains untuk anak-anak serial “Masya Allah!!!”, serial “Jejak Sains dalam Alquran”, serial “Super Amazing”, dan lain-lain. Ia melahirkan penemuan-penemuan yang mengejutkan (sebuah tulisan di internet menyebutkan bahwa, menurut Alkitab, seks adalah penemuan Allah). Ia menumbuhkan workshop-workshop poligami.

Dan, yang juga penting, ia memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang meremukkan hati: Tanya, Tadz, apa hukumnya gak bales chat berhari-hari tapi update feed dan story? Tanya, Tadz, apa hukumnya menikah dengan teman sekantor? Tanya, Tadz, bolehkan memukul anak yatim? Tanya, Tadz, saya ini, kan, punya kepribadian dan kepribadian itu pemberian Allah. Bolehkah kita mengubah kepribadian yang diciptakan oleh Allah? Tanya sedikit, Tadz, benarkah ada khasiat kencing unta dan bagaimana sebenarnya hukum meminum air kencing unta?

Saya akan meragukan kewarasan saya sendiri jika tidak sedih oleh fakta-fakta seperti itu. Hawe Setiawan mengirimi saya foto buku Bertrand Russell “Dampak Ilmu Pengetahuan atas Masyarakat”, dan di bawah foto itu ia membuat saran: Sepertinya tulisan yang cocok untuk gejala saat ini adalah “Dampak Masyarakat atas Ilmu Pengetahuan”.

Itu saran menarik. Kita bisa mengajukan pertanyaan: Ilmu pengetahuan apa yang akan dilahirkan oleh masyarakat yang sibuk menanyakan apa hukumnya meminum air kencing unta? Apa penemuan berikutnya setelah seks adalah penemuan Allah?

Jawaban sementara saya untuk meminimalisasi perangai ganjil yang ditimbulkan oleh agomoisme adalah scientific temper (perangai ilmiah). Istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh Jawaharlal Nehru di dalam bukunya “The Discovery of India", yang ia tulis selama empat tahun (1942-1946) di dalam penjara, dan kemudian dimasukkan ke dalam konstitusi saat India merdeka.

Di buku itu Nehru menulis: “Negara atau masyarakat yang tunduk kepada dogma dan terbelenggu oleh mentalitas dogmatis tidak akan pernah bisa maju. Celakanya, negara dan masyarakat kita terlampau dogmatis dan berpikiran sempit.” (Tulisan saya tentang topik ini dimuat di Beritagar.id, 27 Juli 2018, dengan judul “Melawan Takhayul dengan Scientific Temper”; saya menampilkannya di Facebook pada 20 Mei 2020.)

Motif menyuarakan scientific temper itulah yang melandasi kritik saya terhadap presentasi Goenawan Mohamad dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI), 20 Mei 2020 lalu, yang segera dicegat dengan reaksi yang mudah ditebak: Saintisme!

Tudingan itu terlalu mewah untuk sebuah masyarakat yang prestasi sainsnya suram, saintisnya bungkam, dan pusat-pusat sainsnya telantar. Pada 24 Juni 2018, Kumparan memberitakan bahwa 15 dari 24 pusat sains di Indonesia sudah tidak aktif dan ditutup.

Kalaupun semua pusat sains ditutup, saya akan tetap berpikir bahwa scientific temper patut dikedepankan dan disuarakan terus-menerus. Anda tidak harus memuja sains dengan mata berbinar-binar untuk mengembangkan perangai ilmiah. Dan perangai ilmiah tidak akan menghalangi Anda untuk bersikap kritis terhadap sains.

***

Ketika Goenawan menyodorkan anekdot Einstein dalam diskusi itu, saya menunggu penjelasan yang lebih mendalam kenapa Einstein mengatakan politik lebih sulit ketimbang fisika. Pikir saya, ia akan melakukannya. Ternyata tidak. Ia berhenti di anekdot itu tanpa elaborasi apa pun.

Tentu pernyataan Einstein itu mencengangkan banyak orang; saya membaca juga anekdot itu dan tafsir orang terhadapnya. Fisika lebih mudah menemukan jawaban konkret ketimbang politik. Politik hanya tampak lebih mudah karena sembarang orang sepertinya bisa menjadi pengamat, tetapi jawaban yang konkret sulit didapatkan: Politik berurusan dengan manusia dan tingkah polah yang sering bias dan irasional dan itu menjadikannya sulit diprediksi.

