Pagi itu di pertengahan bulan Desember 2020, saat saya memasuki area office tampak ada yang berbeda. Suasana kala itu tampak sedikit ricuh, bukan karena ada pertengkaran tetapi karena bonus akhir tahun sudah cair. Di tengah kericuhan, pandangan saya justru tertuju pada rekan wanita yang sedari tadi sibuk dengan gadgetnya. Terlihat dirinya seperti memisahkan diri dari yang lain seakan tak acuh dengan “kericuhan” yang terjadi.

Saya pun berinisiatif menghampiri dan bertanya kepadanya perihal rencana penggunaan uang bonus. Lantas dengan nada yang terdengar agak kesal dia menjawab “boro-boro, bentar lagi adek gue mesti bayar semesteran.”

Tak puas dengan jawabannya, saya pun kembali bertanya “oh, kamu yang biayai kuliah?” Dengan ekspresi yang terlihat seperti tidak bersemangat, dia pun mengiyakan. Dia menambahkan bahwa dirinya merupakan anak pertama. Selain itu, orang tuanya kini sudah tak lagi bekerja. Sehingga, dialah tulang punggung bagi keluarganya sekarang. Dan, tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi.

***

Cerita di atas mungkin tidak hanya dialami oleh rekan kerja saya. Mungkin, banyak juga orang di sekitar kita yang berada diposisi tersebut, atau bahkan kamu salah satunya. Mereka harus memikul tanggung jawab ganda secara finansial. Mereka tidak hanya harus menanggung biaya hidup orang tua, tetapi juga orang di bawah mereka, seperti anak ataupun saudara kandung. Ya, mereka dengan kondisi finansial seperti itu dikenal dengan istilah generasi sandwich atau disebut juga generasi roti lapis.

Sayangnya, fenomena generasi sandwich lebih terkesan seperti sebuah tradisi. Hal ini bukan tanpa alasan, karena nyatanya generasi sandwich yang ada saat ini merupakan turunan dari generasi sandwich di masa sebelumnya. Agak miris memang, sesuatu hal yang seharusnya bisa dihindari justru menjadi sebuah keharusan bahkan kewajiban yang harus dijalani. Sehingga, praktiknya dilakukan secara kontinu dengan kurun waktu yang lama.

Fenomena generasi sandwich muncul karena ada beragam faktor yang menyertainya. Memang, faktor terbesar penyumbang terjadinya generasi sandwich adalah kondisi perekonomian keluarga. Sehingga, banyak praktisi keuangan mengajak masyarakat untuk berinvestasi serta memberikan tips dalam mengelola keuangan dengan baik. Namun ketika ditelaah lebih dalam, saya melihat ada peran budaya yang juga memicu munculnya fenomena ini.

Masyarakat kita masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur, salah satunya dalam hal memuliakan orang tua. Setiap anak bertanggung jawab untuk merawat dan mengurus orang tuanya sebagai wujud bakti anak terhadap orang tua. Sehingga, ketika anak sudah dewasa dan bekerja, anak akan membantu orang tua dengan menanggung biaya hidup mereka.

Sebenarnya tidak ada yang salah dalam hal berbakti kepada orang tua, justru ini adalah perilaku yang baik. Hanya saja, dengan adanya kewajiban membiayai hidup orang tua, mendorong para orang tua saat ini menjadi tidak bijak dalam mengelola keuangan. Sehingga, mereka hanya memprioritaskan pengeluaran saat ini dan mengabaikan dana simpanan untuk hari tua mereka. Tak sedikit dari mereka juga beranggapan bahwa ketika mereka sudah tidak bekerja, anaklah yang akan bekerja untuk mereka. Alhasil, mereka akan menggantungkan hari tua mereka kepada anaknya.

Saya pun teringat pada sebuah ungkapan beberapa tahun silam. Ungkapan dari kerabat dekat yang merupakan sepupu perempuan ibu saya. Dia berkata pada saya, “anak itu disekolahin tinggi biar sukses, dapat kerjaan enak. Kalau udah sukses, gantian dah urusin orang tuanya, sekolahin adek-adeknya.” Hal itu ia ungkapkan bukan tanpa dasar. Pasalnya, dirinya beserta adik-adiknya yang lain dapat mengenyam pendidikan karena adanya kontribusi besar dari sang kakak.

Mendengar kalimat tersebut membuat saya berpikir berulang kali. Sebenarnya apa tujuan para orang tua memberikan pendidikan tinggi? Apakah benar karena ingin anaknya sukses atau karena ingin mengalihkan tanggung jawab? Bukankah sudah menjadi tanggung jawab orang tua, untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya sesuai dengan kemampuan finansialnya? Lantas, mengapa masih ada saja orang tua yang tidak adil dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka? 

Pasalnya, saya masih menemukan orang tua memberikan pendidikan tinggi hanya kepada salah satu anaknya. Hal itu dilakukan dengan harapan ketika si anak sudah mendapatkan pekerjaan, anak tersebut dapat menanggung biaya sekolah adik-adiknya yang lain.

Sepertinya pola pikir seperti itu memang sudah harus diubah. Entah siapa pencetus pemikiran dan tanggapan seperti itu. Namun yang pasti, mengalihkan tanggung jawab orang tua kepada anak dengan alasan kondisi ekonomi, bukanlah hal yang tepat. Sudah seharusnya generasi sandwich pada masa ini mengambil pelajaran dari generasi sebelumnya agar dapat memutus rantai “tradisi” sandwich.

Seyogianya, generasi saat ini dapat bersikap bijak dalam mengelola keuangan. Sehingga mereka bisa memberikan kesetaraan dalam hal pendidikan kepada anak-anak mereka nantinya. Mulailah berinvestasi untuk simpanan hari tua. Sehingga, diharapkan generasi selanjutnya semakin berkurang atau bahkan tidak ada lagi generasi sandwich di masa yang akan datang. Ingatlah selalu bahwa anak merupakan tanggung jawab Anda bukan jaminan hari tua Anda.