Dengan ilustrasi yang semoga tidak menjadi simplikasi terhadap proses dan prosedur ilmiah tersebut, dapat dipastikan bahwa tidak mungkin sains dianggap "segala-galanya"—walaupun sebetulnya kita tidak tahu apa yang dimaksud Goenawan dengan frasa ini.

Apakah ia menganggap ada orang yang yakin sains mampu menjelaskan segala hal ihwal; ataukah ada yang menganggap sains mampu memberi solusi atas semua masalah dalam hidup ini?

Prosedur sains terlalu panjang, pencapaian hasilnya sering belum konklusif. Peluang kesalahan, dan karena itu koreksinya, selalu terbuka dan, yang terpenting: kebenaran yang dicapainya niscaya adalah kebenaran fungsional (atau konjektural), artinya sesuai konteksnya, yang dirumuskan berdasarkan informasi yang tak lengkap.

Kebenaran saintifik tidak mungkin berupa truth dalam arti sebagaimana diklaim oleh agama-agama, yang sesungguhnya tidak pernah mutlak pula, terbukti dari berbeda-bedanya mereka memaknai apa yang mereka yakini sebagai kebenaran ilahiah. Dan yang lebih penting: agama-agama tidak pernah memaparkan metodologi untuk tiba pada kesimpulan tertentu, dan langsung saja mengklaim truth versi masing-masing.

Misalnya: para pemuka Hinduisme, yang menyamar sebagai ilmuwan dan menjadi anggota Kongres Sains India, mengusulkan teori “Narendra Modi Waves” sebagai koreksi sekaligus sintesis terhadap teori Einstein dan Newton. Mereka yakin Perdana Menteri India itu, atas dasar pembacaan teks-teks suci, telah mendapatkan truth di bidang fisika fundamental.

Sebelumnya, pakar-pakar medis Hindu meraih truth dan dengan itu mendesak fakultas-fakultas kedokteran di seluruh India agar memasukkan terapi kencing sapi sebagai mata kuliah wajib. Sebentar lagi kita mungkin mendengar pemuka agama lain mengantungi truth versi mereka dan menganjurkan terapi kencing hewan lain.

Dalam contoh kasus temuan neurosains tentang memori sukses dan memori gagal tersebut, misalnya, itu baru merupakan temuan dua orang peneliti dari Universitas Chicago dan Universitas Harvard. Temuan mereka bisa disanggah oleh neurosaintis lainnya, yang mungkin meragukan beberapa aspeknya sehingga temuan tersebut belum mapan [yang mapan pun bukan berarti pasti benar].

Karena itu, tidak ada peneliti lain yang menjadikannya sebagai panduan atau kerangka teori untuk, misalnya, meneliti mentalitas ribuan pengusaha sukses dan ribuan politisi gagal.

Menganggap sains bisa diperlakukan sebagai segala-galanya dan ilmuwannya bersikap pongah adalah simply unthinkable, mustahil terpikirkan, karena untuk bersikap demikian mereka terhalang oleh karakter sains itu sendiri.

Peter Thiel memang terasa seperti sesumbar. "Jika Anda tanya apakah manusia bisa hidup selama 500 tahun, maka hari ini saya jawab: bisa," kata pemilik PayPal itu. Tapi yang sedang diupayakan oleh ilmuwan-ilmuwan yang bekerja di perusahaannya, kata dia, adalah agar manusia bisa hidup ribuan tahun atau bahkan abadi, bukan sekadar 500 tahun. Ia bukan ilmuwan. Ia hanya investor di Calico, anak usaha Alphabet atau grup Google, yang bertujuan membuat manusia hidup abadi, dengan motto simpel: "to overcome death".

Memperlakukan investor-investor seperti Peter Thiel sebagai representasi sains tentu meleset. Siapa tahu pula ia, dengan sesumbarnya yang terkesan terlalu optimistik itu, hanya bermaksud mendongkrak harga saham perusahaannya.

Jadi, ditujukan kepada siapakah peringatan atau pernyataan "sains bukanlah segala-galanya" itu? Kepada kaum ilmuwan sendiri, para penggandrung sains, investor teknologi?

Goenawan selayaknya tidak terus berlindung di balik pernyataan-pernyataan umum dan abstrak, tanpa pernah menyajikan sekadar bayangan ilustrasi sedikit pun untuk apa yang dia maksud, sehingga menanggapinya selalu dibayangi ancaman konstan: salah paham.

