Sains dan agama merupakan topik perdebatan yang selalu relevan. Persoalannya, kedua bidang ini seringkali dihadapkan satu dengan yang lainnya. Dalam kerangka itu, kita kerap mendengar dua slogan paralel, yaitu iman dan rasio. Sains seolah identik dengan “rasionalitas”, sedangkan perkara iman atau Tuhan bersifat irasional, berupa kepercayaan buta yang tidak bisa dijelaskan.

Lebih jauh, yang rasional diartikan sebagai yang terukur, terbatas, dan dapat diamati. Argumen ini sangat kental unsur saintiknya. Pemisahan yang kurang tepat ini kemudian melatarbelakangi klaim-klaim amatir seperti misalnya bahwa Tuhan tidak ada karena alam semesta ini dapat dijelaskan secara rasional seturut prinsip fisika dan matematika sampai tuntas.

Argumen seperti ini biasanya disokong dengan data empiris berupa temuan fisika yang menunjukkan gejala keteraturan yang kebetulan dalam proses-proses alam yang mekanis. Pertanyaan paling mendasar dari sudut sains ialah bagaimana menjelaskan peran Tuhan di balik proses alam semesta jika alam semesta bekerja dengan hukumnya sendiri? Pertanyaan ini makin meruncing seiring perkembangan kosmologi yang kian sistematik terutama dengan munculnya teori big-bang yang mengklaim dapat menjelaskan asal-usul alam semesta. Akibatnya, sains dan agama kerap dipertentangkan.

Akan tetapi, pertanyaan lebih fundamental yang kemudian muncul ialah apakah klaim sains yang menolak adanya Tuhan berdasarkan data-data ilmiah mengenai proses mandiri pembentukan alam semesta dan keberlangsungannya berdasarkan ketetapan hukum-hukum fisika bisa diterima seluruhnya? Isi tulisan ini merupakan uraian terhadap masalah tersebut dan pemecahannya.

Kosmologi Zaman Modern dan Revolusi Keilmuan

Sejak penemuan teleskop oleh Galileo pada tahun 1609, kosmologi mulai menjadi sangat observasional. Kini bangunan-bangunan teoretis mengenai model-model alam semesta dalam kosmologi pra-ilmu yang sudah mulai berkembang sejak Aristoteles mulai diimbangi dengan kerja laboratorium.

Ciri utama zaman ini ialah pensistematisasian, yang lebih dikenal dengan istilah “revolusi keilmuan.” Demikian Galileo misalnya memadukan fisika dan kosmologi. Hal ini tampak dalam tulisannya tentang gerak dan gravitasi. 

Kuantifikasi alam oleh Galileo tampak ketika ia menetapkan pemilahan antara kualitas primer benda (meliputi hal-hal terukur seperti bentuk, lokasi, ukuran, dll.) dan kualitas sekunder (meliputi hal-hal yang tergantung pada subjek seperti bau,warna, cecapan, dll.). 

Dengan memadukan ilmu alam dengan fisika, Galileo dengan demikian menghapus tatanan dunia Aristotelian, menyimpulkan bahwa benda-benda langit merupakan benda alam, bukan benda ilahiah. Di sini mulai tampak bagaimana kedudukan yang ilahi itu perlahan disingkirkan dari ranah sains.

Tokoh-tokoh seperti Francis Bacon, Descartes, dan Newton juga turut berperan dalam perkembangan kosmologi menjadi ilmu pengetahuan yang sistematis dan kalkulatif. Demikian Bacon misalnya melihat alam semesta sebagai suatu entitas mekanis yang bekerja pada suatu prinsip hukum tertentu. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan harus bersandar pada observasi ilmiah untuk dapat memahami cara kerja alam dan dengan demikian bisa menguasainya. Bacon lalu dikenal sebagai tokoh empirisme.

Selain Bacon, Descartes juga terlibat dalam revolusi keilmuan ini dengan menyumbangkan “metode” dalam filsafat, yaitu usaha mencari kepastian sebagai landasan bagi pengetahuan yang benar dan terpilah-pilah. 

