Masih segar di ingatan kita beberapa hari yang lalu ada artis kita yang tertangkap karena memakai barang haram narkoba. Lagi dan lagi, artis lagi, rehabilitasi lagi, keluar, tertangkap lagi. 

Saya yang hanya sekadar lihat saja sudah mual. Apakah memang tidak ada berita membanggakan? Misal, seperti Pierre Coffin si arsitek pembuat karakter Minions yang sukses di perfilm-an dunia yang notabene putra dari penulis ternama Indonesia, N.H. Dini?

Mengapa kasus atau kejadian ini seperti tidak pernah hilang atau berhenti? Apakah berbagai solusi dan penyuluhan seperti tidak berpengaruh dan tak ada hasilnya?

Memang, sudah banyak solusi yang ditawarkan para ahli, psikolog dan dokter-dokter spesialis selama ini, ampuhkah? Sosialisasi yang diadakan di berbagai lembaga dan tempat praktik yang banyak menjamur—seperti jadwal road show mengalahkan konser tur 25 kota “ngabuburit”-nya band Gigi tahun 2012 lalu, apakah hanya semacam lawatan akademik belaka?

Mengapa kita tidak mencoba dengan menghadirkan Sang pelaku? Iya, pelaku.

Maksudnya, misal kita akan mengadakan sosialisasi menumbuhkan kesadaran akan bahayanya narkoba di sebuah sekolah atau lembaga pemasyarakatan, mengapa kita tidak menghadirkan orang yang dipenjara karena narkoba? 

Menumbuhkan kesadaran akan bahayanya narkoba dari orang yang benar-benar mengetahui bahayanya narkoba, dari orang yang merasakan betul dukanya karena memakai narkoba, atau mendengar cerita mengerikan karena hampir mati saat sakau karena narkoba. Langsung dari pakarnya!

Saya berani jamin 100 persen bahkan 1000 persen akan ada efek menakjubkan dari dihadirkannya si pakar masalah tersebut. Para peserta penyuluhan akan merasa mendapatkan apa yang dinamakan “The Power of Problem”. Bukan hanya sekadar teori atau seperti membaca sebuah rumusan masalah dalam sebuah penelitian.

Saya juga berpendapat bahwa ini adalah salah satu strategi brilian. Para siswa tentu bukan hanya sekadar mendengar bahaya narkoba itu sebagai teori, tapi praktik—dari sebuah pengalaman yang mengerikan, real.

***

Di tempat-tempat dilakukannya sosialisasi dan penyuluhan tentulah terdapat seorang atau lebih narasumber. Para profesor yang ahli di bidangnya banyak didatangkan, kepala polisi yang paling berpengaruh diundang, Guru-Guru besar dari Universitas-Universitas ternama dijadikan pembicara, hanya untuk mengefektifkan yang namanya supaya tak terkena masalah untuk warga masyarakat tercinta, warga Indonesia.

“Wow, ini seperti sebuah pembuatan iklim baru yang hanya bikin sesak napas!” kata seorang napi.

“Aah, teori!” itu yang sering kita dengar dari mulut para pelajar, atau anak kita sendiri.

Di instansi-instansi kesehatan, gencar dilakukan sosialisasi kesehatan, contoh misal sosialisasi bahaya penyakit AIDS, atau penanggulangan dan pencegahan bahaya kehamilan di usia muda.

Saya lihat beberapa bulan sekali di Balai desa dan di Puskesmas diadakan kegiatan Penyuluhan “Bahaya Penyakit Aids dan Pencegahannya”. Penyuluhan dilakukan oleh para Kader Posyandu, Kepala Puskesmas atau oleh Bidan desa. Tentu mereka kompeten, siapa yang bilang tidak? Namun, lagi, ini kok terdengar biasa, kayak TEORI.

Saya yakin bukan orang sembarangan yang dihadirkan sebagai narasumber di sana—maksudnya dalam kegiatan sosialisasi atau penyuluhan tersebut. Tentulah mereka adalah pakar-pakar di bidangnya, kaya profesor, Dokter kawakan, atau Pak Polisi dengan pangkat tinggi. Yakin pake banget kalo mereka sangat mumpuni dan berpengaruh.

Namun, kita seperti sudah lelah, penyakit AIDS—yang menyerang kekebalan tubuh ini seperti tidak pernah putus menghinggapi tubuh para generasi muda. Seperti dilaporkan pada akhir Februari lalu, sebanyak 399 warga Bandung Barat positif mengidap HIV/AIDS.

Sekali lagi, di kegiatan-kegiatan penyuluhan kita harus menghadirkan pelaku atau pengidap penyakit HIV/AIDS.

Penuturan dari orang yang terkena AIDS tentu akan memberikan pelajaran bermakna kepada seluruh peserta sosialisasi tentang bahaya AIDS. Mereka akan mendapatkan gambaran yang mengerikan langsung dari orang yang sedang mengalami kepahitan hidup tersebut. Penuturan dari orang yang benar-benar sakit melawan kesakitan dirinya.

Bukankah ini kejutan, para siswa dan warga masyarakat menjadi lebih aware. Dan, bukankah ini tak-tik jitu dari sebuah pengejawantahan atas apa yang dinamakan pendidikan realita.

Dan, lagi, kemarin kita dihebohkan dengan berita melalui sebuah akun TikTok, ada seorang mahasiswi mengaku ketidaksiapan dirinya menjadi seorang ibu. Pacarnya ternyata memutuskan meninggalkannya setelah dirinya mengaku hamil. 

Sejumlah warganet ingin mengadopsi anak yang ia kandung. Walau sekarang ia memutuskan akan merawat anaknya kelak, anak yang ternyata kembar, mahasiswi semester 3 ini benar-benar kalut karena mesti ada yang ia pertaruhkan, yaitu masa depannya.

Segala beban berat, konsekuensi atas apa yang telah diputuskannya, membuat aib orang tua, masa depan yang yang tentu tidak lagi gemilang—inilah yang akan dijadikan pelajaran bagi para remaja putri untuk tidak melakukan seks bebas, dan, tidak hamil di usia dini.

Lalu apa untungnya yang didapat dari “Sang pelaku” tersebut? Aibnya terbongkar? Tentu tidak.

Silakan cek, orang bersalah pasti ingin menebus kesalahannya. Betapa senang hatinya misal dia mampu membawa orang lain ke jalan yang benar. Terbayar sudah rasa atas kesalahannya. Luar biasa tersenyum pasti hatinya.

Bukan untuk melukai perasaannya, atau menambah parah sakitnya, tapi bisa jadi malah memperpanjang umurnya, membuat lega hati dan jiwanya.

Memengaruhi banyak orang untuk hidup secara baik, tentu ini akan meringankan pikiran “Sang pelaku” dan mendapatkan kesempatan berbuat baik sampai akhir hayatnya.