Mahasiswa
2 bulan lalu · 72 view · 5 menit baca · Budaya 51202_35422.jpg
kicknews.today

Sains Modern ataukah Quran?

Revolusi kehidupan berjalan begitu cepat seolah tak bisa dihentikan. Sains sangat cepat menduduki takhta dan menjajah kehidupan manusia. Jika dipandang secara keseluruhan, sains modern merupakan penemuan yang unik.

Meskipun merupakan produk peradaban Barat, sains modern dan turunannya, teknologi, dieksplorasi dengan penuh gairah oleh semua budaya dan masyarakat di seluruh dunia. Saat ini hingga nanti, sains modern akan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Dalam langkah majunya yang penuh kemenangan, sains modern mampu menghapuskan semua cara lama dalam mengeksplorasi alam, setidaknya dalam pengertian praktis. Kita tak perlu melakukan penelitian bertahun-tahun untuk membuktikan aspek tentang semesta.

Fenomena antara sains dan Quran saat ini sedang menjadi trending. Sebagian orang berpendapat bahwa kebenaran ayat-ayat dalam al-Quran sudah diyakini oleh umat Islam sejak awal tanpa perlu membuktikannya, misal tentang penciptaan langit dan bumi, kehidupan, penciptaan manusia, dan sebagainya.

Di Makassar, cendekiawan muslim ahli perbandingan agama, penghafal serta memahami kitab-kitab agama menggelar orasi berjudul “Quran and Modern Science: Compatible or Incompatible”, yang khusus membahas tentang kesesuaian kitab suci umat muslim al-Quran dengan sains modern.

Orasinya tentang sains dan Quran di berbagai kesempatan semakin membuka lebar mata umat Islam, bahwa kitab yang dibawa Muhammad SAW 1.400 tahun lalu itu meskipun bukan sebuah buku sains, sangat bersesuaian dengan apa yang ditemukan oleh para ilmuwan di abad ke-20.

Pertama mengenai konsep bahwa alam semesta dahulu adalah sesuatu yang padu dibuktikan oleh ilmuwan peraih nobel, Arno Penzias, yang menemukan radiasi latar belakang sinar kosmik. Sisa radiasi ledakan besar (Big Bang) itu luar biasa seragam dan tersebar merata di seluruh penjuru alam semesta.

Ayat yang disebutnya terkait penciptaan itu antara lain adalah Quran surat al-Anbiyaa (21) ayat 30 yang menyatakan bahwa alam semesta dahulu merupakan suatu yang padu yang kemudian dipisahkan antara masing-masingnya.

Ilmuwan modern memang telah membuktikan bahwa alam semesta 13,7 miliar tahun lalu hanyalah suatu massa padat yang kemudian memuai dan meledak dan dikenal sebagai Big Bang.


Sejumlah bukti lainnya yang menunjukkan alam semesta berasal dari sebuah ledakan besar adalah terdapatnya kandungan Hidrogen dan Helium yang tersebar di seluruh jagat raya. Jika alam semesta tidak memiliki awal, seharusnya Hidrogen telah menghilang dari alam semesta ini karena perubahan atom Hidrogen menjadi atom Helium.

Itu adalah bukti yang ditemukan dari hasil penelitian yang panjang. Akhirnya, para ilmuwan di dunia mengakui kebenaran bahwa alam semesta lahir dari sebuah ledakan besar yang tentu saja diciptakan keberadaannya.

Bentuk kesesuaian lain dari Quran dan sains modern yaitu penjelasan mengenai dua laut yang tidak bisa bersatu dan terlihat seperti ada dinding yang memisahkan keduanya.

Fenomena alam yang aneh di Selat Gibraltar ini telah mengundang keheranan sekaligus decak kagum dunia. Selat Gibraltar memisahkan benua Afrika dan Eropa, tepatnya antara negara Maroko dan Spanyol. Penjelasan secara fisika modern terkait fenomena ini baru ada di abad 20 M oleh ahli-ahli oceanografi.

Para ilmuwan menjelaskan, karena Selat Gibraltar merupakan pertemuan antara dua laut yang berbeda, yaitu laut Atlantik dan laut tengah, maka ada fenomena yang menarik yang terjadi di sana. Kedua air laut bertemu namun kedua jenis air tersebut tidak bercampur. Dan garis batasnya pun dapat terlihat jelas.

Air laut dari Lautan Atlantik memasuki Laut Mediterania atau laut Tengah (Mediterania) melalui Selat Gibraltar. Keduanya mempunyai karakteristik yang berbeda,suhu air berbeda,kadar garam nya berbeda, dan kerapatan airnya pun berbeda.

Sifat lautan ketika bertemu, menurut sains modern, tidak bisa bercampur satu sama lain. Hal ini telah dijelaskan oleh para ahli kelautan. Dikarenakan adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah kedua air dari lautan tidak becampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka.