Descartes menganggap matematika, khususnya geometri sebagai model bagi pengetahuan yang memiliki landasan kepastian yang tak dapat diragukan.

 Revolusi keilmuan ini mencapai puncaknya pada Newton. Newton menerapkan kalkulus matematika ke dalam fisika dan astronomi. Ia mentransformasi prinsip-prinsip filsafat ke prinsip-prinsip matematika untuk membangun filsafat alam.

Dampak revolusi keilmuan bagi kosmologi ialah lahirnya pandangan bahwa alam semesta tersusun atas satu jenis materi (uni-verse), alam bersifat mekanis dan matematis. Persis pada tahap inilah pembicaraan tentang kosmos terpisah dari kata-kata kunci seperti penciptaan, Tuhan, dewa-dewi, dll., yang menjadi unsur sentral dalam Kosmologi Pra-ilmu maupun Kosmologi Abad Pertengahan.

Unsur-unsur ini perlahan diabaikan dan dianggap tidak rasional karena hanya merupakan pengalaman subjektif atau unsur sekunder yang tidak dapat diuji kebenarannya secara ilmiah. 

Sebenarnya inilah titik awal “konflik” antara sains dan agama dimana realitas direduksi atau dibatasi hanya pada hal-hal yang secara objektif teramati, sedangkan pengalaman religius-spiritual, pengalaman estetik, daya kreatif imajinatif dianggap tidak bisa dipertanggungjawabkan dan karena itu diabaikan. Pengalaman-pengalaman religius dalam kebudayaan modern hanya diterima sebagai emosi psikologis yang berubah-ubah.

Big-bang dan Pertanyaan tentang Tuhan

Supremasi pendekatan saintik atas realitas lebih lanjut diteguhkan melalui penemuan teori Big-bang. Teori Big-bang bermula dari solusi Edwin Hubble mengenai persoalan nebula spiral, yaitu apakah ada keterkaitan antara ukuran spiral pergeseran spektral dan jaraknya. 

Hal ini menjadi problem yang menarik bagi para astronom, fisikawan, dan matematikawan selama periode 1920-an. Pada 1929, Hubble mempublikasikan rumus mengenai kesebandingan hubungan antara kecepatan menjauh galaksi dengan jaraknya. Hubungan yang juga dikenal sebagai Hukum Bubble ini merupakan fakta hasil observasi yang memperlihatkan gerak saling menjauh galaksi. 

Demikian, Hubble menunjukkan satu temuan menarik bahwa alam semesta "berkembang" dan dengan demikian "memiliki awal." Artinya, alam semesta itu kontingen. Ia pernah tidak ada. 

Demikian, kedudukan alam semesta sebagai bukan entitas ilahiah sebagaimana diinisiasi oleh Galileo makin diteguhkan. Alam semesta bukan sesuatu yang niscaya (abadi/ilahiah/ada sejak selama-lamanya), tetapi kontingen. Dan Big-bang adalah solusi bagi persoalan mengenai awal alam mula terbentuknya alam semesta itu.

Sebelum Hubble sebenarnya sudah ada matematikawan asal Rusia Alexander Friedmann (1922,1924) yang menemukan solusi bagi persamaan medan Einstein dalam teori relativitas umum, yaitu bahwa alam semesta berubah sepanjang waktu. 

Friedmann menyatakan bahwa alam semesta pada satu waktu lampau (antara sepuluh dan dua belas miliar tahun lalu) berada pada posisi tak terhingga, jarak antara galaksi-galaksi mesti nol. Titik ini oleh para ahli matematika disebut singularitas (singularity). 

Pada titik ini, rumus matematika buyar, sebab kelengkungan ruang dan waktu bersifat tak terhingga, sementara matematika mengandaikan ruang dan waktu mulus dan nyaris datar. Titik inilah yang disebut awal mula alam semesta yang memicu ledakan besar (big-bang). 

