Jika Anda adalah generasi tahun 90-an dan masih lajang, saya menyarankan untuk membaca tulisan ini sampai habis. Meskipun saya tidak bisa menjamin akan menarik minat Anda atau bahkan malah akan melahirkan rasa bosan.

Hanya saja, saya menyarankan Anda untuk tetap membaca sampai habis, karena bisa jadi Anda adalah korban dari jebakan psikologis pernikahan masa kini.

Aktivitas nongkrong dan ngopi generasi kita akan diisi dengan banyak pembahasan tentang perihal hidup dan kehidupan. Dan pembahasan yang jarang absen dalam setiap pertemuan adalah soal pernikahan. Generasi kita sedang berada di fase kebelet nikah.

Tentu ada banyak faktor yang memicu kondisi ini. Secara umum dapat dikategori dalam dua perspektif, faktor dalam diri pribadi (internal); tentang harapan, angan, dan impian dari indahnya pernikahan, dan faktor eksternal; lingkungan dan pergaulan.

Tidak jarang kita berhadapan dengan sederet pertanyaan-pertanyaan “aneh” keluarga atau lingkungan yang menurut saya masuk dalam kategori serangan psikologis; kapan menikah, umur berapa sekarang, bagaimana dengan rencana pernikahan, etc.

Meski terdengar sepele, tetapi kondisi eksternal ini sedikit banyak akan ikut memengaruhi mental kita, sehingga kadang sebagian dari kita kehilangan esensi dari tujuan dalam merencanakan sebuah pernikahan.

____________________

Dalam perspektif psikologis, masa remaja disebutkan sebagai satu periode heightened emotional, yaitu suatu keadaan kondisi emosi tampak lebih tinggi atau tampak lebih intens dibanding dengan keadaan yang normal.

Kondisi ini kemudian termanifestasi dalam berbagai tindakan, termasuk yang akan ikut memengaruhi pola pengambilan keputusan kita dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Baca Juga: Kapan Kawin?

Dalam tahap lanjutan, kondisi ini kemudian menjelma lalu membentuk sifat mekanisme pertahanan diri atau ego (self-defense mechanism) untuk terus menemukan pembenaran atas segala sikap yang kita dilakukan (Freud).

Jadi, fase ini memang rentan dan sangat membutuhkan banyak ketenangan dalam menghadapi setiap persoalan.

Pada konsep pernikahan, kondisi ini terkadang mencuat dan menjadi konflik pranikah antara anak dan orang tua; entah orang tua yang tidak menerima keputusan anak atau sebaliknya, anak yang tidak setuju pada keputusan orang tua.

Bahkan dalam perkara ekstrem self-defense mechanism akan memengaruhi sikap kita terhadap keputusan pasangan, baik pranikah maupun saat setelah pernikahan sudah berlangsung.

Sebenarnya gambaran ini hanya akan dihadapi oleh pasangan muda-mudi labil, mereka yang kabelet nikah. Dorongannya adalah desakan lingkungan dan bayangan tentang indahnya pernikahan. Bukan kesiapan sempurna secara biologis juga psikologis.

Hidup bersama dalam sebuah ikatan komitmen jangka panjang adalah tentang metode memperjuangkan kepentingan diri tanpa menyakiti orang lain.

Secara kasat, terdengar seperti ego yang negatif, tetapi jauh dari kalimatnya, makna dari memperjuangkan kebutuhan tanpa menyakiti orang lain akan mengarahkan kita memahami posisi diri dan posisi orang lain di sekitar kita.

Diri dalam tafsir kebutuhan ini akan menyeluruh dan mengakomodasi kebutuhan “diri” yang lain. Diri kita, diri dia, diri mereka dan diri-diri yang lain. Bagaimanapun juga, menikah adalah menyatukan dua keluarga, bukan hanya menyatukan dua pribadi. Keduanya harus terakomodasi.

