Dalam perkembangan era industri saat ini, muncul berbagai macam ramalan tentang perkembangan era dan peradaban manusia, yang itu, jika ditinjau secara seksama ramalan tersebut nahas telah terjadi saat ini.

Ramalan yang membuat saya tergugah adalah ramalan yang sempat dinyatakan gagal oleh banyak orang, yang itu datang dari pemikir dan juga penulis buku "Future Shock" Alvin Toffler.

Alvin Toffler sendiri adalah salah satu pemikir yang sempat menghebohkan para pemimpin dunia saat itu, mulai dari mantan pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev, mantan Perdana Menteri China Zhao Ziyang, dan Pebisnis Carlos Slim dari Meksiko.

Alvin Toffler sempat meramalkan tentang kebangkitan dunia internet dan juga televisi kabel yang telah kita lewati, ia juga meramalkan tentang efek dari peradaban manusia, yang dinilai gagal namun mulai terjadi saat ini.

Ramalan-ramalan Alvin Toffler yang sempat dinyatakan gagal pada saat itu, namun terjadi hari ini ialah :

Ramalan Tergusurnya Kota 

"perubahan pola kerja dari kerja kantoran yang dialihkan menjadi kerja rumahan".

Alvin Toffler sendiri meramalkan tentang (Tergusurnya Kota) kota akan kehilangan signifikansi seiring perubahan pola kerja dari sebelumnya.

Ia berpendapat demikian karena menurutnya akses kontrol yang semakin mudah, karena didukung oleh kemajuan teknologi.

ramalan Tergusurnya Kota, sendiri saya rasa signifikan telah terjadi, tetapi bukan dari efek gelombang teknologi seperti yang ditulis Toffler, melainkan keadaan kita yang sedang diterpa oleh pandemi.

Ramalan ini pun terjadi, karena didukung oleh kebijakan pemerintah untuk menekan lajunya pandemi, bukan cuma di Indonesia, tetapi hal ini juga dirasakan oleh berbagai negara di dunia juga.

Kebijakan pembatasan aktivitas berkelanjutan pun menimbulkan efek perpindahan masal, banyak orang-orang yang beranggapan bahwa desa adalah tempat nyaman untuk menghindar dari pandemi ini.

Pembatasan berkelanjutan ini juga akhirnya menimbulkan anjloknya ekonomi, banyak orang kemudian melirik desa sebagai tempat selain mengisolasi kan diri juga untuk  tempat untuk berinvestasi.

Ramalan ini sempat dinilai gagal, pada saat itu karena berhadapan dengan gelombang perpindahan yang cukup signifikan, yakni perpindahan masyarakat dari desa ke kota dengan alasan mencari pekerjaan.

Alienasi Sosial 

"Manusia telah menembus ruang-ruang tanpa batas, dan itu akan akan berefek pada keterasingan manusia itu sendiri"

fisik bisa saja berkumpul di satu meja, namun tanpa berkomunikasi satu sama lain. Mereka malah sibuk berkomunikasi di dunia maya dengan Ponsel sebagai medianya. Manusia ‘terasing’ di tengah-tengah manusia lain.

Apa yang diisyaratkan Futurolog Amerika, Alvin Tofler, tentang alienasi sosial dan bahwa dunia saat ini sudah memasuki era komunikasi, benar adanya.

Pertama-tama teknologi itu hadir sebagai solusi untuk mempermudah komunikasi manusia, tetapi manusia tanpa sadar menggunakan teknologi itu dengan tamak.

Lihat saja, bukan hanya teknologi informasi dan media sosial yang merampas waktu kita, kini akses permainan atau game banyak memenuhi play store yang itu kini memenuhi android dan laptop kita.

Kita sendiri telah membentuk ruang didalam ruang itu sendiri. Teknologi yang datang kini tidak lagi mempermudah akses komunikasi dan informasi, ia telah berupaya mengancam ruang-ruang kesadaran manusia.

Sedikit menambahkan, selain keterasingan yang terjadi, kiranya kita telah sama-sama membentuk ruang keterasingan, dan bersama-sama melebur dalam keterasingan tersebut.

ramalan akan alienasi sosial itu kiranya pernah ditentang seorang pengarang yang bernama Shel Israel, ia menolak pandangan Alvin Toffler akan gelombang informasi dan data akan memicu terjadinya alienasi sosial.

Kita tidak teralienasi oleh gelombang tersebut. pada saat memang informasi membanjiri kita, sebagian besar orang akan cukup bijaksana menggunakan "tombol off" untuk mendapatkan ketenangan,” tulis Shel Israel.

Koloni di Luar Angkasa dan Kota Bawah Laut

"semangat baru untuk menembus batas” akan mendorong diciptakannya “kota artifisial di bawah gelombang samudra”  

Ramalan yang satu ini pun tidak kalah menariknya, karena ramalan yang satu ini, saya rasa sangat kongkrit dengan penyelamatan populasi manusia didunia.

Pada 2050 mendatang, jumlah populasi di dunia akan mencapai 9,6 miliar (Laporan PBB). Jika hal ini tidak ditangani ini dengan baik, maka akan menjadi permasalahan di tengah semakin menipisnya jumlah lahan yang ada.

Populasi yang semakin meningkat itulah, saya rasa awal dari gambaran akan ramalan dari Alvin Toffler, hanya saja Alvin Toffler lebih menitikberatkan pada perkembangan teknologi.

Saya melihat kota bawah laut ini sebagai frame penggambaran pelaksanaan reklamasi, yang itu digadang-gadang sebagai alasan penciptaan lahan-lahan baru, telah terjadi dimana-mana.

Metode Pembangunan Dengan cara mereklamasi sendiri adalah tahapan pembangunan untuk membuka lahan-lahan baru untuk suatu wilayah.

Lihat saja Kepulauan Khazar di Azerbaijan, Economic City Raja Abdullah, dan juga kota-kota elit buatan lainnya, ini adalah sederetan bukti dari ramalan kota bawah laut Alvin Tofflers 

Selain kota bawah laut yang di bahas Alvin Toffler, Futurulog yang satu ini juga menggambarkan tentang pembukaan koloni-koloni baru di ruang antariksa.

Pembukaan Koloni-koloni diluar planet bumi itu pun Turut dianggap Manusia sebagai upaya penyelamatan populasi didunia ini sekarang.

NASA yang juga merupakan sebuah lembaga antariksa Amerika serikat, yang titik fokusnya pada aspek Tata Surya, juga dengan perkembangan teknologi ingin mencoba menciptakan ruang baru di planet mars.