Dan karena sudah terlalu banyak korban berjatuhan dan dicapnya sebagai "salah paham" terhadap tulisan-tulisannya, tidakkah Goenawan sebaiknya berpikir dari arah sebaliknya: mempertimbangkan kemungkinan dirinya sendirilah yang selama ini tidak pernah jelas memaparkan pikirannya, dan karena itu telunjuknya lebih baik diarahkan ke dadanya sendiri?

Siapa tahu dengan cara itu bisa muncul kesimpulan yang solid—tapi tetap merupakan kebenaran konjektural—bahwa ia telah salah paham terhadap tulisannya sendiri.

***

Goenawan mengeluh bahwa sains sekarang lebih digerakkan oleh uang dan bisnis. Upaya-upaya sains pun, katanya, bukan untuk sekadar menafsir dunia melainkan untuk mengubahnya.

Dengan mengasumsikan maksud keluhan itu jelas, di situ ia mencampuradukkan proses-prosedur sains dengan tujuan-tujuannya. Dan sebetulnya sejak pertama kali muncul, setidaknya dalam arti modern sekitar empat abad lalu, ikhtiar saintifik memang digerakkan oleh hasrat-hasrat ekonomi dan politik/kekuasaan.

Bahkan perjalanan riset Charles Darwin, yang kemudian melahirkan teori evolusi yang mengubah pandangan manusia tentang dunia dan dirinya sendiri, menumpang kapal kerajaan Inggris, Beagle, sebagai proyek ekspedisi kolonialistik, untuk tujuan-tujuan ekonomi-politik.

Tapi hal itu tidak ada hubungan dengan proses-prosedur sains, yang tetap harus mengikuti standar metode yang terus disempurnakan, dan pasti akan kacau jika di level itu sains dicampuri oleh pemilik modal atau penguasa politik. Kapten kapal Beagle yang membawa Darwin meneliti ke Galapagos dan tempat-tempat lain bahkan kemudian marah dan menentang teori Darwin setelah terbit On the Origin of Species yang merupakan hasil dari menumpang kapal si kapten dan dibiayai oleh kas negara Inggris.

Jika tanpa tujuan jelas dan manfaat-manfaat sosial yang kurang-lebih bisa diukur, bagaimana cara mempertanggungjawabkan penggunaan dana publik untuk membiayai upaya-upaya sains itu? Atau bagaimana korporasi mampu bertahan dan tidak bangkrut, jika proyek-proyek riset yang dibiayainya tidak ditujukan untuk memperoleh laba sekian tahun lagi?

Agaknya hanya Kaisar Hirohito yang bisa bermewah-mewah meneliti aneka tumbuhan sesuai hobinya di bidang botani; ia tak perlu memikirkan potensi laba dan keuntungan politik dari kegiatan meneropong aneka kembang dengan mikroskop antiknya, karena memiliki kekayaan dan kekuasaan yang begitu besar.

Jika dikaitkan dengan manfaat yang akhirnya dinikmati umat manusia di mana pun tanpa pandang bulu—tentu saja termasuk bagi dirinya sendiri, sejak bangun tidur hingga tidur lagi—maka keluhan Goenawan itu makin tak relevan dan tidak valid.

Lihatlah apa yang terjadi pada ilmuwan-pebisnis Thomas Alva Edison. Sekitar seribu temuan yang dihasilkan di bengkelnya (sebagian besar bukan karyanya sendiri, tapi temuan para pegawainya yang diklaim sebagai temuan pribadinya melalui pengaturan bisnis, dan itu lumrah sebagai praktik dagang) sekarang bisa dinikmati siapa saja dengan harga yang makin murah.

Yang paling populer tentu saja bohlam, yang kini tersedia dalam versi LED yang makin terang, sangat hemat listrik dan makin murah dan mudah didapat (harga lampu LED merek-merek lain umumnya lebih murah dibanding merek General Electric, perusahaan warisan Edison).

Dibanding peluang campur tangan pemodal/politisi terhadap proses sains, jauh lebih besar kemungkinan intervensi pemodal/pemilik media terhadap proses pembuatan dan pemilihan berita untuk dimuat di media mereka.