Apa yang dimaksud dengan awal mula alam semesta di sini tidak berarti bahwa alam semesta baru ada. Peristiwa ledakan besar dipatok sebagai awal perhitungan matematis kita atas perkembangan ruang dan waktu sebab kita tidak bisa menghitung apa-apa sebelum peristiwa big-bang. Kemampuan prediksi kita buyar di titik singularitas itu.

Setelah Friedmann, solusi serupa ditemukan oleh Georges Lemaître pada 1927 meskipun keduanya tidak saling berkontak langsung. Lemaître tidak mengenal karya Friedmann. Ia mengacu ke teori kuantum untuk menjelaskan bahwa kondisi paling dini dari alam semesta berbeda dari alam semesta kini. Dengan itu Lemaître merumuskan model alam semesta yang berkembang dan dengan demikian memiliki awal. 

Secara umum, awal terbetuknya alam semesta diperkirakan terjadi atas suatu ledakan besar yang dikenal dengan sebutan Big-bang tadi. Begitulah Lamaitre memberi dasar bagi model alam semesta yang mandiri.

Dalam bagian ini, kita tidak akan masuk lebih dalam tentang bagaimana kalkulasi fisika mengenai peristiwa ledakan besar yang disebut Big-bang itu. Hal yang akan dibicarakan di sini ialah bahwa perubahan besar dalam memahami proses terbentuknya alam semesta tersebut tidak bisa tidak bersinggungan dengan pembicaraan sangat lama di dunia ini mengenai Tuhan.

Siapa menyangka sains dapat memecahkan semua persoalan kosmologis yang sebelumnya dilihat sebagai manifestasi keberadaan hakekat ilahi yang tak kelihatan. 

Sains kini beranjak lebih jauh dalam keyakinan bahwa keberadaan alam semesta ini tidak butuh Tuhan. Tuhan bukan lagi merupakan suatu penjelasan yang sentral. Kini posisi agama pun makin tersudut. Pertanyaan penting yang muncul di sini ialah, apakah sains menyingkirkan Tuhan yang personal?

Menolak Arogansi Sains

Kemajuan sains selain tidak bisa disangkal, tentu juga positif. Kita mesti menerima itu. Di zaman ini, menolak sains adalah satu sikap kolot dan kampungan. Akan tetapi, antusiasme berlebihan pada sains juga tidak kurang kolotnya seperti sikap ekstrim orang-orang beragama yang menolak sains.  

Hal yang akan saya soroti di sini bukanlah sains pada dirinya sebagai bidang kajian ilmu, melainkan sikap antusias berlebihan pada sains itu. Sikap ini disebut sebagai "saintisme" atau "fundamentalisme sains," yakni satu sikap optimisme berlebihan pada sains yang justru kekanak-kanakan dan tidak ilmiah. 

Saintisme secara sederhana berarti kepercayaan bahwa seluruh realitas adalah saintik. Karena itu, satu-satunya sumber kebenaran atau pengetahuan akan realitas adalah sains. Menurut saya, inilah akar konflik antara agama dan sains.

Jika kita bedah, alih-alih membawa kita pada pengetahuan yang pasti mengenai realitas, saintisme justru menjauhkan kita dari kebenaran itu. Saintisme justru buta terhadap realitas yang luasnya tidak sebanding dengan sains itu sendiri. 

Dengan kata lain, orang-orang ini pada dasarnya lupa batas dan karena itu bisa dibilang amatir. Mereka begitu yakin bahwa seluruh realitas hanya bersifat saintik dan karena itu hanya bisa dijelaskan secara tuntas oleh sains. 

Mereduksi realitas sebagai sekadar realitas objektif dan melantik sains sebagai jawaban untuk semua perkara tentu keliru. Contoh ilmuwan yang jatuh dalam kekeliruan saintisme ialah Richard Dawkins. Hal ini cukup jelas kita lihat dalam publikasinya The God Delusion, (2006).

