“Kekeliruan fatal dalam otak Anda, adalah ketika memaknai dunia ide dan Imajinasi”._Plato

Sebagian di antara kita memprakarsai bahwa dunia ide itu terletak pada alam imajinasi, sedangkan imajinasi itu sendiri terletak pada wilayah fiksi. Mana yang menurut Anda benar, dan mana yang menurut Anda absolut, dunia ide "hidup" dalam wilayah fiksi, atau alam imajinasi "hidup" dalam dunia realitas?

Kebanyakan dari kita! Mengambil perspektif dari sudut pandang subjektivitas. Apa yang seharusnya benar, menurut pernyataan orang lain. Belum tentu kita menganggap-Nya benar, dalam persepsi kita sendiri. Padahal esensi dari segala kebenaran adalah sumber intersubjektiv, timbul dari dalam diri, hukum, dan asas penilaian kita masing-masing.

Artinya sesuatu yang kita katakan, ucapkan, dan yang kita pahami itu bisa saja _salah dan bahkan pula bisa saja _benar menurut bukti, fakta dan kejelasan asumsi yang kita sampaikan kepada mereka. Sebab tidak ada interferensi, atau perubahan makna secara khusus dari sudut pandang seseorang.

Tetapi, yang demikian menguak dan terjadi dari sudut pandang dan pemikiran kita adalah realitas absolut tidak berjalan lurus, mulus dengan kondisi kenyataan. Padahal, jika kita jelajahi dengan detail dalam realitas objektif. Hubungan ide dengan wilayah imajinasi itu sangat dekat dengan kenyataan.

Ibaratkan sebuah mobil otonom, yang kehilangan rodanya. Jika itu terpisah, kemungkinan besar produksi Tesla. Ia tidak akan tidak bisa berkembang, dan berputar. Begitu pun dengan ide. Ia tidak akan bergerak, bertumbuh, dan beraktivitas, jika tidak ada interaksi dan rangsangan dari luar.

300 triliunan tahun yang lalu, Anda tidak bisa membedakan antara pisau dengan kapak, atau api dengan air. Tetapi ketika Anaximenes memperkenalkan Anda dengan awan, maka Anda berpikir, bagaimana hujan dapat menurunkan air. Anda sepenuhnya bahagia, dan merasa cukup senang, bahwa air adalah sumber kehidupan, dan sumber segalanya. Begitu pula dengan Anaximandro, yang dulu orang tua, keluarga, dan  nenek moyang Anda tidak tahu.

Apa itu api?

Ketika hari ini Anaximandro membacakan ulang kitabnya, maka Anda mengulaknya— panas.

Cukup jelas, dan sederhana. Tetapi jika kita telisik lebih jauh,—berkat kemampuan proyeksi mereka. Kita dapat ilmu, dan pengetahuan seutuhnya. Meskipun itu sudah cukup jauh terjadi sebelum mereka.

Namun, kejelasan realitas cukup berdampak besar terhadap masyarakat, lingkungan, alam, dan keadaan luar kita. Tetapi, sepanjang sejarah dan pengetahuan yang kita tahu, bahwa yang hanya mampu mengimajinasikan tentang rupiah, dolar, kebebasan, korporasi, google, facebook, Bank, dan kemajuan Uni Eropa adalah bukan anjing.

Ia adalah manusia. Manusia yang tahu, bagaimana menggambarkan realitas dengan objektivitas. Manusia yang tahu, bagaimana membedakan antara mimpi dengan kenyataan. Manusia yang tahu, bagaimana ide dan imajinasi itu bekerja. Ia bukan anjing yang hanya bisa mencium makanan, ketika dalam keadaan lapar atau pun kenyang.

Tetapi ia sesungguhnya adalah manusia. Tidak ada binatang, tumbuhan-tumbuhan, dan hewan yang bisa menandingi kita, bukan karena kita memiliki pikiran, jiwa dan hati. Tetapi karena hanya saja mereka tidak dapat menguasai imajinasi dan ide yang di kuasai oleh alam pikiran kita.

Ular bisa menggigit dan mengetok. Dan Harimau dapat berlari, berlompat, dan menerkam. Tetapi mereka tidak bisa membuka Bank, Google, Facebook dan membeli Software, Komputer, Microsoft, atau mengajukan gugatan hukum ke Mahkamah Konstitusi.

