“Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudra...
...Pemuda b’rani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai.”

Pertengahan tahun ini terasa banyak menghadirkan kesan. Mulai dari ribut politik yang tak kunjung ketemu tanda titik, harga tiket pesawat yang tak kenal kompromi, hingga jatah THR yang tak juga dikirimi. Syukur saja, tanah rantau tempatku ngampus, menjajakan beragam objek wisata berlebaran dan berliburan.

Di sudut dinding kamar, tanggal merah hari ke dua Idul Fitri sudah dilingkari. Pantai menjadi satu-satunya destinasi pilihanku untuk disambangi. Niatan awal, hanya sekedar rekreasi menghibur diri. Tapi nahas, tiba di lokasi, yang didapat justru “jauh panggang dari api”.

Selain karena isi dompet sepi penghuni, ternyata, kondisi pantai yang ku pilih berdasarkan like ribuan netizen itu, tidak seperti aslinya. Gulungan ombak tidak bergairah akibat bejibunnya berbagai wujud sampah. Aku sendiri tak tau, dari mana asal-usul mereka.

Secara ekonomis, retribusi masuk terbilang murah untuk takaran mahasiswa. Namun secara ekologis, biaya perawatannya tentu sangat mahal, bahkan untuk ukuran negara sekali pun. Berniat mewakili pelaku pembuang sampah itu, momen lebaran pun kujadikan ajang silaturahmi sekaligus bermaaf-maafan dengan pantai.

Belum juga diketahui, apakah pantai telah menerima permohonan maafku? Penggalan lirik lagu kepunyaan Saridjah Niung (1908-1993) di atas, terdengar sumbang menghampiri. Sumber suara tidak jauh, hanya beberapa meter dari sisi kiri tempatku berdiri.

Terlihat seorang ibu bersorak-sorai menuntun dua orang anaknya, menyanyikan lagu yang populer tahun 40-an tersebut. Kesal bukan kepalang, mendengar penggalan lirik lagu yang tak pernah kukenal siapa empunya-nya itu.

Ditambah lagi, aku tak ingat betul, pernah atau tidak, diajarkan cara mencintai laut menggunakan metode seperti demikian. Ya, dengan menyanyikan lagu anak-anak yang sarat akan makna. Meskipun harus diakui, lagu begituan, sudah tidak mendapat tempat di telinga orang dewasa.

Kesal hanyalah sebatas kesal. Bukan berarti, insiden yang baru terjadi un-faedah sama sekali. Bait demi bait besutan perempuan Sukabumi tersebut, bagaimanapun juga, telah banyak mengilhami pencaritahuanku seputar laut dan berbagai macam  persoalannya. Gawai pintar kepunyaanku saksinya.

Sebagaimana diinformasikan, Kemenko bidang maritim menyebut luas daratan dan perairan NKRI mencapai 8,3 juta km2. Wilayah perairan sendiri terdiri dari: laut teritorial dengan luas 290 ribu; garis pantai 108 ribu; perairan pedalaman dan kepulauan 3,1 juta; dan Zona Ekonomi Eksklusif 3 juta km2 (Katadata).

Pada saat bersamaan, negara berpenduduk seperempat miliar lebih ini, tampaknya, akrab dengan budaya membuang sampah sembarangan (red: ke laut). Tanpa tedeng aling-aling, ada 9 juta ton sampah mencemari lautan kita setiap tahunnya.

Secara terpisah, INAPLAS dan BPS menambahkan, sampah dari material plastik turut menyumbang 3,2 juta ton di dalamnya. Wajar, bila Indonesia disebut-sebut sebagai penyumbang sampah laut terbesar ke dua di dunia. Biodiversitas laut kita tengah dihadapkan dengan ancaman serius.

Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, juga menyayangkan sederet catatan buruk tersebut. Dampaknya, kerugian yang harus ditanggung berkisar 1,2 miliar dolar. Sektor kelautan hanya mampu menyumbang 30 persen pendapatan nasional. Lebih kecil dibandingkan Jepang, Korea Selatan, atau Vietnam (Detik).

Memang benar, ciri negara maju dapat ditentukan dengan seberapa besaran volume sampah yang dihasilkan. Akan tetapi, tidak berhenti sampai di situ saja. Status negara maju juga harus diimbangi dengan sistem pengelolaan sampah dengan baik dan benar.

Lagu Ibu Soed, tentang legenda dan kejayaan laut kita, rupa-rupanya,  tidak benar-benar merepresentasikan situasi dan kondisi laut yang ada sekarang ini. Ungkapan seperti, “laut adalah masa depan,” agaknya akan dapat diterima manakala ia dianggap sebagai sebatas slogan belaka.

Rada bimbang atas apa yang Google sodorkan, penelusuran lebih lanjut tetap aku upayakan. Sembari berbisik, --Imam Bukhari pernah merawikan hadits: Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia menurunkan penawarnya-- berbagai keyword pun diketikan. Tak ada masalah yang tak memiliki solusi, tegasku.