Saya sendiri baru saja membuktikan betapa sulitnya menebak manusia, yaitu tentang hubungan Goenawan Mohamad dan Hegel. Pernyataan saya: Goenawan menolak diajak berkhidmat pada sains, ia lebih memilih berkhidmat pada Hegel dan lain-lain.

Saya membuat pernyataan itu karena Hegel sering muncul dalam tulisan-tulisannya: Ia menyebut nama filsuf itu ketika menulis tentang Pramoedya Ananta Toer, ketika menulis tentang Rahman Tolleng, ketika menulis tentang maaf, dan ketika menulis tentang pisang. (Informasi rinci ini saya dapatkan dari Google yang sama dengan yang digunakan oleh orang-orang lain.)

Pengetahuan eksperiensial mengingatkan saya bahwa teman-teman yang sedang jatuh cinta biasanya akan sering menyebut-nyebut nama orang yang mereka cintai. Namun Goenawan ternyata anti-Hegelian, meskipun ia sering menyebut Hegel dalam banyak kesempatan—saya tidak tahu kenapa ia senang menyebutnya.

Jadi, keajekan atau gejala yang lazim saya temui dalam kenyataan orang-orang yang jatuh cinta tidak berlaku untuk menggambarkan hubungan Goenawan dan Hegel. Di luar cinta, kebencian juga mendorong orang rajin membicarakan orang lain; kita bisa menjumpainya dalam propaganda untuk menjatuhkan lawan politik.

Tetapi saya tidak yakin itu motif Goenawan dalam kesukaannya merujuk Hegel. Ia dan Hegel tidak dalam pertarungan politik, dan Hegel sudah lama mati.

Satu pandangan lain ditawarkan oleh penulis Rumania Nicolae Teodosie Draghicescu. Ia menyebut gejala itu sebagai filsafatisme, yaitu sebuah monolog yang dimaksudkan untuk menggertak atau membuat orang silau dan kebingungan menghadapi hujan deras nama-nama dan kutipan-kutipan dan konsep-konsep abstrak, dan juga untuk menjadikannya terdengar falsafi dan melelahkan.

Sebagai teknik, presentasi semacam itu serupa dengan teknik para politisi yang berfoto dengan engkongnya sebagai latar belakang. Sebagai tindakan, ia serupa yang dilakukan orang-orang zaman dulu untuk pamer kekayaan dengan memasang gigi emas: ia bisa indah bisa ruwet, tetapi sudah pasti menyilaukan.

Saya bisa membuat pembahasan lebih panjang lagi dengan menjelaskan pemakaian kata berkhidmat, tetapi itu tidak penting dibandingkan kejutan yang saya dapat ketika Goenawan memandang tema sains versus agama sebagai urusan yang sudah lama dimamah biak.

Saya perlu berhati-hati dengan frase “urusan yang sudah lama dimamah biak”. Mungkin itu sama artinya dengan makanan basi, atau kaos oblong yang sudah jadi gombal atau isu yang sudah bukan trending topic. Jika Goenawan seorang Popperian, atau rada Popperian, ia akan segera menyadari bahwa pernyataannya itu anti-Popperian.

Pencarian kebenaran tidak pernah basi; ia bukan fashion yang akan tertinggal dalam satu atau dua tahun, sebab ia sebuah proses tak ada ujung.

Saya tak akan membela diri dari tudingan itu. Barangkali memang ada kesan bahwa saya sedang memperhadapkan sains dengan agama di dalam tulisan saya. Mungkin itu terjadi karena saya kesulitan memahami kolom “Entah”, sehingga tanggapan saya terhadap kolom itu tampak oleh Goenawan seperti tindakan orang gila: memukuli memedi sawah.

Saya bisa menjelaskan apa yang saya alami saat membaca kolom itu. Namun, sebelum dinyatakan salah memahami atau keliru mengidentifikasi masalah atau kurang informasi, saya akan mengakui bahwa saya tidak mampu menangkap apa isi pikiran yang ditawarkan: Saya hanya menemukan cipratan-cipratan seperti saya menyaksikan lukisan ekspresionis.

Satu cipratan menyampaikan informasi tentang orang-orang Yahudi yang dibakar. Cipratan berikutnya: “Epidemi Covid-19, yang kini berjangkit dari tempat ke tempat, berbeda skala dari wabah-wabah di zaman dahulu. Tapi ada yang sama: kembali Entah menyembul ke depan.”

