Bayang-bayangmu hampir menguasai diriku. Seakan itu candu bagi hatiku, tapi tidak rasionalku. Kau sempurna memantik perang dalam diriku: hati dan otakku.

Berkali-kali otakku harus pasrah bertekuk lutut mengalah pada hati. Sedangkan aku, dengan bodohnya menyaksikan mereka beradu argumen tentangmu. Kau benar-benar keterlaluan!

Aku sendiri tidak punya pendirian. Aku menjadi pengabdi hatiku sendiri yang tak pernah berhasil mengenyahkan engkau dari kerinduan ini.

Tiada lagi kuasaku untuk mendengarkan rasional otak yang memaparkan pendapatnya. Ia berulang kali menyuruhku "berhenti". Tapi, kenapa selalu seperti ini?

Aku pasrah ketika hati mulai lancang mengeluarkan sabda-sabda rindunya. "Cukup! Aku muak dengan kelakuanmu yang seperti ini hati." Bentakku. 

Betapa baj*ngannya dia mengumpulkan semua senyuman-senyumanmu dan semakin membunuhku perlahan dalam kerinduan. Bisa saja aku mati membusuk menanggung kenakalan hatiku sendiri.

Aku benar-benar kalah (lagi). Aku sangat membencimu, karena kau telah membuat hatiku sendiri berkhianat. Dan, dengan pengecut berbisik lirih, "Aku merindukanmu."

Aku benar-benar iri kepadamu. Bahkan yang hanya bayang-bayangmu saja. Kau beruntung sekali, kau tak pernah berhenti dirindukan oleh hatiku. Sedangkan aku, tiada yang memperlakukanku seistimewa ini.

Rindu mengantarkan kesadaranku dan memaksanya memenuhi kehausan dengan apa pun yang berhubungan dengan itu. Karena menjamah bayangmu saja tiada meredakan dahaga rindu dalam hatiku.

Tetiba, kutemukan Sabda Rindu-nya Achmad Ubaidillah. Buku ini diterbitkan pada tahun 2015 dengan judul Sabda Rindu: Antologi Puisi Achmad Ubaidillah. Sontak hatiku berteriak kegirangan ketika menemukan antologi puisi yang diterbitkan oleh Pustaka Sastra LKiS Yogyakarta melalui aplikasi iJakarta ini.

Aku terbengong-bengong merasakan kebandelan hatiku sendiri. Dia merasa menemukan pelepas dahaga rindunya melalui puisi-puisi romantis Ubaidillah.

"Tenang, dong, hati. Bacanya biasa aja. Enggak usah jingkrak-jingkrak, gitu. Jangan malu-maluin, deh!" Komentarku ketika si hati ini tetap tidak mau diam. Sekadar memberi tahu, dia bukan tipe-tipe hati yang kalem dan santuy.

Entahlah. Terkadang aku tidak mengerti dengan kemauan hatiku sendiri. Dia memang keras kepala dan susah diatur. Btw, ini hati apa otak yang seharusnya keras kepala?

Aneh bin ajaib! Aku dapat menyaksikan keanehan luar biasa. Aku 'melahirkan' hati dan otakku menjadi "individu" baru. Ya, seperti ibu dengan dua orang anaknya. Aku menjadi 'ibu' bagi anakku yang bernama hati dan otak.

Apa pun itu, kami tetap satu. Aku dan kedua individu itu. Tiga individu dalam satu ruang tubuh: Aku.

***

Dengarlah sejenak Sabda Rindu yang diamini hatiku:

"Puisi adalah sahabat penyair dalam suka dan duka. Tangis dan tawa, kehidupan dan kematian, lahir dan tiada, bising dan sunyi, diterima dan ditinggalkan, merupakan inspirasi yang tiada khatam bagi terlahirnya dunia kata di tangan seorang penyair (Sabda Rindu)."

Kulihat, hatiku sedang terkagum-kagum membaca kutipan dari antologi puisi Sabda Rindu-nya Ubaidillah.

"Dia itu persis seperti yang barusan kubaca ini, ya. Dia puisi dan kau penyairnya," sanjung hati berbinar-binar.

"Kenapa bisa begitu? Sok tahu kamu."

"Karena dia tidak pernah khatam kurindukan. Bukankah aku sebagian dari dirimu?" Tanyanya cengar-cengir.

Aku tiada bisa berkata-kata lagi. Sepertinya, hati terlalu kuat untuk ditaklukkan. Huft. Hanya helaan demi helaan napas yang bisa kulakukan.

Pendapat Otak

"Rindu cuma pantas dirasakan oleh pecundang. Sebab itu diam-diam. Jika berani, nyatakan. Jika tidak, berhenti merindukan!" Ketus si otak.

Aku terbengong-bengong lagi. Kedua individu aneh ini bisa-bisa membuatku sinting betulan. Mereka tidak ada yang mau mengalah.

Aku tak bisa memilih salah satu, karena mereka sebagianku. Aku dalam keakuanku sendiri. Otak dan hatiku. Rasional dan rasaku.

"Buat apa mengabaikan tidurmu hanya untuk merindukan orang yang belum tentu merindukanmu juga. Sia-sia! Mikir, dong!" Ceramahnya berapi-api. "Sudahlah ..."

Kesudahan yang seperti apa? Ketika aku sendiri tidak bisa berargumentasi di tengah perang pendapat mereka. Aku seolah tidak tahu apa-apa. "Apakah aku harus merindukanmu atau berhenti?"

***

Beberapa Puisi Achmad Ubaidillah dalam Sabda Rindu: Antologi Puisi Achmad Ubaidillah

Aku Damai di Sampingmu

Dahulu aku pernah mengatakan satu hal kepadamu. Tidak usah kau gusar tentang rindu kita yang pudar. Aku damai di sampingmu seperti menyaksikan telaga hening menenangkan. Kini, tertidurlah engkau lelap dan ulangi kisah indah kita di mimpimu, sebelum kita ulangi nanti ketika waktu menemani kita menemui pagi siang dan malam. (hal. 9)

***

Sempurnalah Tidurku

Sempurnalah tidurku malam ini. Sepertinya ucapan itulah yang akan kusampaikan padamu kelak manisku, ketika pandangan tak lagi sebatas hijab. Di saat hati tak lagi berkawan sepi. (hal. 16)

***

Desember

Senyummu adalah berbait puisi yang kupuji. Menatapmu gelisahku pergi bagai daun kering enyah dihempas angin. Perempuanku, mari kita lafalkan doa-doa untuk Desember kita. Agar dia setia menunggu. Agar hujan mewarnai malam di bulan itu nanti. (hal. 20)

***

Malam ini, baru sedikit puisi yang berhasil kubaca. Sabda Rindu memuat 181 puisi yang menurut Fahd Djibran, seorang penulis, peneliti, dan pegiat kreativitas, puisi-puisi tersebut liris dan romantis.

Sementara menurut Ubaidillah sendiri, antologi puisinya dipersembahkan untuk istri tercintanya, Nurhapipah. Dalam pengantar penulis itu, dia juga menuliskan I Love You So Much My Dear Wife! Uh, so sweet-nya bikin meleleh.

Si hati masih saja terpesona dan berdecak kagum pada puisi-puisi itu. Sudah larut malam. Otak mulai lelah, butuh tidur dan istirahat. Untuk malam ini saja, kau menang hatiku!