Seorang ahli konseling pernikahan menganalogikan dua manusia yang menikah itu bagaikan dua ekor landak. Mereka membutuhkan satu sama lain untuk saling menghangatkan. Namun apabila mereka berdekatan, duri mereka akan menusuk dan menyakiti pasangannya.

Jadi, jika saja kita berani beranjak dari zona nyaman dan memikirkan banyak hal mendalam terkait dengan pernikahan, maka saya yakin tidak akan banyak orang berani mengajukan pertanyaan kepada sesamanya tentang rencana pernikahannya. Itu betul-betul bentuk serangan psikologis.

Atau jika dilihat dalam pandangan yang lebih umum, ini juga berlaku pada dasar kita membentuk hubungan dengan orang lain. Saran saya, jangan tergesa-gesa, tetap tenang, dan tidak kebelet, apalagi jika itu menyangkut masalah pernikahan.

Jebakan-Jebakan Psikologis

Sternberg (1988) adalah salah satu tokoh psikologis yang memberikan banyak perhatian dalam sebuah hubungan. Ia memberikan pandangan tentang hubungan (cinta) dalam tiga komponen: Kedekatan, Hasrat, dan Komitmen.

Oleh Sternberg, ketiga komponen ini—kedekatan (intimacy), hasrat (passion) dan komitmen (commitment)—kemudian dirangkum dalam sebuah gambar yang kemudian kita kenal dengan teori segitiga cinta (Triangular Model of Love Relationship).

Lalu, apa hubungan antara teori tersebut dengan jebakan-jebakan psikologis dalam sebuah rencana pernikahan? Saya akan menjelaskan beberapa alasan-alasan sederhana yang melandasi keputusan sebagian orang untuk melangsungkan pernikahan secara terburu-buru.

Alasan-alasan ini tentu akan sangat akrab di telinga Anda, apalagi bagi pasangan muda-mudi kaum milenial. Teruslah membaca.

Desakan Lingkungan

Fenomena menarik dari masyarakat kita hari ini, pernikahan terlihat seperti sebuah perlombaan. Ketika anggota keluarga lain, teman sebaya, atau teman geng telah memutuskan untuk menikah, maka teman lainnya ikut terprovokasi.

Pada kondisi ini, semangat untuk melangsungkan pernikahan didasari oleh pengaruh desakan internal diri. Tentang; tidak ingin ketinggalan atau takut jika teman-temannya mempertanyakan kodisi kesendiriannya, bahkan sampai pada kekhawatiran soal bullying.

Kondisi ini betul-betul sangat memengaruhi psikologis. Sehingga tidak jarang korban gegabah dalam mengambil keputusan dan abai terhadap hal-hal prinsip sebuah pernikahan hanya karena merasa terdesak.

Salah satu di antara pasangan memaksakan commitment yang masih prematur hanya karena didesak oleh passion yang kuat. Intimacy yang terbentuk juga terkesan dipaksakan dan tidak jarang hubungan ini hanya terjebak pada tidakan yang terburu-buru.

Tentu alasan ini juga tidak bisa diberlakukan secara general, takut kita terjebak pada kesalahan berpikir over-generalisasi. Fokus kita adalah pada mereka-mereka yang tidak mampu mengelola hasrat diri sebagai akibat dari desakan lingkungan yang dimaksud.

Ada cara yang lebih elegan dalam menghadapi desakan lingkungan terkait dengan rencana pernikahan. Tetap fokus pada segala persiapan diri, sehingga tidak mengeliminasi standar-standar kita dalam mengambil keputusan penting dalam rencana pernikahan.

Hubungan Lama dan Intim

Tidak sedikit dari kita tentu pernah mendengar alasan seseorang untuk mengambil keputusan untuk menikah, karena merasa “menyayangkan” hubungan yang sudah berlangsung lama atau intim.

Kalimat seperti “saya menikah dengannya, karena kami sudah telanjur menjalin hubungan yang cukup lama, dan jauh sudah mengetahui satu sama lain, sayang jika harus dilewatkan atau tidak berani untuk membangun hubungan yang baru”.

