Semua agama besar yang dikenal saat ini lahir dalam era pra-modern dan pra-saintifik, era yang sepatutnya disebut sebagai era mitologis. Agama besar terakhir yang muncul adalah Islam, sekitar tahun 600-an awal.

Sedangkan, revolusi saintifik sebagai penanda era modern dan ilmiah baru terjadi sekitar tahun 1.500 masehi, ketika kapal Magellan kembali ke Spanyol setelah tiga tahun perjalanan dengan jarak tempuh 72.000 kilometer. Sebelumnya, tidak ada manusia yang berani berlayar mengelilingi bumi. Ya, flat earth adalah anggapan banyak manusia di era pra-saintifik.

Era saintifik secara populer ditandai oleh Galileo Galilei (1564-1642) di Italia dan Johannes Kepler (1571-1630) di Jerman yang membangun cara-cara berpikir santifik dalam sejarah kehidupan modern. Kalau orang Barat mau sedikit jujur dengan sejarah, era saintifik seharusnya ditandai oleh Ibnu Haytham (965-1040) sebagai orang pertama dalam sejarah yang merumuskan metode pengkajian saintifik dan cara berpikir ilmiah yang bertahan hingga hari ini.

Cara pandang saintifik yang didatangkan oleh revolusi ini berbenturan tajam dengan cara pandang mitologis dari zaman sebelumnya. Di era benturan ini banyak ilmuwan yang mendapat penolakan dari kaum agamawan.

Al Farabi, Ibnu Sina, dan berbagai ilmuwan muslim lainnya dikafirkan oleh Al Ghazali, sebagai salah satu pejabat yang memiliki otoritas tertinggi di bidang hukum. Belum lagi ilmuwan di Eropa seperti Galileo, Copernicus, Descartes, dan lainnya yang dikucilkan karena dianggap menentang dogma gereja.

Sains terus berkembang mengikuti kemajuan zaman karena sifatnya yang dinamis. Sedangkan, agama berjalan di tempat karena memang sifatnya yang dogmatis.

Agama tidak bisa berubah terlalu banyak karena harus merujuk pada satu sosok yang terikat oleh ruang dan waktu yang statis. Tapi, sains? Ia tidak mengkultuskan siapa pun. Jika Aristoteles yang tersohor di bidang pengetahuan itu hidup saat ini, ia akan dimaki habis-habisan oleh para feminis karena teorinya tentang perempuan terbukti salah total.

Agama mewajibkan kepercayaan terhadap keluhuran sosok lampau, tetapi sains selalu tertarik pada kebaruan yang lebih menjanjikan bukti. Nah, perbedaan sifat tersebut menyulitkan kedua hal ini berjalan beriringan. Apalagi kemajuan sains akhir-akhir ini yang semakin didukung oleh perkembangan teknologi. Mungkinkah agama bertahan setelah bertentangan dengan sains modern yang menyuguhkan bukti riil?

Bagi saya, cukup banyak temuan sains yang langsung menyerang inti dasar kepercayaan agama. Dalam sebuah artikel tahun 2011 yang berjudul “Biology of Consciousness”, Gerald M. Edelman dkk menguraikan dengan runut basis neurobiologis yang memunculkan kesadaran dalam diri tiap insan.

Singkatnya, kesadaran adalah produk evolusi biologis yang terkait langsung dengan berbagai aktivitas sel saraf dalam otak manusia. Kesadaran manusia tidak datang dari ruh atau jiwa seperti yang diajarkan agama, tetapi merupakan akibat yang ditimbulkan aktivitas dari sistem saraf di dalam otak.

Para agamawan dan “saintis-teistik” yang meyakini Goldilocks Zone berusaha keras untuk menunjukkan bahwa pikiran manusia adalah suatu zat spiritual, karena mereka beranggapan bahwa jika pikiran dapat dibuktikan sebagai suatu zat spiritual, maka Tuhan sebagai zat spiritual tentu juga ada.

Tetapi, neurosains telah menunjukkan dengan bukti yang konkrit bahwa pikiran bukanlah zat spiritual yang terpisah dari tubuh. Pikiran adalah hasil aktivitas saraf dalam otak. Artinya, tanpa otak, pikiran tidak akan ada.

Tanpa otak tentu tidak ada ingatan, sebab ingatan disimpan dalam salah satu bagian otak yang dinamakan hippocampus. Lantas, kalau kita mati dan otak habis dimakan cacing, apakah ingatan kita masih ada? Orang yang terbentur keras dan bagian hippocampus-nya rusak saja bisa lupa ingatan. Terus, kalau ditanya di alam kubur, kita mau jawab apa? Toh ingatan kita pergi bersama organisme pemakan bangkai.

