Salamku padamu wahai kepulan asap cantik nan hina. Terima kasih sebelumnya telah setia menemaniku sepanjang usia. Walau kata mereka kau pembunuh, namun aku menikmati caramu membunuhku dengan lembut, hangat, dan memikat. 

Kau bangunkan anganku yang kering, terkubur oleh dogma bengis berselimut cahaya suci. Membongkar tirai hipokrit, membebaskan iblis yang menyambut datangnya al-masih.

Memompa berahi yang tersesat dalam ruang sempit kamasutra, hingga memuncak di ubun, meledakkan kepala, tumpah ruah mengotori permadani moralitas. 

Selamat pagi wahai penipu yang kucinta. Yang kerap menipu kesadaranku agar tetap terjaga, walau energiku di ambang batas. Bagai tarian pinggul wanita penggoda, membuatku lupa kehangatan yang ditawarkan ranjang hangat tempatku dan dia bercinta.

Hitammu elegan, idaman bocah tanggung pemburu eksistensi. Pahitmu menipu, melahirkan penipu yang memotivasi jiwa-jiwa yang tertipu. Penikmatmu pula tertipu, sepertiku yang gemar pula menipu. 

Apa yang kau tunggu wahai orang tua? Tumpahkan kencingmu, tenggelamkan duniaku. Bawaku pergi, jauh dari dunia di mana mimpi-mimpi berlari, bersembunyi, dari ambisi anjing-anjing anani. 

Gerogoti tubuhku, menari bersama berahiku, rayakan kemerdekaan hasrat-hasrat ini bersama alam bawah sadar yang meledak, merusak tatanan mapan.

Persetan penjara moralitas. Hancurkan lapas-lapas amoral. Banjiri dunia ini dengan hitam yang memurnikan segala warna. 

Temani aku sayang. Temani aku menikmati indahnya sang surya, menyaksikan darah yang beradu, tumpah ruah mewarnai lautan, hingga biru tinggal kenangan manis belaka. 

Temani aku kawan, temani aku menikmati tergelincirnya sang surya. Sambil menunggu adegan utamanya, ketika ia linglung hingga karam tenggelam di timur sana.

Salam hangat untuk ketiga istri-istri setiaku,
Yang membunuhku dengan gemulai, dan kunikmati dengan penuh cinta. Tri tunggal berbisa, yang terhina, bersama lara kita bercinta.

Amukan batinku masih meraung, mendengung, mencaci, meludah wajahku dalam dunianya.
Memuntahkan darah hitam pekat berbisa meracuni dunia. Tawa yang fana sesekali meludah mimpi utopia, bersemayam dalam lisan yang lupa darimana asalnya mereka. 

Sampai kapan kau terus bertanya, sementara jawaban jelas menempel dipelupuk mata?
Sampai kapan kau terus mencari, tak sadar kah kau selama ini kau mencari namamu sendiri?

Kujawab, hey mahluk fana, perjalanan kita belum berhenti sampai disini.
Hey mahluk hina, jangan kau mengira kau sudah temukan apa yang kau cari. Sebab hanya maut yang akan memberi jawaban pasti. 

Tapi hidup adalah pilihan, katanya. Walau semua akan berakhir dengan kematian, hidup adalah pilihan.

Tiba penghujung hari untuk kesekian kali.
Sang surya masih saja terbit dari timur. Tri tunggal masih kupegang, erat dalam pelukan. Biru masih mewarnai lautan, walau kian busuk bagai sungai ciliwung. 

Sang penebus belum juga tiba, umatnya belingsatan kian lupa akan nubuatnya. Birahi yang terkungkung, menuntun mereka perlahan dan pasti. Dengan selimut ilahi, birahi bertindak mulai menguasai.

Tri tunggal bersama ku masih setia menyimak dan tertawa, berpuisi, bernyanyi, olokan terselubung dalam canda tawa. Hamba moralitas kian marak kian meluas, membunuh dirinya dengan dogma rekayasa birahi penguasa. 

"Pembela kebenaran" tertulis dengan kapital, tebal tepat di jidatnya. Bersorak sorai, meneriaki kezaliman yang dielu-elukan junjungan yang mereka puja. Bermodal tekad mereka banjiri rimba manusia, tanpa kepala, sebab kepala mereka dalam genggaman segelintir setan.

Munafik, adalah namaku, bagi mereka.
Domba yang tersesat, metafora yang tepat, tentang ku, bagi mereka.


Tapi tak masalah, saudara-saudara, sebab mataku buta, hatiku mati, dikala sampah mencoba merasuki. Dibutakan olehMu, dimatikan olehNya, yang maha membolak-balikan fakta. 

Masih di penghujung hari, untuk kesekian kali, menghantar mentari menuju peristirahatannya menggunakan puisi. Bersama jari yang menari,  mengungkapkan isi hati yang gemar memarahi takdirnya sendiri.

Penantian kian hari kian membosankan, masih dijalur yang sama, sang surya melintas, menyapa dunia. Beruntung tulang rusuk kini sempurna, poligami ku maksimal, trinitasku sirna, melebur bersama penyempurna, dalam satu bingkai berdebu yang sama. 

Cengkramanmu kian hari kian lekat, menghapus ambigu dalam prasangka, yang penuh debu panas api neraka. Entah sampai kapan kau mampu bertahan, sebab panasku membakar segala yang ada. 

Panasnya anugrah sekaligus kutukan, memberiku kekuatan sekaligus menjatuhkan. Menjebak, menyiksa dalam dunia yang memalukan, dimana ketidakpastian adalah satu-satunya kepastian.

Banyak solusi terpampang, bertelanjang,menggoda jiwa-jiwa yang mati asa. Menawarkan pintu keluar terbaik untuk bebas dari masalah. 

Tawaku tak tertahan, mengingat bagaimana bisa mereka lupa. Satu-satunya pintu keluar adalah kematian, sebab hidup sendiri adalah masalah.

Salamku padamu hai manusia, maafkanlah aku wahai aku yang tak pernah memaafkan diriku. 

Pusaran kebencianku masih kurawat dengan penuh cinta. Menanti datangnya jemputan, menuju pintu, yang membebaskanku dari penjara manusia. 

Salamku padamu, cinta yang menggelora penuh warna. Yang berikan aku tawa, suka, luka dan duka. Janganlah kau hilang, tetaplah disana, beri mereka rasa, seperti apa menjadi manusia.