***

Salah satu, dan mungkin yang utama, dari skeptisisme Goenawan yang mendekati antipati terhadap sains adalah kecemasannya bahwa sains akan menghancurkan aneka misteri dunia—atau hal-hal yang dianggapnya misteri. Padahal baginya pesona dunia justru terletak pada misterinya—pernyataan ini sangat mungkin dibantahnya karena ia tidak pernah menyatakan hal ini secara harfiah; ia, seorang yang gemar menafsir apa saja, memang kadang bisa tiba-tiba memakai argumen legal-formal, seperti terlihat dalam polemik ini. Jika semua tersibak, oleh kerja sains, lalu apa lagi yang tersisa untuk menakjubi manusia—dan membuatnya rendah hati karena menyadari kedaifannya?

Dan sains sejauh ini jelas mengarah ke pengungkapan total itu. Sudah terlalu banyak "misteri" yang diungkap, seperti jelas terlihat dalam lima ratus tahun terakhir; perubahan yang ditimbulkan sains dalam masa ini melampaui seluruh masa hidup Homo sapien.

Sejarawan Yuval Harari membagi tiga tonggak sejarah manusia alias Homo sapien, salah satu dan satu-satunya yang masih hidup di antara sembilan atau sepuluh jenis manusia yang dikenal sejauh ini.

Pertama, Revolusi Kognitif, yang terjadi 70 ribu tahun lalu di tempat yang kini dikenal sebagai Afrika Timur; dan tidak diketahui kenapa "tiba-tiba" manusia bisa berpikir, setelah selama 150 ribuan tahun sebelumnya manusia setara saja dengan serangga dalam hal dampaknya terhadap bumi. Kedua, Revolusi Pertanian, kira-kira 12 ribu tahun lalu; ada yang menyebut dimulai di tempat yang kini termasuk wilayah Turki modern. Ketiga, Revolusi Saintifik, kira-kira 500 tahun lalu, di Eropa Barat.

Sebagai catatan: tujuh tahun lalu ditemukan jenis manusia baru, Homo naledi, yang 21 kerangkanya terdapat di sebuah goa di dekat situs UNESCO The Cradle of Humankind, Afrika Selatan. Usia H. naledi, ini yang sangat mengejutkan, kira-kira sama dengan H. sapien.

Temuan tim yang dipimpin oleh Lee Berger ini sangat penting dalam studi paleoantropologi, sebab 21 kerangka itu mewakili demografi yang lengkap [laki-laki dan perempuan, tua dan muda, dewasa dan anak-anak, bahkan bayi].

Data H. naledi sudah diungkap sejak 2015; tinggi mereka rata-rata 143 cm [atau 4.5 kali kepala]; mereka bisa berlari, tapi lebih suka di atas pohon dan jago memanjat. Dari ritual permakaman yang mereka lakukan diduga mereka belum memiliki konsep akhirat. Belum diketahui apakah mereka punah karena dimangsa predator [termasuk Homo sapien] atau karena sebab-sebab lain. Tapi semua data itu tidak memengaruhi teori “Out of Africa” yang sejauh ini masih mapan.

Perubahan yang terjadi di muka bumi sejak Revolusi Saintifik itu melampaui seluruh perubahan yang terjadi di seluruh masa sebelumnya. Ini juga berarti: kehadiran agama dan filsafat, yang jauh lebih tua dibanding sains, tidak banyak pengaruhnya pada dunia dan kondisi hidup manusia. Segala macam misteri berikut segenap takhayul yang membungkus dan merawatnya perlahan-lahan dibongkar oleh sains.

Dan sejak paruh kedua abad lalu, laju kereta sains melesat eksponensial, berkat ditemukannya perangkat-perangkat ilmiah yang makin canggih dan makin tersebarnya pusat-pusat kajian dan laboratorium yang mampu memproduksi teknologi sebagai derivat sains.

***

Sekarang, di frontier sains, kita menyaksikan sesuatu yang teramat mengesankan sekaligus mendebarkan. Ada biologi sintetik [synthetic biology, synbio] yang diklaim mampu menciptakan mahluk baru dari ketiadaan (berbasis bakteri) dengan tokoh-tokoh utama seperti J. Craig Venter dan George Church; di belakang mereka ada ilmuwan-ilmuwan usia 30an di universitas-universitas besar Amerika dan mungkin juga sekarang Cina.

Ada CRISPR, metode editing gen, yang antara lain memungkinkan manusia mendesain bayi mereka, selain melakukan pengobatan untuk berbagai penyakit berat yang tak kunjung ditemukan obatnya, dengan tokoh seperti Jennifer Doudna, yang mendemonstrasikan hasil metode itu dalam ceramahnya di forum TED. David Liu dari Broad Institute MIT-Harvard menyatakan, metode CRISPR mampu menyembuhkan lebih dari 90 persen penyakit yang terkait problem genetik.