Dalam buku Al-Quran vs Sains Modern menurut Dr Zakir Naik karya Ramadhani dkk, seorang ahli oceanografi bernama Francis J. Cousteau pernah menyampaikan laporannya sebagai hasil pengkajiannya terhadap fenomena alam tersebut.

"Kami mempelajari pernyataan peneliti tertentu tentang penghalang yang memisahkan lautan dan mengamati bahwa Laut Mediterania memiliki salinitas dan kerapatan yang berbeda serta menjadi tempat hunian bagi flora dan fauna yang khas dari tempat itu," jelas Cousteau.


Pihaknya meneliti air di Samudera Atlantik dan menemukan sifat yang sama sekali berbeda dengan Laut Tengah. Awalnya mereka mengira kedua laut yang bertemu di Selat Gibraltar mestinya menunjukkan sifat yang serupa dalam salinitas, kerapatan, dan sifat-sifat lainnya.

Namun, kedua laut itu menunjukkan sifat berbeda walaupun keduanya berdampingan. Hal tersebut sangat mengherankan. Pembatas yang ada di antara pertemuan dua jenis air ini dijelaskan sekira 14 abad lalu di dalam salah satu ayat Al-Quran pada (Q.S. Al-Furqaan:53).

Namun, tak sedikit pula orang berpendapat bahwa Quran dan Sains modern tidak bisa berjalan bersama. Lalu, apakah bukti di atas kurang cukup untuk mewakili ini semua? Quran dan Sains modern adalah dua hal yang sangat kontra. Lalu bagaimana dengan kisah Adam dan Hawa sebagai manusia pertama?

Berkaitan dengan teori evolusi dari Charles Robert Darwin (1809-1882) mengenai dua inti pokok dari teorinya. Pertama , spesies yang hidup di masa sekarang berasal dari makhluk hidup yang berasal dari masa lampau. Kedua, evolusi terjadi karena adanya proses seleksi alam (natural selections).

Teori ini mempunyai kelemahan karena ada beberapa jenis tumbuhan yang tidak mengalami evolusi dan tetap dalam keadaan seperti semula. Seperti ganggang biru yang diperkirakan telah ada lebih dari satu milyar tahun namun hingga sekarang tetap sama.

Berdasarkan teori pertama dari Charles Darwin, penemuan fosil-fosil oleh para ilmuwan berpendapat bahwa asal usul manusia sesuai dengan teori evolusi merupakan hasil evolusi dari kera-kera besar (manusia kera berjalan tegak) selama bertahun-tahun dan telah mencapai bentuk yang paling sempurna.

Apakah bisa dikatakan bahwa nenek moyang kita adalah para kera? Bukankah ini sangat bertentangan dengan isi dari Quran yang menyatakan bahwa manusia pertama adalah Adam?

Lalu, siapa sebenernya nenek moyang kita? Apakah Adam seekor kera sebagaimana yang ditemukan oleh para ilmuwan? Kita tidak tahu mana yang benar ataupun salah. Dan hingga saat ini, pembicaraan ini masih terngiang-ngiang di telinga kita.

Semua ini sangat membingungkan kita bukan? Tapi kita juga tidak boleh mendoktrin diri dengan ilmu agama tanpa adanya filter yang baik, begitupun sebaliknya dengan ilmu sains modern. Seperti yang dikatakan oleh ilmuwan ternama Albert Einstein, “Pengetahuan tanpa agama adalah pincang dan agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta.”


Pernyataan Albert Einstein tersebut membuktikan bahwa agama dan ilmu pengetahuan tidak dapat dipertentangkan karena keduanya merupakan kedua hal yang perlu dipersatukan untuk membuat manusia berada dalam kemajuan namun juga tetap religius.

Namun, banyak orang yang masih pro dan kontra dalam menanggapi permasalahan ini. Hingga saat ini kita pun sulit untuk menentukan siapa pemenangnya, apakah Al-Quran, kitab suci yang diturunkan oleh Muhammad SAW, ataukah sains modern yang selalu berkembang setiap saat?

Sesungguhnya, yang sangat dibutuhkan disini adalah logika. Al-Quran dan sains modern adalah kedua hal yang sama-sama anugerah dari Tuhan. Daripada menimbulkan bentrok untuk menentukan siapa yang lebih unggul, lebih baik kita menggunakan akal sehat untuk berpikir dengan logika yang benar.

Logika dapat menjadi perantara keduanya. Kita tidak perlu berpihak salah satu diantara dua hal itu, kita hanya perlu memahami kehidupan ini lebih dalam dan belajar mensyukurinya.

Dari mana hendak ke mana
Tinggi rumput bak kepadi
Hari mana bulan yang mana
Semoga kita dapat bertemu kembali.

Referensi

Artikel Terkait