Cipratan tentang wabah itu saya sangkal. Tidak sama. Kualitas informasi yang membuatnya tidak sama. Di zaman dulu, upaya menangani wabah dilakukan berdasarkan informasi dari kalangan agama. Di masa sekarang, dari kalangan sains.

Di sinilah segalanya bermula: Ada agama, ada sains, dan keduanya disebut berurutan, dan itu berarti ada orang sedang menggebuki memedi sawah. Saya harus mengaku tidak paham bagaimana proses penarikan kesimpulannya.

Sekali lagi, saya tidak ada kepentingan, setidaknya secara sadar, untuk mempertarungkan agama dengan sains. Agama memiliki urusan-urusannya sendiri yang harus dibereskan, dan ia juga memiliki urusan di level antariman yang bagaimanapun masih dibayang-bayangi ketegangan. Saya tidak ingin menambahkan urusan lain dengan menarungkannya dengan sains.

Satu cipratan lagi dalam ekspresionisme Goenawan muncul dalam bentuk pernyataan ini: “Mengetahui” adalah membuat pigura atas realitas.

Kalimat pendek itu membuat saya berpikir panjang. Kenapa “mengetahui” harus dipigura dalam tanda petik dan bukan dibiarkan polos saja? Apakah dengan kalimat itu “Goenawan Mohamad” ingin menyatakan bahwa “mengetahui” adalah “tindakan buruk”? Apakah lebih “baik” semua orang “tidak mengetahui” agar “kemurnian” tetap “terjaga”?

Ia mengundang Heidegger, ia mengundang Husserl untuk membuat saya memahami kalimat itu, dan untuk menunjukkan bahwa ia tidak sendirian dalam keberatan utamanya terhadap sains.

Kritiknya yang lain, semoga saya tidak keliru menyampaikan, adalah perihal ketundukan sains kepada modal besar, kepada kepentingan bisnis dan politik. Sains menjadi pelayan teknologi, ilmu pengetahuan mengingkari karakteristik ketidaksempurnaannya dan menjadikan dirinya takabur dengan menjanjikan kepastian.

Produsen obat bengek tidak akan mengatakan jika Anda menelan obat ini Anda punya kemungkinan sembuh. Sekiranya Goenawan menyampaikan aspek ini pada diskusi “Berkhidmat pada Sains”, presentasinya akan lebih bermakna dan kita akan mendapatkan informasi-informasi lain di seputar ini dari para pembicara lain, dan juga dari para peserta aktif, yang mencoba menanggapi kritiknya.

***

Ide-ide para filsuf adalah kegelapan total bagi orang kebanyakan. Husserl menyampaikan pendapatnya tentang bagaimana pengetahuan seharusnya didapatkan. Heidegger punya pendapatnya sendiri. Hegel sudah tentu punya pendapat berbeda.

Faktanya, jagat raya terbentang dan banyak hal tidak diketahui dan manusia berusaha tahu. “Ada apa di sana? Lalu ada apa lagi di sana? Lalu ada apa lagi di sana?” Rasa ingin tahu semacam itu melahirkan geografi, sebuah ilmu yang menjawab pertanyaan: “Ada apa saja di sana?” Sejumlah pendapat menyatakan bahwa geografi adalah induk ilmu pengetahuan.

Ketika pengetahuan bertambah, manusia menciptakan globe, sebuah model, sebuah representasi yang disederhanakan, bagi bumi. Mula-mula jauh dari akurat; pembuat pertamanya jelas tidak memiliki informasi bahwa ada tempat yang kelak bernama Indonesia. Sampai berabad-abad sejak yang pertama, globe masih dibuat dengan poros tegak lurus.

Rasa ingin tahu tidak sekadar melahirkan jawaban, tetapi rasa ingin tahu berikutnya, dan begitu terus hingga hari ini. Manusia memerlukan model untuk mempresentasikan pengetahuannya dan juga untuk menguji hipotesis. Guru SD menggunakan bola dan lampu senter untuk menjelaskan terjadinya siang dan malam. Arsitek membuat maket untuk mempresentasikan bangunan yang hendak mereka wujudkan. Museum menampilkan diorama.

