2 tahun lalu · 115 view · 7 min baca · Budaya 88772.jpg
https://life.idntimes.com/

Sahur dan Orang Patrol

            Di Pekuwon, desa Saya. Pada bulan puasa, tradisi yang pada bulan-bulan lain menghilang, tanpa dikomandoi siapa-siapa. Tidak juga Kepala Desa, Bupati atau Kiai, tiba-tiba hidup dan semarak.

            Ada banyak kenangan di desa. Tapi, salah satu yang membekas, adalah orang Patrol. ‘’Patrol’’, adalah sekelompok remaja, pemuda atau santri, membangunkan orang untuk sahur dengan memakai berbagai alat pengeluar bunyi-bunyian.

Entah kenapa dinamakan Patrol. Tidak ada satu keterangan pun, siapa pertama menamakannya demikian. Mungkin mengadopsi kata ‘’patroli’’. Berkeliling memeriksa keadaan yang biasa dilakukan aparat keamanan. Setahu saya, untuk wilayah Tuban dan sekitarnya, ada yang menyebutnya ‘’Patrol’’, klote’an, ‘’tongklek’’. Tiap Desa, Kecamatan, Daerah atau Kota, punya penyebutannya sendiri-sendiri.

            Patrol dalam pengertian yang Saya maksud, berupa anak-anak langgar, dengan kentongan, rebana, sound berjalan, tetabuhan atau botol, dibunyikan beramai-ramai. Biasanya terdiri dari lima hingga sebelas orang bergerombol. Operasi membangunkan orang sahur, dimulai sekitar pukul dua dini hari, dan berakhir menjelang imsak.

            Waktu remaja, saat Saya masih gemar tidur di Mushola, patrol, sungguh mengasyikkan. Saya yakin, kebiasaan anak langgar seperti patrol, tidak ditemukan di Amerika Serikat atau Australia. Satu-satunya yang buruk dari kebiasaan ini adalah mengganggu privasi dan membuyarkan ketentraman publik. Meski, dibalik kegaduhan dini hari, ada saja warga yang terbantu dan berterimakasih.

            Persoalannya, ini Indonesia. Tanah ini, ditinggali tidak hanya Umat Islam. Suka atau tidak, Negeri kita beragam. Baik plural dalam hal suku, budaya, maupun agama. Bahkan, muslim yang cukup akrab dengan peradaban liberal pun, belum tentu nyaman dengan budaya patrol. Karena, kalau alasannya bangun lebih awal untuk menyiapkan makan sahur, toh sudah ada jam weker.

            Maksud Saya, sekarang jaman modern. Orang, untuk bisa bangun dini hari, tidak harus dibangunkan dengan gaduh suara alat musik yang dibunyikan bersama-sama. Sudah ada alarm, yang dapat diatur melalui alat elektronik, misalnya handphone, laptop atau jam digital. Tentu, jangkauan kegaduhan alarm, hanya sebatas dalam rumah seorang, tanpa mengganggu tetangga dan lingkungan.

            Dilema memang. Disatu sisi, patrol sudah menjadi budaya. Bahkan, sangat digemari para remaja yang ingin berkontribusi bagi masyarakatnya. Tapi, disisi lain, kita sudah memasuki peradaban yang menjunjung tinggi privasi dan kebebasan personal. Itu artinya, Anda boleh melakukan apapun, asal tidak ada oranglain terganggu. Patrol, tentu dianggap mengganggu bagi sebagian orang.

            Di Desa, identitas dan kultur budayanya, relatif seragam. Setahu Saya, di Desa Saya, semua penduduknya muslim. Kira-kira, karena muslim, tentu semua wajib berpuasa pada bulan Ramadhan (kecuali yang berhalangan). Karena berpuasa, maka butuh sahur. Karena sahur biasanya dilakukan setelah tidur, maka membangunkan orang dari tidurnya adalah suatu hal yang membantu.

            Demikian konstruksi cara berpikirnya. Tapi, ini bukan soal tujuan, tapi soal cara. Tiga puluh tahun yang lalu, patrol atau membangunkan orang dini hari dengan suara-suara bunyian yang keras, efektif. Sebelum ditemukannya handphone, alarm elektronik atau merebaknya jam weker misalnya, patrol tentu sangat bermanfaat. Meski akan terasa gaduh, bagi orang yang tidak puasa dan sedang istirahat tidur.

