Matahari telah menyapa. Menyinari setiap insan yang masih tertidur pulas. Mengetuk setiap kantung mata agar segera terbangun dari mimpi-mimpi yang menghiasi. Semua mata perlahan terbuka dengan beban yang begitu berat.

Hari pertama di bulan Juli. Semua orang pasti punya cerita dengan bulan yang mungkin ditunggu-tunggu oleh banyak orang ini. Juli, sungguh bulan yang begitu romatis. Menurutku.

Sudah menjadi kebiasaanku di setiap awal bulan Juli. Aku sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk merayakan ulang tahun Oppa. Seseorang yang begitu berarti dalam hidupku. Oppa, panggilan sayangku untuknya. Berlebihan memang.

Aku dan Oppa sudah hampir lima tahun menjalani kebersamaan. Dia memang orang paling hebat yang pernah ku temui. Bagaimana tidak?, dia sangat totalitas memberikan perhatiannya padaku.

Aku, sebagai seorang anak tunggal yang selalu merasa sendiri dan tidak punya teman untuk bercerita, pasti akan bahagia jika ada orang di sisiku yang sangat perhatian padaku.

Lima tahun bukan waktu yang sangat sebentar. Sudah sangat lama hubungan kami berlangsung. Kami sangat bahagia dan tidak pernah ada keributan. Oppa yang selalu ngasih nasehat dan supportnya untukku.

Di tahun kelima kebersamaanku dengan Oppa tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Masih sama seperti sebelumnya.

Hari ini hari pertama di bulan Juli. Aku mulai membuka mata dan bergegas untuk keluar rumah. Hari yang benar-benar ku tunggu. Mempersiapkan kado paling spesial untuk Oppa.

Aku selalu menyibukkan diri dengan segala macam persiapan untuk acara surprise untuk Oppa. Seperti biasa Mandala Cafe adalah tempat pilihan paling romantis untuk kita berdua.

Jujur, meskipun Aku dan Oppa sudah lima tahun bersama namun kami belum pernah memperkenalkan diri ke keluarga masing-masing. Kami masih sangat enjoy dengan kebersamaan seperti ini.

Pagi ini seperti biasa, Aku masih mengirimnya pesan singkat berisi doa-doa terbaik yang selalu ku panjatkan untuk orang yang tersayang. Masih mengucapkan selamat pagi, saranghae dan berbagai macam ucapan rasa sayangku padanya.

Akupun tidak merasakan sesuatu yang mengganjal darinya. Oppa juga membalas pesan singkatku dengan kata-kata yang seperti biasa dia ucapkan. Aku menerima pesan itu dengan senyum-senyum sendiri. Ahh begitu menyenangkan.

Tahun ini di usianya yang ke 29, kami memang sudah berencana untuk segera memperkenalkan diri pada kedua keluarga. Kami sudah begitu siap dengan segala macam resiko yang terjadi. Doa kami hanyalah kebahagiaan dalam kebersamaan.

Sudah menjadi kebiasaan sebelum mendatangi surpriseku untuk Oppa, dia akan merayakan ulang tahunnya bersama keluarga. Mungkin agak malam dia baru datang ke kafe dan merayakannya bersamaku.

Kado spesial telah siap ku bawa dan tempat yang biasa aku persiapkan untuknya telah selesai dipesan. Bahagianya hari ini melebihi bahagiaku dalam segala hal. Ingin segera ku ucapkan saengil chukhahamnida, Oppa dan memluknya erat.

Malam ini, Aku berdandan agak spesial. Lebih terlihat anggun dan sangat cantik. Semoga di tahun keenam bersamanya semua akan lebih baik lagi. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika hidupku tanpa Oppa. Dia sangatlah berharga untukku.

Aku sudah siap untuk segera pergi. Kado spesial telah ku bawa. Segera Aku keluar dari rumah, mengularkan mobil dan berangkat menuju tempat acara. Aku memang hidup di rumah sendirian. Papa dan Mama tinggal di luar kota jadi kami berpisah.

Selama perjalanan Aku begitu bahagia. Membayangkan apa yang akan terjadi saat Aku dan Oppa bertemu nanti. Ahh pasti bahagia. Kami berencana besok pagi saling berkunjung ke rumah untuk berkenalan dengan kedua orang tua kami.

