Mempunyai banyak teman merupakan suatu hal yang menyenangkan, hidup terasa lebih berwarna karena adanya teman. Segala sesuatu bisa dilakukan bersama-sama, bermain bersama, saling bercerita satu sama lain, dan masih banyak kegiatan seru yang bisa dilakukan. Tidak pernah terbayang bagaimana jika dalam menjalani kehidupan tak ada seorang teman yang menemani kita dikala susah dan senang.

Orang yang sudah tua seperti orang tua kita atau tetangga kita pun pastinya punya teman. Mereka biasanya berkumpul untuk acara arisan bersama, atau mungkin sekedar kumpul untuk mengobati rasa rindu. Umur bukanlah suatu penghalang untuk menjalin suatu hubungan pertemanan. Jangan berpikir ketika sudah menikah dan berumur akan meninggalkan dunia pertemanan, karena sibuk mengurus suami dan anak. Suatu kesalahan jika mempunyai pikiran seperti itu.

Hidup mempunyai banyak teman saja sudah terasa bahagia, apalagi jika mempunyai seorang sahabat. Menurutku arti teman dan sahabat itu berbeda. Teman hadir hanya sesaat, jika sahabat akan selalu hadir tidak hanya sesaat. Tidak hanya itu saja, ada perbedaan yang paling mencolok menurutku. Jika teman tidak bisa dihitung, tetapi sahabat bisa dihitung.

Aku mempunyai banyak teman, tetapi aku juga mempunyai sahabat yang sangat dekat denganku. Nama sahabatku yaitu Faridha Najib Hannyfah, panggil saja si Hanny. Dia adalah sahabat yang paling aku sayang . Mungkin ini terlihat lebay, tetapi kenyataannya memang yang dirasa olehku seperti itu. Aku mengenal dia ketika SMP kelas 7, kita bertemu di acara paduan suara SMP. Mulai dari situlah aku dan Hanny jika bertemu suka berbincang-bincang, mulai dari hal penting sampai hal sepele pun sering menjadi topik perbincangan.

Selama berteman dengan Hanny ketika di SMP memang aku dan dia belum sangat dekat seperti sekarang, hanya sekedar teman saja. Hanny ketika SMP lebih sering bermain dengan ketiga sahabatnya. Sebenarnya aku sendiri sering berkumpul juga dengan Hanny dan sahabatnya. Aku dan mereka sering pulang sekolah naik angkot bersama, membeli jajan bersama sebelum naik angkot untuk pulang ke rumah.

Dalam pertemanan di usia remaja yang labil adakalanya dilanda bosan. Ketika menduduki kelas 9 SMP artinya satu tahun terakhir di SMP aku mulai menjauh dari Hanny. Tidak lagi bermain dengan Hanny dan sahabatnya lagi. Memang sangat asik berkumpul dengan mereka, tetapi kelabilan pada diriku tak bisa dihindari. Karena suatu permasalahan yang melanda aku dan sahabatnya Hanny, menjadikan aku menjauh dari mereka. Bosan untuk bermain lagi karena suatu keegoisan.

Setelah tidak bermain lagi dengan Hanny dan sahabatnya, kala itu aku memilih bermain dengan teman kelasku. Terkadang ketika bertemu Hanny aku masih suka menyapa dan mengobrol sebentar. Walaupun rasanya sudah jauh, jarang sekali pulang bersama atau bermain bersama tetapi tetap dia teman baikku.

Waktu terus berjalan, tak terasa hari kelulusan SMP pun tiba. Aku dinyatakan lulus dari SMP dan aku pun melanjutkan sekolah ke SMA pilihanku. Setelah selesai mengurus semua keperluan pendaftaran di SMA dan menunggu hasil seleksinya ternyata aku dinyatakan lulus seleksi di SMA pilihanku. Jurusan yang aku ambil kala itu IPA dan aku masuk dikelas IPA 5. Sangat bersyukur dapat diterima di SMA pilihanku dengan jurusan yang diidam-idamkan murid SMP tentunya.

