Di hadapan Mehdi Hasan, dalam program Head to Head produksi Al Jazeera English, Richard Dawkins memaparkan pemahamannya soal agama. Ia seorang saintis yang positivistik dan sangat mengandalkan rasionalitas horisontal—bandingkan dengan rasionalitas vertikal atau meta-rasionalitas yang memberi ruang bagi spiritualitas dan iman—dan pandangannya soal agama sangat reduktif. Yang dilihatnya dari Kristen, misalnya, adalah bahwa agama ini menjebak para pengikutnya di dalam kerangka berpikir yang sempit.

Dawkins memang terang-terangan dan keras dalam menyerang dogma Kristen. Ia muak dengan para pendeta yang mengajak anak-anak untuk selalu bertolak pada iman Kristen dan di saat yang sama melihat sains sebagai semacam produk kelas dua.

Di program itu, Mehdi Hasan memang sedang mengajak Dawkins berdebat soal apa yang dikemukakannya di bukunya yang sangat kontroversial, The God Delusion. Buku ini ditulis dengan semangat membara seorang ateis garis keras yang mencoba menyadarkan orang-orang bahwa beragama itu nonsense, bahwa agama tidak layak dianut apalagi dibela dan diperjuangkan.

Ada juga versi film dokumenter dari buku ini, dengan semangat yang kurang-lebih sama. Intinya, di The God Delusion, Dawkins memaparkan bahwa ada terlalu banyak hal tak masuk akal di dalam agama; dan sebagai seseorang yang hidup di era modern, ia tak habis pikir orang-orang mau-mau saja membiarkan diri mereka dikekang olehnya, bahkan tenggelam di dalamnya.

Di kata pengantar buku ini, dengan penuh percaya diri, Dawkins mengatakan bahwa jika seseorang membaca buku tersebut dengan baik, ia pastilah akan menanggalkan dan meninggalkan agamanya dan menjadi ateis.

Mehdi Hasan, yang seorang muslim dan sekaligus intelektual, yang menaruh perhatian pada realitas politik global dan karena itu perspektifnya luas, tidak sepakat dengan Dawkins. Beberapa kali ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk membantah argumentasi-argumentasi Dawkins, seperti apakah Dawkins yakin bahwa akar masalah dari setiap konflik berbau agama di dunia ini adalah agama-agama itu sendiri dan bukannya iklim geopolitik yang toksik.

Dawkins tentu saja bersikeras dengan pendiriannya. Dan memang ia tidak bisa diharapkan memiliki perspektif seluas itu mengingat yang ditekuninya adalah biologi, bukan sejarah atau sosiologi atau politik.

Yang menarik adalah, di satu titik, setelah Dawkins mengutarakan pendapatnya bahwa Tuhan itu tidak ada dan bahwa argumentasi-argumentasi yang dilontarkan kaum agamawan untuk membuktikan keberadaan-Nya cacat nalar, Mehdi Hasan bertanya apakah Dawkins akan mengakui keberadaan Tuhan jika suatu saat nanti Tuhan ternyata bisa juga dialami secara empiris.

Sebagai seorang saintis yang positivistik, Dawkins begitu mengagungkan pengindraan-pengindraan yang sifatnya konkret, bahwa benar atau tidaknya sesuatu, bahwa ada atau tidaknya sesuatu, harus bisa dibuktikan secara empiris, sesuai dengan rasionalitas horisontal tadi. Jawaban Dawkins, di luar dugaan, adalah iya. Ia mengaku bahwa ia akan menerima keberadaan Tuhan apabila suatu saat nanti Tuhan bisa dialaminya secara empiris.

Kasus ini menunjukkan dua hal. Pertama, nalar positivistik itu cacat. Kedua, sikap sportif di diri seorang saintis bisa mencegahnya dari terperosok ke jurang arogansi yang dalam.