Tidak ada perasaan yang aneh dariku. Semua berjalan seperti biasa. Apa karena Aku telalu bahagia? Entahlah.

Waktu telah menunjukkan jam 21.00 wib. Biasanya, Oppa akan datang sekitar jam segitu setelah dia selesai merayakan kebahagiaannya bersama keluarga. Aku sudah duduk di tempat yang telah ku pesan.

“Oppa. Aku telah menunggumu di tempat biasa. Hug”

Aku mengirimkan pesan singkat untuknya berharap jika dia lupa akan segera ingat.

Lima belas menit telah berlalu, tiga puluh menit telah berlalu. Aku sedikit marah dan sudah mulai bosan menunggu. Rasanya masih bingung. Tidak biasanya Oppa terlambat datang.

Empat puluh lima menit berlalu. Tiba-tiba Aku melihat mobil datang dan parkir tepat di depan kafe. Oppa datang. Aku sudah sangat hafal dengan mobil yang selalu dia pakai. Tapi bukan Oppa yang keluar dari mobilnya.

Seorang perempuan dengan wajah tirus, matanya begitu cantik dengan pakaian yang sangat anggung. Hatiku sangat hancur. Namun Aku mencoba untuk tidak berpikir aneh. Mungkin bukan mobil Oppa. Aku yang salah lihat.

Perempuan itu masuk ke kafe dan bertanya pada pelayan kafe nomer mejaku. Siapa dia? Aku semakin tidak percaya. Apakah selama ini Oppa berbohong dan menduakanku?. Dia berjalan mencari meja tempatku duduk.

“Hai. Kamu Tania?” Dia bertanya padaku sambil mengulurkan tangannya.

“ Iya.” Perasaanku semakin tidak enak. Siapa dia? Ada apa ini?

“Perkenalkan, Aku adik dari kak Samuel.” Dia memperkenalkan dirinya padaku.

“ Dimana Oppa?” Tanyaku.

“ Ayo kak ikut Aku. Dia menyuruhku menjemputmu di sini.” Ajaknya.

Kenapa Oppa tidak bilang kalau malam ini Aku akan dikenalkan dengan keluarganya. Aku tidak membawa bingkisan untuk keluarganya. Ya sudahlah kalau memang itu keinginannya.

“Ayo kak masuklah”

Aku masuk mobil Oppa dan kitpun segera meluncur menuju rumah Oppa.

Ruas jalan begitu ramai. Aku tidak berpikir macam-macam. Mungkin memang acara ulang tahunnya begitu besar jadi banyak orang yang datang.

“Kita sudah sampai kak. Ayo kita keluar.” Ajaknya

“Kenapa ramai sekali?” Tanyaku.

Dia hanya diam tidak menjawab sepatah katapun. Aku masuk ke rumahnya dengan begitu bahagia. Kado spesial untuknya telah ku bawa. Namun apa yang terjadi? Aku hanya diam dalam kebingungan. Ada apa ini mengapa semua menangis.

Oppa kamu dimana mengapa tidak menjawab pesan singkatku. Mengapa tidak menelponku. Mengapa tidak mengabariku. Oppa mengapa kamu pura-pura sehat di depanku. Aku menangis terisak sejadi-jadinya di samping peti jenazah.

“Oppa, mengapa selama ini kau tak pernah cerita tentang semua ini?, Mengapa kau selalu terlihat bahagia?, Kau begitu tegar. Oppa.”

Semua orang melihatku menangis sejadi-jadinya. Satu minggu lalu, Oppa masuk rumah sakit karena penyakit kanker yang sudah lama diidapnya. Setiap Aku mengirimnya pesan singkat, adiknyalah yang membalasnya.

Setiap Aku mengajaknya pergi keluar, dia selalu bilang sedang sibuk. Namun Aku memakluminya. Dia seorang menejer di sebuah perusahaan jadi wajarlah jika dia sibuk.

Namun kali ini, Aku sangat berdosa tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Oppa beristirahatlah dengan tenang. Aku akan selalu mengenang kebersamaan ini. Aku tidak akan sedikitpun melupakanmu. Selamat Ulang tahun, Oppa.