Suatu hari di bulan Desember 2018, saya bersama seorang sahabat yang sudah lama tak jumpa. Kami ngopi bareng di sebuah coffee shop di pinggiran kota di Denpasar, Bali. Pertemuan ini adalah sebuah ketidaksengajaan karena sama-sama satu tempat penginapan di acara yang berbeda.

Cerita demi cerita kami bicarakan bersama hingga akhirnya sampai di sebuah pembicaraan yang bersifat privat. Karena berteman sejak kecil, kepada saya dia sampaikan bahwa dia seorang gay.

Nikmatnya kopi luwak Bali seketika berubah menjadi hambar tatkala dia menceritakan latar bekalang dia memilih hidup sebagai seorang gigolo.

Agama (Islam) masih belum “mengakomodasi” seseorang yang memiliki orientasi seksual homo (gay). Bahkan beberapa ahli agama masih pro dan kontra terkait orientasi seksual homo. Meskipun realitas yang ada, dalam sejarah Islam, yakni kerajaan Turki Utsmani, terdapat lukisan yang menggambarkan eksistensi laki-laki homo.

Dalam konteks sosial budaya, profesi gigolo atau laki-laki bayaran masih dipersepsikan sebagai pekerjaan yang asusila. Dalam bahasa yang lain, laki-laki bayaran tak ada bedanya dengan perempuan Pekerja Seks Komersial (PSK) yang mendapat stigma dari masyarakat.

Tanpa bermaksud mengeneralisasi bahwa seorang gay adalah gigolo, narasi tulisan ini adalah sharing pengalaman. Tujuan tulisan ini adalah untuk jernih melihat bahwa laki-laki gay gigolo itu ada, dan keberadaan mereka ada karena laki-laki heteroseksual yang “memanfaatkan” keberadaan mereka. 

Gay adalah orientasi seksual. Gay itu adalah pemberian Tuhan dan manusia tak bisa mengintervensi itu. Tapi dalam konteks perilaku seksual, manusia memiliki kebebasan untuk memilih melakukan atau tidak, dan menjadi gigolo adalah pilihan hidup.

Muhammad, Nama Sahabat Saya 

Muhammad (nama samaran) lahir dari keluarga pesantren dan berpendidikan, kedua orang tuanya adalah seorang ustaz yang memimpin sebuah pondok pesantren di Jawa Tengah. Kedua orang tua Muhammad berprofesi sebagai seorang dosen di perguruan tinggi negeri ternama di Semarang, Jawa Tengah.

Muhammad adalah anak laki-laki satu-satunya dari tiga bersaudara. Sebagai keluarga pesantren, Muhammad kecil sudah dididik membaca Alquran dan pengetahuan Islam lainnya, baik fikih, hadis, tafsir, nahwu, dan shorrof langsung oleh kedua orang tuanya.

Muhammad menempuh pendidikan dasar hingga perguruan tinggi di lembaga pendidikan Islam. Madrasah Tsanawiyah (setara SMP) ditempuh di Pondok Pesantren Ploso Kediri, Jawa Timur, kemudian melanjutkan pendidikan Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Harapan keluarga, kelak Muhammad adalah yang melanjutkan orang tuanya mengembangkan pondok pesantren dan mengajari para santri. Karenanya, sebelum “boyong” dari pondok pesantren, Muhammad mengambil program takhassus (spesialisasi) kitab kuning, Muhammad melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi Islam ternama di Jakarta dengan mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam.

Ketika semester 3, Muhammad berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dengan fasilitas VIP dan haji plus bersama keluarga besarnya. 

Setelah pulang dari tanah suci, tidak sedikit teman-teman sepermainan Muhammad yang memanggilnya dengan panggilan “haji”, panggilan untuk orang yang sudah naik haji di bulan Dzulhijjah. Bahkan, dia sudah dua kali umroh bersama orang tuanya jauh sebelum melaksanakan ibadah haji.

Secara fisik, Muhammad adalah laki-laki good looking, postur tubuh sekitar 170 cm, dan memiliki kulit cerah. Pengalaman hidup Muhammad tidak pernah “susah” secara keuangan. Karena ia sudah mendapat jaminan keuangan dari orang tuanya dan tugas Muhammad adalah belajar dan menjadi anak yang saleh karena kelak akan menjadi ustaz di kampungnya.

Alasan Muhammad Menjadi Gigolo

Sejak mengenal apa itu “cinta”, Muhammad tidak tertarik kepada seorang lawan jenis. Berdasarkan pengakuannya, Muhammad suka kepada laki-laki. Kesukaan itu tidak pernah diekspresikan ketika dirinya berada di pondok pesantren.

Ketika Muhammad hidup merantau di Jakarta yang jauh dari pengawasan orang tua, Muhammad menunjukkan rasa cinta itu dengan cara menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Menurutnya, ia melakukan hubungan seksual dengan sesama laki-laki di usianya yang ke-19 tahun—waktu itu masih baru merantau hidup di Jakarta dan masih di semester awal kuliah. 

Seiring dengan perjalanan waktu, Muhammad merasa “kurang” dengan satu laki-laki. Menurutnya, gay adalah laki-laki yang pandai berkamuflase kepada pasangan. Sehingga ia terbiasa membohongi pasangan laki-lakinya dengan berbagai macam cara dan alasan.

Dorongan seksual yang tinggi untuk “berhubungan” seksual dengan banyak laki-laki menjadikan Muhammad mencari ruang yang menyediakan banyak laki-laki. Hingga akhirnya tibalah Muhammad di suatu tempat klub malam “ternama” di Bandung.

