Siapa di sini yang  tidak tahu kartun Spongebob? Kartun ini hampir-hampir dikenal semua orang. Saya sendiri menikmati kartun ini sewaktu saya kecil dulu. Hampir setiap hari saya ingin menontonnya dan selalu siap menunggu jam tayangnya.

Belakangan, beberapa tulisan tentang kartun ini sangat membuka pikiran saya. Ternyata, selain menghibur, kartun ini mengandung filsafat atau juga gambaran terhadap realitas tertentu. Ini memberikan saya alasan untuk bisa menontonnya dan menangkis kegelisahan Ibu saya ketika saya masih menonton kartun ini. Terima kasih, bung.              

Untuk itu, saya juga ingin menyingkap satu hal penting dari kartun ini. Hal tersebut adalah soal tipe-tipe pendengar. Saya memperoleh ide tulisan ini dari satu sesi mata kuliah diplomasi di HI. Selain itu, saya juga mengajukan ide ini karena beberapa hari lalu kata "mendengarkan" itu menjadi isu panas. Isu ini panas karena satu masalah utama, yaitu tidak didengarkan.

Sebenarnya masalah ini bisa dihindari dengan beberapa cara. Salah satunya itu memahami tipe-tipe pendengar. Ini membuat kita menjadi lebih mudah memosisikan diri terhadap orang yang ingin kita ajak bicara. Strategi untuk menyampaikan apa yang ingin kita bilang pun bisa disesuaikan. Contoh, kalau tidak didengar, hantam saja bos coba beritahu baik-baik sekali lagi. Siapa tahu bisa. dipukul

Mengetahui tipe-tipe pendengar ini sebetulnya tidak perlu jauh-jauh. Cukup nonton Spongebob saja. Cukup memahami dengan baik beberapa karakter di kartun tersebut. Oleh karena itu, tulisan saya ini bertujuan untuk mengajak setiap pembaca untuk berburu ubur-ubur ingatan dan melihat lebih dalam terkait beberapa tipe pendengar dari kartun Spongebob.      

1. Patrick             

Patrick dalam film kartun Spongebob digambarkan sebagai teman dekat Spongebob. Ia sering digambarkan bodoh, tetapi baru-baru ini secara pseudo-filosofis telah dibuktikan ia mempunyai selera filsafat yang bagus. Akan tetapi, kalau diperhatikan baik-baik, sebagai pendengar, Patrick adalah tipe pendengar yang masuk telinga kiri keluar telinga kiri.

Iya, sama sekali tidak ada yang masuk dalam kepalanya. Perhatikan saja baik-baik, kadang Patrick sulit sekali mendengarkan instruksi atau bahkan memberi tanggapan yang sama sekali tidak tepat untuk keluh kesah temannya Spongebob. Atau ketika dimarahi oleh Squidword dan sama sekali tidak peduli dengan perkatannya.

Sikap mendengarkan Patrick ini sebenarnya bisa ditemui di banyak tempat. Akan lebih menjengkelkan ketika itu terjadi pada orang yang lebih berkuasa. Mirip-mirip kasus DPR-lah. Sudah diteriaki sana-sini masih lanjut teroos. 

Hanya untuk saya, Patrick sedikit lebih etis. Setidaknya, ketika ia tidak ingin mendengarkan, ia tidak pernah mematikan mic lawan bicaranya. Oops....

Bagaimana menghadapi tipe pendengar seperti Patrick ini? Sulit sebenarnya menjawab ini. Apalagi Patrick punya pemikiran alternatif yang sulit diterka. Satu-satunya jalan mungkin adalah tidak membiarkan Patrick menjadi tempat keluh kesah. Apalagi kursi kekuasaan.

2. Squidward     

Lain halnya dengan Patrick, Squidward adalah karakter kartun Spongebob yang digambarkan sebagai sosok yang muak dengan banyak hal yang dilakukan Spongebob. Squidward juga merupakan orang yang sinikal dan punya berbagai macam pikiran negatif. Ini membuat cara mendengarkan Squidward itu terlalu kritis. Ia sulit diyakinkan dan hanya percaya dengan apa yang ada di kepalanya.

Hasil dari sikapnya ini membuatnya sulit sekali untuk berdiskusi dengan orang lain. Ini membuatnya selalu merasa besar dalam kepalanya sendiri. Ia juga kehilangan momen untuk memahami orang lain dan pada akhirnya asik dengan dunianya sendiri.

Pada titik ini, sebenarnya sikap mendengarkan Squidward tidak buruk-buruk amat. Loh kok bisa? Iya bisa. Apalagi kalau dipakai dalam mengkritisi pemerintah. Sikap terlalu kritis bisa membuat kita jadi kebal terhadap janji manis, buzzer-buzzer sewaan, dan juga omong kosong para politisi.

Soalnya, selama ini, dalam banyak konteks, sikap ultra-kritis ini datang dari pemerintah (baca Luhut dkk). Sesekali rakyat perlu menjadi ultra-kritis terhadap pemerintah. Ini supaya yang jadi oposisi abadi pemerintah itu rakyat, bukan partai politik.

3. Plankton

Plankton adalah tokoh yang memiliki ukuran yang paling mungil di antara tokoh lainnya dalam kartun Spongebob. Ia sering digambarkan sebagai pribadi yang serakah dan punya banyak rencana jahat. Akan tetapi, dalam hal mendengarkan, sebenarnya plankton merupakan karakter yang paling taktis.

Plankton memahami kondisi dan selalu punya tujuan dalam mendengarkan. Berbeda dengan Spongebob yang ingin mendengarkan sebanyak-banyaknya, Plankton selalu memasang telinga pada hal-hal yang ingin dia dengar saja (resep krabby patty misalnya). Sebab itu, fokus menjadi kekuatan mendengarkan plankton.

Selain punya sisi positif nan taktis, sikap mendengar seperti ini sebenarnya berbahaya. Loh kok bisa? Iyalah bisa. Bayangkan ketika orang berbicara berbusa-busa dan yang ia ingin dengarkan adalah kesalahan, kebodohan, dan juga kemarahanmu? 

Apa masalahnya? Sederhana saja, kita akan malah disalahkan dan dituduh anarkis. Serius? Serius. Coba tanya Najwa Shihab atau demonstran yang keluh kesahnya itu hanya dianggap kemarahan belaka. Sakit? Iya sakit, tapi tidak sesakit ketika dikibuli pengesahan undang-undang sih.

Sampai di titik ini, pertanyaan mungkin bisa diajukan, DPR itu itu tipe pendengar seperti apa. Ini sulit dijawab. Karena makhluk bernama DPR itu tidak pernah punya definisi tunggal. Untuk itu, perlu ada suatu usaha teorisasi yang rumit sebenarnya.

Tapi, itu tidak perlu. Ada satu momen di Spongebob yang bisa menjawabnya dengan sederhana. Serius? Bagaimana? Ingat satu momen ketika teknologi Sandy secara celaka (cilaka) menyatukan banyak karakter Spongebob dalam satu tubuh? Nah, secara analogis, DPR semacam makhluk itu. Cuma bedanya, makhluk di Spongebob itu tidak punya kursi. DPR punya dan dia bisa tutup telinga.