Aku benci mengingat masa SMA. Seingatku banyak hal memalukan terjadi ketimbang sesuatu yang indah untuk diingat kembali. Tapi, seperti cerita dalam sebuah film, ada juga kisah manis dalam perjalanan hidupku waktu itu.

Sepuluh tahun lalu aku mengenal adik kelasku Dila. Dia seorang sanguinis sejati. Setiap pukul tujuh pagi dia selalu kutemukan di kantin sekolah untuk sarapan. Selalu, dan aku tak pernah lewat memperhatikannya. Awalnya tak sengaja, tapi lama-kelamaan menjadi sebuah penasaran agung yang tak kumengerti.

Aku tak terlalu ingat bagaimana kami berkenalan dan bersahabat. Maklum, aku sedikit bermasalah dalam ingatan. Orang-orang mengatakan disleksia, tapi bagiku itu anugerah. 

Aku masih ingat bagaimana Dila menjadi kompas arah saat aku mengitari Kota Lubuklinggau untuk bersenang-senang menghempaskan penat pikiran. Aku seperti orang autis dan Dila captain yang selalu tertawa di belakangku, menjelajah Kota Lubuklinggau dengan segala kenangan lucu dan indah. Bagaimana aku bisa lupa? Di kota itu kami berpetualang menjadi diri kami yang asli.

Kami sangat nyaman dalam persahabatan itu. Sampai-sampai orang menilai kami berpacaran. Kadang ada sedikit ketakutan tentang hal itu. Persahabatan rusak gara-gara cinta yang berbeda. Enam tahun berjalan, persahabatan itu semakin erat dan yang kutakutkan terjadi. Ada perasaan lain yang bertahta mengarungi lautan hatiku. Cinta.

Sekarang, apa pun yang kulakukan untuk Dila bukan semata-mata karena persahabatan lagi, tapi karena cinta. Bahkan dulu aku rela hujan-hujanan dari Curup ke Lubuklinggau untuk menemani Dila merayakan tahun baru 2012. Namun kebahagian itu juga menjadi awal keregangan hubungan kami. Dila memutuskan untuk pindah kuliah ke Semarang dan malam itu menjadi malam perpisahan kami. 

Jarak antara Sumatera dan Jawa membuat kami jarang komunikasi. Dila sibuk dengan kuliahnya dan aku juga sibuk dengan kuliahku. Sampai pada akhirnya kami jarang komunikasi, bahkan untuk chat pun lama mendapat balasan. Dila dan aku menjauh. Kami seperti dalam dimensi berbeda.

Tahun berikutnya menjadi bah kerinduan yang dahsyat. Kenangan lampau kerap keluar bagai lukisan realis. Tawa senyum Dila terus hadir dalam setiap gerak langkahku. Aku galau dan terus merenung nasib cintaku yang selalu kandas. Ini bukan semata tentang Dila, tapi masalah percintaanku sebelumnya. 

Sekarang, menginggat masa lalu adalah hal bodoh bagiku. Masalah percintaan yang mengecewakan membuatku ingin Amnesia, kecuali untuk mengingat Dila. Aku harap dapat bertemu dengannya dan melakukan hal-hal gila seperti saat kami SMA.

Januari 2013

Lubuklinggau adalah kota eksotis penuh cerita. Kota tua yang penuh kenangan dalam setiap hati penduduknya. Kami bukan pendatang atau petualang yang singgah di kota itu. Kami adalah segelintir kisah yang melengkapi keindahan kota teratai, Ling Hao atau Lubuklinggau.

Hujan mereda berganti gerimis, kabut mewarnai di setiap sudut kota. Lampu-lampu kendaraan menyala bagai bola api di kejahuan. Saat kian dekat, silaunya semakin kuat dan mata akan berkedip seperti lampu rambu jalan. Cuaca dingin tak kuhiraukan untuk pergi ke Kota Lubuklinggau yang berjarak dua jam perjalanan dari Kota Curup untuk bertemu Dila. Seperti di kejar deadline, aku melaju cepat dengan motor tuaku menerobos kabut tebal yang mirip film horor itu.

“Pokoknya mr harus ke Lubuklinggau untuk menemani miss,” dalam telponnya Dila memaksaku untuk menemaninya. Aku tak pernah mengatakan tidak. Apa pun untuk Dila akan aku lakukan demi kebahagiaannya. Mr dan miss adalah panggilan kami. Aku tak ingat bagaimana itu tercipta, tapi layaknya orang yang sudah berkenalan lama pasti memiliki panggilan khusus tersendiri.

Sampai di Lubuklinggau, aku tak langsung menemui Dila. Aku ke rumah uwakku yang sudah lama tak pernah aku kunjungi. Uwak terlihat sehat meskipun diabetes telah melukai kakinya. 

Uwak selalu memberi wajengan yang baik. Ia menanyakan perkuliahan dan pacarku. Aku binggung menjawab pertanyaan tentang pacar. Sebab hubunganku dengan Dila tak memiliki ujung yang jelas. Persahabatan kami seperti pacaran. Anak-anak sekarang mengatakannya HTU, hubungan tanpa ujung.