Para ilmuwan di laboratorium Bern, Swiss, menggunakan lalat buah untuk menguji hipotesis mereka tentang gen penyortir sel-sel rusak yang jika digandakan akan membuat manusia berumur lebih panjang. Gen itu, mereka manamainya Azot mengikuti nama dewa pelindung nelayan bangsa Aztec, ada pada manusia dan lalat buah. Laporan penelitian mereka menginformasikan keberhasilan percobaan itu: Umur lalat-lalat buah mereka bertambah antara 50-60 persen ketika gen Azot, yang semula hanya dua, mereka jadikan tiga.

Apakah bekerja dengan model adalah simplifikasi? Tentu saja. Guru dan murid sama tahu bahwa bola bukanlah bumi dan lampu senter bukan matahari. Manusia memerlukan cara yang mudah dipahami untuk menyampaikan sesuatu. Agama juga memerlukan model—imajiner—dalam bentuk surga dan neraka sebagai representasi sangat sederhana tentang kenikmatan dan siksaan kekal dalam kehidupan setelah mati.

Kita tahu bahwa tidak semua aspek dalam kehidupan bisa dialami langsung atau diindrai. Jagat raya, dengan seratus miliar galaksi, terlalu besar untuk dialami langsung oleh tubuh manusia. Molekul terlalu kecil.

Bagaimana cara memahami perilaku benda-benda di jagat raya dan kromosom di dalam tubuh dengan pendekatan Husserl dan Heidegger atau siapa pun yang menyarankan pengalaman langsung dan persentuhan indrawi? Apakah saran mereka relevan untuk cabang pengetahuan biologi molekuler?

Goenawan menyajikan matematika dalam cara yang muram, sebagai pigura yang digunakan oleh para saintis untuk meringkus kehidupan ke dalam angka-angka. Saya ikut menggigil membayangkan kehidupan menjadi dingin, makna diabaikan, keharuan tak ada lagi, rasa estetika menguap.

Karena saya bukan saintis, saya akan mengundang Richard Feynman untuk membantu saya menjelaskan urusan ini. Ia yang paling tepat menjadi juru penerang: orang menjulukinya “the great explainer”. Feynman mampu menjelaskan hal-hal rumit dalam cara yang membuat anak umur delapan tahun atau mahasiswa baru bisa memahaminya. Dalam bukunya yang menghibur, dan cuma bacaan populer, “The Pleasure of Finding Things Out: The Best Short Works of Richard P. Feynman,” ia menuliskan:

“Saya punya teman seorang seniman dan kadang-kadang saya tidak setuju pada pendapatnya. Dia memegang bunga dan mengatakan, ‘Lihat betapa indahnya ini,’ dan saya setuju. Lalu dia berkata, ‘Aku sebagai seniman dapat melihat betapa indahnya bunga ini, tetapi kamu sebagai ilmuwan mencacah-cacahnya dan ia menjadi buruk.’

Saya pikir dia agak gila. Pertama-tama, keindahan yang dia lihat bisa dilihat oleh orang lain dan oleh saya juga. Meskipun pemahaman estetika saya tidak sebaik dia, saya bisa menghargai keindahan bunga. Dan, pada saat yang sama, saya melihat lebih banyak lagi tentang bunga itu daripada yang dia lihat. Saya bisa membayangkan sel-sel dan tindakan-tindakan rumit di dalamnya yang juga memiliki keindahan. Maksud saya bukan hanya keindahan pada dimensi satu sentimeter; ada juga keindahan pada dimensi yang lebih kecil, struktur bagian dalam. Juga keindahan sebuah proses.

Fakta bahwa warna-warna pada bunga ber-evolusi untuk menarik serangga agar menyerbukinya itu sungguh menarik. Artinya, serangga dapat melihat warnanya. Ini menambah pertanyaan: apakah kepekaan estetika ini juga ada pada makhluk-makhluk yang lebih kecil? Mengapa ia estetis? Semua jenis pertanyaan menarik yang diajukan oleh ilmu pengetahuan hanya akan menambah kegembiraan, misteri, dan ketakjuban terhadap sekuntum bunga. Hanya menambah. Saya tidak paham bagaimana itu disebut mengurangi."

Dari Feynman, saya setidaknya mendapatkan informasi bahwa kuntum-kuntum bunga memiliki naluri untuk bersolek, dan serangga-serangga memiliki rasa estetika untuk mengapresiasi keindahan si pesolek.

***

Berbeda dari kemuraman Goenawan, bagi para pencintanya, matematika adalah cahaya kegembiraan. Saya pencinta amatiran matematika. Mata saya tidak memerlukan perkembangan mutakhir sains untuk berbinar-binar.

