Researcher
1 bulan lalu · 123 view · 4 menit baca · Perempuan 33806_50724.jpg

Sains Milik Siapa?

Tahun 2017, saya bersama tim dari Indonesian Corsortium for Religious Studies (ICRS) Yogyakarta melakukan penelitian dari proyek Partnerships for Enhanced Engagement in Research (PEER), bantuan dana dari USAID dan NAS tentang penguatan pendidikan sains di sekolah Islam di Indonesia. Fokus penelitian saya adalah gender dan pendidikan sains.

Tahun 2016, Dewi Candraningrum melakukan penelitian tentang minat sains pelajar SMK di Jakarta. Dewi menemukan bahwa minat sains pelajar perempuan SMK di Jakarta rendah karena adanya mitos bahwa sains untuk anak laki-laki dan bukan untuk anak perempuan.

Kemudian, adanya rasa takut anak perempuan terhadap ibunya sendiri karena ibunya berpandangan bahwa sains adalah dunia laki-laki.

Berangkat dari hasil penelitian Dewi Candraningrum itulah penelitian tentang perempuan dan sains penting untuk dilanjutkan. Mengingat, dewasa ini, masyarakat muslim mengalami pertumbuhan kesalehan sosial dalam berbagai lini kehidupan, mulai dari ekonomi, sosial, politik, budaya, dan pendidikan.

Berangkat dari kegelisahan akademik tersebut, tulisan ini berpijak: bagaimana keberpihakan kebijakan sekolah, cara guru mengajar, respons siswa, dan keinginan orang tua terhadap sains? Apakah sains netral atau bias gender?

Peta Pengajaran IPA 

Tahun pertama melakukan penelitian, saya melakukan rekam pengamatan (observasi etnografi) aktivitas kegiatan belajar-mengajar (KBM) mata pelajaran IPA di sekolah selama 6 bulan, mulai dari kegiatan di dalam kelas hingga kegiatan praktikum di laboratorium. Kemudian mencatat peralatan laboratrium sekolah dan karya-karya sains siswi.

Di sekolah Islam, khususnya yang berada di bawah yayasan pondok pesantren, baik itu madrasah atau sekolah (MTs/SMP), ruangan kelas antara siswi (perempuan) dengan siswa (laki-laki) dipisah oleh ruangan yang berbeda. Pemisahan tersebut, menurut kepala sekolah, karena mengingat pondok pesantren memegang teguh konsep batas antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. 

Kondisi kelas yang dipisah antara laki-laki dan perempuan, menurut saya, menjadi pendukung utama kenapa sekolah menjadi senyap dan jauh dari kondisi gaduh. Kondisi demikian juga dialami oleh tim peneliti yang lain, yang mana di sekolah diterapkan kebijakan pemisahan ruangan kelas siswi dan siswa.

Tidak hanya pemisahan ruangan kelas, jam pelajaran antara siswi dan siswa juga dilakukan pemisahan. Dari semua objek penelitian yang dilakukan oleh tim PEER, hanya satu sekolah yang melakukan konsep pemisahan jam pelajaran antara murid laki-laki dan murid perempuan. Satu sekolah inilah yang akan saya sampaikan di tulisan ini.

Menurut Ketua Yayasan yang menaungi madrasah tersebut, alasan pemisahan jam pelajaran adalah karena keterbatasan sarana dan prasarana sekolah. Sehingga yayasan dan madrasah mengeluarkan kebijakan pemisahan jam pelajaran: dari jam 07.00-12.00 WIB adalah waktu jam belajar untuk  laki-laki, sedangkan dari jam 12.30-17.00 WIB adalah waktu belajar untuk perempuan.

Bangunan sekolah berkonsep alam, dengan bentuk bangunan sekolah dari bambu dan beratap jerami dan berlantai ubin. Sekolah dikelilingi oleh sawah milik warga sekitar. 

Sekolah tidak memiliki ruangan laboratorium khusus. Alat laboratorium yang tersedia adalah satu buah mikroskop yang terbungkus plastik dan kardus, maka, setiap pelajaran IPA, guru menggunakan mikroskop buatan atau yang biasa dikenal dengan konsep mikroskop alam.

Dalam satu semester pelajaran IPA, guru IPA melakukan pengamatan sains berlangsung 2 hingga tiga kali. Dan metode yang lebih sering digunakan adalah ceramah. Sehingga banyak sekali siswi-siswi, ketika pelajaran IPA berlangsung, siap-siap dengan PW (posisi wenak) untuk tidur di bangku panjang.

Di samping jam pelajaran yang mendukung, yaitu di siang hari, setelah murid perempuan beraktivitas di pondok mengikuti pengajian kitab kuning dari pagi hingga menjelang salat zuhur. Dan setelah salat zuhur berjemaah, murid perempuan melanjutkan aktivitas kegiatan formal, yaitu ke madrasah.

Padahal, otak di siang hari sudah “lelah”, sehingga ilmu yang masuk kurang diterima secara maksimal. Berbeda halnya dengan kondisi siswa laki-laki, ia mendapat ilmu IPA di pagi hari ketika otak masih segar dan siang hari mendapat waktu untuk istirahat. 

“Gap” Sains

Kurangnya alat laboratorium, kurangnya praktikum, pemisahan jam pelajaran IPA bagi anak perempuan mungkin hanya satu contoh kasus yang peneliti dapat di lapangan. Tetapi kondisi yang demikian menunjukkan lemahnya minat sains yang terlembaga dalam kebijakan madrasah.

Diakui atau tidak, sekolah Islam atau Madrasah yang berada di bawah naungan pondok pesantren “miskin” laboratorium. Terlepas dari keterbatasan finansial sekolah, kondisi tersebut menjadikan minat sains untuk memajukan Islam dengan modal kecanggihan sains dan tekhnologi seperti perkembangan zaman modern sekarang menjadi kendala.

Apalagi kebijakan Madrasah yang melakukan pemisahan jam pelajaran, utamanya pelajaran IPA menunjukkan sebuah segregasi gender dalam pendidikan sains. Sehingga ketika peneliti melakukan wawancara kepada siswi-siswi dan orang tua murid, hasilnya tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Dewi Candraningrum.

Bahwa siswi-siswi memiliki minat tinggi terhadap sains, tetapi terkendala oleh fasilitas Madrasah yang kurang, jam pelajaran IPA di siang hari, dan aktivitas pondok yang padat membuat kurang fokus, dan rendahnya minat orang tua terhadap minat sains karena tingginya minat pada ilmu pengetahuan agama seputar fikih, tafsir, dan hadis.

Maka akan menjadi kekhawatiran apa yang diharapkan oleh Donna Haraway yang menekankan pentingnya perempuan menguasai sains dan teknologi untuk melawan bias maskulin dalam budaya sains yang tidak adil terhadap perempuan. 

Tetapi realitas yang ada, terdapat ”gap” sains untuk anak perempuan dan anak laki-laki. Mengutip pertanyaan Sandra Harding, ”Sains itu milik siapa...?”