Cukup mudah membuktikan kekeliruan Saintisme. Kita dapat bertanya demikian, bagaimana sains menjelaskan pertanyaan mengapa alam semesta yang rasional itu lebih baik bersifat seperti itu dari pada tidak seperti itu? Apakah alam semesta mempunyai tujuan? Di sini sains buntu. 

Pertanyaan-pertanyaan ini tetap tertinggal atau tak terselesaikan oleh sains bukan karena ia belum bisa menjawab, tetapi karena ia secara metodis tidak mungkin bisa menggeluti pertanyaan-pertanyaan itu. Dengan kata lain, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan tetap ada tidak peduli secanggih apa pun penemuan sains.

Pada titik ini sebetulnya kita bisa melihat bahwa klaim saintisme mengenai pemutlakan sains sebagai jawaban atas segala pertanyaan tampak terlalu naif.

 Di sisi lain, kita perlu mengapresiasi beberapa Fisikawan serius yang justru mengakui keterbatasan sains sebagai salah satu bentuk pendekatan saja terhadap kemajemukan realitas yang mencakup kondisi fisik dan metafisik. Satu diantaranya dari Paul Davies. Ia menulis demikian,

Saya selalu ingin percaya bahwa sains akan mampu menjelaskan semua, setidak-tidaknya secara prinsipilpun pula jika kita mengabaikan peristiwa-peristiwa adikodrati, namun sama sekali tidak eviden bahwa sains mampu untuk menjelaskan seluruh alam semesta … Jadi, masalah-masalah terakhir (The ultimate questions) tetap tinggal di luar ilmu empiris.”

Adalah suatu kejelasan bahwa hal yang menjadi persoalan di sini bukanlah bahwa agama yang melihat alam semesta sebagai ciptaan menolak kebenaran observasional sains, melainkan pada kenyataan bahwa sains itu terbatas. Karena itu, ia tidak boleh mengklaim sebagai tak terbatas. 

Lebih jauh, berkaitan dengan persoalan ketuhanan, sains yang berdiri pada observasi empiris memang terbatas—oleh metodenya—untuk dapat membuktikan Tuhan ada atau tidak ada. Itu bukan wilayahnya.

Inilah maksudnya jika kita berbicara tentang batas, bahwa sebagaimana yang dikatakan seorang ahli Fisika kuantum Heisenberg, rasionalitas semata-mata tidaklah cukup. Kita harus bersedia menerima batas pengetahuan dalam menghadapi beragam pengalaman manusia. 

Fisika berkaitan dengan apa yang dapat kita katakan tentang alam. Sebaliknya, pertanyaan agama dalam refleksi ketuhanan sekalipun di hadapan semua fakta sains ialah menyangkut dimensi kualitatif dari semua fakta itu. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bergerak pada level metafisik yang tidak bisa dijangkau oleh ilmu ukur.

Sains Membuka Ruang untuk Refleksi tentang Tuhan

Barangkali poin dari pemaparan di atas bisa lebih tajam dengan sebuah ilustrasi. Mungkin ada di antara kita yang sudah menonton Film The Privileged Planet. Kalau belum, silakan ditonton. Film yang diadaptasi dari buku dengan judul yang sama oleh Jay Richards dan Guillermo Gonzalez ini merupakan satu kajian akademik yang diproduksi pada Oktober 2002 dan selesai pada Juni 2004.

Gagasan yang muncul dalam film ini menepis pendapat arus utama sains modern bahwa alam semesta (uni-verse) hanya bersifat saintik (kalkulatif), predictable, dan oleh karena itu juga dapat dijelaskan dalam rumus-rumus fisika dan matematika sampai tuntas. 

Klaim terbesar sains abad 20/21 ialah bahwa alam semesta berproses secara mandiri seturut prinsip-prinsip fisika yang berlaku universal dan tidak melibatkan rencana atau kuasa ilahi apa pun di dalamnya. 

Dalam konteks itu, para saintis yang terlibat dalam Film The Privileged Planet membangun satu kontra-narasi bahwa sains secara metodis terbatas untuk sampai pada klaim-klaim besar bahwa proses mandiri pembentukan alam semesta tidak memperlihatkan indikasi adanya campur tangan ilahi di dalamnya.