Belum lagi di bidang kosmologi dan astrofisika. Temuan mutakhir dalam bidang tersebut mengatakan bahwa jagat raya muncul dari ketiadaan lewat apa yang disebut fluktuasi kuantum. Carl Sagan, Stephen Hawking, Michio Kaku, dan banyak kosmolog jempolan lainnya hampir senada tentang kemunculan jagat raya dari ketiadaan. Jadi, para ilmuwan modern meniadakan sosok Tuhan dalam penciptaan jagat raya.

Bagaimana dengan awal kehidupan? Menurut biologi sintetis, kehidupan dimulai oleh zat-zat kimiawi yang secara kebetulan dan acak bertemu dan menghasilkan informasi-informasi genetik.

Ketika kehidupan sudah tercipta lewat reaksi kimiawi, kehidupan akan berkembang lewat proses natural yang dinamakan evolusi melalui mekanisme seleksi alamiah. Dengan demikian, gagasan bahwa kehidupan ada karena diciptakan Tuhan, dalam sains modern tampak tidak relevan.

Cerita manusia pertama, yaitu Nabi Adam yang turun sekitar 6.000 tahun yang lalu jelas salah total dari sudut pandang sains. Tambah lagi cerita banjir bandang dan kapal raksasa Nabi Nuh, cerita Nabi Ibrahim kebal api, cerita Nabi Musa membelah lautan, cerita Yesus yang mampu berbicara sejak bayi dan menghidupkan orang mati, serta cerita-cerita mukjizat lainnya. Ya, mukjizat jelas bertentangan dengan sains.

Satu tema yang paling sering diangkat oleh kalangan agamawan adalah; Dari manakah moralitas berasal? Sudah tentu hanya Tuhan dan agama jawabnya.

Ternyata tidak juga. Sains evolusi mengatakan bahwa homo sapiens pertama kali muncul sekitar 200-300 ribu tahun yang lalu. Agama diperkirakan baru muncul sekitar 50-70 ribu tahun yang lalu. Hampir lebih 150 ribu tahun homo sapiens bisa hidup tanpa agama. Jelas bahwa moralitas awalnya tidak muncul dari agama.

Lagipula, dengan pengetahuan baru kita saat ini dapat diketahui bahwa primata menampakkan berbagai perilaku bermoral dalam interaksi sosial mereka. Dalam struktur sosialnya terdapat sanksi sosial jika anggota kelompok dianggap berperilaku tidak bermoral. Kita dapat dengan tegas menyatakan bahwa moralitas manusia muncul dari dalam gen leluhur yang juga tampak pada saudara primata kita.

Banyak penelitian yang mengatakan bahwa moralitas terkait erat dengan empati seseorang. Dalam sains, moralitas tidak berhubungan dengan religiusitas. Bahkan, teori Lawrence Kohlberg tentang penalaran moral runtuh dengan temuan baru bahwa moralitas tidak dipengaruhi oleh kapasitas penalaran, melainkan oleh empati seseorang.

Toh saya pribadi banyak memiliki teman yang sepertinya jauh dari agama, tapi lebih bermoral daripada mereka yang rajin ibadah. Walaupun teman saya yang rajin ibadah dan bermoral sama banyaknya. Kesimpulan saya, ibadah bukanlah tolok ukur dari moralitas seseorang.

Salah satu reaksi manusia ketika dalam kekacauan adalah kembali ke masa lalu. Ya, masa lalu selalu dianggap sebagai suatu era yang penuh kedamaian untuk bersembunyi. Ya, persis seperti lirik lagu Yesterday dari The Beatles.Yesterday all my troubles seemed so far away. Now it looks as though they're here to stay. Oh, I believe in yesterday.”

Agama yang sekarat dikeroyok oleh berbagai disiplin sains membuat sebagian agamawan ingin kembali ke kondisi di mana agama itu turun. Alhasil, fundamentalisme atau istilah kerennya sekarang “hijrah” cukup populer saat ini. Langkah ini dianggap tepat untuk melarikan diri dari gempuran sains yang makin membabi buta.

Bagaimanapun juga, kita tidak mungkin lepas dari jeratan sains modern yang saat ini sudah memasuki hampir seluruh sendi-sendi kehidupan.

Lantas, dari beberapa pertentangan tersebut, mungkinkah agama berjalan beriringan dengan sains atau masih terus bertentangan seperti saat middle agesMari kita berdiskusi tanpa naik darah.

Referensi:

Dawkins, R. (2013). The God Delusion. Depok: Banana.

Harari, Y. N. (2017). Sapiens. Tangerang Selatan: Alvabet.

Rakhmat, I. (2013). Beragama dalam Era Sains Modern. Jakarta Utara: Pustaka Surya Daun.

Sagan, C. (2016). Kosmos. Jakarta: Jepustakaan Populer Gramedia.