Muhammad merasa tempat itu adalah ruang yang bisa mengekspresikan seksualnya dengan bebas tanpa rasa takut kepada siapa pun, bahkan mendapat fasilitas lengkap dari seorang perempuan yang biasa ia panggil “Mami”, dan memberinya perlindungan sehingga aman dari kejaran Satpol PP maupun penggerebekan oleh aparat dan masyarakat.

Di tempat itu, Muhammad bekerja setiap malam dari jam 20.00-04.00 WIB. Layaknya para PSK perempuan, Muhammad sebagai seorang gigolo mendapat tempat khusus untuk gigolo gay. Pihak klub telah menyediakan kamar khusus untuk esek-esek, mendapat gaji bulanan, tips dari tamu yang datang, dan fasilitas minum bir gratis cuma-cuma.

Tamu-Tamu Muhammad

Berdasarkan pengakuan Muhammad, tamu yang datang adalah laki-laki heteroseksual dari kalangan polisi dan tentara yang sudah memiliki istri dan anak, pejabat pemerintah yang sudah berkeluarga, dan mahasiswa laki-laki yang kaya.

Sebagai seorang “kucing”—sebutan untuk laki-laki gay di klub malam, tarif bayaran per sekali main untuk Muhammad dengan harga beragam dari harga 300.000-2.000.000/sekali main. Tergantung siapa yang memboking dirinya. Tarif di atas 1.000.000 biasanya untuk kalangan polisi, tentara, dan pejabat. Sedangkan untuk mahasiswa, biasanya di bawah 1.000.000/sekali main.

Karena Muhammad bekerja di klub malam yang mana sistemnya seperti sebuah perusahaan “esek-esek”, Muhammad mendapat potongan bayaran setiap kali mendapat uang dari para tamu yang datang. Menurut Muhammad, potongan itu 30% untuk mami dan 70% untuk Muhammad sendiri.

Karena Muhammad bekerja di klub malam “terbesar” di Bandung, hampir setiap malam tempat ini ramai oleh para tamu yang datang. Dalam semalam, Muhammad “mampu” melayani tamu sebanyak 5-10 orang laki-laki tamu yang datang.

Waktu main sekitar 60 menit, dengan rentang waktu ejakulasi sekitar 5-15 menit. Karena tamu Muhammad adalah sesama jenis, gaya berhubungan seksual yang biasa dilakukan adalah oral seks dan sodomi.

Di dalam klub malam inilah salah satu tamu Muhammad menyatakan jatuh cinta kepadanya. Ia adalah seorang polisi muda yang baru bertugas di kota Bandung. Muhammad menjalin hubungan intens dengan polisi tersebut selama kurang lebih 7 bulan dengan bayaran setiap bulan. Hubungan mereka kandas, karena polisi tersebut selingkuh dengan seorang perempuan yang berprofesi sebagai bidan.

Keinginan Muhammad

Selama 4 tahun Muhammad hidup menjadi gigolo, Muhammad merasa bahwa dalam dirinya ada sesuatu yang “salah”; tapi dia tidak tahu apa itu. Kegalauan itu ia tumpahkan ke minuman-minuman alkhohol hingga mabuk dan sering kali tak sadarkan diri.

Hingga suatu ketika, kabar bahwa Muhammad menjadi gigolo terdengar oleh kedua orang tuanya di kampung. Kemudian terjadilah percekcokan antara anak dan orang tua. Muhammad diusir dari keluarga dan sejak saat itu kiriman uang dari orang tuanya distop.

Muhammad kemudian mengenal yang namanya narkoba, dan mencoba menggunakan obat itu. Hari-hari Muhammad diisi dengan minuman dan narkoba hingga akhirnya ia kehilangan jati dirinya.

Saat-saat Muhammad mengalami kegalauan karena diusir dari keluarga, kekurangan uang karena ketergantungan kepada minuman dan narkoba, kehilangan jati diri dan mendapat surat dari kampus karena akan di-drop out. Muhammad mendapat suatu pelajaran hidup yang membuat ia seolah-olah terbangun dari mimpi tidurnya.

Sembilan (9) kawannya yang sama-sama berprofesi sebagai gay gigolo di tempat yang sama meninggal dunia di waktu yang berdekatan karena mengidap HIV AIDS. Rentetan kejadian itu terjadi di antara bulan Mei-Agustus 2017. Kejadian itu membuat Muhammad trauma dengan yang namanya gay, gigolo, klub malam, bir, dan narkoba.

Muhammad kemudian mengambil air wudu’ dan kembali melaksanakan salat, setelah 4 (empat) tahun ia membungkus dengan rapi sajadah, sarung, baju koko, dan peci di lemari kosnya.

Di hadapan Tuhan, ia mengakui bahwa perbuatannya adalah dosa; bahwa ia telah durhaka kepada orang tuanya; bahwa oral seks dan sodomi adalah aktivitas seksual yang tidak sehat dan keinginan yang tinggi untuk menjadi laki-laki heteroseksual.

Kini, Muhammad bukanlah Muhammad yang dulu. Ia adalah Muhammad yang baru. Muhammad yang tidak ditemukan lagi di klub malam, tidak minum bir, berhenti menggunakan narkoba, dan kembali melanjutkan kuliahnya yang terhenti.

Kepada saya dia sampaikan keinginannya yang tinggi untuk menjadi laki-laki yang diharapkan oleh orang tuanya, salat 5 (lima) waktu, membaca Alquran, dan menjadi ustaz di pondok pesantrennya. Singkat kata, ia ingin menjadi laki-laki baru.

NB: Nama, tempat, dan daerah adalah samaran.