 Menurut para saintis ini, klaim-klaim tersebut berlebihan dan ceroboh. Sains memang bisa menjelaskan secara ilmiah proses-proses yang terjadi dalam alam semesta, tetapi sains tidak bisa membuktikan Tuhan ada atau tidak ada, terlibat atau tidak terlibat hanya dari kenyataan bahwa alam semesta berproses secara mandiri dan mekanis seturut hukum-hukum fisika. 

Klaim tersebut merupakan lompatan logika yang jauh memasuki wilayah lain di luar kesanggupan metode sains. Maka itu pertanyaan tentang Tuhan, makna, dan tujuan selalu terbuka, tidak peduli secanggih apa pun penemuan sains.

Refleksi tentang Tuhan, makna, tujuan dan maksud di balik keberadaan alam semesta kembali muncul atas kenyataan bahwa dalam banyak hal, planet Bumi menyimpan pertanyaan besar yang tidak ada habisnya. 

Dibanding planet-planet lain di alam semesta mahaluas ini, planet Bumi adalah spesial. Demikian, The Privileged Planet (planet istimewa) yang dimaksud sebetulnya merujuk pada planet Bumi sebagai satu-satunya (setidaknya hingga hari ini) yang ditemukan mampu memelihara jutaan spesies hidup di dalamnya termasuk kita, manusia.

Fakta-fakta sains mengenai keberadaan planet kecil ini juga dalam Film The Privileged Planet dianggap terlalu luar biasa untuk sekadar sebuah kebetulan buta dalam proses acak evolusi alam semesta. Demikian, apakah tidak perlu ada penjelasan tentang keistimewaan ini?  

Kalau pun sains mengatakan semua itu sebagai kebetulan, bukankah mengatakan semua itu kebetulan sama dengan mengatakan bahwa sains ‘tidak tahu’? Mengapa tidak boleh ada penjelasan lain? 

Mengerucut pada persoalan ketuhanan, kiranya pertanyaan besar yang hendak kita jawab ialah apakah alam semesta menunjuk sesuatu tentang Tuhan? Untuk masuk ke pertanyaan tersebut, Film The Privileged Planet menunjukkan satu hal mengejutkan bahwa kita justru bisa memulainya dari sudut sains.

Ada beberapa pertanyaan mendasar yang lebih dahulu harus dijawab, salah satunya ialah apakah Bumi kita satu-satunya tempat bagi kehidupan kompleks? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para ahli Astrobiologi dalam The Privileged Planet menentukan berbagai kriteria bagi mungkinnya kehidupan kompleks.

 Dalam hal ini, Bumi ditemukan sebagai spesial. Semua syarat bagi mungkinnya kehidupan kompleks seperti air, udara (nitrogen dan karbondioksida), medan magnet serta satelit yang proporsional untuk mengatur kestabilan, dll. hanya ada di Bumi. Posisi Bumi juga serba terukur (pas). 

Jika Bumi 5 % saja lebih dekat dengan Matahari, nasibnya akan terbakar seperti Venus. Efek rumah kaca menjadi 9000 Fahrenheit. Jika 20 % lebih jauh dari Matahari, nasibnya akan beku seperti Mars. 

Di kedalaman Bumi, gerak lempeng tektonik, pergerakan besi cair yang membentuk perlindungan bidang magnet juga merupakan unsur esensial bagi kehidupan kompleks. 

Dengan kata lain, keseluruhan mengenai Bumi ialah satu-satunya syarat bagi kehidupan kompleks. Maka disimpulkan bahwa sangat kecil kemungkinan bagi adanya kehidupan kompleks di luar Bumi, kecuali jika ada dua bumi.

Pertanyaannya ialah bagaimana semua ini terjadi? Apakah kita hanya kebetulan beruntung? Bagaimana menjelaskan keberadaan seluruh unsur semesta yang serba terukur? Bahwa keberadaan semua unsur adalah syarat untuk kehidupan kompleks? 