Praduga itu benar adanya, sekonyong-konyong muncul sebuah link, berisikan, "pembuatan kertas menggunakan rumput laut." Bahan dasar kertas harusnya tidak lagi bersumber dari hutan, melainkan dari lautan. Lagi-lagi, “terkejut Abang terheran-heran, sebab Abang belom pernah melihatnya. Sayur kol 2x...”

Tentu, terlalu dini untuk mengeklaim bahwa itu merupakan satu-satunya solusi yang solutif bagi laut beserta problematikanya. Akan tetapi, bila dikaji lebih jauh, pilihan ini tidak kalah selektif ketimbang cara lain. Laut kita, masih butuh sentuhan tangan berbagai pihak. Tak terkecuali, industri pulp dan kertas.

Sudah bukan rahasia lagi, indsutri kertas, di daratan, kerap direcoki kampanye negatif. Terkhusus, menyangkut isu lingkungan. Formula kertas menggunakan rumput laut, hadir bak kata pepatah, “Sekali kayuh, dua pulau terlampaui.” Memenuhi kebutuhan kertas tanpa harus menebang pohon (hutan/tanaman).

Rumput laut sebagai salah satu komoditas di bidang kelautan, akan berdampak positif terhadap berbagai aspek. Mulai dari ekonomi, sosial, bahkan hingga budaya. Silakan, gunakan ponsel Anda untuk mencari tahu perihal kebenarannya.

Asumsi tersebut didukung dengan kondisi geografis Indonesia yang dianugrahi kawasan potensi indikatif untuk keperluan budidaya laut. Tidak tanggung-tanggung, luasnya bahkan lebih dari 12 juta hektar. Sialnya, cuma 2,25 persen saja yang berhasil diberdayagunakan.

Padahal, keberadaan rumput laut itu sendiri, memiliki potensi yang relatif besar bagi keberlanjutan industri kertas. Sebagai perbandingan, untuk menghasilkan 1 ton kertas diperlukan sedikitnya 20 batang pohon dewasa.

Lebih dari 300 ribu hektar hutan digundul setiap tahunnya guna memenuhi kebutuhan produksi kertas yang telah mencapai 16 juta ton. Sementara itu, rumput laut punya daya tawar berbeda. 1 hektar lahannya diperkirakan dapat menghasilkan 3-5 ton untuk keperluan yang serupa, pembuatan kertas.

Keunggulan tanaman ini juga semakin kentara jika ditinjau dari segi limit waktu. Apabila penggunaan pohon memakan durasi tunggu sekurang-kurangnya 5 tahun, maka tidak sama halnya dengan rumput laut, yang hanya butuh paling lambat 70 hari untuk dapat dipanen.

Tidak dapat tidak, budidaya jenis ganggang ini, pada waktunya, akan membuka lapangan pekerjaan baru. Sejurus itu, rutinitas pertanian di kawasan laut, dengan sendirinya, akan membentuk budaya peduli lingkungan. Semakin sering mengunjungi laut, semakin besar pula perhatian terhadapnya.

Beban kerja 10 ribu komunitas peduli kebersihan pantai kita (saat ini  tersebar di 24 provinsi), pun akan ikut terbantukan.

Akhirnya, penelusuran seputar laut, hutan, dan kertas, kusudahi dengan mangguk-mangguk. Sambil cingak-cinguk menyorot bibir pantai, aku optimis, formula You Hack-Churl, pemuda paruh baya asal Korea Selatan itu, mampu menjawab 3 persoalan Indonesia yang disebut barusan, sekaligus.

Hanya saja, meskipun perjalanannya telah dimulai sejak 2004 silam dan sudah dipatenkan di 44 negara (termasuk Indonesia), nampaknya, memang harus tetap sabar menunggu, sedikit lebih lama, lagi. Sebagaimana kulakukan pada inovasi kertas berbahan dasar serat ganja, tandan sawit, atau kotoran hewan, masih menunggu.

Sekarang, yang terpenting adalah, mengimbangi atau bahkan mengganti foto (pantai) yang di sosmed tadi. Selain sudah usang, foto itu juga tidak tepat dalam menampilkan realita sebenarnya. Percis seperti lagu Ibu Soed yang melegenda itu, sesalku.

Sial betul! Belum juga sempat berselfi ria bersama kawanan sampah, ombak datang dan menyapuku dengan tiba-tiba. Jatuh dengan posisi tersungkur, membuat badan dan barang bawaan kuyup semua. Walhasil, aku pun terjaga dari tidur, karenanya.

Sadar semua hanya mimpi, dengan komat-kamit aku berucap, “begitulah kiranya, tidak ada solusi yang benar-benar (mau) direalisasikan. Demikian pula dengan persoalan kertas. Solusinya ada tapi, masih sebatas mimpi”.