Peneliti
2 tahun lalu · 593 view · 10 menit baca · Sejarah edison_dan_morgan.jpg
Edison versus J.P. Morgan

Sains dan Bisnis dalam Pengalaman Amerika
Kasus T.A. Edison dan J.P Morgan

Kebebasan berusaha atau free enterprise yang diterapkan di Amerika Serikat membuahkan kemajuan pesat dibidang sains, teknologi dan bisnis. Rakyat Amerika memanfaatkan iklim kebebasan tersebut dengan membuka bisnis atau laboratorium penelitian. Kebebasan menciptakan kreativitas yang baik, sesuai masing-masing minat individu, yang kemudian saling bersaing untuk membangun Amerika yang maju.

Perkembangan sains dan teknologi di Amerika berlangsung secara pesat selama abad 19. Banyak ilmuwan Amerika yang menemukan tekonologi baru dari hasil eksperimen sainsnya. Pada masa ini, ditemukan mesin pemisah biji kapas, mesin pemintal, kapal uap, telegraf, “the wizard of Edison” atau bola lampu listrik, dan ribuan temuan lain yang membuat Amerika menjadi negara dengan tingkat kemajuan tercepat di dunia. E. L. Bogart, sejarawan ekonomi Amerika, mengatakan “invention became a national habit”.

Perkembangan sains dan teknologi di Amerika memiliki kaitan dengan kelompok banker yang turut membangun Amerika. Para banker ternama seperti John. D. Rockefeller, J.P. Morgan, Westinghouse dan Vanderbilt merupakan orang-orang yang tak bisa dipinggirkan dari sejarah pembangunan Amerika, sebab uang mereka mendanai ilmuwan Amerika menjalankan laboratorium pribadi sebagai bengkel teknologi baru yang menjadikan Amerika sebagai “The Great America”. Dalam artikel ini, kisah J.P Morgan dengan Thomas Alva Edison akan dibahas sebagai contoh hubungan antara sains-teknologi dengan bisnis yang berhasil menerangi Amerika.


Profil Singkat Thomas Alva Edison: Penemu Bola Lampu Pijar

Thomas Alva Edison dilahirkan pada pagi hari di musim dingin pada 11 Februari 1847 di desa Milan, Ohio. Ia merupakan anak terakhir dari Samuel Ogden Edison, Jr., imigran asal Kanada berkebangsaan Inggris dan Belanda yang bermigrasi ke Amerika pada 1838. Edison lahir dalam keadaan abnormal dengan ukuran kepala yang besar.  

Edison yang biasa dipanggil “Al”, tumbuh dengan kondisi kesehatan yang kurang baik dan dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia selalu bertanya “kenapa?”, “apa?”, dan “dimana?”. Akan tetapi, rasa ingin tahunya seringkali menimbulkan masalah. Yang paling parah yang pernah dilakukan Edison saat berumur enam tahun yaitu, pembakaran gudang ayahnya yang terjadi secara tidak disengaja akibat keingin-tahuan Edison akan apa yang akan terjadi apabila ia menyalakan api kecil di dalam gudang. Karena “kenakalannya”, tetangganya sering melihat Edison dipukuli oleh ayahnya di rumah. Edison dan ayahnya memang tidak memiliki hubungan yang baik, dan hal ini terlihat dari cerita Edison yang berkata, “My father thougt I was stupid, and I almost decided I must be a dunce”.

Edison di sekolah adalah anak yang pendiam. Ia kecewa pada ucapan ayahnya yang selalu mengatakan dia bodoh dan ketidak-simpatian gurunya pada dia. Kekecewaan Edison memuncak setelah selama tiga bulan mengikuti pelajaran di sekolah. Ia lari dari sekolah dan menolak untuk pergi ke sekolah lagi. Ketika ibu Edison menghadap kepala sekolah, laki-laki tersebut mengatakan bahwa Edison mengalami keterbelakangan.

Edison hanya dapat belajar dengan baik secara visual, seperti yang tertulis dalam biografinya, “for one instant, was better learning about something he had never seen for two hours”. Oleh karena itu, ibunya memutuskan untuk mengajari Edison sendiri di rumah.

Ia memberikan buku-buku kepada Edison, dan ketika sang ibu menyadari ketertarikan Edison pada sains, ia memberikan empat buku ilmu pengetahuan fisika dasar yang dapat dipraktekkan di rumah. Segera, buku tersebut menjadi “mainan” yang sangat digemari oleh Edison kecil, yang pada saat itu masih berumur sembilan tahun.