Ada temuan-temuan neurosains yang mencengangkan tentang apa dan bagaimana otak manusia dan cara kerjanya; misalnya mereka menggagas kemungkinan bahwa yang disebut ruh oleh agama, dan diyakini oleh semua orang secara universal, adalah aktivitas salah satu faset otak saja.

Ada komputer kuantum yang berkemampuan komputasi jutaan kali dibanding komputer supercepat yang kita kenal sejauh ini; padahal telepon pintar yang kita genggam ini saja punya kemampuan 140 juta kali dari seluruh komputer di tiga gedung besar yang mengendalikan perjalanan Apollo 11 ke bulan pada 1969.

Ada percetakan 3D yang makin banyak dijual dan harganya akan makin murah. Moore's law di bidang teknologi informasi mendalilkan: peningkatan kemampuan perangkat komputer berganda tiap dua tahun. Tampaknya hukum ini sudah berubah; mungkin sekarang pergandaan itu terjadi tiap 12 bulan atau kurang.

Teknologi robotik tentu akan dikembangkan besar-besaran. Google sudah membeli beberapa perusahaan produsen robot; ia memutuskan membeli pabrik-pabrik yang sudah jadi ketimbang membangunnya dari nol; ia tinggal menambah elemen-elemennya saja untuk meningkatkan secara signifikan kemampuan robot itu, sekaligus dengan akuisisi itu ia menelan para kompetitor. Jika raksasa bisnis seperti Google menunjukkan kesungguhan seperti itu, berarti ia sedang merencanakan sesuatu yang sangat besar.

Sejauh ini yang sudah berhasil dibuat adalah “komputer beroda” berupa sepeda dan terutama mobil tanpa supir, yang sejak sepuluhan tahun lalu sudah berjalan sendiri sepanjang ratusan ribu kilometer di kota-kota yang sibuk di California. Kemungkinan mobil nir-supir Google menabrak sesuatu jauh lebih kecil dibanding mobil bersupir—ini akan mengurangi signifikan kecelakaan lalu lintas.

Suatu kejutan yang menyenangkan sekaligus ironis bahwa era manusia robot justru dicanangkan resmi di Arab Saudi, berupa pemberian kewarganegaraan kepada Sophia, gadis robot yang sekaligus menjadi simbol bagi kota baru Neom yang akan dikelola dengan perangkat-perangkat teknologi tercanggih. Sophia pernah berbincang antara lain dengan PM Malaysia Mahathir Muhammad, yang tak henti tersenyum geli dan takjub atas manusiawinya Sophia, yang bahkan bisa bergurau.

Sudah tentu pemberian kewarganegaraan kepada Sophia adalah gestur politik (bukan saintifik) dari penguasa baru Saudi yang ambisius. Tapi gestur ini punya makna simbolik kuat: suatu tekad bahwa agama, setidaknya dalam wajahnya yang murung dan out of date, ingin berusaha keras menyejajarkan diri dengan kecemerlangan dan kemutakhiran sains.

Tanpa melihat hasil-hasilnya kelak, gestur ini saja cukup melegakan di tengah ketakmengertian global tentang apa maunya agama dan bagaimana ia harus ditempatkan dalam masyarakat abad 21 dan selanjutnya—jika di abad-abad itu manusia masih ada.

Sedangkan eksplorasi ke luar angkasa makin gencar, dan kini bahkan ikut dikerjakan oleh perusahaan-perusahaan swasta berkat kemampuan finansial mereka. Yang paling menonjol tentu saja adalah SpaceX milik Elon Musk. Ahli-ahli astronomi sekarang ini sering sekali menemukan exoplanet berkat kian canggihnya perangkat pengidentikasi bintang.

Exoplanet adalah planet yang diketahui dapat dihuni karena memiliki kondisi mirip bumi, dan kebanyakan berukuran sedikit lebih besar dibanding bumi. Sekarang ada beberapa exoplanet yang berpeluang dijadikan rumah baru bagi manusia, seandainya umat manusia harus pindah dari bumi, karena kedekatannya dari bumi dan aman karena jaraknya cukup jauh dari matahari.

Bukan tak mungkin kelak exoplanet itu bisa dijadikan seperti vila atau lokasi wisata, seandainya umat manusia tetap tinggal di bumi. Jarak yang jauh akan diatasi oleh kemampuan pesawat-pesawat khusus yang jauh lebih besar daripada pesawat penumpang tercepat yang kita kenal.

