Teknologi yang kita nikmati sekarang ini tak lepas dari sains fundamental. Produk seperti televisi, telepon, laptop adalah manifestasi dari pengetahuan manusia tentang medan elektromagnetik (listrik-magnet). Begitu juga dengan kendaraan-kendaraan yang biasa kita pakai itu tak akan terwujud tanpa pemahaman tentang mekanika dan termodinamika.

Begitu besar peran sains dalam kehidupan kita ini. Namun sebagaimana desain pakaian yang membawa nilai dari pembuatnya, sains juga membawa nilai dari ilmuwan. Sains yang telah berkembang saat ini dibangun dengan nilai materialisme. Maka Tuhan seakan-akan tak ada tempat dalam dunia sains. Inilah yang membuat sebagian ilmuwan menjadi ateis.

Seperti misalnya Stephen Hawking yang mengatakan bahwa alam semesta ini tercipta dengan sendirinya yakni tercipta dengan mekanisme alamiah yang sudah lengkap dengan hukum-hukum alamnya. Charles Darwin maupun Richard Dawkins dengan nada yang serupa telah membangun konsep evolusi dan menolak penciptaan manusia.

Tentu hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai agama, termasuk islam. Sebagai orang yang beriman, kita wajib menentang pandangan-pandangan di atas. Anehnya, sebagian umat islam menerimanya dan mengatakan bahwa Alquran telah berbicara sains secara salah. Na’udzubillahi min dzalik.

Mari kita kaji lebih jauh sains secara aksiologi. Aksiologi merupakan cabang filsafat yang fokusan pembahasannya tentang nilai. Sains modern yang mapan dengan nilai materialisme sebagaimana yang telah disinggung di atas juga membuat kebanyakan orang menjadi sekuler. Para ilmuwan-ilmuwan barat mencoba menyibak tabir misteri alam hanya sekadar untuk memenuhi kepuasan intelektualnya.

Pelajar muslim pun ketika mempelajari sains kurang memperhatikan apakah sains itu selaras atau bertentangan dengan nilai-nilai agama yang dianutnya. Ini terbukti karena ketika mereka menerima pelajaran di kelas tentang materi teori atom, tak ada sanggahan yang kritis. Saya pun dulu begitu. Padahal dikatakan bahwa atom itu tak dapat diciptakan dan tak dapat dimusnahkan. Bukankah segala yang ada di alam semeta ini diciptakan oleh Allah SWT? Dan bukankah saat kiamat semuanya akan musnah atau dihancurkan?

Begini gambaran yang terjadi pada pelajar muslim. Pagi di sekolah diajarkan tentang atom yang materialistis oleh guru yang juga muslim. Malamnya diajarkan rukun iman oleh kyai saat mengaji di Surau. Sungguh kondisi yang ironis. Meskipun konsep atom tersebut pada akhirnya telah direvisi oleh teori atom yang lebih mutakhir bahwa partikel-partikel bisa tercipta dan musnah, seharusnya sejak awal kita harus mempertanyakan jika ada teori sains yang menyimpang dari ajaran islam.

Namun tidak semua ilmuwan-ilmuwan barat itu ateis. Siapa yang tidak tahu Albert Einstein? Fisikawan yang menemukan teori relativitas dan menjadikannya masyhur. Saat Einstein berdebat dengan Niels Bohr tentang teori kuantum, ia mengatakan “Tuhan tidak bermain dadu”. Terlihat sisi agamis dari Einstein dalam kalimat tersebut. Ia juga pernah mengatakan “Sains tanpa agama lumpuh, agama tanpa sains buta”. Einstein saja tak memandang bahwa sains dan agama itu konflik dan independen.

Sejatinya ketika kita mempelajari alam semesta, kita sedang mempelajari kebijakan-kebijakan Allah SWT terhadap alam semesta. Dalam Alquran juga jelas bahwa kita disuruh memikirkan fenomena pergantian siang dan malam, dan sebagainya. Oleh karena itu, hapuslah stigma bahwa sains itu ilmunya orang kafir. Tidak ! Semua ilmu milik Allah SWT, tinggal siapa yang mau mempelajari dan menelitinya.

Sadar atau tidak, YouTube sebagai salah satu hasil dari kemajuan sains dan teknologi, tidak memuat kategori Religion. Saya baru menyadari ketika membantu guru saya untuk mengunggah video di channel beliau. Saya menjadi heran dan bertanya-tanya, lalu video-video kajian ustadz abdul somad dan ustadz adi hidayat itu kategorinya apa? 

Setelah mengecek video kajian-kajian tersebut, ternyata ditaruh di kategori Education. Memang betul sifatnya mendidik tapi lebih tepat lagi kalau ada di kategori Religion. Mengapa tidak ada kategori tersebut? 

Lagi-lagi sungguh ironis, tapi secara sederhana jawabannya adalah karena  dua dari tiga pendiri YouTube bukan muslim, adapun Jawed Karim meskipun muslim tapi sering disebut pendiri ketiga dan perannya tidak dominan dalam perkembangan YouTube.

Hendaknya banyak dari kaum muslimin, khususnya yang tertarik sains untuk terjun menekuni sains. Dengan penguasaan sains dan pada gilirannya teknologi maka kita dapat menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi ini dengan lebih baik. Kita dapat mengolah kekayaan alam untuk kemaslahatan umat.

Aksiologi juga erat kaitannya dengan tujuan ilmu pengetahuan. Maka bagi ilmuwan-ilmuwan muslim, aksiologi sains adalah mengenal Allah SWT melalui ciptaannya di alam semesta. Jika ilmuwan muslim berhasil menemukan teori sains maka semakin takjub dan tunduk kepada Sang Pencipta. Inilah yang membedakan dengan aksiologi sains bagi ilmuwan barat yang hampa spiritualitas.

Di tangan ilmuwan muslim, sains orientasinya lebih baik dan tak disalahgunakan. Nilai rahmatan lil ‘alamin dengan sendirinya berada dalam ruh sains. Maka tidak akan ada ledakan bom kecuali untuk urusan yang memang dibenarkan secara syariat. 

Tidak ada penindasan yang brutal seperti di palestina. Kerusakan lingkungan juga menjadi minim. Produk-produk sains digunakan dengan baik dan tak melanggar nilai-nilai Islam. Itulah pentingnya muslim yang mengendalikan peradaban sains.

Ayo kita bangkit dan rebut kembali kejayaan sains seperti pada masa al-haytham, al-kindi, ibnu sina, dan kawan-kawan. Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim semestinya ikut ambil bagian. Kita berharap akan ada di kemudian hari temuan-temuan sains dari para ilmuwan muslim indonesia. 

Kita upayakan agar ada temuan-temuan sains dengan nama-nama lokal yang menyertainya, misalnya Persamaan Addol, Dalil Simanjuntak, Teori Parbin atau yang sejenisnya. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah dengan bertambahnya ilmu kealaman (sains) menjadikan ilmuwan-ilmuwan muslim turut pula bertambah iman dan takwanya kepada Allah SWT.