            Saya tidak tahu, mengapa budaya kita cenderung tidak kompatibel dengan kemajuan jaman. Seharusnya, kebiasaan yang menopang tata kehidupan sosial, selalu diperbarui dan disesuaikan dengan perkembangan jaman. Agar, inovasi menjadi kebudayaan baru masyarakat kita, termasuk dalam menjalankan praktik agama.

            Saya sendiri, pasti bangun sahur bila dari awal niat sahur. Saya bangun, tidak mengandalkan orang patrol. Saya, biasanya mengandalkan alarm handphone dan netbook. Tapi, tidak jarang, Saya tidak pernah bangun. Tidak bangun, karena ya Saya selalu bergadang. Tidurku setelah subuh. Jadi, ketika masuk waktu sahur, Saya masih terjaga. Entah karena sedang ngopi, masih nongkrong, baca buku atau menulis.

            Dengan kebiasaan yang terjaga hingga pagi, seringkali Saya yang membangunkan Saudara dan Ibu Saya. Saya tidak terganggu dengan orang patrol, atau semacamnya. Hanya saja, di kota-kota, yang penduduknya lebih plural dan banyak yang nonmuslim. Tentu, membunyikan suara-suara nyaring pada dini hari, mengganggu orang-orang yang sedang istirahat.

            Saya belum pernah mensurvei, apakah semua orang memiliki jam weker  dan handphone atau tidak. Tapi, Saya pikir, secara umum, sebagian besar orang hari ini memiliki Handphone. Di kota-kota, biasanya angka kepemilikan handphone lebih tinggi. Setahu saya, semua HP memiliki fungsi alarm. Dari situ, untuk di kota-kota, sebaiknya membangunkan orang sahur jangan memakai cara-cara yang gaduh.

            Karena hampir semua orang memiliki HP, sebaiknya tidak perlu ada patrol atau tongklek. Cukup, ketika usai tarawih, Pengurus masjid atau Imam, memberi himbauan pada jamaah, agar sebelum tidur, menyempatkan memasang alarm menjelang waktu sahur. Saya pikir itu lebih efektif, adil, bertanggungjawab dan tidak menerobos privasi tetangga serta lingkungan sekitar.

            Saya di Jakarta, meng-kost di rumah orang Kristen. Dia baik, sopan, santun, ramah dan tidak pernah sekalipun mengganggu Saya dan Saudara Saya. Ketika pemuda patrol dan membunyikan alat-alat Pembangun orang tidur, dengan suara gaduh dan keras, entah apa yang dipikirkan pemilik rumah yang saya tinggali tersebut. Entah jengkel, terganggu atau biasa saja.

Setahu Saya, dia pun tidak pernah protes atau ngedumel. Mungkin karena dia kelewat sabar dan pengertian. Meski begitu, Saya lebih suka sikap yang berjaga-jaga. Untuk menghindari mengganggu ketentraman orang, apalagi besoknya dia bekerja pagi-pagi, lebih baik kita menempatkan diri kita sebisa mungkin tidak meretas privasi oranglain.

Dalam beragama, kita harus mampu membedakan mana dimensi sakral, dan mana yang profan. Ada nilai-nilai mutlak, ada pula yang relatif. Ada yang mesti harus ada, ada yang bisa ada dan bisa tidak. Puasa, itu niscaya. Sahur itu mendekati wajib, tapi patrol atau membangunkan orang sahur dengan suara-suara gaduh, diperbolehkan. Tapi, bila dirasa tidak efektif lagi, sebaiknya ditinggalkan.

Puasa memang wajib, tapi, menghormati oranglain juga wajib. Oranglain itu berlaku bagi semua orang, termasuk orang yang beda agama, maupun yang tidak beragama. Sekarang sudah jaman teknologi, membangunkan orang sahur tidak harus menggunakan cara-cara lama. Salah satu ciri Muslim yang sesuai jiwa Nabi adalah Orangnya progresif, maju dan dapat menangkap semangat jaman.