Sekadar informasi, saya punya dua mata dan keduanya selalu berbinar-binar bahkan hanya dengan membaca buku anak-anak yang memperkenalkan keajaiban matematika. Dan saya seperti menemukan mukjizat ketika suatu hari mendapati persamaan yang rumit sekali oleh Bertrand Russell untuk membuktikan bahwa 1+1 adalah benar-benar dua, bukan dua setengah atau tujuh seperempat atau tiga puluh sembilan. Jika Russell keliru dengan persamaannya, tentu ada matematikawan lain yang menyanggahnya.

Dengan persamaan matematika, orang-orang seperti Einstein dan Stephen Hawking dan para astronom lain bisa membangun model untuk memahami jagat raya. Dengan pola yang matematis, Beethoven melahirkan komposisi-komposisinya. Piano adalah instrumen yang sangat matematis. Musik adalah ekspresi artistik yang sangat dekat dengan matematika: bahkan musik yang lahir dari ibu-ibu di dusun yang mendeplok padi pada lesung, bahkan tetabuhan untuk membangunkan orang sahur.

Di mana ada pola di situ ada matematika, sebab matematika adalah juga ilmu tentang pola. Dengan demikian, para penyair sesungguhnya juga dekat dengan matematika, meskipun tidak menyadarinya dan bahkan membenci angka-angka. 

Alam semesta sangat matematis; perilakunya berpola: siang dan malam selalu begitu, matahari selalu terbit dari timur, satu tahun selalu 365 ¼ hari, dan sebagainya. Kita beruntung karena alam semesta bekerja dengan pola. Karena berpola, ia bisa dipelajari, dan bisa didekati dengan matematika. Itu pula sebabnya orang mengatakan bahwa matematika adalah bahasa alam semesta.

Harus diakui, mata saya berbinar-binar dengan itu. Bahkan untuk urusan yang sangat remeh pun, yaitu mengetahui panjang garis lingkar bumi, matematika juga membuat mata saya berbinar.

Eratosthenes, orang Yunani abad ke-3 SM, adalah orang pertama yang berpikir bahwa bumi bukanlah bidang datar melainkan sebuah bola raksasa. Pemikiran itu muncul karena ia ahli matematika: Ia mengamati bayang-bayang yang tercipta di permukaan tanah oleh cahaya matahari. Ia memperhatikan bahwa, pada tengah hari, derajat kemiringan bayang-bayang di kota kelahirannya Cyrene (Aswan sekarang) berbeda dari derajat kemiringan di Aleksandria.

Mengenai panjang garis lingkar bumi, ia yakin bahwa jika ia tahu jarak dari Cyrene ke Aleksandria, ia akan tahu berapa panjang garis lingkar bumi. Dengan teknologi saat ini, orang bisa tahu dengan mudah bahwa lingkar bumi adalah 24.860 mil atau 40.000 kilometer. Pada abad ketiga sebelum masehi, Eratosthenes membuat perkiraan yang hanya berselisih antara -2 dan +1 persen dari angka itu.

Eratosthenes tidak mungkin bisa menduga panjang lingkar bumi tanpa menggunakan model matematis, sesuatu yang dasar-dasarnya sudah diperkenalkan kepada kita sejak SD melalui soal cerita. Masalahnya, sampai lulus SMA, saya tidak tahu bahwa itulah yang dinamakan model matematis. Tidak ada yang memberi tahu hal itu; setidaknya, dalam pengalaman saya, tidak pernah saya mendengar penjelasan tentang pemodelan itu sampai saya tamat SMA.

Contoh sederhana untuk pemodelan matematika bisa kita dapatkan dalam soal cerita ini: “Tini memelihara burung nuri dan anjing di rumahnya. Jumlah burung nuri dua kali lipat dibandingkan jumlah anjing. Jika N adalah jumlah burung nuri dan A adalah jumlah anjing, manakah persamaan yang benar? N=2A atau 2N=A?”

Jawaban yang benar adalah N=2A. Maka, kita bisa mengatakan bahwa N=2A adalah model matematis yang mewakili perbandingan jumlah burung nuri dan anjing di rumah Tini.

Model matematis bisa sesederhana itu, bisa serumit model yang digunakan untuk membaca cuaca, musim, dan jagat raya. Tentu ada penyederhanaan di dalam pemodelan, ada reduksi, tetapi sampai saat ini matematika masih menjadi alat terbaik bagi para saintis untuk membangun model.

