Sekitar 6 abad yang lalu, sains dilarang karena dianggap bertentangan dengan tulisan dalam kitab suci. Peristiwa itu dikenal sebagai masa kegelapan di Eropa. 

Masa kegelapan ditandai dengan superioritas agama atas kehidupan manusia. Segala yang bertentangan dengan agama dianggap sebagai kesesatan.

Banyak ilmuwan pada masa kegelapan yang harus meregang nyawa karena berbeda pendapat dengan gereja. Giordano Bruno adalah salah satunya, hanya karena berpendapat bahwa matahari adalah salah satu bintang di alam semesta dan adanya kemungkinan bahwa di alam semesta yang luas ini ada jutaan planet yang mirip seperti bumi. Pendapat itu dianggap sesat oleh gereja dan Giordano Bruno pun akhirnya dibunuh.

Kejadian 6 abad yang lalu, akhirnya mengalami pengulangnya kembali di era internet saat ini. Meskipun tidak se-dramatisir dahulu dengan banyaknya pembunuhan ilmuwan. Tapi gejala membunuh sains dengan cara melarang segala hal yang bertentangan dengan klaim agama dan hanya mendukung sains yang sesuai dengan apa yang tertulis dalam agama (pseudo-science) terjadi di mana-mana.

Pertanyaan besarnya adalah mengapa orang yang hidup pada abad ke-21 berusaha mencocokkan pembuktian sains dengan nilai agama yang mereka anut? Sebegitu rapuhkan agama, sehingga untuk dapat dikatakan benar dia harus mencari sosok ilmuwan yang sudi mengatakan dia benar.

Cocoklogi di Era Post-Modern                                                                           

Mengapa fenomena cocoklogi/pseudo-science/sains KW marak akhir-akhir ini? Sebab utamnya adalah modernitas yang menuntut segala hal haruslah rasional dan empiris. Masyarakat modern, tidak bisa menerima begitu saja suatu hal tanpa ada penjelasan ilmiahnya. Agama pun akhirnya terpaksa menggunakan kerangka berpikir modernitas untuk menjelaskan dirinya.

Hal ini membawa implikasi lanjutan yang menjadikan agama harus mengelabui dirinya sendiri. Padahal sifat dari iman itu adalah anti rasionalitas dan anti empirisme. Kita mengimani suatu hal justru karena hal tersebut tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Bagaimana membuktikan wujud Tuhan? Bagaimana membuktikan kebenaran mukjizat di kitab suci? Tentu tidak ada caranya karena obyeknya saja bahkan tidak bisa diteliti.

Saat ini hampir tidak ada agama yang berani mengatakan bahwa kitabnya bertentangan dengan sains. Meskipun ada banyak temuan, seperti teori evolusi dan teori terjadinya alam semesta yang sangat bertolak belakang dengan isi kitab agama. 

Banyaknya kesalahan tersebut bukannya dijawab secara jujur bahwa sains dan agama adalah dua hal yang berbeda malah agama memberikan respon balik dengan mengatakan sainslah yang salah.

Ketakutan memberikan respon jujur ini lagi-lagi disebabkan karena takut kehilangan pengikut. Padahal kalau kita mau jujur, ada atau tidaknya pembuktian ilmiah tidak akan mengakibatkan agama kehilangan pengikut. 

Ambil contoh gereja katolik yang dahulu menolak matahari sebagai pusat tata surya, sampai sekarang masih memiliki pengikut. Justru penyebab utama mengapa orang lari dari agama bukan karena agama itu tidak ilmiah melainkan perilaku sebagian pemeluk agama banyak yang barbar dan sangat egois.

Sekulerisme dalam Sains

Mengapa menjadi penting memisahkan sains dan agama? Saya akan memberikan ilustrasi dengan peristiwa yang terjadi belakangan ini guna menjawab hal tersebut. Beberapa hari ini di Indonesia sedang ramai berita soal minum air kencing unta. 

Di kitab hadis, ada sebuah kejadian saat Nabi Muhammad memerintahkan beberapa orang sakit untuk minum air kencing unta dan ketika sudah selesai minum air kencing unta mereka pun sembuh.

Peristiwa yang dicatat dalam teks agama tersebut mengakibatkan banyak orang ramai-ramai melakukan pembelaan atas hal tersebut. Salah satu pembelaan yang menarik adalah dengan menunjukkan bukti ilmiah dari khasiat air kencing unta. 

Beberapa tulisan di jurnal ilmiah yang menjelaskan hal tersebut pun sudah saya baca. Kesimpulan saya adalah semua tulisan tersebut bersifat cherry picking (mengambil data yang hanya menyokong klaimnya saja, tanpa mempertimbangkan data lainnya).

Tujuan dari cherry picking ini bisa bermacam-macam, salah satunya bisa saja karena ingin membuktikan klaim bahwa teks kitab sucinya mengandung kebenaran ilmiah. Tapi bagi saya ini adalah salah satu bias yang sangat korosif bagi sains dan agama itu sendiri. Seorang pengikut agama harus berbuat tidak jujur demi membuktikan teks sucinya benar.

Baca Juga: Fakta dan Sains

Kehebatan seseorang peneliti dinilai bukan pada saat dia berhasil membuktikan hipotesisnya, melainkan pada saat dia berani mencari kesalahan atas hipotesinya. Hal itu lah yang sulit saat ini. Kini tiap institusi bisa dengan mudah membuat jurnal sendiri. Hal tersebut mengakibatkan semakin sulit mengecek kesahihan dari penelitian yang ada[1]. 

Golden rule mengecek penelitian itu ilmiah adalah melihat apakah penelitian itu reproducible alias bisa diulang oleh ilmuwan lain. Tapi tentu tidak semua orang ada waktu melakukan ini, maka hal paling mudah bagi masyarakat awam adalah berani bersifat kritis dan berusaha untuk tidak percaya begitu saja.

[1] http://journals.plos.org/plosmedicine/article?id=10.1371/journal.pmed.0020124