1 bulan lalu · 32 view · 4 min baca menit baca · Lingkungan 92281_13727.jpg

Saatnya Kita Membalas Cinta Alam

Apa yang telah kita berikan untuk Alam? Seberapa banyak kasih sayang yang alam berikan kepada kita? Alam telah memberikan semua yang kita butuhkan, lalu bagaimana cara kita membalasnya? Tegakah kita untuk terus merusaknya? Menguras segalanya tanpa rasa sesal?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak akan luput dari penggunaan plastik dan kertas. Mereka sering kali kita jumpai bahkan digunakan untuk kegiatan Sekolah, Pekerjaan bahkan Penjual gorengan sekalipun menggunakannya. Hal tersebut berarti, kita berperan penuh terhadap sumbangsih plastik dan kertas terhadap alam.

Berbicara tentang plastik dan kertas, manakah yang lebih baik untuk lingkungan? Hal ini selalu muncul pro dan kontra di kalangan masyarakat. Banyak yang beranggapan bahwa kertas lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik. 

Kemudian pemerintah hingga masyarakat berbondong-bondong melakukan sosialisasi agar mengganti penggunaan plastik dengan kertas. Tak ada yang salah dengan pemahaman seperti itu, hanya menurut saya ini dianggap kurang tepat. 

Mengapa demikian? Jika kita ulik lebih dalam lagi, bahan baku utama untuk pembuatan kertas adalah kayu yang diperoleh dari pohon. Di mana untuk pembuatan sebanyak 1 rim kertas memerlukan 1 pohon yang berumur 5 tahun. 

Coba bayangkan, berapa banyak pohon yang akan ditebang nantinya? Berapa banyak oksigen yang akan hilang? Serta tidak akan ada tempat penampungan air hujan, ketika pohon tersebut ditebang namun tidak ditanam kembali. 

Lantas bagaimana nasib pohon-pohon tersebut bila terus ditebang? Hal ini dapat memicu kebakaran hutan yang akan berdampak hilangnya habitat hewan yang tinggal di dalam hutan tersebut.


Kemudian plastik, meskipun tidak membutuhkan banyak macam bahan untuk membuatnya. Namun plastik akan memiliki sifat yang sulit sekali terurai, dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk hancur. Akan aman jika manusia membuang sampah pada tempatnya, memisahkan mana yang terdiri dari bahan organik maupun anorganik. 

Lain halnya jika manusia membuang sampah plastik tersebut ke dalam sungai maupun laut. Di mana akan terjadi pencermaran bahkan mengakibatkan bencana, yang merugikan manusia itu sendiri. Jadi mana yang lebih baik? Plastik atau kertas? Atau bahkan tidak keduanya?

Akhir-akhir ini sedang marak wacana tentang "Paperless Society" atau yang biasa dikenal masyarakat non kertas. Mengenai hal ini, sejatinya manusia tidak akan bisa terpisah dengan kertas. 

Karena ada beberapa hal yang tidak bisa digantikan dengan sistem digital. Seperti Buku Nikah, Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, Sertifikat Tanah dan sebagainya. Alih-alih sebagai perwujudan Revolusi Industri 4.0, yang semuanya dilakukan secara digital. Namun sarana dan prasarana diberbagai daerah tidak merata. 

Lantas bagaimana masyarakat bisa menguasai atau menghadapi era dirupsi saat ini? Memang di beberapa perusahaan atau instansi sudah memberlakukan sistem digital dalam proses pekerjaannya, dimulai dari laporan, surat-menyurat, data perusahaan, dan lainnya. Yang kemudia disimpan di komputer atau flashdisk sebagai media penyimpanan. 

Namun sistem digital seringkali mengalami kendala, seperti kehilangan data yang tidak sengaja terhapus, atau kehilangan benda yang menjadi tempat penyimpanan data.

Dulu, ketika Sekolah Menengah Pertama. Saya pernah diberi tugas menjadi salah satu duta Go Green Sekolah perwakilan tugas. Selain berkebun di halaman sekolah, kami juga mendapatkan tugas untuk mensosialisasikan mengenai program mengurangi sampah plastik. 

Yang sedikit demi sedikit direalisasikan dengan kegiatan "Rabu tanpa Plastik". Yang artinya, di mana ketika hari Rabu Para murid dan guru dilarang memakai plastik ketika jajan di kantin sekolah maupun di luar. 

Oleh karena itu, ketika hari rabu tiba, kami semua sudah membawa tempat makan dari Rumah. Selain mengurangi sampah plastik hal tersebut juga senantiasa membiasakan kita untuk menjalani pola hidup sehat. Inti dari kegiatan tersebut merupakan salah satu cara untuk mencintai alam, ia ingin dimanja, ingin disayangi, serta ingin dipelihara. Karena saat kita memberi itu semua, alam pun akan memberikan cintanya kepada kita.

Tak ada yang lebih baik antara plastik dan kertas. Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, namun kita dapat berupaya untuk mengurangi dampak dari kekurangannya tersebut. 


Misalnya, untuk penggunaan plastik sedikit dikurangi dan diganti dengan menggunakan tempat yang dapat dipakai beberapa kali, contohnya tempat makan. Cara lain, dengan mendaur ulang sampah tersebut agar dapat dipakai.

Kemudian untuk penggunaan kertas, jika produksi kertas dikurangi maka akan timbulnya penurunan pendapatan negara. Industri pulp dan kertas berperan besar terhadap pendapatan negara, dikarenakan Indonesia menjadi salah satu negara pengekspor kertas di dunia. Lalu bagaimana mengatasinya? 

Nah untuk produksi kertas, kita dapat menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan. Misalnya, air kelapa atau rumput laut. Selain dapat mengurangi jumlah pohon yang akan ditebang, menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan juga bisa menjadi upaya pembukaan lapangan kerja. 

Mengapa demikian? Karena dalam proses pembuatan dari bahan baku, pelestarian hingga perawatan membutuhkan sumber daya manusia. Pendapatan negara tidak berkurang, alam tidak akan terkena dampak kerusakan dan pengangguran di Indonesia pun akan berkurang

Kesimpulannya, mengganti penggunaan plastik dengan kertas, bukanlah solusi yang efektif. Lalu bagaimana cara kita membalas semua kebaikan alam? Cinta! Ya, cinta. Mengapa cinta menjadi solusi yang efektif? Karena semua yang dijalani dengan penuh cinta, akan menghasilkan kebaikan yang indah. 

Mulai dari sekarang, jangan terus menuntut alam untuk memberikan apa yang kita butuhkan namun berikan cinta dan kasih sayang kita pada alam. Sebagai bentuk upaya kita mensyukuri nikmat Allah Yang Maha Kuasa. Yuk, kita jaga keindahan bumi ini!

Artikel Terkait