Peneliti
2 tahun lalu · 185 view · 3 menit baca · Politik 49138.jpg
http://thenewbantaeng.com

Saatnya Merujuk Bantaeng Bersama Nurdin Abdullah

Dahulu, Bantaeng sepi pembicaraan. Wilayah pesisir bagian selatan Provinsi Sulawesi Selatan ini hanyalah daerah kecil dibanding Kabupaten Bulukumba yang telah lama tenar dengan pantai Bira yang berpasir putih dan tradisi perahu Phinisi yang melegenda.

Bantaeng memiliki luas wilayah 396 km2 atau hanya sekira 0,86 % dari keseluruhan wilayah Provinsi. Luas tersebut adalah yang terendah diantara seluruh wilayah kabupaten di provinsi Sulsel, nyaris tak ada apapun yang bisa dibanggakan selain hijau hutannya, anggunnya bukit Kindang dan air Ere Merasa, kolam renang alami yang berair bening. Dulu, Bantaeng hanyalah sebuah wilayah geografis yang harus dilalui saat hendak ke Bulukumba atau berniat menyeberang ke kepulaun Selayar.

Terobosan Nurdin Abdullah

Kini, Bantaeng jadi perbincangan, menggiring kita untuk membangun opini bahwa jika di Bandung ada Ridwan Kamil, di Surabaya ada Bu Risma, di Jakarta ada Ahok, maka di Bantaeng pun ada Nurdin Abdullah. Semua tentang Bantaeng adalah kebersihan, jalanan beton yang mulus, pelayanan yang menyentuh ke pelosok, birokrasi yang simpel, pantai Marina yang anggun dan pantai Seruni yang ramah dan ramai dan tentu saja sosok sang Professor Nurdin Abdullah.

Warga Bantaeng yang sakit cukup telepon 113, tim medis akan segera datang. Warga yang sakit akan didatangi ambulance, dokter dan perawat, tanpa perlu kuatir lagi dengan pembayaran. Bahkan, jika dianggap gawat, pasien akan ditangani oleh Bantaeng Siaga Bencana (BSB) merujuk pasien ke RSUD jika butuh penanganan serius, maka pasien akan dirujuk ke RS Makassar.

Orinetasi pelayanan, begitulah Nurdin Abdullah menunjukkan komitmennya dalam membangun daerah. Kebutuhan dasar pelayanan kesehatan dengan membentuk BSB, membawa Bantaeng ditunjuk oleh Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara mewakili Indonesia masuk dalam nominator United Nations Public Service Award, yang dibawahi PBB dan berkantor di New York tahun 2014. Sebuah bukti yang menunjukkan bagaimana Pemda Bantaeng mendekati warga dengan pelayanan optimal.

Pada bidang industri, Bantaeng Industrial Park (BIP) diperkirakan akan menarik investasi sebesar 55 triliun. Pemkab menargetkan BIP menjadi kawasan industri mineral yang terintergrasi dan terbesar di Sulsel.

Bantaeng di era Nurdin Abdullah juga membuat 10 terobosan di bidang pertanian. Terobosan itu membawa dampak signifikan dalam peningkatan kesejahteraan petani dan peningkatan mutu hasil pertanian. Terobosan itu mencakup benih berbasis teknologi, sistem tanam legowo, kawasan agrowisata, Bumdes, industri pengolahan hasil pertanian, inseminasi sapi, pemanfaatan limbah jadi biogas dan pakan, penangkaran talas dan budidaya durian tanpa bau dan musim. Terobosan yang dilakukan Nurdin Abdullah telah membawanya menerima sejumlah penghargaan. Salah satunya Piagam Penghargaan yang diraihnya adalah Agro Inovasi 2009, Kategori Agro Inovasi Peningkatan Adopsi Teknologi oleh Pemerintah Indonesia.

Setidaknya sejumlah 76 penghargaan yang telah diterima Bupati Bantaeng, yang lima diantaranya adalah untuk kategori inovatif di berbagai bidang. Yang paling sensasional adalah penghargaan sebagai peringkat satu Nasional kategori kabupaten sehat tahun 2011. Media Bisnis Indonesia bahkan memuat ulasan khusus untuk keberhasilan Bantaeng menjadi kabupaten fenomenal yang mampu meyakinkan para investor.

Di bidang pendidikan, Bantaeng juga melakukan terobosan program “Bantaeng smart learning” sebuah model pembelajaran abad 21, yang merupakan bagian dari solusi pemerintah daerah dalam melakukan pemerataan akses pendidikan. Program yang menggandeng pihak Quipper ini selain untuk membantu memaksimalkan belajar siswa, Bantaeng Smart Learning juga memberikan kesempatan pelatihan bagi para 100 guru yang beruntung untuk menjadi agent of change di era digital saat ini. Para guru yang terpilih akan mendapatkan pelatihan dari Quipper School . Program ini juga diharapkan dapat menekan angka putus sekolah di Kabupaten Bantaeng.

Saatnya merujuk Bantaeng

Bukan perkara mudah untuk meyakinkan para investor, sebab hal-hal mendasar terkait dukungan infrastruktur mutlak menjadi pertimbangan. Hal penting lainnya adalah dukungan nonteknis dan faktor keamanan. Artinya, Bantaeng tidak hanya menjanjikan potensi pengembangan usaha dan segala keuntungannya, namun menghadirkan pelayanan optimal kepada warga dengan memenuhi aspek dasar: pelayanan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, adalah terobosan yang patut dirujuk.

Selama dua periode menjabat bupati, Nurdin Abdullah telah mengangkat derajat sebuah daerah kabupaten yang selama ini identik dengan definisi inferior. Jauh dari hingar bingar ibukota Negara, namun Bantaeng menunjukkan keseriusannya dalam membangun daerahnya. Sepuluh tahun tentu belum cukup untuk memperbaiki semua aspek, namun meletakkan paradigma pembangunan dengan orientasi pelayanan telah menghadirkan mindset baru tentang memungkinkannya sebuah daerah membangun dengan prinsip swakelola.

Kenyataan ini dan segala terobosan yang telah dilakukan oleh Nurdin Abdullah di Bantaeng membuka cakrawala baru kita, bahwa untuk membangun daerah, meningkatkan kesejahteraan, dan mendekatkan pelayanan kepada warga, bisa diwujudkan dengan segala potensi yang kita miliki. Indonesia yang kaya dengan sumber daya alamnya hanya perlu dikelola dengan baik, mengoptimalkan potensi, serta yang paling utama adalah menempatkan warga sebagai subyek pembangunan.

Jika kemarin para pejabat daerah rajin melakukan kunjungan kerja ke Jawa dan Bali, bahkan hingga ke luar negeri demi membawa pulang konsep pembangunan, namun implementasinya masih sering mengawang-awang, kini Bantaeng bisa dijadikan rekomendasi yang tepat untuk belajar menjadi pelayan rakyat dan bagaimana mengoptimalkan potensi daerah.

Kini, tak perlu jauh-jauh jika hanya ingin belajar bagaimana membangun daerah. Kini, saatnya merujuk Bantaeng.

Sumber:

http://sulsel.bps.go.id

http://thenewbantaeng.com

http://www.kemenperin.go.id

http://koran.bisnis.com

https://bantaengkab.go.id


Artikel Terkait