Sebetulnya ada hal-hal lucu dalam polemik sains yang sedang berlangsung. Ini salah satunya: Beberapa hari lalu Mas Goen mengunggah, di wall facebooknya, tulisan panjang Bambang Sugiharto yang dibuat pada 2004. Judulnya mengagetkan: "Masih Perlukah Sains, Filsafat dan Agama?"

Bambang Sugiharto adalah profesor filsafat dan mengajar di perguruan tinggi dan ia mengajukan pertanyaan "masih perlukah filsafat?". Saya membayangkan Lionel Messi membuat pertanyaan "masih perlukah sepak bola di dunia yang fana ini?", atau seorang ekonom menanyakan "masih perlukah ilmu ekonomi?".

Dengan pertanyaan seperti itu, Bambang Sugiharto akan cenderung melakukan penalaran untuk membuktikan bahwa filsafat masih perlu. Kita menyebut penalaran seperti ini motivated reasoning (penalaran termotivasi)—penalaran yang didorong oleh hasrat untuk melakukan pembenaran terhadap apa yang ia yakini. Filsafat mungkin masih diperlukan, tetapi pembuktiannya tidak perlu melalui pertanyaan seperti itu.

Pasangan terbaik bagi motivated reasoning adalah confirmation bias (bias konfirmasi). Bias konfirmasi muncul dalam kecenderungan orang untuk mencari kutipan, dukungan otoritas, atau apa saja yang bisa menegaskan keyakinan dan mengabaikan segala yang bertentangan dengan apa yang ia yakini.

Para pendukung bumi datar, misalnya, jika dasar keyakinan mereka adalah teks-teks kitab suci, mereka akan mencari pendukung berupa ayat-ayat yang bisa mereka tafsirkan untuk membenarkan keyakinan mereka. Mereka akan mengabaikan segala macam informasi dan bukti-bukti yang menyanggah keyakinan mereka.

Tulisan yang dibuka dengan judul mengagetkan itu ditutup dengan paragraf yang mengagetkan juga:

"Perguruan tinggi, yang senantiasa mencari kebenaran, mesti selalu berani meletakkan Tuhan—sang kebenaran itu—sebagai sesuatu yang masih perlu dicari. Keyakinan berlebihan bahwa kebenaran ilahi sudah ada di tangan mudah sekali membuat kita merasa mampu membaca pikiran Tuhan. Dan itu hanya satu langkah untuk menganggap diri kita Tuhan itu sendiri, lantas dengan mudah kita mengadili dan menghukum yang lain."

Tunggu dulu, Mas Bambang. Benarkah perguruan tinggi adalah institusi untuk mencari kebenaran semacam itu? Tidakkah terlalu berat bagi dosen-dosen perguruan tinggi untuk membimbing para mahasiswa melakukan pencarian kebenaran semacam itu?

Perguruan tinggi adalah lembaga pendidikan dan riset, yang memberikan gelar akademik untuk berbagai disiplin ilmu. Ia tidak berurusan dengan pencarian kebenaran sebagaimana dimaksudkan oleh paragraf itu. Ia memperkenalkan berbagai pendekatan dalam disiplin ilmu tertentu, mengajarkan metode ilmiah, mengajarkan cara-cara melakukan penelitian, dan sebagainya. Pendeknya, ia menyiapkan manusia untuk menjadi ahli dalam disiplin ilmu yang mereka pelajari.

Kita beruntung bahwa otak memiliki mekanisme untuk meminimalkan kejutan-kejutan. Dan pengetahuan membuat kemampuan kita membaik untuk mengatasi kejutan-kejutan itu. Ada banyak kejutan di dalam kehidupan sehari-hari; jika otak tidak memiliki kemampuan untuk meminimalkannya, kita bisa mati oleh kejutan yang jumlahnya melampaui batas yang bisa kita tangani.

*

Saya pikir kita harus memperjelas istilah "kebenaran" dalam diskusi sains ini. Goenawan Mohamad, dalam kolomnya "Pasti" meringkaskan pernyataan Karl Popper tentang pengetahuan sehingga bunyinya menjadi seperti semboyan: "Tujuan ilmu adalah kebenaran, bukan kepastian."

Jika urusan kebenaran itu tidak dibereskan, kebanyakan pembaca akan memahami kebenaran sebagaimana ditampilkan oleh Bambang Sugiharto di paragraf penutup tulisannya. Dan sains sudah pasti bukan alat untuk mencari kebenaran semacam itu: Tujuan sains bukan mencari Tuhan atau Dewa atau Yahweh atau apa pun sebutannya.

Sains tidak bekerja untuk mencari kebenaran sebagaimana Werkudara mencari air suci, atau para pertapa mencari kesejatian di gua-gua pertapaan, atau orang-orang saleh mencari kebenaran hakiki melalui laku yang mereka yakini. Kebenaran dalam sains sudah pasti berbeda juga dari kebenaran yang sering kita jumpai dalam kata-kata mutiara atau petuah-petuah kehidupan.

Yang disebut kebenaran dalam sains, dengan Popper sebagai acuan, adalah teori yang objektif dan mampu menjelaskan sesuatu. Sesuatu di sini bisa gravitasi, kecepatan cahaya, karakteristik virus, mutasi genetik, dan sebagainya tergantung disiplin ilmu.

Untuk menemukan kebenaran ilmiah semacam itu, sains melakukannya dengan metode yang makin diperbaiki dari waktu ke waktu. Dan inilah sumbangan terbesar sains: Ia memperkenalkan metode ilmiah, sehingga jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tidak cuma berupa spekulasi.

Metode ilmiah, yang di dalamnya ada analisis, sudah tentu tidak cocok dengan romantisisme kepenyairan. Bagaimanapun, efek besar dari penerapan metode ilmiah adalah terdesaknya metafora-metafora.

Cerita adalah metafora. Ada banyak cerita tentang lelaki dan perempuan pertama, ada banyak versi tentang bagaimana bumi dan langit diciptakan, ada banyak cerita tentang jin, setan, sampai ke hantu-hantu kelas rendah yang pekerjaannya menakuti tukang nasi goreng dan penjual sate, dan semua itu tiba-tiba harus berhadapan dengan cerita berbeda yang dikembangkan oleh sains.

Itu guncangan besar. Cerita, sebagaimana api dan pentungan, adalah alat bagi manusia untuk bertahan hidup. Dengan cerita, manusia memperkuat ikatan dengan manusia lain, menciptakan tujuan bersama, mendefinisikan baik-buruk, dan juga menetapkan kawan dan lawan.

Lalu sains melakukan tindakan subversif: Ia menyodorkan versi berbeda. Dan tidak seperti sumber-sumber lainnya, sains punya cara untuk mempertanggungjawabkan dan membuktikan validitas cerita yang ia sampaikan, dan cerita itu akan diperbaiki terus dari waktu ke waktu, terus disempurnakan, ditambah dengan informasi-informasi baru, dan selalu akan ada informasi baru sebab orang selalu ingin tahu.