Fenomena ini sepertinya layak untuk dibicarakan. Bukan hanya perkara dari segi kesehatan, tetapi juga menyinggung momen yang penulis rasa sangat unik sehingga memunculkan pertanyaan, “Kenapa kok pas keadaan lagi kayak gini orang-orang mulai menggauli kegiatan tersebut?”.

Tampaknya, Jakarta saat ini tengah diseludupi oleh sebuah virus baru. Virusnya yang tidak membutuhkan uang, tidak membahayakan, juga tidak terlalu rumit untuk melakukannya. Apa virus tersebut? Yaps! Virus itu adalah bersepeda.

Secara tidak sadar, saat ini pesepeda di Jakarta mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Di beberapa protokol jalan, misalnya di sepanjang jalan Jendral Sudirman-GBK atau dari jalan Fatmawati Raya hingga Blok M, kita dapat berjumpa dengan pengguna roda dua yang ramah lingkungan ini. Ada yang bersepeda secara individu, ada juga yang bersepeda secara berkelompok. 

Sepeda yang digunakan pun bervariasi. Biasanya, para pesepeda ini menggunakan sepeda dengan jenis road bike, sepeda gunung atau MTB (mountain bike), fixie, sepeda lipat, dan BMX. Jadi kalau jalan malam-malam, kita bukan hanya bisa melihat warna-warni lampu dari gedung pencakar, tetapi juga melihat warna-warni sepeda yang menghiasi jalan.

Kenapa Sepeda Jadi Olahraga yang Ditekuni Sekarang?

Pertanyaan inilah yang pertama kali terlintas dalam pikiran penulis. Kenapa? Karena seperti yang kita tahu, bahwa Indonesia merupakan salah satu dari banyak negara dunia yang terkenal “konsumtif”. Orang berlomba-lomba untuk memiliki kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat.

Mau dia tinggal di apartemen, rumah sendiri, ataupun kontrakan sekalipun, pasti salah satu hal vital yang harus dimiliki adalah “kendaraan”. Maka tidak heran kalau Jakarta selalu dihiasi dengan kemacetan dan segala hiruk-pikuk di setiap harinya.

Sepedaan ini seolah menjadi momen langka yang jarang sekali kita temui. Problematikanya bukan dari bersepedanya itu, tetapi pada momen yang mana kegiatan bersepeda ini mulai digauli saat masa-masa pandemi masih melanda.

Sebelumnya penulis memang sering melihat komunitas pesepeda di beberapa tempat, salah satunya Kertamukti Bike, yang memang menjadi rutinitas mereka untuk bersepeda di setiap pekannya. Nah, sekarang itu bukan hanya dari komunitas sepeda, tetapi yang non-komunitas pun ikut menggandrungi aktivitas ini. Unik ya. Kenapa bisa begitu?

Berdasarkan bincang-bincang kecil dengan salah satu peseda yang penulis jumpai, dia mengatakan,

“Sebenarnya gue mulai sepedaan sekitar sebulanan ini, bang. Tujuan utamanya sih tentu buat kesehatanlah ya. Biar gue gak gampang sakit dan imun tubuh tebel. Biasanya olahraga yang gue lakuin itu kan joging. Tapi karena GOR banyak yang tutup, akhirnya gue beralihlah ke sepeda. Itu yang pertama. Kedua, buat refreshing aja sih. You know lah, dengan kondisi seperti ini semua tempat wisata, mall, dan lain-lainnya itu pada ditutup. Jadi, dengan sepedaan bisa dianggap lagi pikniklah,” ujar Syafiq Farhandika, pesepeda yang tinggal di daerah Galur, Jakarta Pusat.

Pada titik ini kita dapat kunci bahwa ternyata sepedaan bukan hanya bertujuan untuk menyehatkan tubuh ataupun opsional olahraga lain, tetapi juga menjadi penghibur saat masa-masa sulit seperti sekarang.

Seperti yang kita ketahui, pemerintah menyatakan maklumat untuk menutup segala tempat yang bisa menjadi pemicu penyebaran virus. Katakanlah mall, tempat makan, GOR, sarana wisata, sekolah, dan sebagainya. Sehingga orang-orang yang tadinya memiliki habit untuk pergi ke Mall atau ke tempat wisata, sekarang harus mencari opsi lain untuk melepas kepenatan mereka setelah bekerja. Salah satu opsinya itu ya dengan bersepeda.

