Mahasiswa
2 tahun lalu · 251 view · 2 min baca menit baca · Puisi langit_0.jpg
Google

Sabda Semu Tuan Penyair

jangan sesekali mudah percaya padanan kata yang disabdakan tuan penyair yang kadang melankolik kadang pula garang; meliuk penuh intrik, merengkuh segenap strategi, pun di lain waktu sabda-sabdanya dapat menggugat dan menerabas tanpa ampun manusia pelahap tahi.

sosok tuan penyair dan padanan sabdanya adalah dua hal yang, terkadang saling bersinggungan, namun di waktu yang nyaris berhampiran: sama.

baginya, runcing paruh kata adalah senjata bertaring sengketa. bergelut-tengkar di ujung labuhan. puisi-puisinya sekadar ditulis tanpa maksud diperdengarkan.

namun malang, betina-betina terusir dari koloninya, masih suka terjebak sabda si tuan penyair.

Ciputat, 2017


Percakapan Tentang Kopi

seperti katamu --dan aku tidak menampik dalihmu ini, 

"kopi adalah candu kita dalam memetakan dengan apik dan cermat sekian keinginan. kita bisa membaca ke mana arah hidup kita belasan tahun ke depan untuk sebuah rencana-rencana kecil yang akan kita lalui bersama."

setiap seduh dan racikan yang kautakar sendiri, ada kasih sayang di dalamnya; tak dapat terjelaskan.

setiap hirup dan sesap yang kuteguk dengan khidmat, ada rasa tanggung jawab yang begitu besar; tak dapat tergambarkan.

kapan kita akan dan selalu dapat menikmati secamgkir kopi, berhadap-hadapan, sembari bercerita perihal anak-cucu?

Ciputat, 2017


Pak, Aku Pulang Bawa


Pak, aku pulang bawa teori-teori filsafat dan kebudayaan yang selama ini coba kubaca dan kukaji sependek pemahaman yang aku punya. bapak mau aku jelaskan? biar aku kelihatan seolah-olah seperti akademisi sungguhan. akademisi yang bisa bicara apa saja, meski isinya itu-itu saja, stagnan.

Pak, aku pulang bawa sedikit hafalan-hafalan hadis yang, bagi seorang akuntan, bilangannya tak seberapa bila dijumlah dengan rumusan yang dapat melipat-gandakan angka. bapak mau aku bacakan? sedikit saja. biar aku yang lekat identitas santri ini tak terlihat sia-sia mengabdi dan mengaji kitab kuning jauh-jauh dari tanah semayam kita.

Pak, aku pulang bawa beberapa kardus buku berbagai jenis; diktat kuliah, agama, filsafat, dan paling banyak fiksi. bapak mau aku terangkan? satu-dua buku saja hasil rangkuman singkat. biar aku tak kentara kelihatan dungu dengan buku-buku itu. kan malu-maluin, pak. punya banyak buku supaya didaulat intelektual, eh padahal itu palsu.

Pak, aku pulang bawa beragam sertifikat penghargaan yang kata mereka, sebagai bentuk apresiasi kecil atas laku kerjaku selama ini. bapak mau melihatnya? nanti biar aku pigura dengan olahan kayu sisa membuat meja lipat. biar orang-orang berdecak dan tertipu. sekarang tipu-tipu model begitu sedang musim dan marak loh pak di kalangan masyarakat urban. agar terlihat prestius dan patut diperhitungkan, katanya. padahal, kesemuanya bentuk kedunguan massal.

Pak, bisa bangun sebentar?
apa tak bosan kau mendekam dalam sunyi tanah kuburan?


Ciputat, 2016
 

Artikel Terkait