Dibalik kemalangan akan orang-orang yang tak bersimpati dengan dia, Edison merupakan pribadi yang sangat keras kepala. Ia belajar sesuatu dengan caranya sendiri. Meskipun ibunya menginspirasinya, ibunya juga tidak bisa mengajarinya. Ia yang mengajari dirinya sendiri, dan sang ibu membiarkannya. “My mother was the making of me. She understood me; she let me follow my bent”, kenang Edison.

Selain menggemari fisika, Edison juga mencintai kimia. Pada umur sepuluh tahun, ia memulai desain set telegrafnya sendiri dengan memadukan bahan-bahan kimiawi dan gas. Jadi, ketika anak-anak seusianya bermain di ladang atau menangkap ikan di sungai, Edison menghibur diri melalui sekolah dasarnya di laboratorium bawah tanah yang dilengkapi dengan peralatan kimia dan elektrik.

Ia menghabiskan uangnya untuk membeli bubuk dan bahan-bahan kimia untuk keperluan eksperimennya. Edison tidak merasakan masa kanak-kanak seperti anak-anak lain seusinya. Dia tidak bermain bola salju saat musim dingin dan tidak ikut bermain sepak bola di lapangan saat musim panas, tetapi dia menggambar banyak sketsa mesin dan menciptakan model mesin uap dan telegrafnya sendiri di umur belasan tahun.

Selain bergelut pada eksperimen sainsnya, Edison juga bekerja. Ia memulai usahanya pada usia sebelas tahun dengan menjual bahan makanan (bawang, jagung, selada, kol, dan kacang polong) yang ia panen sendiri bersama temannya, Michael Oates.

Ia juga bekerja sebagai penjual koran dan permen di jalanan kereta api yang melintasi Port Huron (Michigan), Detroit, di usia tiga belas tahun. Kemudian, ketika berumur enam belas tahun, Edison diterima bekerja full time sebagai pengirim pesan kawat atau telegrapher.  Ia memanfaatkan pekerjaan ini untuk berkeliling Amerika sebab ia ditempatkan di sejumlah kota.

Pada 1868, Edison sampai di kota Boston, provinsi Massachusetts. Disinilah Edison memulai karirnya sebagai inventor telegraf. Ia menerima hak paten atas temuannya berupa perekam suara pemilihan elektrik atau electric vote recorder pada 1 Juni 1869, sebuah alat yang digunakan oleh Kongres untuk mempercepat proses voting. 

Pada tahun yang sama, setelah pindah ke New York, Edison juga mematenkan sebuah alat improvisasi stock ticker telegraf yang diberi nama Universal Stock Printer. Dari temuannya ini, Edison mendapatkan US$ 40,000 dari Western Union Telegraph Company yang membeli stock ticker miliknya. Uang yang cukup banyak untuk membangun sebuah laboratorium kecil dengan fasilitas produksi di Newark, New Jersey,  tahun 1871.

Di laboratorium Newark, Edison bekerja selama tujuh tahun. Ia menghasilkan penemuan dan peralatan produksi untuk menyempurnakan telegraf yang saat itu sedang berkembang pesat di Amerika, dan menemukan lilin pembungkus kertas dan mesin stensil. Di Newark pula Edison menikah dengan Mary Stilwell dan membangun keluarganya, hingga mereka pindah ke Menlo Park, sebuah desa kecil yang terletak dua puluh lima mil sebelah barat kota New York. 

Di sini, Edison membangun laboratorium baru dengan peralatan paling modern pada saat itu, dan memulai eksperimen-eksperimennya yang mengubah dunia. Salah satunya adalah penemuan bola lampu listrik pada 1879, yang dikerjakan Edison bersama para stafnya selama bertahun-tahun.

Penemuan itu dipatenkan dengan nomer 222.898 sebagai “an Electric Lamp for Giving Light by Incandescence” atau bola lampu pijar, yang dapat menyala selama empat puluh empat jam. Meskipun lampu elektrik ini bukan merupakan ide baru, tetapi Edison mengimprovisasi banyak hal, seperti generator, meteran listrik, konduktor, dan banyak lagi seperti yang dikatakan Edison, “a thousand details the world never hears of it.”