***

Dengan matematika yang menakjubkan, saya menjadi kaget ketika Alfred North Whitehead, seorang pencinta matematika, orang yang bersama Bertrand Russell menulis tiga jilid “Principia Mathematica”, dihadirkan untuk membuat kampanye hitam tentang ilmu yang ia cintai. Goenawan (saya sebetulnya kikuk sekali menulis Goenawan sebab saya biasa menyebutnya Mas Goen) yang memberi tahu dalam dua paragraf yang membuat langit-langit rumah saya seolah runtuh seketika menimpa kepala.

“Tapi saya ingin mengingatkan, seorang matematikawan besar pernah menyebut hubungan matematika dengan kekecewaan: ilmu ini sungguh muskil, dan kita gegabah untuk begitu saja menggunakannya menerjemahkan semesta.

“’We are told that by its aid the stars are weighed and the billions of molecules in a drop of water are counted. Yet, like the ghost of Hamlet's father, this great science eludes the efforts of our mental weapons to grasp it.’ — Alfred North Whitehead, dalam “An Introduction to Mathematics”.

Bagaimana mungkin Pak Whitehead menulis seperti itu di dalam buku pengantar matematika?

Saya menemukan ebook “An Introduction to Mathematics”, yang sudah berstatus public domain (terbit 1911), dan kutipan yang disodorkan Goenawan ada di paragraf pembuka bab 1 buku itu.

“THE study of mathematics is apt to commence in disappointment. The important applications of the science, the theoretical interest of its ideas, and the logical rigour of its methods, all generate the expectation of a speedy introduction to processes of interest. We are told that by its aid the stars are weighed and the billions of molecules in a drop of water are counted. Yet, like the ghost of Hamlet’s father, this great science eludes the efforts of our mental weapons to grasp it — ‘’Tis here, ’tis there, ’tis gone’— and what we do see does not suggest the same excuse for illusiveness as sufficed for the ghost, that it is too noble for our gross methods. ‘A show of violence,’ if ever excusable, may surely be ‘offered’ to the trivial results which occupy the pages of some elementary mathematical treatises.”

Paragraf ini sebetulnya menyampaikan gambaran umum bahwa studi matematika cenderung membuat orang kecewa. Mereka mendengar segala macam kehebatan sains ini dan tidak sabar untuk segera mendapatkan semua kehebatan itu. Kita diberi tahu, misalnya, bahwa, dengan bantuan matematika, kita bisa menimbang bobot bintang-bintang dan menghitung miliaran molekul dalam setetes air. Tetapi sains yang hebat ini ternyata sulit dipahami—ia selalu menghindar dari upaya kita memahaminya.

Whitehead mengibaratkan kesulitan orang memahami matematika itu dengan kesulitan Horatio dan dua penjaga malam lainnya saat berusaha menangkap hantu ayah Hamlet: “Ia di sini, ia di sana, ia menghilang.” Mereka gagal mendapatkan kehebatan yang mereka harapkan; kebanyakan orang justru menjadi frustrasi harus mengerjakan tugas yang begitu-begitu saja dari risalah matematika dasar. Kurang lebih, seperti kebanyakan murid sekolah frustrasi karena tidak tahu kenapa harus mempelajari sinus, cosinus, tangent, akar kuadrat, dan sebagainya.

Saya lega. Ternyata tidak ada masalah pada pernyataan Pak Whitehead: ia tidak mengabarkan cerita horor tentang ilmunya. Satu-satunya masalah adalah ia menyebut matematika sebagai sains.

Memang, pada masa ia hidup, matematika digolongkan ke dalam sains. Saat ini tidak lagi, kurang lebih seperti Pluto yang dikeluarkan dari kelompok planet-planet. Matematika tidak dianggap sains karena ia melakukan pembuktian kebenaran melalui logika formal.

Tetapi saya sedih juga. Goenawan menitipkan kritiknya terhadap sains melalui pernyataan Husserl bahwa Galileo adalah “jenius yang menemukan dan sekaligus menyembunyikan,” dan ia menambahkan bahwa dengan kritik Husserl “kita bisa melihat bagaimana dunia yang diletakkan dalam kerangka matematis merepresentasikan ‘Lebenswelt’, dunia kehidupan, dengan mereduksinya.”

