Penulis
1 bulan lalu · 52 view · 5 menit baca · Lingkungan 44806_13949.jpg
Taman baca internet dan kertas/dok. Ig @tbm.bungakertas

Saatnya Industri Kertas Menjawab Hoaks

Kerap kali, ketika membicarakan produksi kertas, kita disodori mitos yang salah. Kecurigaan hingga tuduhan kasar terhadap produksi kertas tak terelakkan. Salah satu mitos atau hoaks yang sering dipropagandakan, misalnya satu rim kertas sama dengan sebatang pohon. Padahal yang benar sebatang pohon menghasilkan 23 rim kertas.

Baru-baru ini, mahasiswa Aceh berdemonstrasi ke kantor Gubernur Aceh menuntut penghentian operasi sebuah PT yang bergerak di bidang pertambangan. Menurut mahasiswa, perusahaan tersebut telah merusak lingkungan akibat operasional pertambangan. Faktanya, memang pertambangan kerap menjadi salah satu perusak hutan di Indonesia. 

Hal itu sekaligus membalikkan tuduhan terhadap produksi kertas sebagai perusak hutan. Bukan hanya industri energi, bahkan industri digital yang diklaim mampu mengganti kertas ternyata memiliki limbah yang lebih banyak ketimbang kertas. Kita ketahui bersama bahwa kertas bisa didaur ulang sehingga kertas memiliki keunggulan tersendiri.

Di tengah deforestasi dan permintaan kertas dan pulp, industri kertas memiliki tantangan yang makin besar. Selain dua industri di atas, industri kertas juga menghadapi tantangan dari masyarakat sekitar hutan industri yang belum mendapatkan informasi lengkap terkait dengan industri kertas. Beberapa lembaga swadaya masyarakat bahkan mengatakan bahwa perusahaan kertas sebagai biang kerok emisi rumah kaca global.

Anggapan itu ternyata cukup menyudutkan perusahaan-perusahaan penghasil kertas. Padahal, berdasarkan riset-riset yang dilakukan, misalnya menurut Ecofys dalam laporannya, industri kertas hanya menyumbang 1% emisi dari sekian banyak industri yang menyebabkan pengemisi meningkat. Itu artinya produksi kertas merupakan salah satu industri pengemisi gas rumah kaca terendah. 

Anggapan-anggapan yang salah dan menyudutkan produksi kertas harus dicarikan solusi. Program edukasi kepada masyarakat bahkan kalangan terpelajar harus sesering mungkin dilakukan. Dengan begitu cepatnya arus informasi, anggapan yang salah tersebut harus segera diklarifikasi. Kampanye yang kontinu dengan melibatkan banyak pihak terutama media massa harus sesering mungkin dilakukan pula.


Tantangan industri kertas bukan hanya memenuhi permintaan, akan tetapi bagaimana merasionalkan pihak-pihak yang menuduh deforestasi dan emisi rumah kaca disebabkan industri kertas. Industri kertas juga harus mampu bersanding dengan industri digital, bukan saling menyudutkan. 

Sebuah taman bacaan yang mengelaborasi digital dan penggunaan kertas saya dapati di sebuah desa di Kalimantan. Menurut penggagasnya, Rina Muna (27), awalnya ia sempat khawatir kehadiran internet bakal menggantikan kertas. Namun, ia kemudian mengelaborasi antara internet dan penggunaan kertas. 

Anak-anak diberikan soal-soal yang jawabannya bisa dicari dengan menggunakan internet. Namun, mereka harus menuliskan jawaban di kertas. Dengan demikian, dunia internet dan kertas bisa bersanding.

Taman bacaan itu hanya sebuah contoh bagaimana era digital dan kertas bersanding. Selain itu, industri kertas juga harus mengedukasi masyarakat terkait daur ulang kertas. Ini penting dilakukan agar kertas tak terpakai lagi; jangan dibakar namun didaur ulang. 

Menurut European Declaration on Paper Recycling, di Eropa, setiap detiknya 2 ton kertas didaur ulang. Dengan begitu, masyarakat akan paham pentingnya kertas bekas yang bisa didaur ulang.

Penemuan kertas yang menggunakan plastik bekas atau botol PET (Polyethylene Therepthalate) menjadi kertas mineral atau kertas peta menjawab kebutuhan industri kertas. Hasil biodegradale juga dapat didaur ulang sehingga ketergantungan akan pohon bisa dikurangi. Kabarnya, dengan teknologi cronology menghemat hingga 20 pohon dan 56.000 liter air (Science News).