Tentu saja terjadi ledakan perubahan di hampir semua aspek kehidupan oleh penerapan artificial intelligence. Primadona iptek sejak dua puluh tahun terakhir ini antara lain sudah menghasilkan teknologi pengintaian dan detektor yang kemampuannya jauh lebih besar dibanding diri kita bahkan dalam mengenal diri sendiri, selain menghasilkan robot-robot yang makin pintar dan pasti menggantikan kerja manusia di banyak bidang, juga memungkinkan terciptanya mesin pintar seperti sudah disebut.

Berhadapan dengan musuh yang mengepung ketat itu, wajarlah para pemuja misteri cemas kereta sains akan menggilas semua misteri terakhir yang masih tersisa. Itu sebabnya Goenawan mengeluh: sains kini "ingin mengubah, bukan hanya menafsir"—walau dalam tindak mengubah tentu ada upaya tafsir sebagai tahap yang harus dilalui; dan kita heran mengapa tindak mengubah itu disayangkan, kenapa pula menafsir dianggap cukup dan bermanfaat (entah bermanfaat bagi siapa dan dalam hal apa).

***

Kita justru takjub, bukan meratap, dengan upaya dan banyaknya sukses sains dalam menyibak misteri, yang bagi sains adalah problem—dan karena itu pasti ada solusinya, cepat atau lambat—dan bukan takjub pada misteri itu sendiri dan upaya-upaya pelestariannya.

Begitu banyak misteri atau persepsi tentang misteri yang membelit hidup kita berikut segenap kecemasan, kebingungan serta hambatan mental yang ditimbulkannya. Begitu banyak korban manusia akibat persepsi tentang misteri, misalnya dalam soal penyakit.

Hampir semua penyakit di masa lalu dipercaya timbul karena faktor-faktor misterius, bersumber dari luar bumi dan sejarah, sehingga penyembuhannya pun diupayakan dengan cara-cara yang kini memalukan atau mengerikan untuk diceritakan—misalnya, dengan membakar ribuan orang Yahudi di Eropa, seperti diceritakan oleh Goenawan. Kita selayaknya tak henti bersyukur bahwa sains sejauh ini telah cukup banyak memerdekakan umat manusia dari kungkungan aneka misteri itu.

Begitupun, "misteri" itu, seperti sudah terlihat terlalu sering, berlapis-lapis dan bercabang-cabang dan beranting-ranting. Satu lapis misteri yang terpecahkan memunculkan lapis dan cabang dan ranting misteri berikutnya. Karena itu stok misteri tidak akan habis, jika bukan justru bertambah banyak.

Semua ilmuwan akan mengakui fakta ini; mereka telah terlalu sering mengalami sendiri bagaimana percabangan misteri itu begitu tak terhingga kayanya. Ahli neurosains pasti merupakan salah satu contohnya. Tiap hari mereka menemukan hal-hal baru pada aspek-aspek kecil dalam studi otak, yang digambarkan oleh neurosaintis Diane Ackerman sebagai “gundukan berkilau, yang sangat sibuk dengan percakapan-percakapan neural nonstop; sebuah laboratorium kimia yang sesak; suatu parlemen sel berwarna kelabu-tikus; sebuah pabrik mimpi; tiran mini di dalam sebuah bola tulang...”

Tapi mereka mengerti: penyibakan itu membukakan mereka pintu misteri baru. Dan mereka makin terpesona. Inilah yang menjelaskan kenapa makin banyak subdisiplin yang dikembangkan ilmuwan karena mereka merasa "misteri-misteri baru" itu membutuhkan kajian khusus yang lebih spesialistik.

Ini pula yang menimbulkan kritik bahwa tendensi hiper-spesialisasi itu membuat pemahaman tentang dunia makin jauh dari keutuhan pengertian—ini pun kritik yang invalid, karena mengandaikan tiadanya konglomerasi para spesialis dalam kajian multidisiplin; seolah mereka seperti filosof, yang suntuk sendirian dengan kesunyian masing-masing.

Peminat dan konsumen sains turut terpesona justru oleh kemampuan penyingkapan itu dan oleh misteri baru yang terbuka karenanya—bukan terpesona oleh ketakberdayaan dan kenikmatan mental berkat dibelenggu ketaktahuan akan misteri itu.

Manusia dewasa yang terdidik selayaknya tak perlu merasa beruntung karena ketidaktahuan, dan karenanya terus mendekap ketidaktahuan itu—the benefit of ignorance.