Jika kita perhatikan tulisan-tulisan di Qureta, artikel sains dan teknologi (saintek) relatif sepi peminat dibandingkan dengan artikel-artikel agama dan politik yang bisa dibaca hingga lebih dari 1.000 kali. Artikel saintek umumnya dibaca tak lebih dari 300 kali walau ada yang lebih dari itu. Tidak herankah Anda?

Apabila ada artikel yang hendak dibaca lebih dari 1.000 kali, umumnya artikel bertemakan politik dan eksistensi Tuhan. Apakah politik juga berkaitan dengan agama? Saya tidak dapat menjawab pasti. Para sosiolog jauh lebih mengerti.

Tulisan ini tidak hendak menilai apa pun soal agama di tengah masyarakat Indonesia. Bagaimanapun, persoalan agama adalah hal yang masih sangat sensitif di negara ini dan bukan kapasitas saya untuk menjustifikasi seberapa dalam peran agama di Indonesia.

Yang saya herankan sebagai penggelut bidang ilmu alam adalah, mengapa ilmu alam Indonesia tampak amat kurang peminat dibandingkan lingkup bahasan agama atau bahasan yang “menyerempet” agama?

Padahal, dengan memahami ilmu alam, kita dapat memahami dunia kita dan alam semesta secara lebih baik. Dan seperti yang dikatakan oleh mendiang Stephen Hawking dalam buku My Brief History, dengan memahami alam semesta, bisa dibilang bahwa kita dapat mengontrolnya.

Kalau begitu, bukankah ilmu alam dapat menolong orang Indonesia untuk membawa negaranya kepada kemajuan? Seharusnya ya. 

Hanya saja, kita secara logika biasa dapat menduga bahwa akibat tradisi kebudayaan agraris selama berabad-abad, amatlah sukar untuk keluar dari watak-watak khas masyarakat agraris, yaitu bekerja bersama-sama, pasif sekaligus bergantung terhadap alam, dan menggunakan mitos-mitos untuk memahami alam tempat bekerja.

Di sisi lain, selama berabad-abad, kerajaan-kerajaan di Nusantara berdiri dan berganti dengan sifatnya yang teokratis. Para raja atau ratu hadir dengan citra sebagai episentrum kekuasaan yang bertuah.

Akhirnya terwujud sifat feodalisme, mulai dari sang penguasa sampai rakyat jelata di daerah yang dikuasai tersebut. Patuh pada atasan atau yang lebih berkuasa adalah pilar utamanya. Tidak boleh dibantah, tidak boleh dikritisi. Dalam bahasa modern, diskusi dan kritik membangun dibungkam atas dasar senioritas.

Kedua, kita paham bahwa agama memang berbeda dengan mitos. Akan tetapi, masih banyak sudut pandang mistis dalam masyarakat beragama bila menghadapi kejadian alam. Banyak lapisan masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa fenomena alam seperti gunung meletus, gempa bumi, taifun, dan tanah longsor adalah wujud murka Tuhan yang menimpakan hukuman atas dosa-dosa manusia.

Yang jadi “pelik” adalah di dalam ilmu alam tidak menerima sifat pasif, melainkan senantiasa menuntut sikap aktif. Aktif bertanya. Aktif menggugat. Aktif menyangsingkan segala sesuatu yang sudah ada. Lalu berbekal penalaran dan metode ilmiah yang ketat dan cermat, jawaban-jawaban atas kesangsian tadi diselidiki.

Dari mana menyelidiki jawabannya? Tentu lewat penjelasan yang sudah ada. Begini. Penjelasan yang ada mulanya “dianggap benar” terlebih dahulu, barulah dengan eksperimen atau bukti empirik lahir fakta dan rasionalitasnya yang baru. Penjelasan yang digunakan jadi pijakan nantinya bisa salah bisa benar.

Artinya, tidak ada yang mutlak. Ibarat mainan kapal kertas, sekuat apa pun kertasnya, pasti akan hancur setelah dihanyutkan pada parit atau sungai kecil. Ini berlawanan sekali dengan prinsip feodalisme, di mana atasan atau orang yang ditempatkan tidak mungkin salah.

Selama metode penelitian yang digunakan benar dan saksama, pria dan wanita maupun tua dan muda dapat menemukan fakta ilmiah mengapa minyak dan air tak bercampur. Dan tidak boleh ada prasangka atau dugaan-dugaan pribadi untuk menjelaskannya.

Selain itu, ketekunan dalam ilmu alam seringkali menuntut penyangkalan diri dan kerja keras yang luar biasa. Para ilmuwan kerapkali bekerja sendirian dan bertaruh dengan uang, tenaga, dan waktu untuk eksperimen yang panjang dan melelahkan. Tidak semua penelitian berhasil. 

Ilmuwan atau penggelut ilmu alam tidak bisa selalu bekerja bersama-sama seperti halnya mereka yang bekerja di ladang atau sawah. Masing-masing pihak harus bertanggung jawab atas percobaan/penelitian yang tengah digarap dan tidak bisa dikerjakan sambil lalu sambil sekedar ngobrol.

Konsekuensinya, ketekunan ilmu alam tidak bisa dijadikan sarana membentuk “identitas”. Anda tidak akan dapat menjalin sekutu atau aliansi dengan mempelajari ilmu alam, melainkan menemukan bahwa ilmu alam bersifat universal. Tidak ada “identitas” di dalamnya karena memang tidak perlu. Tidak relevan.

Kebenaran ilmu alam yang diverifikasi oleh eksperimen itu di mana-mana satu. Air akan mendidih pada temperatur 100°C tekanan 1 atmosfer entah direbus oleh siapa dan etnis mana. Oksida logam akan larut oleh asam klorida pekat entah oleh perbuatan mahasiswa atau dosen. Dan seterusnya.

Sambil sedikit bergurau, kita bisa berkata bahwa siswa-siswi SMA sekalipun yang merasa bangga karena masuk jurusan IPA sebenarnya lebih dikarenakan mereka dapat memenuhi ekspektasi orang tua mereka.

Yuval Noah Harari dalam salah satu bukunya, “Sapiens”, menegaskan betapa mitos dan agama telah menjadi pengikat bagi manusia selama berabad-abad seiring dengan terjadinya evolusi. 

Keyakinan ialah cara pengikat suatu kelompok/komunitas dan memperbanyak sekutu guna mencapai tujuan evolusi itu sendiri: Bertahan hidup. Lebih-lebih di tengah medan alam yang masih liar dan dataran serta iklim yang bisa berubah-ubah. Barangkali, di Indonesia, itulah sebab mengapa ilmu alam masih seolah kalah pamornya dari hal keagamaan.

Pertanyaannya, dengan ancaman pemanasan global yang bukan lagi isapan jempol dan kerusakan lingkungan yang makin parah, apakah minat orang Indonesia terhadap sains akan terus-menerus kerdil dan berkembang? Bagaimana dengan kelangsungan Homo sapiens?

Mungkin seharusnya kita semua menyadari bahwa sesungguhnya agama pun mengundangkan panggilan untuk menjaga lingkungan sebagai salah satu peri spiritualitasnya sehingga ilmu alam tak lagi “dipinggirkan” oleh semua orang Indonesia tanpa terkecuali, melainkan salah satu “sarana” penting untuk memenuhi panggilan itu.