Sampai jam sembilan tadi malam, Jakarta masih diguyur hujan sejak sore di beberapa titik, termasuk di kawasan tempat tinggal saya. Saya pun memilih untuk tidak bergerak dari tempat tidur, dan menolak ajakan teman saya untuk nongkrong di bar favorit kami. Lagi pula saya harus berangkat ke luar kota pagi-pagi sekali.

Anyway, mumpung dingin-dingin gerimis, saya langsung mencoba untuk tidur karena kebetulan kepala saya terasa pusing akibat kurang tidur. Belum sampai literally satu menit saya menutup mata, tiba-tiba terdengar suara teriakan takbir “Allahu Akbar!” berkali-kali dari sebuah mikrofon dari arah luar rumah. Saya kira malaikat akhirnya datang untuk mengusir saya yang sudah dicap “kafir” ini.

Teriakan-teriakan itu diselingi dengan suara lagu-lagu rohani Islam yang paling tidak terkenal (pokoknya bukan Raihan atau Maher Zain!). Lalu tiba-tiba ada panggilan dari sebuah suara kepada warga di kawasan Menteng Atas untuk menghadiri acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sempat saya bertanya-tanya, “emang hari ini Maulid yah? Bukannya Desember kemarin udahan?” Not that I care though.

Well, beberapa menit kemudian suara teriakan yang memanggil-manggil warga itu menyebutkan bahwa beberapa penceramah yang akan mengisi acara maulid adalah para “habib” perwakilan dari Front “Pembela” Islam alias FPI.

Bukan berlebihan, tapi denyut nadi di kepala saya langsung terasa lebih jelas setelah mendengarkan itu. This is gonna be another long shitty night! Kata saya dalam hati.

Dan benar saja, teriakan-teriakan takbir, dan lagu-lagu rohani tidak jelas itu, terus terdengar hingga lewat tengah malam, membuat saya tidak bisa tertidur sama sekali—again! Dan yang sebenarnya membuat saya paling tidak bisa tertidur adalah, apa yang dibicarakan oleh para penceramah itu tadi malam.

Ada empat penceramah, dan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, keempatnya sepertinya harus saling mencontek bahan ceramah satu sama lain. Semuanya membosankan. Semuanya penuh narasi pembodohan yang sangat misleading, termasuk soal larangan memandikan jenazah muslim “penghianat” yang memilih Ahok, yang memang lagi hangat-hangatnya bertebaran di masjid-masjid dan media sosial.

Keempatnya sama-sama berteriak-teriak seperti bapak saya kalau lagi marah (difference is, I LOVE my father). Mereka tidak menghiraukan apakah ada warga non-muslim yang mendengarkan atau tidak (beberapa warga sekitar ada yang non-muslim). Dan semuanya mengkampanyekan agar jangan memilih Ahok, si pemimpin kafir, pada pilkada DKI putaran kedua, 19 April nanti.

Aksi '4 November' 2016 yang lalu (foto: Achmad Ibrahim/Associated Press)

Namun yang paling brutal adalah si penceramah kedua. Saya kurang jelas mendengar siapa nama si penceramah semalam, so, sebut saja namanya, K.H. Syaiful (Sorry, I just don’t like that name). Ipul, dengan dialek betawinya yang kental, menjadikan ceramah maulidnya itu benar-benar sebagai instrumen propaganda untuk men-demonize Ahok, bahkan sampai mengajak “warga FPI” yang hadir untuk membunuh Ahok.

Si Ipul menguraikan narasi-narasi—beberapa faktual namun misleading, dan beberapa totally bohong—terkait Ahok sebagai gubernur kafir. Mulai dari persoalan perayaan tahun baru di Monas yang katanya dibiayai pakai uang rakyat, hingga persoalan takbir keliling. Yang lebih miris lagi, ia menggunakan beberapa slur yang sangat racist ketika me-refer ke Ahok.

“Dari dulu di Jakarta gubernur muslim. Begitu Tompel Babi jadi gubernur, dia larang umat Islam menyembelih hewan kurban di halaman masjid.” Kata si penceramah Ipul. Ia lalu melanjutkan, “Dari dulu gubernur kita muslim nggak ada yang main larang takbiran keliling. Begitu Setan Sipit jadi gubernur, takbiran keliling dilarang.”

In that exact moment, saya somehow merasa seperti berada dalam suasana kampanye Donald Trump, padahal saya menyimak (dan merekam audio) ceramahnya dari teras rumah sendiri. Nuansa kebencian yang dibalut rasisme itu terasa begitu nyata.