Seperti adanya budaya pacaran, pada posisi ini memang tidak terlihat seperti ada masalah. Tetapi alasan tersebut bisa dilihat seperti sebuah keterpaksaan, hubungan yang tidak lagi murni, tetapi terdengar seperti Companionate Love.

Hubungan yang didasari companionate love tidak lagi memiliki passion, hanya ada intimacy dan commitment yang mendalam. Ada kedekatan dan komitmen yang tidak lagi mengandung hasrat. Ini seperti hubungan dalam keluarga, saudara, atau persahabatan.

Hubungan yang terbangun seperti telah kehilangan cinta, tetapi kuat dalam kedekatan dan komitmen. Jika diterawang lebih jauh pada perjalanan hubungan pernikahan, seperti “bersepakat untuk tidak bercerai karena kasihan pada anak-anak”.

Kedekatan Keluarga

Sedikit banyak memiliki kemiripan dengan alasan sebelumnya, kedekatan kedua pihak keluarga juga kerap menyandera pasangan lalu terjebak dalam sebuah ikatan pernikahan.

Kedekatan ini biasanya disebabkan juga oleh hubungan yang sudah berlangsung lama. Kecenderungan pasangan yang sudah terjalin lama kadang mengarahkan kita untuk mengajak dan memperkenalkan pasangan kita pada keluarga.

Ini sedikit berbeda dengan sebuah perjodohan. Kedekatan kedua keluarga berjalan beriringan dengan kedekatan dengan pasangan.

Pada kondisi tertentu, hubungan ini sudah tidak memunyai kedekatan (intimacy) dan hasrat (passion). Kita memang masih memiliki commitment, tetapi kehilangan passion dan intimacy. Kita justru terjebak pada intimacy kedua keluarga kita.

Perjodohan

Secara umum, terkait dengan alasan yang terakhir ini, mungkin sudah jarang ditemukan di zaman yang makin modern ini. Hanya saja, bukan berarti sudah tidak ada.

Secara pribadi, saya masih menemukan beberapa alasan yang mendasari terjadinya sebuah pernikahan yang diakibatkan olah perjodohan. Biasanya ini didasari oleh kedekatan kedua keluarga. Sedikit mirip dengan alasan sebelumnya, tetapi perjodohan memiliki posisi yang lebih kompleks.

Tidak ada intimacy, passion, apalagi commitment dalam hubungan ini. Kalaupun ada, itu hanya berlaku untuk dua belah pihak keluarga, bukan pada pasangan yang akan menikah.

Hubungan ini bisa disebut sebagai empty relation. Hubungan kosong yang terjalin hanya karena berat hati untuk menyakiti keluarga lalu mengorbankan perasaan diri sendiri.

____________________

Jebakan-jebakan psikologis di atas tentu menghadirkan efek yang berbeda-beda pada setiap pasangan. Bisa jadi juga tidak berlaku pada beberapa pasangan. Semua tergantung dari bagaimana cara kita menghadapi setiap kerumitan hubungan.

Bagaimanapun, tulisan ini murni hanya mengulas fenomena yang terjadi di sekitar kita. Anda bisa saja membantah atau memiliki sikap lain terkait dengan konsep rencana pernikahannya masing-masing.

Hal yang prinsip bahwa teori Triangular Model of Love Relationship; intimacy, passion, dan commitment wajib ada dalam setiap hubungan tanpa terpisah satu sama lain.

Tentu saya berharap bahwa tulisan ini tidak mengganggu intimacy, passion, dan commitment Anda-Anda yang sedang menjalin hubungan dan berencana melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.

Perihal jodoh, seperti juga kematian dan rezeki, hanya Tuhan yang tahu. Perkara ini merupakan hak prerogatif Tuhan. Tetapi jika pembahasan ini dibawa kerana transenden tersebut, diskusi kita sudah barang tentu selesai jauh bahkan sebelum tulisan ini dimulai.

Untuk kalian, semoga lancar sampai hari H.