Terus PSBB dan Protokol Kesehatannya Gimana?

Berdasarkan sepenglihatan penulis sendiri, pesepeda cukup teratur dan tertib dalam mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Mereka tetap menerapkan sosial distancing, memakai masker, dan membawa hand sanitizer.

Para pesepeda pun tetap menjaga jarak sebagaimana yang dihimbau oleh pemerintah. Hal ini membawa dampak positif tentunya. Kenapa? Karena secara tidak langsung Jakarta yang kerap kali dicap sebagai “kota polusi”, sedikit demi sedikit telah mengurangi tingkat kepolusiannya. Itu artinya, penduduk Jakarta mulai menyadari akan pentingnya menghargai lingkungan.

“Ya kalo dihentikan si gue pribadi gak masalah. Cuma di lapangan itu, para pesepeda juga menaati protokol kesehatan juga kok, kayak pake masker, membawa dan memakai hand sanitizer. Terus pas CFD juga banyak petugas-petugas yang melakukan pengawasan terkait protokol kesehatan itu. Kalau soal penyebaran, selagi kita masih bisa jaga jarak, memakai masker, dan tidak kontak fisik dengan orang lain insyaallah gak bakal tertular,” ujar Syafiq.

Minusnya Bersepeda di Jakarta

Walaupun pada dasarnya bersepeda banyak memberikan manfaat, namun selalu saja ada individu ataupun kelompok yang menimbulkan imaji bersepeda menjadi buruk. Hal tersebut penulis lihat di sepanjang jalan Sudirman sebelum putar Patung Pemuda Membangun.

Ada beberapa kelompok pesepeda yang bersepeda di sepanjang kanan jalan. Ada juga yang langsung motong jalan tanpa memutari patung tersebut terlebih dahulu. Padahal menurut prosedur, pesepeda ini sudah diberikan jalur "khusus sepeda" di trotoar sebelah kiri jalan. Hal ini tentu bukan hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga membahayakan orang lain.

Kemudian, hal serupa juga terjadi di perempatan perbatasan jalan Sisingamangaraja dan Panglima Polim. Para pesepeda ini bukannya mengikuti protokol lalu lintas yang ada, malah tetap saja mengayuhkan sepedanya saat lampu merah masih menyala.

Belum lagi para pesepeda muda yang seolah ingin menguasai jalanan dengan bersepeda di tengahnya. Beberapa pengendara bermotor bahkan banyak yang menggeleng kepala melihat perbuatan tersebut.

Memang secara prosedur, belum ada peraturan lalu lintas yang mengatur bagaimana seharusnya pesepeda saat di jalan. Belum ada juga regulasi khusus yang mengatur pengendara sepeda dalam mematuhi rambu lalu lintas dan sanksi apa yang diberikan.

Namun setidaknya pesepeda bisa lebih memahami bahwa melanggar lalu lintas itu sangat berbahaya. Seharusnya juga, pesepeda milenial itu bisa lebih tertib dalam mematuhi rambu lalu lintas.

Kendati demikian, ada juga beberapa pesepeda yang patut ditiru keberadaannya. Di sepanjang jalan Panglima Polim-Fatmawati Raya, penulis melihat ada beberapa kelompok yang memiliki solidaritas tinggi antar sesama pesepeda. Mereka yang membantu biasanya adalah pesepeda profesional yang memang telah menyiapkan beberapa peralatan yang dibutuhkan saat mengalami kendala.

Mereka ikut membantu memperbaiki sepeda tersebut hingga benar-benar tidak mengalami kendala lagi saat jalan. Hal-hal seperti ini yang seharusnya ditiru oleh pesepeda-pesepeda di Jakarta.

Bukankah keren kalau kaum milenial itu tertib, solid, dan ramah terhadap lingkungan? Jadi bukan hanya membentuk stereotip yang baik di masyarakat, tetapi juga bisa menjadi contoh bagi generasi lainnya. Goesss terus, lurrrr!!.