Pada tahun 2017, Mark Zuckerberg sangat tahu bagaimana menghubungkan kelompok-kelompok komunitas besar bisa bergabung dalam suatu entitas yang berbeda. Di bandingkan seekor harimau yang ganas, _tidak tahu bersahabat dengan kelompok kecilnya di Penslavina.

Di samping hubungan antara manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan alam tidak selaras dengan hukum kausalitas. Tetapi manusia tetap saja melanggar-Nya.

Ini Era di mana kita gagal memahami kode genetika binatang dengan hubungan neuron dalam otak kita. Perspektif kita tentang emosi, jiwa, pikiran, hati, dan sensasi itu hanya di pahami dalam entitas manusia. Di bandingkan hewan. Tidak ada esensi dari binatang ataupun tumbuhan-tumbuhan yang memiliki hubungan, dan kudrat yang sama daripada kehidupan manusia. Melainkan semua itu berbeda.

Binatang tidak memiliki ide, dan bahkan tidak pula memiliki pikiran. Sedangkan manusia memiliki segalanya. Ia konstan terhadap lingkungan, keadaan luar, dan rangsangan objektivitas. Meskipun demikian binatang tidak memiliki ide, dan pikiran, tetapi ia memiliki insting, yang layaknya seperti pikiran manusia.

Ketika ular ingin menggigit kucing, tidak mudah seekor kucing mencabitnya. Walaupun ia harus menamparnya kembali. Tetapi, tetap saja di antara keduanya saling mempertahankan kemenangan itu. Tidak jauh berbeda dengan kita, ia tahu bagaimana menggunakan insting untuk mengalahkan lawan, dan mempertahankan kemenangan.

Bahkan pula ia tahu, bagaimana cara menggunakan perasaan, dan hati, untuk hubungan terhadap sesama. Atau pun juga ia menggunakan strategi dari apa yang dia punya.

Lantas, kita menyadari, apa ia lebih berpengalaman dari kemampuan manusia?

Jika seekor cobra bisa merenggut nyawa Anda, kenapa manusia kalah untuk melawannya. Dari segi pengalaman, dan pengetahuan yang kita punya, hanya dengan beberapa menit kemudian. Gigitan ular bisa membasmi jantung, dan darah Anda sampai telah usai. 

Kita hanya tahu menghindari dari kejahatan, melawan musuh, memerangkap lawan, tetapi tidak tahu bagaimana menyela racun dalam pikiran. Kita hanya tahu membunuh ular, tetapi tidak tahu bagaimana membunuh emosi dari apa yang ular punya.

Tahun 2014, seorang pemuda asal Italia tidak tanggung-tanggung, bermain dengan ular, bercumbu dengan harimau, dan bercanda dengan singa. Di tengah keramaian, dan kebahagiaan yang terpukau, dan menerkam. Ia mampu menguasai wilayah insting dan imajinasi hewan yang jauh lebih ganas dan lebih berbahaya daripada bahaya teroris di Amerika Serikat.

Ia sangat tahu, bagaimana ide dan imajinasi-Nya mampu berinteraksi dengan tubuh, jiwa, dan entitas binatang itu. Di bandingkan Indonesia yang berkembang, tidak tahu bagaimana memetakan jiwa, kemanusiaan, dan keadilan.

***

Tetapi, sayang! Kemanusiaan dan keadilan manusia, tidak pernah mengakui, bahwa keluarga, dan hubungan besar mereka adalah binatang, tumbuhan-tumbuhan, dan alam. Kalau hubungan kita dan aliran binatang tidak memiliki entitas yang sama dengan manusia.

Apakah kemudian, ia hidup tanpa jiwa, tanpa hati, dan tanpa emosi?

Jika seekor anjing yang Anda ganggu, ketika ia sedang tidur. Apakah ia lantas tidak akan merasa marah? Atau ia tidak merasa, emosi, dan takut?

Sayang-Nya para sejarawan, dan ahli biologi tidak mengakui hal-hal semacam itu. Jiwa, insting, emosi, dan pikiran yang Anda punya tidak memiliki entitas yang sama dari binatang-binatang, tumbuhan-tumbuhan, dan alam sekitar.