“Uwak yakin Dila itu istimewa bagimu.” Aku tersenyum saat mendengar uwak mengatakan itu. Ada perasaan yang menguat. Bulatan rasa yang memfosil membentuk rangka cinta yang murni. Aaaahh. Aku melayang. Cepat-cepat aku menghabiskan mie goreng yang dibuat uwakku untuk segera menemui Dila mengelilingi Lubuklinggau.

Malam tahun baru waktu itu cukup ramai. Kendaraan padat. Anak-anak bermain petasan dan kembang api. Dila waktu itu memakai baju putih dengan jaket abu-abu. Sangat kontras denganku yang waktu itu memakai baju pink. Dila terus tersenyum dan tertawa memandangku. “Mr malam ini ganteng.” Dila tersenyum antara memang benar mengatakan demikian atau malah meledekku karena bajuku pink.

“Kita keliling dulu mr mencari buah dan petasan.” Tanpa komando, Dila langsung duduk di belakangku. Sambil menekan bibirnya menahan senyum. Kami menikmati malam itu dengan ritme yang romantis. Ia membungkus rahasia kepindahan kuliahnya dengan membuatku gembira.

Entah sudah berapa kali kami keliling kota. Dalam hembusan angin sepoi, Dila menikmati momen itu. Ia meregangkan tangan menandakan kebebasan berteriak memanggil namaku. Akupun membalas teriakan jawaban. Kami benar-benar menjadi kami yang sebenarnya saat berdua. Tak ada canggung, tak ada menjaga image, kami seperti dua tali yang sama. 

Kami kumpul bersama teman-teman Dila. Menikmati suasana tahun baru seperti kebanyakan anak-anak remaja. Bakar ayam, jagung, dan makan malam bersama, lalu meletuskan petasan dan membakar kembang api. Aku dan Dila duduk dalam satu ayunan bersama. Memandang langit. Melihat kilau bintang-bintang kecil yang menghiasi horison. Suasana hangat.

Kesunyian tiba-tiba hinggap saat Dila mengatakan ia akan ke Semarang besok. Dila meminta maaf baru mengatakannya padaku. 

Sebagai seorang sahabat, tentu aku harus mendukungnya. Aku tak kecewa meskipun ada sedikit perasaan tertinggal. Dila membuat video malam itu. Dia merekam setiap momen kami. Ada perasaaan tidak enak seperti akan ditinggal selamanya. Aku mencoba untuk menepis itu dan konsentrasi pada video yang ia buat.

“Semoga tahun depan akan menjadi manusia yang lebih baik. Istiqomah dalam kebaikan. Dan dapat bertemu tahun baru berikutnya,” ucapku saat Dila menyuruh membuat permintaan sebagai doa malam itu. 

Aku hanya bisa mengatakan itu sebagai permintaan, sebab kebanyakan doa bagiku seperti memaksa. Meskipun Tuhan mengerti, namun manusia harus tahu diri. 

Lalu giliranku merekam dan menanyakan pada Dila harapannya untuk tahun-tahun berikutnya. Ada banyak harapan Dila tak sepertiku yang simple dan diplomatis. Ia cenderung spesifik. Salah satu harapannya, ia menginginkan agar aku tetap menjadi sahabatnya yang baik.

Kami melewati malam tahun baru dengan intropeksi diri. Dila mengharap aku dapat bertemu dengan seseorang yang dapat mencintaiku selamanya. Dila begitu menginginkan aku bahagia, tapi bahagia yang sebenarnya adalah ketika aku bisa bersama Dila selalu. Aku punya keyakinan bahwa Dila menyukaiku, namun sebagai wanita tentu ia tak banyak bicara. Sedangkan aku seorang lelaki payah yang hanya bisa menaruh beban perasaan itu sendiri.

Waktu terus bergulir mengantar pagi. Malam itu aku tak bisa tidur. Ketidakberanianku untuk terus terang pada Dila membuatku selalu kepikiran. 

Paginya aku pamit untuk pulang ke Curup. Ada beban berat saat aku ingin meninggalkan Dila. “Mr hati-hati. Miss you,” kata Dila saat aku akan pergi. 

Aku tahu Dila mencintaiku dan aku juga menyukainya. Kadang ingin aku berterus terang, tapi ketakutanku sama besarnya dengan perasaan itu. Aku pergi dengan meninggalkan rahasia. Meninggalkan rasa yang aku simpan untuk suatu saat nanti.

Entah mengapa ingatanku masih terjaga bila tentang Dila, padahal aku bermasalah dengan nama-nama. Ini benar-benar pengecualian yang indah. Meskipun sekarang kami memiliki kehidupan masing-masing, tapi hatiku tetap menyimpan Dila sebagai sahabat terbaik.

Sunyi semakin menepi dalam puncak malam yang kelam. Malam yang berbeda dari enam tahun lalu seolah kembali. 

Lewat bintang-bintang kecil yang memancar seperti lampu-lampu, pemandangan yang sama saat aku dan Dila merayakan tahun baru 2012. Ada mozaik wajah Dila tersenyum padaku. Memanggil namaku lewat bayu yang berhembus pelan. Perlahan tubuhku terasa dingin dan aku kembali ke kamar untuk beristirahat melanjutkan mimpi indahku. 

*Di suatu malam bulan Januari, Tanjung Aur, 2014