Tulisan “Filsafat Sudah Mati” merupakan tema yang menarik perhatian. Kesimpulan yang jika dibaca akan membawa pembaca untuk menanggapi secara emosional. Tetapi, pada tulisan kali ini saya akan berusaha mengkritisi dengan keterbatasan sebagai mahasiswa filsafat semester 1.

Memulai masa kuliah dengan jurusan filsafat selalu dilanda pertanyaan – pertanyaan yang menggambarkan bahwa filsafat jarang dikenali di lingkungan saya. Apa sih filsafat itu? Kuliah filsafat mau kerja apa? Pertanyaan yang terkadang membosankan untuk dijawab dan menghantui hampir semua mahasiswa filsafat baru.

Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan sedikit tentang jawaban dari pertanyaan yang membosankan itu karena diperlukan dalam pembahasan kali ini. Apa itu filsafat? Filsafat adalah kajian masalah mendasar dan umum tentang persoalan seperti eksistensi, pengetahuan, nilai, akal, pikiran, dan bahasa.

Definisi tentang filsafat yang mendasar menjelaskan bahwa setiap ilmu yang ada sekarang termasuk pengetahuan tentang alam, manusia, dll merupakan turunan dari filsafat itu sendiri.

Menurut Harold Titus “philosophy is an attitude toward life and the universe” artinya, filsafat adalah suatu sikap tentang hidup dan alam semesta. Ia juga mengemukakan makna – makna dari filsafat dan membaginya menjadi 4.

(1) Filsafat adalah suatu sikap tentang hidup dan alam semesta, (2) Filsafat adalah suatu metode berpikir rekflektif dan penelitian penalaran, (3) Filsafat adalah suatu perangkat masalah-masalah, (4) Filsafat adalah seperangkat teori dan sistem berpikir.

Seperti yang banyak dikritisi oleh Hamid Basyaid pada 6 seri penulisannya. Salah satunya adalah “Filsafat Sudah Mati” yang sedang berbalas argumen dengan Goenawan Mohamad yang tengah membahas tentang polemik sains dan filsafat.

Kata Hamid Basyid “Para filosof lampau yang nama-namanya banyak dimunculkan dalam polemik ini sudah jauh sekali tertinggal relevansinya dari perkembangan sains mutakhir.” Sebuah argumen yang menyerang setiap orang yang menggunakan pemikiran tokoh filsafat sebagai referensi dan landasan berpikir.

Jadi apakah teori yang dikemukakan oleh para filsuf lampau sudah tidak relevan dan jauh tertinggal? Maka, sebenarnya apa itu sains dan hubungannya dengan filsafat. Sepertinya ada kacang yang lupa kulitnya.

Sains adalah ilmu praktis yang merupakan salah satu turunan dari filsafat. Sama seperti ilmu psikologi yang juga salah satu turunan dari filsafat. Seolah – olah filsafat tidak berpartisipasi dalam perkembangan sains, dalam hal ini adalah filsuf lampau.

Filsuf lampau seperti Socrates, Herakleitos, Aristotles, bahkan banyak menyinggung tentang eksistensi, kehidupan, dan keutamaan. Bukankah sains berangkat dari pemikiran – pemikiran para filsuf kuno yang berkembang menjadi pemikiran modern?

Tujuan sains tidak lain adalah memenuhi kebutuhan manusia. Lalu apa kebutuhan manusia? Kebutuhan manusia pada dasarnya adalah usaha untuk mencari kebahagiaan. Kebahagiaan menurut Aristotles tidak dapat dicapai dengan kenikmatan, tetapi dengan menggunakan akal budi.

Masih dalam konteks pemikiran Aristotles; orang yang bahagia adalah orang yang melakukan keutamaan dengan sempurna. Keutamaan adalah menggunakan akal budi untuk berpikir rasional dan bertindak tepat.

Jadi saat seseorang mencari kebahagiaan, maka orang tersebut sejatinya akan menggunakan akal budinya untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut dan itu adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan dirinya.

Hakikat orang yang berpengetahuan menurut Jujun S Suriasumantri (1988:19) dengan pantun yang dilontarkan. Ada orang yang tahu di tahunya, ada orang yang tahu di tidaktahunya, ada orang yang tidak tahu di tahunya, ada orang yang tidak tahu di tidaktahunya.

Jika diartikan dalam bahasa popular maka berbunyi, ada orang yang paham sesuai ilmunya, ada orang yang merasa paham padahal tidak berilmu atau ilmunya keliru, ada orang yang gagal paham dengan keilmuannya, dan ada orang yang gagal paham karena kurang berilmu.

Jangan sampai keinginan untuk benar menjadi sok benar dan saat merasa tahu menjadi sok tahu. Ini adalah kenyataan yang disampaikan tentang jenis – jenis manusia. Menurut anda manakah manusia yang berpengetahuan? Saya yakin anda bisa memilih tanpa bantuan saya.

Memang segala sesuatu yang praktis sedang tren dan menjadi gaya hidup kita sehari – hari dimasa kemajuan teknologi ini termasuk dalam masa perkembangan sains yang mutakhir ini. Seakan – akan dari kalimat argumen Hamid Basyid menunjukan ia sudah nyaman dalam kehidupan yang praktis ini.

Seringkali kita merasa nyaman menggunakan hal – hal yang praktis termasuk ilmu sains yang secara langsung dapat dikerjakan. Bukankah langkah yang kurang tepat saat berpikir, bahwa teori pembentuk ilmu praktis bukan bagian dan tidak relevan bagi ilmu praktis tersebut.

Mengapa harus berpegang pada teori – teori awal filsafat? Karena asal – mula pemikiran kritis tentang segala sesuatu dimulai dari berfilsafat. Sadarkah kita bahwa setiap hari kita selalu berfilsafat dan cenderung kita menanyakan hal – hal yang mendasar dalam hidup ini.

Tidakkah itu menjadi sebuah contoh konkrit untuk menerima dan memahami teori – teori yang sudah dikemukakan oleh para filsuf terdahulu. Memisahkan sains dan pemikiran filsafat katanya kuno tidak akan mengembangkan nilai dari hasil praktis tersebut.

Sains tidak seharusnya dipisahkan dari pemikiran – pemikiran tokoh filsafat (terdahulu maupun sekarang). Karena segala sesuatu yang ingin dicapai manusia harus kembali pada pemikiran dasar tujuan manusia menciptakan atau mengerjakan sesuatu.

Demi apa seseorang menciptakan atau mengerjaka nsesuatu? Maka, berlanjut pada pertanyaan mengapa manusia perlu menciptakan robot yang katanya bisa menggantikan manusia?

Jadi apa itu robot dan apa itu manusia? Tetapi, itu adalah persoalan lain. Intinya adalah setiap orang ingin memenuhi kebutuhannya. Sains adalah salah satu cara manusia memenuhi kebutuhannya dan filsafat menjawab apa itu kebutuhan manusia.

 Jangan sampai menjadi peribahasa dimana kacang lupa kulit menjadi sains lupa filsafat. Membanggakan sains saja seakan melupakan asal – usulnya dan kawan ilmu seperjuangan lainnya. Sains tanpa filsafat tidak akan menjadi sains, tetapi hanya ilmu kosong yang tidak ada nama dan maknanya.

Karena sains adalah ilmu yang penuh makna dan makna itu dikenali dari berfilsafat.