Nabi Muhammad adalah manusia yang inovatif, dinamis, adaptif, keren, elegan, pro-gagasan baru, tidak norak dan ndeso. Oleh karenanya, bangun sahur di jaman sekarang, juga membutuhkan cara-cara baru yang sesuai dengan kondisi kehidupan masa kini. Seandainya Levi Hutchins lahir pada zaman Nabi, mungkin, untuk bangun sahur pun, Nabi Muhammad memasang jam weker dikamarnya.

Saya orang Desa, dan sudah akrab dengan bunyi-bunyian patrol atau tongklek. Jadi, Saya biasa saja mendengar suara gaduh dari antusiasme remaja membangunkan sahur warga. Hanya saja, kita ini kan sedang membangun Bangsa menuju peradaban modern. Itu artinya, kita harus mulai akrab dengan prinsip-prinsip demokrasi, kebebasan dan hak-hak privat yang harus dihormati tiap orang.

Negara modern, yang masyarakatnya beradab dan saling menghormati, tidak sepatutnya menggunakan cara-cara yang mengganggu ketentraman publik, terlebih itu dilakukan pada dini hari dimana warga Negara sedang istirahat. Atas nama menghormati ketentraman oranglain, membunyikan kegaduhan seharusnya tidak dilakukan, meski itu dipraktikkan atas nama embel-embel ibadah.

Masyarakat modern yang beradab, tahu caranya hidup dengan elegan dan adil. Orang Indonesia yang katanya punya kebudayaan ramah-tamah, pasti tahu caranya menjalani kehidupan dengan tidak merugikan oranglain. Kita tahu, tidak ada Negara maju, yang tidak mapan tata budaya menghormati dalam masyarakatnya.

Jadi, mari hidup dengan cara masing-masing. Yang penting, jangan saling mengganggu, dan mari belajar mengenal batas kebebasan diri, dan batas hak oranglain.

Sebagai Bangsa yang multikultural, sebaiknya kita sendirilah yang berjaga-jaga, agar dapat mengetahui batasan-batasan perilaku kita. Untuk tahu tindakan kita sudah kelewat batas atau belum, tidak harus menunggu ditegur oranglain. Dalam kehidupan yang penuh perbedaan, dibutuhkan rasa saling pengertian yang tinggi diantara anggota masyarakat.

Mari sahur. Jangan lupa, bangunkan teman kamar dan keluarga. Jangan lupa juga, dipanaskan dulu supnya. Kucek-kucek mata, cuci muka, lap iler dulu juga tidak apa-apa. Panaskan air, seduh kopi dan mari tadarus buku maupun kitab sebanyak-banyaknya.

Semoga, kita yang bela-belain bangun dini hari, meski mulut terasa tidak nafsu, lalu memaksa untuk makan. Dan, siangnya kita menahan lapar serta dahaga, dapat menangkap esensi perintah puasa. Terkadang, Saya berpikir, apa gunanya Saya makan sahur, bila kelakuan Saya tidak makin baik dan makin peduli pada anak yatim diuar sana.

Bila dihitung, mungkin kita sebulan penuh berpuasa. Tapi, ibadah pribadi yang dapat kita selesaikan dengan baik ini, apa gunanya bila tidak membuat kita menjadi orang yang sadar akan hakikat beragama. Apa gunanya berpuasa, bila masih sibuk menumpuk harta tanpa mau berbagi untuk sesama? Apakah puasa hanya tentang haus dan lapar, sedang, kita begitu egois pada oranglain yang kesusahan.

Ketika Saya masih sering khilaf dan perilaku tidak makin membaik, Saya merasa, bangun dini hari dan makan sahur begini, merasa tidak ada gunanya. Saya pikir, ibadah individu hanyalah bagian kecil dari perintah agama. Perintah lain yang lebih penting adalah membantu oranglain yang kesusahan dan peduli pada kaum papa.

Inilah sebabnya, mengapa Umat Islam, dan Bangsa ini susah sekali makmur dan maju. Karena orang-orangnya hanya peduli pada dirinya sendiri.

Setelah Saya renungi, semua ini, puasa, sholat, sahur, ke masjid, tapi tidak membuat Saya makin peduli pada sesama, Saya merasa diri Saya munafik. Katanya saya beragama, tapi kok perilaku Saya hanya memikirkan perut sendiri? Padahal Nabi Muhammad, justru mengajarkan sebaliknya, yaitu rela berkorban demi orang banyak.

Artikel Terkait