Profil Singkat J.P. Morgan: Banker Amerika yang Kaya Raya

John Pierpont Morgan (J.P. Morgan) lahir di Hartford, Connecticut, pada 17 April1837. Ia merupakan anak dari seorang ahli keuangan Amerika, yaitu Junius Spencer Morgan. Tidak seperti Edison yang tidak menamatkan sekolah resmi sejak umur sembilan tahun, J.P. Morgan mendapatkan pendidikan resmi terbaik. Ia lulus sekolah tinggi di Boston's English High School, dan meneruskan kuliah di University of Gottingen.

Setelah lulus kuliah dengan nilai yang baik pada 1857, Morgan kembali ke New York dan memulai karirnya di bidang bisnis dan keuangan. Ia memulai karir pertamanya di usia dua puluh tahun dengan menjadi seorang akuntan di Duncan, Sherman&Co., perusahaan perwakilan George Peabody&Co. di Amerika. Kemudian, setelah Perang Sipil berakhir, ia bergabung dengan firma keuangan ayahnya, Drexel, Morgan & Co.—pada  1895, perusahaan ini berubah nama menjadi J.P. Morgan & Co.

Morgan yang sejak kecil sudah diajarkan oleh ayahnya cara mengatur aset keluarga, tumbuh menjadi pemuda cerdas yang sangat kompeten dalam bidang bisnis, keuangan, dan perbankan. Karakternya yang ambisius dan berani menanggung resiko membuatnya menjadi lawan yang tangguh bagi saingan bisnis dan keuangan di Amerika, seperti John D. Rockefeller, Westinghouse, dan sejumlah banker yang sama ambisius seperti dirinya. Karirnya menanjak dengan cepat, bahkan setelah 1871 J.P Morgan bersama the Vanderbilts berperan penting dalam kepemimpinan di Western Union.


T.A.Edison dan J.P. Morgan Menerangi Amerika Serikat

Pada September 1878, Edison mengkampanyekan penelitian lampu listriknya yang sebentar lagi akan rampung. Ia mengundang para wartawan untuk datang ke laboratoriumnya di Menlo Park, dan mengatakan bahwa ia akan menciptakan “illumination by gaslight” yang memanfaatkan daya listrik.

Segera, kabar tersebut dimuat di surat kabar New York Sun, New York Herald, dan New York Tribune. Media lain juga mendatangi laboratorium Edison untuk mewawancarai sang ilmuwan yang sering membuat sensasi atas temuannya yang berjasa dalam membangun Amerika.

Dibalik kabar gembira yang Edison kampanyekan, ternyata Edison mengalami masalah besar yang menghambat penemuan lampu listriknya, yaitu dana. Edison menuliskan, “All I want at present is to be provided with funds enough to push the light rapidly.”

Mendengar hal tersebut, Grosvenor Lawrey—teman Edison yang bekerja di Western Union—menemui W.H. Vanderbilt, Twombly, dan J.P. Morgan—sindikat kapitalis Amerika yang menjadi petinggi Western Union—untuk mengatakan bahwa Edison membutuhkan dana untuk meneruskan proyek lampu listrik. Edison menyadari hal ini sangat beresiko, tetapi itulah harga yang harus dibayar atas mimpinya untuk menciptakan model baru lampu listrik.

J.P. Morgan, meskipun sukses mengolah modal dari bisnis ayahnya yang luar biasa besar, tetapi ia berhasrat untuk memiliki bisnis yang produknya dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas, seperti John. D. Rockefeller dengan bisnis minyak yang digunakan oleh hampir semua orang di Amerika untuk menyalakan lampu di rumah-rumah mereka.

Oleh karena itu, saat ia mendengar kabar tersebut, ia menjadi begitu antusias. Ia mendekati Edison dan Edison menerimanya dengan senang hati karena menganggap bahwa proyeknya akan cepat berkembang karena koneksinya dengan Morgan.

Setelah mendapatkan modal dari Morgan, Edison segera menyelesaikan proyek lampu listriknya. Ia mempelajari model lampu listrik yang telah ditemukan oleh ilmuwan sebelumnya, dan menciptakan model lampu listriknya sendiri, sebuah lampu listrik yang dapat digunakan oleh orang banyak dengan harga yang murah.

Edison mengganti material platinum yang mahal dan memiliki daya tahan yang rendah dengan kawat pijar. Proyek lampu listrik selesai pada Oktober 1879 dan mendapatkan hak paten di bulan November di tahun yang sama. Edison bersiap menerangi Amerika.