Dari sini kelihatan adanya keterarahan, bahwa semua proses itu hanya dapat dimengerti jika mempunyai tujuan, yaitu kehidupan. Fakta mengenai keterarahan semesta memang sudah jelas, meskipun kita tidak bisa menolak bahwa Bumi kita bisa saja merupakan hasil proses kebetulan meskipun dengan probabilitas sangat kecil, yakni 105.313.660

Hal ini dimungkinkan mengingat kemahaluasan semesta, bahwa Galaksi Bimasakti (Milky Way) sendiri menampung lebih dari 100 miliar bintang termasuk Matahari kita dan alam semesta terdiri dari tak terhitung galaksi.

Akan tetapi, bahwa semua kebetulan itu tetap terarah pada satu bentuk alam semesta di mana ada Bumi dan kehidupan kompleks di dalamnya tetap tidak bisa disangkal. Hanya saja problemnya sekarang ialah bagaimana keterarahan itu bisa dijelaskan? 

Ini merupakan persoalan para ilmuwan maupun agamawan, bahwa meskipun terdapat ruang bagi kemungkinan adanya sesuatu yang mengarahkan semua itu tidak berarti kita bisa segampang itu menempatkan Tuhan untuk mengisinya. Di sini, kita perlu menghindari klaim-klaim spektakuler ceroboh seperti itu.

Di atas semua itu, satu hal yang penting ialah setidaknya di sini ada jalan, ada ruang bagi refleksi tentang Tuhan. Sains sendiri tidak menyangkal hal ini.

Kenyataannya, makin kita memahami alam semesta, memeriksanya dengan teliti, makin kita menyadari ada rahasia besar di baliknya, kita akan sampai pada satu rasa takjub walau sekadar mengatakan how is it possible

Di sanalah sesungguhnya terbuka ruang pada kenyataan lain, yang barangkali tidak pernah bisa kita sentuh, yang tidak pernah akan sangat jelas bagi kita. Di sana terbuka "jalan" menuju Tuhan.

 Agama dan Ketuhanan Masih Relevan

Berdasarkan pembahasan singkat di atas tampak bahwa ketersembunyian yang melampaui aras empiris dari kosmologi tetap merupakan lahan bagi kajian teologis agama-agama. 

Dalam agama-agama, Tuhan umumnya dipahami sebagai satu realitas transenden yang bersifat ahistoris (melampaui kategori ruang dan waktu) dan tak terbatas. 

Hal ini menjawab persoalan waktu dalam teori Big-bang—yang menyimpulkan bahwa tidak mungkin bagi pencipta untuk dulu ada sebab waktu dimulai sejak Big-bang terjadi—sebab memang Allah tidak terikat pada waktu.

Dalam forum dialog antara sains dan agama (teologi), kiranya tidak ada masalah yang lebih besar dari pada kekacauan dalam memahami bagaimana alam semesta berasal. 

Kekacauan itu lebih rinci lagi ialah menyangkut waktu. Jika Big-bang menandai permulaan temporal alam semesta, bagaimana menerima Tuhan untuk dulu ada? Sekurang-kurangnya ada dua masalah yang perlu diklarifikasi di sini.

Pertama, paham penciptaan dalam teisme sering dikaitkan terutama pada permulaan temporal alam semesta secara keseluruhan. Padahal, paham penciptaan bukan hanya menyangkut penciptaan temporal, melainkan yang lebih utama merupakan soal asal usul ontologis, yaitu bahwa alam semesta terikat pada Allah seperti sumber radikal untuk seluruh adanya. 

Jadi, seluruh alam semesta tergantung pada-Nya dalam setiap eksistensinya. Dengan kata lain, penciptaan bukanlah perbuatan Allah pada permulaan saja, melainkan sesuatu yang berlangsung terus menerus. 

Kita hanya bereksistensi karena Allah terus menerus menciptakan kita. Kegiatan Allah ini tidak bersifat temporal, sebab ia sendiri tak terbatas.