Peluang ini harus diambil industri kertas nasional mengingat sumbangsih mereka terhadap devisa negara. Pada tahun 2018, industri kertas tanah air berkontribusi sebesar US$5,8 miliar untuk devisa Indonesia; demikian menurut BPPK. 

Melalui teknologi, industri kertas dapat terus memenuhi kebutuhan domestik dan luar negeri tanpa harus merusak lingkungan. Itu artinya, ekspor meningkat namun reforestasi dapat dijalankan dan deforestasi dengan sendirinya dapat dikurangi.

Bahkan, menurut saya, daur ulang kertas harus menjadi salah satu kegiatan di sekolah-sekolah. Siswa harus diajarkan cara mendaur ulang kertas. Selain menimbulkan rasa cinta pada kertas, giat itu akan mengubah mindset bahwa kertas bekas hanya sampah.


Perusahaan-perusahaan industri kertas juga harus memaksimalkan dana CSR. Bila selama ini bantuan kepada masyarakat hanya dalam bentuk dana, sebaiknya pelatihan-pelatihan yang pada akhirnya menciptakan pengusaha daur ulang kertas harus dilakukan. Mereka bisa menjadi mitra usaha potensial, terutama mereka yang tinggal di daerah sekitar hutan produksi. 

Faktanya, menurut penelitian, sebagaimana yang disampaikan Ir. Murni Titi Resdiana, MBA (Kantor Utusan Khusus Presiden bidang Pengendalian Perubahan Iklim), 50% dari jumlah penduduk miskin di Indonesia bertempat tinggal di sekitar hutan. Hal itu disampaikan dalam acara forest talk yang diselenggarakan Yayasan Dr. Syahrir dan Climate Reality Indonesia di Palembang (23/03/2019). 

Ini merupakan tantangan sekaligus peluang ekonomi perusahaan industri kertas. Memberdayakan masyarakat sekitar hutan bukan hanya membantu ekonomi mereka akan, tetapi juga mencegah deforestasi karena kebakaran maupun penebangan liar pohon-pohon di hutan.

Perusahaan industri kertas dalam hal ini dapat bekerja sama dengan pemerintah daerah dan desa. Ekonomi kreatif sejatinya berangkat dari desa ke kota mengingat bahan baku terbesar ada di desa, bukan di kota. 

Toh pohon bukan hanya dapat dijadikan kertas. Banyak kerajinan tangan yang bisa menghasilkan rupiah dengan tetap menjaga kelestarian hutan kita. Dana CSR harus bisa dimanfaatkan untuk membuka lapangan baru, bukan dana sekali pakai habis.

Pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar hutan juga dapat menekan angka mafia kayu yang selama ini merusak hutan. Tanpa izin dan bayar pajak, mafia kayu menebang pohon dan industri kertas yang kena getahnya. 

Biasanya mereka memanfaatkan masyarakat sekitar sebagai 'kaki tangan' agar upaya merusak hutan berjalan lancar. Masyarakat yang butuh pekerjaan di tengah sulitnya mencari nafkah langsung mengiyakan para mafia kayu.

Menurut saya, fenomena itu bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Sebagai salah satu penikmat hasil hutan, perusahaan industri kertas punya tanggung jawab juga. Penting dilakukan langkah nyata dan berkesinambungan agar hutan tetap terjaga dan produksi kertas terus berjalan. 

Berdasarkan uraian di atas, industri kertas harus melakukan beberapa hal jika ingin tetap eksis. Pertama, industri kertas harus menjawab mitos dan hoaks soal industri kertas. Kedua, industri kertas harus mampu memberdayakan masyarakat sekitar hutan. Ketiga, industri kertas wajib mengikuti arus perkembangan tekhnologi pembuatan kertas dan pulp. Dan terkhir, edukasi kepada seluruh masyarakat yang terkait dengan hutan dan industri kertas.


Karena mitos dan hoaks terkait industri kertas dan pulp berdampak sistemik, maka edukasi, training, dan kerja nyata adalah hal-hal dapat dilakukan perusahaan-perusahaan di dunia industri kertas. Bisa terjun langsung ke masyarakat, melalui LSM dan media massa maupun pemerintah. Melawan hoaks tentang industri dan kaitannya dengan deforestasi harus menjadi kampanye perusahaan kertas.

Saya belum pernah menyaksikan kampanye tersebut di televisi. Belum ada perusahaan kertas dan pulp yang membantah bahwa salah bila satu pohon untuk 1 rim kertas. Karena faktanya, satu pohon menghasilkan 23 rim kertas. Beberapa hoaks lainnya masih dianggap sebagai kebenaran, padahal hal itu merugikan. 

Artikel Terkait