Membuat saya bahkan mempertanyakan, IS THIS REALLY JAKARTA? Kebencian dan rasisme yang begitu jelas telah dianggap hal normal dan biasa saja oleh banyak warganya? Bahkan dianggap lucu? SADIS!

But I was wrong. Si penceramah Ipul justru lebih kelewatan sadis lagi setelah ini. Masih dalam ceramah maulid yang sama, ia kemudian berkata, “Makanya ini Ahok kagak usah pake sidang. Kalau sama saya mah udah dibacok aja urusannya!” Dan ia lalu menambahkan, “Kalo yang bunuh Ahok, setuju apa tidak?” Dan “warga FPI” yang hadir pun mengiyakan, “SETUJU!”

CHILLING. Itu kesan mengerikan yang saya rasakan saat itu juga ketika mendengar seorang “pembela” agama Islam menjadikan momen perayaan kelahiran Nabi Muhammad, justru sebagai ajang untuk mengajak warga membunuh seseorang. That was quite a birthday present, don’t you think? I wonder what the Prophet Muhammad would have said.

Secara moral (termasuk moral agama), kemanusiaan, hukum positif and all that, jelas-jelas itu salah dan sangat berbahaya. Namun kalau mau pakai “bahasa agama” (which is itu bahasa utama mereka), ajakan itu juga jelas-jelas tidak dibenarkan.

Dalam ajaran Islam, mahzab apapun itu, Kafir Dzimmi seperti Pak Ahok tidak boleh disakiti, bahkan hukumnya WAJIB UNTUK DILINDUNGI—itulah ajaran Islam yang sebenarnya. Ini malah, seorang self-claimed “ulama”, yang mengaku “pembela” Islam, secara terbuka membuat orang jadi tambah—yes, tambah—semakin ill-feel dengan Islam.

Dan lebih miris lagi, “warga FPI” yang hadir, mengiyakan dan terlihat menormalisasi kebencian-kebencian berbau SARA seperti itu. Mereka seperti terbiasa dengan narasi-narasi menumpahkan darah orang-orang kafir, and then langsung ngamuk-ngamuk ketika dicap sebagai agama teroris. Seolah mereka sama sekali tidak punya logika (meskipun lagi nggak ngomongin soal cinta!)

courtesy of Mohamad Guntur Romli, via twitter @GunRomli

Terkadang saya bingung memberikan penjelasan ketika ditanya mengapa saya yang dulu sangat fanatik sebagai seorang “salafi”, bisa sampai kehilangan kepercayaan kepada Islam (or religion in general, for that matter). Bukan karena tidak tahu apa alasannya, tapi justru alasannya sudah terdeskripsikan dengan jelas oleh apa-apa yang dilakukan oleh “umat beragama” atas dasar konsep agama itu sendiri.

Sekadar ingin mengingatkan para “umat beragama”, Tuhan memberikan akal pikiran bagi manusia, sebagai hal pembeda utama kita dari binatang. Maka gunakanlah akal itu untuk berpikir. Secara bebas dan merdeka. Jangan mau ditipu dan dibodoh-bodohi oleh janji-janji surga dan ancaman neraka oleh orang-orang picik yang kerjanya hanya menyebar kebencian dan permusuhan.

Warga Jakarta—warga muslim Jakarta—adalah warga yang cerdas, yang toleran, yang berani, dan percaya pada kebenaran dan kekuatan yang dibentuk oleh keberagaman. Warga Jakarta bukan pengecut dan orang bodoh yang takut pada narasi-narasi palsu yang penuh ketakutan, ancaman, dan kebencian.

Dan warga Jakarta bukanlah warga yang mau diasosiasikan dengan kelompok seperti FPI, yang kata Anies Baswedan sendiri, adalah kelompok EKSTRIMIS.

Terakhir, momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak seharusnya dijadikan ajang untuk menebarkan kebencian seperti yang dilakukan para “pembela” agama di lingkungan tempat tinggal saya. Jika ia masih hidup, saya yakin Nabi Muhammad akan menangis melihat beberapa orang yang mengaku sebagai umatnya, justru merayakan hari lahir beliau dengan menebar kebencian seperti ini.

PS. I know it was on last December, but anyway, Happy Birthday, Prophet Muhammad. I don’t have a birthday persent for you, Sir, but I can say this: even though some of your so-called “defenders” probably want to kill me, or people like me—a former muslim-fanatic turned a liberal-“kuffar”—I’m still a really big fan of yours somehow!