Sekitar satu bulan berlibur sembari menunggu masuk sekolah kembali akhirnya tahun ajaran baru pun dimulai. Sekarang aku sudah menjadi anak SMA yang kelihatannya bagiku waw. Sangat senang bertemu dengan teman baru di kelas IPA 5 dari berbagai SMP. Sampai pada akhirnya ada salah satu anak tinggi besar masuk ke kelas dan aku terkejut sekali. Masih dengan mata melotot sembari memperhatikan anak itu. Dia adalah Hanny temanku dikala SMP, betapa senangnya aku bisa satu kelas dengan dia.

Hanny dan aku mulai dekat kembali, bahkan lebih dekat dibandingkan ketika di SMP. Seperti kakak adik yang selalu kemana-mana. Pergi ke kantin bersama, belajar kelompok bersama, sampai pergi ke wc pun bersama. Orang lain sampai heran dan sering bertanya-tanya ,kok bisa-bisanya mereka gak bosen ya?”. Begitulah aku dan Hanny yang selalu bersama dan sering dibilang anak receh. Yap aku dan Hanny adalah anak yang receh,” kok bisa sih?”. Kami berdua sering tertawa sampai terbahak-bahak, menertawakan hal yang sebenarnya tidak lucu. Karena otak kita satu frekuensi atau satu pemikiran , bagi kami hal yang dianggap tidak lucu menjadi lucu.

Terasa bahagia hidupku ketika satu SMA dan satu kelas pula dengan dia. Bagiku selama aku menjalin pertemanan dengan yang lain belum ada teman yang mau menemaniku selalu di segala kondisi seperti dia. Dia selalu ada untukku, dikala tubuhku sakit terbaring lemas tak hentinya dia memberiku perhatian agar diriku lekas sembuh. Di saat masalah menimpa diriku, dia selalu membantuku menyelesaikan masalah apapun itu. Sampai akhirnya aku sadar dia bukan temanku melainkan sahabat terbaikku.

Tidaklah mudah menyebut teman baru sebagai seorang sahabat dalam hidup. Bahkan teman lama pun yang sudah bertahun-tahun bersama belum tentu bisa dikatakan seorang sahabat. Entah mengapa bagiku Hanny mampu membuat diriku percaya, bahwa dia memang layak dikatakan sebagai seorang sahabat dihidupku. Dia mampu membuatku tenang dikala hatiku gundah, di saat yang lain tidak bisa memberi ketenangan. Dialah yang selalu men-support aku untuk tetap maju dalam hal apapun selagi itu terbaik bagiku.

Bagiku Hanny adalah anak yang paling tegar dalam menghadapi segala masalah yang menimpanya. Tidak seperti diriku yang cengeng ketika masalah menimpa. Walaupun bagiku dia adalah anak yang sangat tegar, pasti dalam kehidupan ada sesekalinya masalah menimpa. Dia tak pernah mencurahkan masalahnya padaku, dia menutupi itu semua. Dia selalu melupakan masalah yang terjadi dan berusaha memunculkan senyumnya kembali. Hal itulah yang membuatku kagum padanya. Dia selalu menjadi motivasiku di saat aku mengeluh tentang kerasnya hidup.

Selama 3 tahun menduduki bangku SMA aku dan Hanny dinyatakan lulus. Kami melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Mengharuskan aku dan Hanny harus berpisah untuk saling menggapai cita-cita yang diinginkan. Aku diterima di salah satu Universitas di Solo dan Hanny diterima di Poltekkes Semarang. Meskipun berpisah, kita selalu berkomunikasi dengan baik. Di saat weekend aku dan Hanny selalu menyempatkan diri untuk bermain bersama, sembari melepas rasa jenuh karena kuliah daring.

Terima kasih sudah menerima diriku yang sangat lemah, cengeng, dan lola ini menjadi sahabatmu. Terima kasih sudah mau menjadi sahabatku sampai detik ini. Maafkan aku jika suka membuatmu dongkol, marah, emosi karena tingkahku. Tapi percayalah diriku yang kecil, mungil ini sangat menyayangimu sampai kapan pun. Jangan pernah melupakan aku kelak ketika kamu telah sukses menggapai cita-citamu.

“Terima kasih Hanny, you will always be my best friend.”