Konsekuensi dari paham penciptaan ini terhadap kemajuan sains modern ialah bahwa jika kemudian Big-bang muncul menjelaskan awal temporal alam semesta, hal itu tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Teologi atau Filsafat Ketuhanan, kecuali jika awal temporal itu menegaskan sifat kontingensi alam semesta sebab hal ini mengafirmasi kebutuhan mutlak pada realitas lain yang menyebabkan kemunculannya. Alam semesta "butuh" Tuhan.

Kedua, penciptaan merupakan konsekuensi logis dari sifat kontingen alam semesta. Sering kali hal ini luput dari spekulasi para saintis sekaliber Hawking sekalipun. Hal ini terbukti dari pernyataan Hawking demikian bahwa, 

Jikalau alam semesta sama sekali dapat berdiri sendiri (self-contained), tanpa mempunyai batas atau tepi (pinggir), ia tidak akan mempunyai awal maupun akhir; ia hanya berada saja. Dan kalau begini, tempat mana masih akan ada untuk seorang pencipta?” 

Para teolog akan menjawab lugas bahwa semua tempat ada untuk sang pencipta. Mengapa demikian? Karena alam semesta ini perlu diciptakan karena ia bersifat fana, kontingen, dan bahwa tiadanya awal atau akhir pada alam semesta tidak akan membebaskannya dari kontingensinya. Sebab hal itu hanya menjelaskan bahwa kontingensinya berada sejak selama-lamanya.

Dengan demikian, segala penemuan sains termutakhir mengenai asal-usul pembentukan alam semesta sejatinya tidak bertentangan dengan paham penciptaan dalam agama. Demikian, sains dan agama pada dasarnya tidak saling meniadakan, justru sebaliknya bisa jadi saling membutuhkan.

 Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas, kita bisa melihat bahwa relasi sains dan agama tidak saling meniadakan. Sejauh ini, banyak pandangan yang menempatkan sains dan agama sebagai dua hal yang sama sekali berbeda sehingga lebih baik dipisahkan justru supaya masing-masing berjalan sesuai bidangnya dan tidak saling campur tangan.

Akan tetapi, tren untuk sebaliknya menempatkan kedua bidang ini dalam suatu relasi yang komplementer atau saling mengandaikan, telah terjadi dalam agama paling sedikit Gereja Katolik. 

Sikap terbuka Gereja terhadap penemuan sains sebenarnya telah disinyalir sejak Konsili Vatikan II 1962 dan dipertegas dalam Ensiklik Paus Yohanes Paulus II Fides et Ratio (iman dan akal budi) yang membahas tentang kesalingtergantungan antara iman dan akal budi.

Kesadaran ini pun muncul dari sebagian besar saintis dan fisikawan, seperti Paul Davis, John F. Haught, dll. 

Dengan demikian, proyek bagi dialog saling mendengarkan antara agama dan sains terbuka lebar. Hal ini akan menjadi lebih produktif dan berdampak positif dari pada memisahkan kedua bidang ini yang kemungkinan justru menghatar keduanya jatuh pada ekstrem masing-masing.


Bibliografi

Haught, John F. Perjumpaan Sains dan Agama. Diterjemahkan oleh Fransiskus Borgias. Bandung: Mizan, 2004.

Hawking, Stephen. A Brief History of Time. New York: bantam books, 1988.

Hetherington, Norriss S., Ed. Cosmology: historical, literary, philosophical, religious, and scientific perspectives. Newyork: Garland Publishing, 1993.

Kragh, Helge S. Conceptions of Cosmos. New York: Oxford University Press, 2007.

Leahy, Louis. Horizon Manusia: Dari Pengetahuan ke Kebijaksanaan. Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Magnis-Suseno, Franz. Menalar Tuhan. Yogyakarta: Kanisius, 2006.

Supelli, Karlina. “Ciri Antripologis Pengetahuan.” dalam Dari Kosmologi ke Dialog, Disunting oleh Ihsan Ali-Fauzi dan Zainal Abidin Bagir, 21-81. Jakarta: Mizan, 2011.