Dengan mengatakan bahwa keberadaan Tuhan bisa diterima apabila Ia bisa dialami secara empiris, Dawkins sejatinya sedang mengatakan bahwa pandangannya yang kokoh soal Tuhan itu tidak ada bisa jadi ternyata tak sekokoh itu, bahwa argumentasi-argumentasi yang selama ini dilontarkannya untuk mendukung pandangannya itu bisa jadi tak sepenuhnya logis seperti yang ia kira.

Ada hal-hal yang ia lewatkan, dengan kata lain. Dan apa hal-hal itu? Terlalu banyak untuk disebutkan di sini. Yang jelas, rasionalitas horisontal saja terbukti tak cukup mampu membuat seseorang memahami realitas dan hal-hal di dalamnya dengan baik. Seseorang itu juga perlu memiliki kesadaran versi Michael S.A. Graziano, bahwa ia harus memosisikan dirinya di posisi dirinya dan bukan-dirinya untuk bisa benar-benar memahami realitas dan hal-hal yang ada di dalamnya.

Memang, tak bisa dimungkiri, jika kita bicara soal kemajuan teknologi dan berkembangnya peradaban, maka sainslah yang mengungguli agama. Tumbuh pesatnya perekonomian Cina dalam beberapa dekade terakhir adalah berkat sains, bukan agama. Jepang bangkit setelah kekalahan menyakitkan di Perang Dunia II adalah berkat sains, bukan agama. Dan Jerman menempati posisi strategisnya di Eropa seperti saat ini adalah juga berkat sains, bukan agama.

Sains, sains, dan sains. Itulah yang akan kita lihat saat kita fokus pada pertumbuhan fisik, pada sesuatu yang sifatnya konkret dan kasatmata. Tapi jangan salah, hal-hal abstrak dan tak kasatmata yang merupakan bagian dari berkembangnya peradaban banyak juga yang dipengaruhi oleh sains, seperti kesadaran gender, kesadaran ekologis, dan kesadaran sosial.

Lalu bagaimana dengan agama? Apakah di zaman yang sudah sangat modern ini agama sudah tak dibutuhkan lagi? Apakah agama memang telah sebegitu jauhnya tertinggal oleh sains? Jawabannya tidak sesederhana iya atau tidak. Kita harus terlebih dahulu melihat konteksnya.

Misalnya, sains akan sangat membantu kita dalam upaya memahami bagaimana realitas konkret bekerja. Agama pun bisa mengambil peran ini, sebenarnya, tetapi sains lebih bisa dipercaya. Sains membantu kita memahami bagaimana planet ini terus mengalami kerusakan dari waktu ke waktu, yang sebagian besar di antaranya adalah karena ulah kita.

Sains membantu kita memahami kenapa kesenjangan sosial-ekonomi bisa sampai ada dan masih saja terus ada, di mana di sejumlah kawasan justru malah makin parah. Sains pun membantu kita memahami kenapa kesadaran gender kolektif yang levelnya tinggi sulit sekali dicapai di negara-negara yang masyarakatnya relatif konservatif dan agamis.

Dan dengan adanya bantuan-bantuan dari sains ini, sedikit-banyak, kita bisa melakukan perubahan-perubahan positif, paling tidak di skala yang kecil dan privat. Agama tak bisa membawa kita sampai ke sana sebab penjelasan-penjelasan yang ditawarkannya sering kali kurang mendetail dan kalaupun mendetail umumnya terkendala oleh konteks. Dalam hal ini sains mengungguli agama. Agamalah justru si produk kelas dua, bukan sains.

Tetapi di situasi yang berbeda, untuk hal yang berbeda, posisinya bisa saja sebaliknya. Misalnya ketika seseorang sedang sangat kesulitan entah itu secara ekonomi atau sosial, seperti ia dicengkeram kemiskinan atau diperlakukan dengan buruk oleh orang-orang di sekitarnya, agamalah justru yang umum menjadi pegangan, bukan sains. Kenapa begitu? Karena agama mampu memberikan sesuatu yang tak mampu diberikan oleh sains: ketenangan batin.

