Kehidupan manusia kini berdampingan dengan teknologi dan sains tak bisa dihindari. Begitu cepatnya perubahan dunia yang dialami keilmuan, teknologi, hitungan menit bahkan hitungan detik mengharuskan manusia menerima perubahan tersebut.

Pola berpikir manusia yang seakan menjadi rujukan referensi dalam pengembangan keilmuan, serta inovasi dengan segala penemuannya demi kemajuan sebuah teknologi yang manusia ciptakan. 

Adapun agama pada sebagian manusia yang keyakinannya masih tergolong lemah, bagi mereka hanyalah sebuah penghambat kreativitas manusia untuk maju. Doktrin ini yang sering mereka pakai untuk menjauhkan agama, sains, dan teknologi. Keyakinan manusia pada sains dan teknologi jauh lebih besar dibanding keyakinan terhadap agama.

Bisa dibilang agama sebagai sarana untuk mendapatkan reward dari Tuhan, asal manusia mau berbagi dan menolong sesama, baginya itu sudah lebih dari cukup.

Dan Brown dalam novelnya yang berjudul Angel and Demon atau malaikat dan iblis mengisahkan cerita tentang perang antaragama dan teknologi. Karakter utama Robert Langdon mencoba untuk mengungkap kasus kematian seorang pemuka agama yang telah dibunuh oleh seorang pembunuh suruhan sebuah organisasi anti-agama. Organisasi anti agama ini endingnya ingin memberikan klaim mutlak kepada dunia, bahwa keberhasilan sains dalam mengalahkan agama.

Dan Brown sendiri dikenal sebagai penulis kontroversial. Meskipun karya yang dia buat adalah fiksi, novelnya selalu dibuka dengan kata "fakta", jadi seperti setting tempat serta keterlibatan organisasi di dalam cerita yang Dan Brown buat adalah benar adanya.

Bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadikan manusia harus lebih bekerja keras lagi untuk mempersembahkan peralatan canggih untuk hiburan dan kenyamanan hidup manusia. Sayangnya, hal itu jutru membuat manusia hidup di dunia tanpa kekaguman.

Asumsi makna matahari tenggelam, misalnya, telah direduksi menjadi arti panjang gelombang dan frekuensi kemudian kerumitan alam semesta yang terjadi telah dijabarkan sebagai persamaan matematika.

Keisengan manusia pada Tuhannya seakan tidak akan mau menerima ciptaan-Nya. Bila Tuhan mampu menciptakan manusia, sebaliknya manusia ingin menciptakan juga embrio manusia baru dengan DNA yang mulai dikombinasikan atau diatur sedemikian rupa.

Berbagai terobosan dihasilkan pada teknologi untuk menguak aneka misteri alam raya. Penggambaran manusia terhadap hal tersebut menganggap teknologi dan agama adalah dua dimensi yang berbeda.

Marshall Mc Luhan, seorang professor dari University of Toronto, berpendapat, manusia tidak bisa lepas dari teknologi, dan sekarang ini manusia sudah dimanfaatkan oleh teknologi. Bahkan gawatnya lagi, masyarakat menganggap kecanggihan teknologi seperti layaknya “Tuhan” yang menyelimuti aktivitas manusia sehari-hari.

Hawking yang tak percaya Tuhan

Siapa yang tidak kenal nama tenar Stephen Hawking? Meninggalnya Stephen Hawking pada 2018 yang lalu memang menyisakan duka bagi dunia. Stephen William Hawking, CH, CBE, FRS adalah seorang ilmuwan fisika teoretis.

Dia adalah seorang profesor Lucasian dalam bidang matematika di Universitas Cambridge dan anggota dari Gonville and Caius College, Cambridge. Dia dikenal akan sumbangsihnya pada bidang fisika kuantum, terutama karena teori-teorinya mengenai teori kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam, dan radiasi Hawking.

Yang paling hebat salah satu tulisannya adalah A Brief History of Time, yang tercantum dalam daftar best seller di Sunday Times London selama 237 minggu berturut-turut.

Selain duka, banyak orang mempertanyakan, ke mana Hawking "pergi" setelah dia meninggal? Pertanyaan ini muncul mengingat Hawking adalah seorang ateis murni. Hal ini pernah dia tegaskan saat diwawancarai The Guardian.

"Saya menganggap otak sebagai komputer yang akan berhenti bekerja ketika komponennya gagal," kata Hawking dikutip dari Washington Post, Rabu (21/03/2018).

Dia, Hawking, juga menyebut, ketika meninggal, pikirannya akan bergi ke tempat yang sama dengan aplikasi Siri di iPhone yang jatuh ke bak mandi.

Selain itu, ada kutipan kata Stephen Hawking yang menyatakan, "Saya percaya penjelasan paling sederhana, yaitu tidak ada Tuhan."

"Tidak ada yang menciptakan alam semesta, dan tidak ada yang mengarahkan nasib kita. Ini menuntun saya pada kesadaran yang mendalam bahwa mungkin tidak ada surga dan kehidupan setelah kematian," sambungnya.

Keterlibatan Tuhan keseimbangan Dunia

Keserakahan manusia terkadang memborbardir alam sekitar karena nafsu ingin menguasai sepihak dengan cara mengeksploitasi yang berlebihan. Perang dagang yang terjadi baru-baru ini mengakibatkan perang kubu tak terelakkan.

Yang masih hangat saat ini adalah perang dagang antara Amerika dengan Cina. Imbas dari perang dagang kedua negara tersebut mengakibatkan sektor ekonomi seperti tercekik karena harus pro memilih kawan dan berada di kubu mana.

Saling stop pendistribusian barang elektronik agar tidak usah memasok komponen elektronik penunjang, seperti yang dirasakan pabrikan raksasa ponsel asal Cina Huawei dengan Google sang penguasa perusahaan terbesar di dunia. Google sebagai penyedia dukungan OS Android menghentikan dukungannya.

“Huawei hanya akan dapat menggunakan sistem operasi Android versi publik, dan tidak akan mendapatkan akses ke aplikasi dan layanan eksklusif dari Google,” jelas perwakilan Google, dilansir dari The Guardian, Senin (20/5/2019).

Contoh perang dagang tersebut ialah keserakahan yang terkadang mengalahkan segalanya. Percaya pada adanya Tuhan tidak hanya untuk mendapatkan keimanan spiritual saja, tapi juga agar mendapatkan aksi sosial dengan lebih menghargai kehidupan sosial-kemasyarakatan.

Karena sejatinya hidup di dunia ini bukan cuma bekerja dan belajar untuk mencari uang, harta dan benda.