Demonstrasi lampu lsitrik pertama dilakukan menjelang New Year’s Eve 1880. Edison beserta timnya menerangi laboratorium di Menlo Park dengan temuan lampu listriknya. Tiga ribu orang berkumpul di depan laboratorium, dan ketika lampu menyala, penonton takjub dan tercengang. Edison disebut-sebut seperti tuhan karena dapat memanipulasi cahaya.

J.P. Morgan yang menginvestasikan banyak uang atas proyek ini juga ikut mempromosikan lampu listrik. Ia memasang lampu listrik di rumahnya yang megah dan mengundang kerabat serta rekan-rekan bisnisnya. “This is a wizard”, kata mereka.

Melihat sambutan yang baik dari masyarakat, Edison dengan arahan Morgan mulai memproduksi lampu listrik yang telah ia sempurnakan. Ia membangun stasiun pembangkit listrik dan menulis disurat kabar untuk meyakinkan bahwa teknologi yang menggunakan listrik ini aman untuk digunakan.

Usaha bisnis lampu listrik berjalan, dan dalam jangka waktu enam tahun modal Edison bertambah tiga kali lipat. Lampu listrik berhasil menerangi kota-kota di Amerika Serikat. Tidak hanya menerangi rumah penduduk, lampu listrik juga menerangi  hotel, pabrik dan toko-toko di Amerika Serikat. Morgan tidak sia-sia menginvestasikan uangnya  pada proyek lampu listrik ini.

Kesuksesan lampu listrik tidak secara langsung mengartikan bahwa kerjasama antara Edison dengan Morgan mutlak saling menguntungkan. J.P. Morgan yang sangat antusias pada industri penerangan teralu menekan Edison. Hal ini mengakibatkan Edison tidak independen dalam mengembangkan usaha sesuai keinginannya dan membuatnya hampir kehilangan paten karena didesak oleh sang kapitalis untuk menjual setengah sahamnya. 

Morgan menggunakan Edison untuk menghasilkan uang lebih bagi dirinya. Ia tidak ingin ada saingan dalam bisnis industri penerangan, sehingga ketika muncul Nikola Tesla dengan tekonologi motor listrik yang memanfaatkan arus listrik bolak-balik—lawan dari arus searah yang digunakan oleh Edison—Morgan meminta Edison untuk mengalahkan Tesla—yang didanai oleh Westinghouse, saingan bisnis Morgan.

“Dunia hanya punya tempat untuk satu orang pemenang”, kata Morgan.  Akibatnya, untuk menenangkan Morgan, Edison menulis disurat kabar guna menjatuhkan Tesla-Westinghouse. Edison, melalui tulisannya, menakut-nakuti masyarakat dengan mengatakan bahwa arus listrik bolak-balik sangat berbahaya.

Kesimpulan

Hubungan antara teknologi dan bisnis menghasilkan dampak positif dan negatif. Dalam kasus T.A. Edison dan J.P. Morgan, secara jelas modal dari bussinessman telah melancarkan perkembangan penemuan di bidang sains dan teknologi. Hal ini, selanjutnya, memungkinkan diproduksinya teknologi tersebut secara massal, sehingga penemuan memberikan keuntungan bagi sang ilmuwan untuk mengembalikan uang kepada pemberi modal.

J.P. Morgan melihat lampu listrik Edison sebagai lahan bisnis yang menjanjikan, sebab lampu ini dijual dengan harga yang murah sehingga masyarakat dari semua lapisan dapat membelinya. Sedangkan Edison, meski sadar bahwa investasi dari seorang kapitalis seperti J.P. Morgan dapat membuatnya terintervensi, tetap menerima karena ia membutuhkan dana bagi proyek lampu listriknya. Bagaimana pun, bagi Edison lampu listrik tidak bernilai sebagai barang jual, tetapi sebuah karya yang dapat bermanfaat bagi kemajuan Amerika.

Selain dampak positif, ada pula dampak negatif dari kerjasama antara ilmuwan dengan pemberi modal. Dalam kasus ini,  pemberi modal yang hanya berpikir untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya, telah mengintervensi hasil temuan sang ilmuwan. Bahkan, pemodal mendorong ilmuwan untuk memanipulasi ilmu pengetahuan guna menjatuhkan lawan bisnis. Hal tersebut tentu merugikan dunia sains, sebab mematikan terbukanya temuan baru akibat politisasi dalam kepentingan ekonomi.