Setiap agama pada dasarnya menawarkan hal tersebut sebagai semacam utopia-yang-mungkin-dicapai. Sains tidak menawarkan itu karena, pada dasarnya, yang berupaya dilakukan sains adalah mengungkap kebenaran, adalah menyingkap tirai-tirai tak kasatmata yang memerangkap kita di dalam ilusi.

Agama tidak begitu. Meski memang agama sekilas seperti bicara soal mana yang benar dan mana yang salah, jika ditelisik lebih lanjut ia sebenarnya lebih bicara soal mana yang baik dan mana yang buruk. Agama berkutat dengan kebijaksanaan, sementara sains berkutat dengan kebenaran.

Dan seseorang umumnya lebih membutuhkan kebijaksanaan ketika ia sedang berada di dalam situasi sulit, ketika ia merasa beban yang harus ditanggungnya terlalu besar dan ia frustrasi. Paling tidak, agama mampu membuatnya kembali memiliki dorongan hidup, dan itu penting. Dalam hal ini jelas sekali bahwa agama mengungguli sains.

Dan masih ada banyak situasi lainnya. Intinya, kita tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa sains mengungguli agama atau sebaliknya, apalagi jika keunggulan di sini adalah keunggulan yang sifatnya absolut. Setiap keunggulan selalu memiliki konteks, dan konteks inilah yang harus kita lihat dan cermati.

Orang-orang yang mengatakan bahwa sains sudah pasti mengungguli agama sama kelirunya dengan orang-orang yang mengatakan bahwa agama jelas-jelas mengungguli sains. Mereka sama-sama tenggelam di dalam arogansinya yang toksik dan menjijikkan.

Dan lebih keliru lagi orang-orang yang beranggapan bahwa sains sudah pasti benar atau agama sudah pasti benar. Sains, kendati terkesan objektif dan bisa dipertanggungjawabkan, kenyataannya juga dibayang-bayangi bias dan subjektivitas. Sedari dulu seperti itu.

Terkait hal ini Michel Foucault sebenarnya sudah mengingatkan kita dari jauh-jauh hari. Sains bisa diarahkan atau bahkan digerakkan oleh ideologi, oleh paradigma, oleh epistema.

Sebagai contoh, dunia kedokteran di Amerika Serikat pada zaman dulu masih sangat diracuni oleh rasialisme yang menargetkan orang-orang kulit hitam; dan sebuah sekolah kedokteran terkemuka di Jepang hingga beberapa tahun silam masih sangat dikotori oleh seksime. Sains yang konon objektif dan bisa dipertanggungjawabkan itu ternyata begitu subjektif, begitu toksik dan menggelikan.

Dalam hal ini ia relatif sama saja dengan agama. Ia bisa menjadi busuk di tangan orang-orang yang busuk. Ia bisa menjadi busuk apabila digerakkan oleh sistem yang busuk.

Lantas apa? Sederhana saja, sebenarnya, yakni bahwa balas-membalas tulisan "saintifik" dalam upaya menentukan mana yang lebih unggul antara sains dan agama, apalagi secara fanatik atau membabi buta, adalah sebuah kekonyolan. Itu sungguh tidak penting dan salah fokus. Kalaupun mau, yang dibahas di tulisan-tulisan itu adalah bagaimana sains maupun agama bisa lebih bisa berperan positif dalam membantu kita mengatasi situasi kritis yang saat ini tengah kita hadapi.

Pandemi Covid-19 itu nyata. Ancaman bangkitnya otoritarianisme itu nyata. Krisis kemanusiaan di Yaman dan sejumlah kawasan lainnya di Timur Tengah itu nyata. Bagaimana sains dan agama bisa membantu kita mengatasi hal-hal seperti ini, semestinya itulah yang menjadi fokus kita, bukannya menentukan mana di antara keduanya yang lebih unggul dan karenanya lebih baik.

Dan sungguh lucu sekali apabila aktvitas balas-membalas tulisan ini diniatkan sebagai semacam kerja intelektual. Itu ... terlalu dipaksakan.(*)