Saya pikir Mas Goen tidak perlu melakukan hal itu. Dengan cara ia mengutip Whitehead, kita bisa melihat bagaimana seluruh tudingannya, yang menggunakan argumen Husserl, berbalik ke arahnya: Ia menyembunyikan, ia mereduksi, ia membuat disinformasi.

Saya menyampaikan hal ini dengan ingatan terhadap hal yang paling ditekankan dalam kerja jurnalistik: Berkomentar itu bebas, tetapi fakta itu suci. Tulisan Goenawan, dengan banyak kutipan narasumber, saya baca sebagai semacam laporan jurnalistik yang rumit. Penekanan saya pada jurnalistiknya, bukan rumitnya. Sebagai laporan jurnalistik, semestinya ia menjunjung tinggi fakta di atas kepentingan pribadi penulisnya.

Dari Budiono Darsono, saya mendapatkan pengetahuan bahwa komentar narasumber adalah fakta jurnalistik. Itu memperbaiki pemahaman saya yang sebelumnya hanya menganggap setiap komentar sebagai opini. “Bagi orang yang mengucapkan, itu memang opini,” kata Budi. “Tapi bagi wartawan, ia fakta jurnalistik. Kita tidak boleh memelintirnya.”

***

Sebelum menutup tulisan ini, saya ingin menyampaikan pengakuan bahwa saya hanya menyebut nama-nama teman. Tidak ada nama hebat di dalam tulisan ini, kecuali penulis Rumania Nicolae Teodosie Draghicescu, dan itu pun fiktif.

Polemik ini, bagaimanapun, memberi kegembiraan—paling tidak kepada saya sendiri. Orang tahu bahwa saya bukan saintis, bukan filsuf, dan sudah terlambat untuk mengganti cita-cita. Saya hanya ingin mendorong pembicaraan lebih serius tentang scientific temper.

Sains punya potensi destruktif, saya setuju. Tongkat kayu, api unggun, atau anjing pudel juga punya potensi destruktif. Saya bersungguh-sungguh. Manusia hadir di dunia dalam keadaan lemah; bayi-bayi manusia dilahirkan sangat prematur, tidak sanggup melindungi diri, tidak sanggup menolong dirinya sendiri: ia butuh waktu satu tahun atau lebih untuk sekadar bisa berjalan dan butuh bertahun-tahun lagi untuk menjadi dewasa dan mampu menjalani kehidupannya sendiri.

Para saintis menyatakan bahwa ketidakberdayaan itu membuat manusia mengembangkan, secara naluriah, perasaan tidak aman dalam kehadirannya di tengah alam. Binatang buas adalah ancaman, manusia di luar kelompoknya adalah ancaman lain. Ia membutuhkan alat pelindung untuk mempertahankan kelangsungan hidup.

Ketika manusia menemukan api, ia menjadi tahu bahwa api membuatnya terhindar dari binatang buas, dan selanjutnya ia tahu bahwa dengan api ia bisa membuat senjata, yang makin lama makin canggih, dan, dengan peralatan secanggih apa pun, manusia tetap merasa tidak aman. Untuk hari ini, manusia tidak takut lagi pada binatang buas, kebanyakan dari mereka sudah punah dan yang masih ada hampir punah, tetapi manusia masih mempertahankan perasaan tidak aman pada manusia lain di luar kelompoknya.

Kita bisa mengkritik sains, tetapi mencegah sains adalah sama dengan memaksa orang berhenti ingin tahu. Itu tidak mungkin. Yang lebih bisa dilakukan adalah meminimalkan naluri tidak aman, yang terwariskan turun-temurun sejak generasi pertama homo sapiens, dan melakukan upaya sadar untuk menumbuhkan sikap respek kepada manusia lain, kepada lingkungan, kepada alam.

Dan upaya sadar berarti adalah pendidikan, penumbuhan kesadaran, sebab pada fase itulah kanak-kanak akan tumbuh menjadi orang dewasa dan menjalani hidupnya entah sebagai saintis, jurnalis, politisi, kerani, atau apa pun. Selama manusia masih menyimpan pandangan-pandangan diskriminatif, apa saja bisa membahayakan. Dan teknologi, sebagai anak kandung sains, tentu saja bisa sangat membahayakan.

Untuk yang sudah telanjur tua, saya pikir kita harus berani memeriksa apa yang tersimpan di dalam kepala kita.